Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Permainan dimulai
Pada akhirnya Serah memilih 7 orang pelayan wanita sebagai hadiah persembahan dari Louis untuk dirinya.
Ketujuh orang pelayan wanita itu pastinya adalah Helena (18 tahun) yang dikatakan sebagai hadiah istimewa dari Louis. Lalu ada Cristine (27 tahun), Anastasia (24 tahun), Rose (25 tahun), Mary (23 tahun), Patricia (26 tahun), dan terakhir Brigatte (26 tahun).
Masing-masing dari mereka sebenarnya adalah para putri bangsawan yang berasal dari kelas menengah ke atas. Semuanya berpendidikan dan cerdas.
"Baiklah kalian boleh kembali untuk istirahat dan menjalankan tugas kalian besok," ujar Serah setelah merasa puas berbicara kepada para gadis yang sudah dipilihnya (minus Helena).
"Terimakasih, Yang mulia," ucap mereka secara serempak sambil membungkuk.
Helena menjadi orang yang langsung duluan keluar bahkan mendahului barisan di mana seharusnya Brigatte duluan yang keluar tadi.
Gadis itu langsung mendahului langkah Brigatte dan sedikit menyenggol bahu gadis itu. Brigatte terlihat kesal atas sikap Helena yang sembarangan bahkan di depan Serah, sang calon Ratu, seakan ia tidak memandang kedudukan Serah di dalam sana. Tapi untungnya dia bisa menahan emosi diri dan langsung menyusul dari belakang.
Satu-persatu dari mereka keluar sampai ketika giliran Cristine hendak keluar, Serah menghentikannya.
"Lady Cristine," ujar Serah sambil berjalan mendekati wanita tertua di antara ketujuh orang gadis yang menjadi persembahannya.
"Iya, Yang mulia?" Cristine yang dipanggil terkejut. Ia segera membalikkan tubuhnya ke belakang dan menghampiri Serah kembali dengan sedikit membungkuk dan berdiri kembali.
"Mulai sekarang aku ingin kau yang menjadi pemimpin di antara mereka. Aku memberikan kekuasaan penuh kepadamu."
Cristine, wanita cantik berdarah bangsawan itu segera mengangkat wajahnya dan menatap sang Ratu dengan mata berkilat penuh kebanggaan. Namun, juga ada keraguan sesaat setelah ia teringat akan ucapan Raja Louis mengenai Helena.
Berangsur-angsur wajahnya yang cerah tadi berubah menjadi sebuah dilema yang kontras.
"Lady Cristine?" Serah menangkap keraguan itu dan menatapnya dengan tanya.
"Mohon maaf, Yang mulia..., tapi bagaimana dengan..., Lady Helena...?" Ucapnya dengan penuh kehati-hatian. Dia tak mau terkena masalah setelah mempertanyakan ini.
"Aku tau maksudmu," jawab Serah yang dapat cepat menangkap maksud dari wanita di hadapannya ini. "Helena adalah pilihan istimewa Raja, tapi kau..., adalah pilihanku." Serah melangkah lebih dekat dengan Cristine. "Kalau Raja menegur mu, aku yang akan bertanggung-jawab," ucapnya dengan tegas memberikan jaminan. "Kau memiliki hak penuh di sini sebagai kepala mereka, bukan Helena," tandasnya sebagai kalimat pamungkas sebagai penegasan posisi Cristine.
"Terimakasih Yang mulia. Saya akan menjalankan tugas sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan!" Keraguan itu seketika sirna. Kini ia tampak antusias dan memberikan hormat yang dalam pada Serah.
"Sekarang pergilah, tugas kalian akan dimulai besok." Serah tersenyum dan mengijinkan Cristine untuk pergi.
Wanita itu tersenyum dengan wajah cerah, ia membungkuk kembali kepada Serah sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan kamar sang calon Ratu yang baru saja memberikan kepercayaan besar kepadanya.
"Louis, sekarang kita lihat Helena akan terhalang oleh Cristine dan tersingkir dengan sendirinya...."
Serah berdiri tegak di dalam ruangan dengan penuh kewibawaan yang matang. Aura yang selama ini tak ia biarkan lolos, bocor tertampak mata oleh sang Raja. Bidak catur permainan mulai bergerak, Serah berada di tengah-tengah permainan, dengan Louis sebagai lawannya di seberang berada paling belakang. Kali ini dari sisinya, Cristine berdiri di depan dirinya, berhadapan dengan Helena dari pihak Louis.
.
.
Di tempat yang berbeda, di sebuah ruangan kamar khusus istana, Louis terlihat sedang berdua bersama dengan Helena.
Ternyata setelah dari kamar Serah, Wanita itu sudah ada janji dengan Louis dan segera mendatanginya ketika pertemuan itu selesai.
Helena bergelayut manja, duduk di atas pangkuan sang Raja, merayunya dengan kata-kata mesra.
"Louis, Serah itu sangat membosankan. Kenapa kau menempatkan aku menjadi pelayannya? Kenapa kau tidak menjadikan aku pelayan pribadi mu saja?" Suaranya berbisik rendah dengan nada sensual dengan jarak tubuh yang sudah terlalu dekat melewati batas. Sementara tangannya tanpa canggung melingkar di leher pria itu.
"Helena, bukankah kita sudah sepakat? Aku sengaja menempatkan mu bersama Serah agar kau bisa memantau setiap gerak-geriknya." Louis membelai wajah gadis itu dan berbicara dengan lembut sebagai jawaban. Hanya saja Helena saat itu tak mengerti kalau yang Louis sedang lakukan adalah memaksakan ego nya secara halus.
"Hmph...." Helena merajuk. Dia melepaskan rangkulan tangannya dan mengalihkan pandangannya dari sang Raja.
"Helena, bukankah kau berjanji akan membantuku?" Louis tentu saja mencoba rayuannya untuk membujuk Helena. Pria itu langsung memeluk tubuh gadis muda itu dari belakang.
"Tapi aku tak suka protokol, itu merepotkan!"
Helena tampaknya benar-benar kesal, karena ruang geraknya akan terasa lebih sesak berada di tempat Serah. Waktu berada dalam pengawasan Beatrice saja, dia sudah cukup menderita karena begitu banyak aturan istana yang harus ia patuhi, sekarang ia harus melayani Serah yang pasti akan membuat dirinya semakin susah. Wajahnya benar-benar terlihat muram.
"Helena kau cukup memantau saja, bukankah aku sudah memberikan hak istimewa, agar kau tidak perlu terlalu mematuhi aturan dan bebas sesukamu?"
Mata gadis itu berbinar ketika mendengar penjelasan Louis, karena sebelumnya ia sama sekali tidak memikirkan hal itu.
"Benarkah? Aku gak perlu mengikuti aturan?" Wajahnya kembali riang, senyumnya pun mengembang lebar sampai gigi-gigi putih kecilnya sedikit terlihat.
"Aku juga akan memberikanmu hadiah gaun juga perhiasan yang jauh lebih indah dari Serah agar mereka bisa melihat kau lah yang kelak pantas menjadi Ratuku...."
Ucapan Louis barusan membuat Helena terlonjak senang. Ia langsung memeluk tubuh sang Raja dengan mesra.
"Ah, terimakasih Yang mulia!" Ucapnya dengan luapan kebahagiaan yang memuncak.
"Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku," imbuh Louis secara halus namun nadanya serius.
"Apa itu, Yang mulia?" Balas Helena yang belum menyadari kalau dirinya akan terlibat ke dalam sebuah rencana yang telah dipersiapkan oleh Louis.
"Kalau kau ada waktu, carilah buku dengan judul Art of war dan Germania, di ruangan Serah," bisiknya perlahan ke telinga Helena, "apa kau bisa melakukannya untukku?" Ujarnya sembari mengelus dagu wanita muda itu.
"Tentu, Yang mulia, hanya mencari buku, itu mudah," jawab Helena langsung menyanggupi perintah dari Louis tanpa memikirkan akan adanya konsekuensi nanti.
"Besok bersikap baiklah kepada Serah, agar dia mempercayai mu dan membuat mu lebih mudah untuk berada di dekatnya, kau mengerti 'kan, Helena?" Tanpa disadari oleh Helena kalau sebenarnya saat ini sang Raja sedang memanipulasi dirinya.
"Ya, aku akan jadi anak anjing yang patuh," ucap Helena sembari tertawa, lalu, "setelah itu aku akan menggigitnya dengan keras!" Lanjutnya sambil memperagakan gerakan menerkam dengan sebelah tangannya dan lanjut tertawa sambil membayangkan wajah Serah nanti setelah berhasil ia tipu.
Tapi apakah benar akan semudah itu sementara Serah sudah mempersiapkan diri untuk mengatasi Helena nanti?
Louis tampak menyeringai tenang di atas singgasananya yang belum tergoyahkan di atas papan catur raksasa.
Pandangannya lurus menatap ke depan, ke arah di mana Serah sedang berdiri seorang diri.
"Serah kalau berani mengancam ku, maka orang-orang ku tak akan segan untuk menjatuhkan mu. Lebih baik kau menyerah dan ikuti skenario ku," ujarnya pelan. Di depannya sudah berdiri banyak orang dengan bayangan hitam yang nantinya siap untuk dia gunakan.
fix bakalan di kudeta dah ini.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib