"Dia cinta pertamaku, dan aku ingin berjuang untuk mendapatkannya"
Irena, gadis berkacamata yang sebelumnya bahkan tidak mempunya teman pria, namun tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria tampan bernama Andreas. Pertama kali merasakan jatuh cinta, membuat dia antusias untuk bisa mendapatkan hati pria itu. Meski tidak jarang perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Andreas. Bahkan pria itu seolah tidak menganggap kehadirannya.
"Sebaiknya kau berhenti berjuang dengan perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, semuanya hanya sia-sia"
Berbagai macam penolakan Irena bisa pahami, dia tidak menyerah begitu saja. Namun, ketika Andreas sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintainya, karena ada perempuan lain yang dicintainya. Maka saat itu semua harapan runtuh tanpa jejak, semua perjuangan sia-sia. Dan Irena mulai mundur, mengasingkan diri dan mencoba melupakan cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Yang Hancur
Hari dimana semuanya akan dimulai lebih baik, atau berakhir tanpa jejak. Hanya ada harapan kecil untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, hati kecilnya tetap tidak bisa di bohongi, ada sebuah jejak yang mungkin tidak akan ada keadilan itu untuk perasaannya.
Langkah kaki yang biasanya hanya menggunakan sepatu sneaker, hari ini lebih anggun dengan sepatu hak tinggi dan kebaya yang dipakainya. Baju toga sudah terpasang di tubuhnya, kacamata tetap lekat terpasang meski wajah sudah menggunakan riasan tipis.
Hari ini perjuangannya menempuh pendidikan telah usai, hidup baru akan dimulai. Dunia kerja yang sebenarnya dan kehidupan yang sebenarnya akan dia hadapi setelah ini. Irena tersenyum, akhirnya perjuangan ini telah selesai. Berfoto dengan orang tuanya dan Farel, lalu bersama dengan temannya Yumna. Tersenyum bahagia pada lensa kamera, padahal dalam hatinya ada rasa gelisah yang tidak menentu.
"Kalian mau ikut pulang bersama kami sekarang?" Tanya Ayah.
"Sebentar lagi Yah, kami masih mau disini" ucap Irena, sebenarnya sejak tadi dia hanya terus menoleh dan mencari-cari kedatangan seseorang. Namun sepertinya dia harus menelan pil kekecewaan, karena sudah hampir selesai semua acara, tapi orang yang di tunggu tidak kunjung datang.
"Ayo pulang, tidak ada lagi yang perlu kamu harapkan sekarang. Tepati janji pada dirimu sendiri, jika mulai sekarang akan menyerah padanya" ucap Yumna sambil menepuk bahu Irena.
Sepertinya ini sudah menjadi akhir dari perjalanan perjuangan cintanya. Irena harus memulai hidup baru dan melupakan semuanya. Mereka sudah berbalik dan ingin melangkah pergi, namun suara langkah kaki membuat keduanya langsung menoleh.
Detak jantung Irena begitu kencang, menatap pria yang melangkah tegap ke arahnya dengan satu buket bunga di tangan. Dalam hati Irena begitu bahagia, bahkan tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya datang. Debaran hatinya semakin kencang tak tertahan.
Yumna menepuk bahu sahabatnya, dia akan ikut bahagia jika sahabatnya ini juga bahagia. "Pergilah, temui pangeranmu itu. Aku yakin kali ini kalian akan bahagia bersama, aku pergi dulu"
Yumna meninggalkan dua orang itu untuk saling berbincang dan tidak ada yang menggangu.
Saat Andreas sudah berdiri di depannya saat ini, Irena menatapnya dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. "Aku pikir Kak Andreas tidak akan datang"
Buket bunga di tangannya diberikan pada Irena yang langsung menerimanya. "Selamat atas kelulusanmu. Aku sengaja datang untuk memperjelas semuanya"
Ucapan itu membuat Irena terdiam, dalam hatinya sudah berharap kejelasan yang akan diucapkan oleh Andreas adalah hal baik yang akan membuatnya bahagia. Sudah tidak sabar menunggu Andreas berbicara selanjutnya.
"Aku tahu kau selama ini berusaha sangat mengejarku. Bukan aku tidak mengetahui perasaanmu, tapi aku tidak bisa. Kau bukan tipe perempuan yang aku suka, dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa mencintaimu, karena ada perempuan lain yang aku cintai"
Deg.. Seakan semuanya runtuh dalam hitungan detik. Irena merasa dunia runtuh, segala harapan dalam hatinya hilang dalam sekejap. Dadanya terasa sesak dengan mata yang berembun di balik kacamatanya.
"Maaf, tapi hentikan sekarang juga sebelum kau lebih jauh lagi"
Tangannya memegang erat buket bunga di tangannya, hatinya terkoyak tersayat penuh luka. Hancur lebur semua harapan kecil yan dia punya. Irena menguatkan diri, meski air mata lolos melewati kacamata yang di pakainya. Dengan berani di mendongak, menatap Andreas di balik kacamatanya yang berembun, bahkan wajah pria itu sudah tidak jelas lagi dalam penglihatannya.
"Baik Kak, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, sekaligus luka pertama kalinya juga"
Irena mengusap air mata yang lolos begitu saja, lalu berbalik pergi meninggalkan Andreas disana. Awalnya masih mencoba untuk melangkah tegar, ketika sudah sampai di pinggir jalan, bahunya mulai bergetar, tidak bisa menahan diri lagi. Air mata mengalir begitu deras. Irena terjatuh di atas aspal, menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak yang baru pertama kali dia rasakan saat ini.
Duar... Suara petir yang tidak tahu darimana asalnya, langit berubah mendung dan hujan turun dengan begitu deras. Tubuh Irena basah dengan air hujan, tangisannya pun ikut semakin kencang, tersamarkan oleh derasnya hujan. Buket bunga tergeletak di sampingnya, basah oleh air hujan seolah langit sedang ikut menangisi nasibnya.
"Ternyata sakit sekali... Hiks.. hiks" Irena memegang dadanya dengan erat, rasa sesaknya begitu terasa. "Untuk apa mengenalkan aku pada sebuah cinta, jika akhirnya hanya akan terluka seperti ini"
Hancur dalam seketika semua harapan yang dia punya. Irena menangis sejadi-jadinya di bawah derasnya hujan. Sampai sebuah mobil berhenti di depannya, Yumna keluar dari dalam mobil dengan memakai payung.
"Irena, kenapa kamu hujan-hujanan disini sendirian? Dimana dia?"
Tidak menjawab apapun, Irena langsung menghambur dalam pelukan Yumna. Bahkan payung di tangan Yumna ikut jatuh, dan akhirnya keduanya basah kuyup oleh air hujan.
"Irena ada apa?" Yumna melirik buket bunga yang tergeletak mengenaskan disana. "Bukankah dia datang untukmu? Tapi kenapa kamu disini sendirian?"
Dalam pelukan Yumna, Irena menggelengkan kepalanya. "Dia bukan datang untukku, tapi datang untuk mengatakan dan menegaskan jika dia tidak akan pernah mencintaiku. Karena sudah ada perempuan lain yang dia cintai. Dia ... Hiks.. dia tidak akan pernah membalas perasaanku"
Yumna mengelus punggung Irena yang bergetar, meski tidak benar-benar tahu bagaimana perasaan Irena saat ini, tapi setidaknya Yumna tahu jika sahabatnya ini sedang begitu rapuh sekarang.
"Kita pulang sekarang, tidak perlu pedulikan dia lagi"
Yumna membawa Irena masuk ke dalam taksi online itu. Lalu dia kembali berbalik untuk mengambil payungnya, melihat buket bunga yang tergeletak begitu saja, Yumna malah menginjak buket bunga itu dan membiarkannya tetap tergeletak mengenaskan disana.
Buket bunga itu tergeletak mengenaskan tanpa pemiliknya di atas tanah. Hujan membasahinya, hingga keindahannya mulai redup dan rusak.
*
Keadaan Irena benar-benar rapuh dan hancur setelah kejadian itu. Hanya berdiam di kamar tanpa melakukan apapun, suhu tubuhnya panas, dia mengalami demam setelah kehujanan hari itu. Ayah dan Ibu juga sangat khawatir dengan keadaannya. Sudah di bujuk untuk pergi ke Dokter, tapi Irena menolaknya.
Sampai akhirnya Yumna menjelaskan apa yang terjadi karena Irena yang sama sekali tidak mau bercerita apapun. Hanya diam seperti mayat hidup. Sial, cintanya terlalu tulus dan sepenuh hati hingga lukanya juga begitu dalam dan merenggut semua harapannya.
"Seperti itu Yah, Bu. Jadi, Irena masih merasa begitu terluka dengan kenyataan ini. Berikan saja dia waktu sampai dia bisa mengendalikan perasaannya sendiri"
"Siapapun pria itu, Ayah tidak akan pernah memaafkannya karena sudah melukai putriku"
"Sabar Yah, kita jangan menyimpan dendam. Mungkin memang dia tidak mencintai Irena, dan cinta tidak bisa di paksakan" ucap Ibu, menenangkan suaminya.
"Tidak Bu, jika Ayah bertemu dengannya, Ayah tidak akan pernah memaafkannya. Dia akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan cinta tulus anak gadis Ayah"
Seorang Ayah yang sangat mencintai anak perempuannya, tidak akan pernah rela jika anak perempuannya di sakiti pria sampai seperti itu.
"Sebaiknya kita berikan waktu dulu untuk Irena, agar dia bisa lebih tenang dan menerima kenyataan ini" ucap Ibu.
Bersambung
kan papa Andreas seorang diri pasti Irena
menerima dengan senang hati wanita tulus biasanya mau melakukan hal baik
tujuan nya baik pasti akan selalu di sayang
banyak orang,,,ga sabar papa Andreas gendong cucu menjaga nya dan teriak Irena anak mu nagis minta susu ,,, bagaimana bahagia nya papa Andreas ,,,ibu ayah di kelilingi banyak orang baik'
akan kelain hati ❤️🌹🌹😂😂sweet banget si bikin n baper unyu unyu
seolah mengakui bahwa Ak lah ibu nya ,,,
ibu yang seperti apa ,,, tidak seperti keluarga calon mertua putramu hidupnya sederhana tidak punya harta berlimpah hanya cukup buat makan dan hidup sehari-hari tetapi sangat menyayangi putra dan putrinya hingga putramu selalu merebes matanya ketika melihat calon mertuanya menasehati anak anak nya dengan lemah lembut ,,,
ak sudah mak 😂jadi ngalah deh buat yang masih jomblo 😁
untung ga pingsan,,, aduh itulah para tuan tua sultan kalau sudah BUCIN mana ad yang bisa menggangu nya bisa senyap sekejap
sare,,,Tuhan tidak tidur,,sudah kehilangan pekerjaan mana menanggung adek atau orang tua atau cicilan dan di tambah tidak bisa bekerja di kantor manapun di beklis
pada mimpi' apa semalam lihat Yumna istri Bos Gavin mantan suaminya kan jahat sekarang nasibnya di hotel prodeo,,,👍😁