Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labrak
"Benar, saya dokter baru di sini, baru dua hari juga masuk kerja, perkenalkan nama saya Casey." Bukannya langsung membalas, Casey malah menjulurkan tangan, hendak berjabatan tangan sambil melempar senyum paling lebar.
Hannah, Indra dan Dea mendadak bengong. Sikap Casey di luar dugaan, sebab Dea sekarang sedang mengibarkan bendera permusuhan, tapi Casey malah mengajaknya berkenalan.
"Sudah tahu, dan aku nggak tanya namamu, kau tuli ya, nggak usah sok akrab deh, aku cuma mau nanya sama kau naksir sama pacarku kan? Kemarin aku dengar kau godain pacar aku, apa benar?" tanya Dea kembali, matanya sedikit melotot dan nada suaranya pun sangat menyebalkan bagi siapa pun yang mendengarkan.
Dea sama sekali tak berniat menjabat tangan Casey. Hanya menatap tangan Casey yang menggantung di udara sejak tadi.
Casey perlahan menurunkan tangan sambil mengumpat di dalam hati.
'Astaga, kasar sekali, sabar Casey, jangan mudah terpancing, sekarang kita lagi di rumah sakit, tunjukkan bahwa kau dokter yang berintegritas, manusia seperti Dea jangan dituruti egonya.' Casey mencoba untuk tak terprovokasi.
"Nggak, saya sama sekali nggak naksir sama pacar bu Dea, dokter Jayden bukanlah tipeku," jawab Casey, masih melempar senyum.
Casey tampak sangat tenang, setenang riak air di sungai, tapi sayangnya ketenangan Casey membuat Dea jadi semakin kesal.
"Memangnya Bu Dea dapat informasi dari mana kalau saya godain dokter Jayden," sambung Casey sambil melirik Indra sekilas.
Indra terlihat salah tingkah. Lelaki itu sesekali melirik ke kanan dan ke kiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sekarang. Sementara Hannah memandang Indra dengan sangat tajam.
"Kau nggak perlu tahu, dengar ya, aku ini calon istrinya dokter Jayden dan jangan terlalu caper sama dia," balas Dea, masih dengan raut wajah tak bersahabat.
Casey lagi dan lagi tak menunjukkan ekspresi kesal atau pun marah. Senyum kecil di wajahnya tak memudar sedari tadi. Namun, hal itulah yang justru membuat Dea makin naik pitam.
"Iya Bu Dea, saya minta maaf kalau kesalah pahaman itu membuat Bu Dea jadi sakit hati, sebenarnya kemarin apa yang dilihat oleh orang yang membuka pintu ruangan dokter Jayden nggak seperti yang dia sampaikan kok, semuanya salah paham, saya dan dokter Jayden nggak sengaja tabrakan di ruangan, jadinya posisinya kayak orang lagi pelukan tapi nyatanya nggak, saya pun kemarin sudah jelasin sama orang tersebut," balas Casey. Langsung ke inti permasalahannya dan sesekali melirik ke arah Indra.
Hannah dan Indra kembali bengong dengan ucapan Casey. Terlebih Indra, mukanya terlihat merah saat ini, merasa malu karena dia lah yang menyebarkan gosip tersebut, ditambah lagi Casey tak langsung menyebut namanya barusan.
"Kau pikir aku langsung percaya denganmu." Dea menyeringai tajam sejenak. "Wanita sepertimu ini tipe-tipe wanita bermuka dua, kau pasti mau berusaha terlihat baik di depan semua orang kan agar mereka mau berpihak denganmu," tambahnya, dengan matanya kian melebar sempurna dan tangannya pun mulai terkepal.
Mendengar balasan, senyum Casey langsung memudar. Sedangkan Indra dan Hannah mengerjap singkat.
Hawa di sekitar terasa mulai panas. Untung saja ruangan IGD saat ini tampak lenggang, dan beberapa pasien sudah masuk ke ruang rawat inap, hanya para perawat yang sedari tadi, diam-diam mendengarkan obrolan.
Casey hendak membuka mulut tapi Hannah terlebih dahulu menyela.
"Bu Dea, saya nggak peduli Anda manajemen rumah sakit ini dan dekat dengan dokter Jayden, tapi apa yang dikatakan dokter Casey semuanya benar, jangan mentang-mentang bu Dea pacar dokter Jayden jadi semena-mena sama rekan kerja yang lain." Meskipun suara Hannah terdengar pelan, tapi sangat menusuk dada Dea.
Kini wajah Dea mendadak terlihat merah padam dan napasnya mulai memburu. Kemarahan Dea telah sampai di ambang batas.
"Berani kau denganku!" seru Dea, hendak menjambak rambut Hannah, tapi kedatangan Jayden diikuti suara-suara para perawat dan bed didorong memecah obrolan mereka.
Ada pasien baru masuk, pasien yang mengalami kecelakaan hebat dengan banyak darah di sekujur tubuh, tampak kritis.
"Kenapa kalian berkumpul di sini? Dokter Casey ayo cepat kemari bantu aku!" perintah Jayden melirik Casey sekilas sambil mendorong bed bersama beberapa perawat ke sudut ruangan.
Casey mengangguk cepat lalu bergerak mendekati Jayden. Sementara Hannah buru-buru keluar dari IGD, baru ingat ada pasien yang harus dia visit.
Dea semakin mengepalkan tangan. 'Sialan, awas saja kau, aku akan memberi kau pelajaran, kenapa Jayden minta bantuan sama dia sih!' umpatnya, memandang tajam Casey dari kejauhan.
"Dea, yuk kita keluar," ucap Indra seketika, mengajak Dea untuk melipir dari ruangan sebab pasien di IGD mulai berdatangan.
Dea mendengus kesal, tanpa membalas ucapan Indra. Dia melengoskan muka kemudian membalikkan badan.
Indra terperangah, buru-buru mengejar Dea yang sudah berjalan menjauh seperti orang kesetanan.
Sementara itu, Casey dan Jayden sibuk menangani pasien yang baru saja masuk. Casey melakukan CPR pada pasien, dibantu Jayden dan beberapa perawat.
Setelah berhasil melakukan penanganan pertama. Casey menarik napas lega, sebab pasien dapat terselamatkan. Tapi, baru saja meletakkan alat CPR ke troli, tiba-tiba ada sosok yang tak asing menghampirinya.
"Casey, kau kah itu ...."
Casey langsung membelalakkan mata.