Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Akhirnya mobil yang di kemudi Zayn berhenti di depan gedung perusahaan yang menjulang tinggi. Zayn keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Nafiza. Tatapannya masih terlihat tegang, tetapi genggaman tangannya pada Nafiza terasa menenangkan. Mereka berjalan berdampingan menuju lobi.
David sudah menunggu di depan lobi dengan wajah sedikit tengang dari biasanya. Ia sedikit terkejut melihat Nafiza di samping Zayn, namun segera menyapa dengan profesional. "Selamat Selamat pagi, Bu Nafiza. Saya tidak tahu Anda akan ikut."
Nafiza membalas sapaan David dengan anggukan kecil dan senyum ramah di balik cadarnya. "Jangan terlalu formal panggil saja Nafiza."
Zayn mengangguk singkat. "Dav, kita langsung ke ruang meeting."
Zayn menggandeng tangan Nafiza dengan posesif, seolah ingin menegaskan jika wanita di sampingnya adalah miliknya. Para karyawan yang melihat pemandangan itu saling berbisik, terkejut melihat sisi lembut dan romantis dari CEO mereka yang biasanya dingin dan datar. Zayn, Nafiza, dan David tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu dan terus melangkah menuju lift khusus para petinggi perusahaan.
Pintu lift terbuka di lantai 22, tempat ruang rapat berada. David berbisik pada Zayn, "Apa kamu yakin mengajak serta Bu Nafiza ke ruang rapat?"
Zayn hanya mengangguk, lalu menatap istrinya dengan keyakinan. Nafiza membalas tatapan itu dengan anggukan mantap. Mereka bertiga bergegas masuk ke ruang rapat.
Begitu pintu terbuka, semua mata tertuju pada mereka. Di antara orang-orang yang hadir, Nafiza menangkap sosok Farhan dan Riana. Farhan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada penyesalan dan kerinduan di sana. Sementara Riana menatapnya dengan tatapan meremehkan. Sebagian dari mereka berbisik, mempertanyakan siapa wanita bercadar yang berdiri di samping Zayn.
Dengan langkah percaya diri, Zayn menuju kursi kepemimpinannya. "David, tolong sediakan satu kursi lagi di samping saya," pintanya.
Karena tatapan penasaran dari orang-orang yang hadir, Zayn memutuskan untuk memperkenalkan Nafiza terlebih dahulu. "Selamat pagi, semuanya. Saya ingin memperkenalkan istri saya, Nafiza."
Suasana sedikit mencair setelah perkenalan itu. Zayn kemudian langsung memulai rapatnya. Ketegangan kembali terasa saat masalah utama dengan klien dari Jepang dibahas. Semua orang terdiam, menunggu jawaban dari Zayn.
Nafiza menggenggam tangan Zayn lembut, seolah meminta persetujuan. Zayn mengerti maksud istrinya. Ia mengangguk, sedikit penasaran ingin melihat bagaimana Nafiza akan menyelesaikan masalah ini.
Setelah mendapat persetujuan dari Zayn, Nafiza memulai dengan mengucap salam. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Kemudian, dengan lugas dan tenang, ia menjawab dan menjelaskan pokok permasalahan dengan bahasa yang santun namun tepat sasaran. Ia menyoroti pentingnya memahami nilai-nilai budaya dan memberikan solusi yang adil bagi kedua belah pihak.
Di akhir rapat, semua orang memuji kemampuan Nafiza dalam berkomunikasi dan memberikan solusi. Zayn menatap Nafiza dengan penuh penghargaan. Ia tidak menyangka istrinya memiliki kemampuan yang begitu luar biasa.
Farhan menatap Nafiza dengan kekaguman yang semakin besar. Penyesalan semakin menghantui hatinya karena telah menyia-nyiakan wanita sehebat Nafiza. Sementara Riana, meskipun dalam hatinya mengakui kehebatan Nafiza, tetap memasang wajah sinis.
Klien dari Jepang yang sebelumnya berniat membatalkan kerja sama kini dengan yakin mengurungkannya dan bahkan memberikan pujian atas solusi yang diberikan.
Setelah semua orang keluar dari ruang rapat, David menghampiri Zayn dan Nafiza. "Saya benar-benar terkejut, Zayn. Istri Anda sangat cerdas dan berwibawa. Dia berhasil mengubah suasana yang tadinya sangat tegang menjadi lebih positif. Bro lo sangat beruntung memiliki istri seperti Nafiza."
Zayn tersenyum bangga. "Gue tahu. Dia memang luar biasa." Ia kemudian menoleh pada Nafiza dan menggenggam tangannya erat. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menyelamatkan perusahaan ini."
Nafiza tersenyum lembut. "Sama-sama, Mas. Yang penting, kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama."
Setelah rapat yang menegangkan, Zayn, Nafiza, dan David keluar dari ruang pertemuan. Mereka menuju ruang CEO.
Nafiza duduk di sofa, memperhatikan Zayn dan David yang tengah berdiskusi tentang langkah-langkah selanjutnya terkait kerja sama dengan klien Jepang. Ia merasa sedikit bosan karena tidak mengerti pembicaraan mereka.
"Mas, Naf boleh nggak lihat-lihat kantor Mas?" tanya Nafiza lembut, memecah keheningan.
Zayn tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Boleh, tapi tunggu sebentar ya." Dengan cepat, ia meraih telepon di mejanya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian rapi masuk ke ruangan.
"Assalamualaikum, Pak Zayn. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Riri, tolong temani istri saya untuk keliling perusahaan ya. Ingat, jangan jauh-jauh darinya," perintah Zayn dengan nada tegas namun lembut.
"Oh, baik, Pak," jawab Riri dengan hormat.
Setelah itu, Nafiza pamit pada suaminya. "Mas, Naf keluar bentar ya," ucapnya sambil tersenyum.
Zayn mengangguk dengan senyum lembut. "Hati-hati ya, Sayang. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Mas."
"Iya, Mas," balas Nafiza, lalu keluar ruangan mengikuti langkah Riri.
Riri dengan ramah mengajak Nafiza berkeliling kantor. Nafiza mengagumi desain interior kantor Zayn yang modern dan elegan. Ia juga menyapa para karyawan yang menyambutnya dengan senyum hangat. Setelah beberapa saat berkeliling, Nafiza merasa ingin ke toilet.
"Riri, saya izin ke toilet sebentar ya," kata Nafiza.
"Baik, Bu. Saya tunggu di sini saja ya," jawab Riri.
Nafiza berjalan menuju toilet yang berada di ujung lorong. Setelah selesai, ia keluar dari toilet tanpa sengaja berpapasan dengan Riana.
Riana yang melihat Nafiza sendirian menyeringai licik.
Bersambung ....
farhan semoga tdk ada kebahagiaan buat mu. gedek banget laki tukang selingkuh dan wanita pelakor. hhh.
menjijikan