"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Ruang tamu malam itu terasa kaku. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar, seolah menunggu siapa yang akan bicara duluan. Lampu gantung bergoyang perlahan tertiup angin dari jendela yang terbuka separuh.
Pak Bram duduk tegak di kursi utama, wajahnya keras seperti patung, sementara Bu Lilis di sebelahnya menatap Rama dengan ekspresi campuran antara lega dan bingung. Di seberang mereka, Citra duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan, matanya menunduk, tapi napasnya berat menahan gugup.
“Jadi…” suara Pak Bram memecah keheningan, berat dan dalam, “kamu perempuan yang mempengaruhi Rama buat nikah diam-diam, hmm?”
Citra spontan mendongak. Ia tak sanggup terus menunduk dalam ketegangan itu. “Bukan begitu, Pak,” katanya cepat. “Saya yang minta. Saya yang memaksa Pak Rama menikah.”
Rama menoleh, kaget. “Citra…”
Tapi Citra tidak berhenti. Matanya berkilat tajam. “Anak Bapak, Rava, kabur! Dan semua orang menuduh saya yang bukan-bukan! Saya malu, Pak. Keluarga saya juga dipermalukan. Jadi saya pikir, kalau Rama yang jadi penyebabnya, dia juga harus tanggung jawab!”
Suasana menegang. Bu Lilis sempat menahan napas. Rama ingin bicara, tapi Pak Bram mengangkat satu tangan, memberi isyarat diam. Tatapan matanya menajam menembus wajah Citra beberapa detik — lalu…
Tawa keras meledak.
“HA-HA-HA-HA! Ya ampun, Rama! Akhirnya juga! Duda karatan satu ini akhirnya nikah juga!”
Rama terperangah. “Pa…”
Pak Bram terus tertawa sampai air matanya keluar, menepuk pahanya berkali-kali. “Dengar sendiri tadi? Istrimu yang memaksa! Gila! Dunia ini benar-benar lucu!”
Citra melongo, tidak yakin ia baru saja dimarahi atau dipuji. Sementara Bu Lilis menatap suaminya sambil menepuk bahunya. “Pak, tolong jangan ketawa dulu, nanti darah tinggi naik.”
“Gimana aku nggak ketawa, Li? Anak kita yang tua ini, yang dulu bilang nggak mau nikah lagi karena trauma, sekarang malah ditarik-tarik gadis muda buat nikah! Hebat, hebat!”
Rama menggeleng, wajahnya memerah antara malu dan kesal. “Pa, ini serius.”
“Ya aku juga serius!” sahut Pak Bram, masih terkekeh. “Tapi aku salut, lho, Nak Citra. Kamu bisa ambil keputusan saat posisi kamu lagi disudutkan begitu. Jarang perempuan yang masih bisa mikir jernih waktu lagi hancur-hancurnya. Kamu kuat.”
Nada suaranya berubah. Kali ini bukan tawa, tapi ketulusan yang dalam. Ia menatap Citra dengan mata yang hangat. “Aku bangga. Rama beruntung dapat istri kayak kamu.”
Citra menunduk pelan, pipinya memerah. “Terima kasih, Pak…”
Pak Bram kemudian berdeham, suaranya kembali tegas. “Baiklah, kalau begitu, apa rencana kamu selanjutnya, Ram?”
Rama duduk tegak. “Aku mau semuanya legal, Pa. Nggak cuma agama, tapi juga negara. Aku mau tanggung jawab penuh.”
Pak Bram mengangguk puas. “Bagus. Itu baru laki-laki.”
Ia bersandar ke kursi, lalu menatap Bu Lilis. “Tapi ngomong-ngomong, mahar kalian berapa?”
Pertanyaan itu membuat udara seperti berhenti sejenak. Bu Lilis saling pandang dengan Citra, sebelum akhirnya menjawab lirih, “Lima ribu.”
“APA?!”
Suara Pak Bram menggema sampai ke halaman depan. Ia berdiri, matanya membelalak. “LIMA RIBU?! RAMA! KAMU NIKAH ATAU BELI PERMEN, HAH?! MALU-MALUIN!”
Rama langsung tegak. “Pa, dengar dulu penjelasannya—”
Belum sempat selesai, sandal melayang cepat ke arah Rama. Untung ia menunduk tepat waktu, sandal itu melesat ke arah tembok dan jatuh dengan suara “plek!”.
“PA!” teriak Rama panik.
Pak Bram sudah bersiap dengan sandal satunya. “Sini kamu! Mau kuajari arti mahar!”
Bu Lilis langsung memegangi tangan suaminya. “Pak, cukup! Jangan heboh!”
“Biarin! Nih anak bikin malu keluarga!”
Citra yang dari tadi gemetar langsung berdiri, menghadang. “Pak, tolong jangan pakai kekerasan!”
Pak Bram menatapnya heran. “Kamu bela dia?”
“Iya, pak Rama suami saya. Kalau Bapak marah, siapa yang dengar penjelasannya?”
Pak Bram menatapnya lama, lalu perlahan menurunkan sandal. Nafasnya berat, tapi nada suaranya melunak. “Hmm… kamu ini keras kepala, ya. Nggak bisa diajak kompak marahin Rama.”
Citra tersenyum kecil. “Saya cuma nggak suka kekerasan, Pak.”
Pak Bram menghela napas panjang, lalu menatap Rama dengan pandangan geli. “Beruntung kamu punya istri kayak gini. Muda, tapi pikirannya dewasa. Kalau bukan karena dia, mungkin sandal ini udah mendarat di kepala kamu.”
Bu Lilis tertawa kecil. “Sudah, sudah. Duduk lagi, semuanya.”
Rama mengusap tengkuk, malu tapi lega. “Terima kasih, Cit.” bisiknya.
Citra hanya mendengus, tapi ujung bibirnya terangkat tipis.
Setelah suasana tenang, Pak Bram menatap Rama lebih serius. “Jadi, Rava sekarang di mana?”
Rama menggeleng. “Belum ketemu, Pa. Aku sudah cari, tapi dia ngilang. Aku akan terus nyari sampai ketemu.”
“Huh,” desah Pak Bram berat. “Anak itu memang kurang ajar. Dibesarkan sama ibunya yang nggak becus. Dari dulu aku nggak suka sama perempuan itu. Keras kepala, egois, dan selalu nyalahin orang lain.”
Rama diam, wajahnya menegang. Ia tahu topik itu selalu membuat hatinya sesak.
Citra menatapnya sekilas, lalu menunduk lagi. Ia bisa merasakan luka yang terselip di balik kata-kata Rama yang tenang.
Pak Bram menepuk bahu putranya. “Sudahlah, yang penting sekarang kamu punya hidup baru. Citra ini tanggung jawabmu. Jangan buat dia kecewa.”
Rama mengangguk mantap. “Iya, Pa.”
Pak Bram tersenyum lebar, lalu berdiri. “Nah, kalau begitu, aku tenang. Punya menantu baru, punya harapan baru juga.”
Ia menoleh ke Bu Lilis. “Ayo, Li, kita pulang. Kasih mereka waktu berdua. Siapa tahu besok aku udah dapet kabar gembira…”
“Pah!” seru Rama, tapi Pak Bram malah mengangkat alis dengan senyum nakal.
“Kenapa? Aku kan cuma bilang siapa tahu kalian mulai rencana bikin cucu malam ini, hahaha!”
Bu Lilis langsung mencubit lengannya. “Astaga, Pah! Mulutnya!”
Pak Bram malah tertawa makin keras, langkahnya menjauh ke depan rumah. “Papa senang akhirnya anak papa punya istri! Dunia jadi lebih lucu lagi malam ini!”
Begitu pintu tertutup, Citra dan Rama saling berpandangan. Beberapa detik hening, lalu Rama menahan tawa.
“Lucu banget sih, orang tuamu.”
“Biasa,” sahut Rama, menatapnya geli. “Papah memang aneh. Tapi… aku senang beliau suka kamu.”
Citra memutar bola mata. “Citra nggak tahu harus senang atau takut.”
Rama mendekat sedikit. “Kita jalani aja, ya?”
meninggal Juni 2012
😭😭