Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
obat tidur
bugh!
shiittttt!! Alvian mengumpat mana kala langkah lebar nya terhenti karena bertabrakan dengan desi di ujung tangga.
" maaf tuan"
Desi buru-buru menunduk saat melihat wajah Alvian memerah, bulu kuduk nya merinding saat mendengar umpatan Alvian, meskipun Alvian tak begitu ramah pada nya, tapi untuk pertama kalinya ia mendengar majikannya itu mengumpat.
" ck, cepat suruh Arina bersihkan kekacauan ini, dan kamu jangan sekalipun berani membantu nya!" setelah itu ia bergegas naik ke atas, tujuan utama nya adalah ruang kerjanya. Karena itu yang terdekat dari pada kamar nya di situasi segenting ini.
Sesampainya di ruang kerja nya, ia lantas menghempaskan tubuh nya di atas kursi kerja, wajah nya memerah, jakun nya naik turun, ia membuka laptop nya untuk mengalihkan pikiran gilanya tapi itu sia-sia. Punggung mulus Arina sangat menguasai otak nya.
Alvian memejamkan matanya, berusaha mengusir punggung halus Arina yang begitu menggiurkan, entah kenapa 'adiknya' bereaksi begitu cepat hanya dengan melihat punggung itu.
Dan, argkh! Kenapa wajah terkejut gadis itu begitu imut. Sial! Dia tak tahan lagi. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan pelepasan, meski mencoba membayangkan wajah riska sebagai bahan fantasi liarnya, tapi wajah terkejut Arina tadi tiba-tiba menggantikan nya, merengsek masuk tanpa bisa ia kendalikan.
Alvian mengerang panjang tatkala sampai pada puncaknya, meski wajah dalam fantasinya wajah Arina. Namun, bibir nya justru meneriakkan nama Riska karena memang nama itu yang selalu ia teriakan setiap ia selesai melakukan rutinitas seperti barusan. Baguslah, setidaknya ia tidak terlalu merasa bersalah karena otak error nya tiba-tiba mengganti wajah Riska menjadi wajah Arina.
Betapa terkejutnya Alvian, saat ia duduk untuk memulai kerjanya kakinya menyentuh sesuatu, ia sangat terkejut saat menemukan Arina disana, otak nya dengan cepat bekerja, sejak kapan? Apa gadis itu tau apa yang ia lakukan di kamar mandi tadi.
Amarah nya terpancing seketika, campuran antara rasa malu dan kesal karena berpikir aksi mesum nya di ketahui Arina." Arinaaaaa!" teriaknya berapi-api, ia lantas berdiri hingga kursi yang diduduki nya terpental kebelakang cukup jauh.
Sial! Apa yang gadis gila ini lakukan!
" apa yang kau lakukan Arina! Mau mengintip saya!" bentak nya, ia kesal melihat senyum absurd gadis itu, seakan menertawakan apa yang ia lakukan tadi.
Terlebih saat wanita itu dengan berani nya mengabaikan dirinya. " jawab!" bentaknya sekali lagi.
" iya iya, bisa nggak, nggak usah teriak-teriak, aku nggak budek!" sungut nya, membuat Amarah nya kian bergejolak, namun ada yang aneh dari tubuhnya, kantuk dahsyat tiba-tiba menyerang nya.
Dengan rambut yang masih basah, seharusnya tidak mungkin jika kantuknya secepat ini datang, apalagi saat melirik jam dinding, waktu masih belum terlalu malam.
Ia mengerjapkan matanya, berusaha mengusir kantuk itu, tapi semakin ia mengerjap semakin matanya ingin terpejam, mau tidak mau ia harus menahan kekesalannya pada wanita kurang ajar itu dan mengusirnya keluar.
Tepat setelah pintu tertutup setelah Arina keluar, tubuh nya oleng hingga tangannya menyikut coklat panas yang memang masih sangat panas.
Di tengah-tengah kantuk yang menderanya, otak nya masih bekerja, sepertinya ada sesuatu pada minumannya. Tapi, saat ini bukan waktunya untuk berpikir keras. Sial nya, tubuh nya ambruk lebih dulu ketika ia berniat masuk ke dalam kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya.
...*********...
" nyonya, nya!" Arina terkejut saat mendengar desi memanggilnya, suara ketukan pintu yang tak berhenti membuat nya tak tahan untuk mengumpat, Sial!
Baru saja ia terlelap, tapi gangguan sudah datang, seperti nya ia tidak di ijinkan tenang di rumah ini. Dengan menghela napas kasar, ia bergegas membuka pintu sebelum pintu kamarnya benar-benar jebol di tangan Desi.
" ada apa sih, desi" tanya nya berusaha menahan geram yang menggunung.
" itu nya, di luar ada lima orang, mereka bilang dari tenaga kebersihan yang nyonya order." Arina mengangguk, ia baru ingat jika ia yang menghubungi mereka tadi.
" suruh masuk aja, biar cepat bersih ini rumah."
Ia urung pergi saat Desi kembali berujar." tapi nya, kata tuan__"
" aku sudah bilang tadi sama Alvian saat membawakan minum, dia bilang boleh. Tapi jangan sampai merubah tatanan sebelum nya, jadi kamu awasi mereka, oke."
Meski ragu, tapi ia tetap menuruti perintah Arina, bagaimana jika Alvian benar-benar sudah mengijinkan nya, bisa tamat dia kalau tidak menurutinya.
Sedang Arina kembali ke tempat peraduan nya, seharusnya Alvian sadar esok hari, mengingat ia meletakan obat tidur pada minumannya lumayan banyak.
Sebelum menghadapi masalah besok pagi, sepertinya ia harus tidur nyenyak malam ini agar tubuhnya fresh dan siap menghadapi kemarahan pria gila itu besok.
Namun, lagi-lagi Arina mengerang kesal karena desi kembali teriak-teriak memanggil nya, suaranya yang cempreng cukup menganggu meskipun ia yakin wanita itu tak sedang berada di depan kamarnya.
Dengan langkah malas, ia keluar dari kamar nya dan mendapati desi masih terus meneriakkan namanya seraya menuruni tangga dengan raut wajah ketakutan.
" tuan nyah, tuan pingsan! Beliau pingsan di depan meja kerjanya" pekik nya histeris. Suara desi itu berhasil menyita perhatian beberapa cleaning service, bahkan petugas pria nya mengutarakan ingin membantu jika di perlukan.
" jangan mas, nggak asal orang bisa naik ke atas apalagi masuk ke ruang kerja tuan" tolak desi cepat, Arina yang tersenyum tipis karena itu hasil perbuatannya nya melotot tiba-tiba saat mendengar desi menolak bantuan petugas itu.
Kalau desi menolak bantuan si cleaning service, terus siapa yang akan menggotong tubuh raksasa itu.
" nyah tuan pingsan!" ucap Desi sekali lagi karena merasa tidak di tanggapi.
Arina menghela napas panjang, ia tidak akan berakting terkejut saat ini karena besok ia yakin Alvian akan memarahi nya saat sadar. Rumah sebesar ini tidak mungkin tidak ada cctv nya kan, apalagi ruang kerja pria itu.
" ya udah ayo kita ke atas." ucap nya tanpa minat, raut heran langsung tercetak pada wajah desi, tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti nya.
Karena desi dengan percaya diri nya menolak niat baik petugas cleaning service tadi, mau tidak mau mereka berdua harus bekerja keras memindahkan tubuh Alvian ke kamar pribadi nya.
Meski dengan serangkaian drama dan perjuangan, akhirnya Arina dan desi berhasil memindahkan nya." huft! Berat juga si psikopat!" gumamnya setelah menghempaskan dirinya di sebelah Alvian, punggung nya menimpa tubuh Alvian tapi ia tidak peduli. Tangan nya sibuk mengusap keringat nya yang bercucuran meski ruangan ini full AC.
" nyah saya keluar dulu." Arina yang masih terpejam mengangguk tanpa menjawab, setelah berhasil mengatur nafasnya, ia bangkit dari posisinya.
" selamat tidur pak suami, kamu harus mengumpulkan tenaga untuk memarahi ku besok" Arina terkekeh seakan hal itu bukan hal yang menakutkan baginya. Lalu keluar dari ruang kerja Alvian untuk meneruskan mimpi nya yang tertunda.