NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

32. TGD.32

Waktu seolah menari di antara musim tanam dan musim panen yang silih berganti. Enam tahun berlalu sejak hari pertama si kembar tiga laki-laki menginjakkan kaki di sekolah, dan kini, "Omah Tandur" sedang bersiap merayakan sebuah transisi besar. Hari ini adalah hari kelulusan SD bagi **Bumi, Aksara, dan Padi**, sekaligus hari pertama masuk sekolah bagi trio bunga desa: **Kirana, Larasati, dan Mentari**.

Halaman sekolah SDN 01 Desa Makmur pagi itu dipenuhi dekorasi janur kuning dan bunga-bunga sawah yang segar. Shelly tampak sangat anggun mengenakan kebaya kutubaru berwarna ungu muda, sementara Arkan terlihat gagah dengan batik tulis motif parang yang didesain khusus agar tampak modern.

---

Di atas panggung kayu yang kokoh—yang dulu dibangun sendiri oleh Arkan—Bumi berdiri di posisi paling depan. Ia terpilih sebagai lulusan terbaik dengan nilai sempurna pada mata pelajaran sains dan matematika.

"Saya berjanji," suara Bumi terdengar berat dan mantap melalui mikrofon, "bahwa ilmu yang kami dapatkan di sekolah ini tidak akan kami bawa pergi untuk melupakan desa, melainkan untuk membangun tanah ini menjadi lebih hijau dan cerdas."

Shelly mengusap air matanya dengan sapu tangan. Ia melihat Aksara di barisan belakang sedang sibuk membetulkan kabel pengeras suara yang sempat tersendat—jiwa teknisnya tidak bisa diam bahkan di hari wisudanya sendiri. Sementara Padi, si bungsu laki-laki, tampak dikerumuni teman-temannya; ia membagikan bibit bunga matahari kecil sebagai kenang-kenangan untuk setiap guru.

"Mas, lihat mereka," bisik Shelly pada Arkan. "Dulu mereka hanya butiran debu di USG, sekarang mereka sudah jadi calon pemimpin."

Arkan merangkul bahu Shelly. "Bumi sudah minta izin padaku, Shel. Dia mau masuk SMP asrama yang fokus pada kepemimpinan di kota kabupaten. Aksara mau masuk sekolah teknik, dan Padi tetap mau di sini, membantumu di koperasi sambil sekolah. Mereka sudah punya jalan masing-masing."

---

Setelah prosesi wisuda selesai, perhatian beralih ke tiga gadis kecil yang sejak tadi sudah tidak sabar mengenakan seragam merah-putih mereka. **Kirana, Larasati, dan Mentari** kini berusia tujuh tahun. Wajah mereka adalah perpaduan sempurna antara ketegasan Arkan dan kecantikan lembut Shelly.

Jika dulu si kembar laki-laki berangkat sekolah dengan membawa obeng dan tablet, trio perempuan ini memiliki gaya yang berbeda.

"Ibu! Lihat, Kirana sudah pakai pita merah di rambut! Kirana mau jadi guru paling cantik di kelas!" seru Kirana sambil berputar-putar.

Larasati, yang lebih pendiam, sibuk merapikan kotak pensilnya yang berisi krayon warna-warni. "Laras mau gambar sawah Ibu di papan tulis nanti."

Sedangkan Mentari, si bungsu yang paling pemberani, sudah berdiri di depan gerbang sekolah sambil memegang tangan kakaknya, Padi. "Kak Padi, kalau ada yang nakal sama Mentari, Mentari harus lari atau harus balas?"

Padi tertawa, mengacak rambut adiknya. "Kamu nggak perlu balas, Men. Kamu cukup bilang kalau kamu adiknya Padi, pasti nggak ada yang berani nakal."

---

Momen "serah terima estafet" terjadi di depan gerbang sekolah. Bumi, Aksara, dan Padi berdiri berhadapan dengan ketiga adik perempuan mereka.

"Adik-adik," ucap Bumi dengan nada berwibawa. "Mulai hari ini, tugas kalian adalah menjaga nama baik rumah kita di sekolah ini. Jangan malas belajar, dan dengarkan kata Ibu Guru."

Aksara menyerahkan sebuah kunci kecil kepada Larasati. "Ini kunci loker bekas Kakak. Kakak sudah perbaiki engselnya supaya nggak bunyi. Gunakan dengan baik."

Larasati menerima kunci itu seperti menerima harta karun. "Makasih, Kak Aksara."

Arkan dan Shelly memperhatikan interaksi itu dari kejauhan. Shelly merasa hatinya membuncah. Keberhasilan terbesarnya bukanlah saat koperasinya menembus pasar Eropa, melainkan saat ia melihat keharmonisan keenam anaknya.

"Shel," Arkan membuka suara. "Aku baru saja dapat kabar dari kantor pusat di Jakarta. Desain sekolah pertanian yang aku buat kemarin memenangkan penghargaan nasional. Mereka mau kita datang untuk penganugerahan."

Shelly tersenyum, namun matanya tetap menatap anak-anaknya. "Mas pergi saja. Aku harus tetap di sini. Minggu depan Kirana ada lomba menari di sekolah, dan Bumi mulai masuk asrama. Aku nggak mau melewatkan satu detik pun momen mereka."

Arkan menatap istrinya dengan kagum. "Kamu benar-benar memilih jadi 'Akar' bagi mereka ya, Shel?"

"Tanpa akar yang kuat, pohon setinggi apa pun akan tumbang, Mas. Biarlah kamu yang menjadi 'Dahan' yang menjangkau langit Jakarta, aku akan tetap di sini, memastikan tanah mereka tetap subur."

---

Sore harinya, saat mereka sedang merayakan kelulusan dengan makan tumpeng di teras, Padi mendekati Shelly. Ia membawa sebuah buku catatan kecil yang sudah kusam—itu adalah buku catatan Shelly saat pertama kali membangun koperasi.

"Bu," ucap Padi pelan. "Padi nggak mau sekolah ke kota seperti Kak Bumi atau Kak Aksara. Padi mau sekolah di SMP Desa saja."

"Kenapa, Sayang? Nilaimu bagus, kamu bisa masuk sekolah mana pun," tanya Shelly lembut.

Padi menatap hamparan sawah di depan rumah mereka. "Padi mau temani Ibu. Padi mau belajar cara bicara dengan tanah. Padi mau jadi petani, Bu. Petani yang keren seperti Ibu."

Shelly tertegun. Ia memeluk Padi erat-erat. Air matanya jatuh di pundak anaknya. Di antara semua pencapaiannya, pengakuan dari anaknya sendiri bahwa profesi petani itu "keren" adalah medali emas yang sesungguhnya.

Arkan yang mendengar itu dari ambang pintu hanya bisa tersenyum simpul. Ia tahu, masa depan desanya kini berada di tangan yang tepat. Bumi akan menjadi politisi atau pemimpin yang hebat, Aksara akan menjadi insinyur yang inovatif, dan Padi akan menjadi penjaga bumi yang setia. Sementara ketiga anak perempuannya akan membawa kelembutan dan warna baru dalam dunia mereka.

---

Malam itu, "Omah Tandur" sunyi namun penuh dengan energi kehidupan. Di ruang tengah, tiga anak laki-laki sedang sibuk mengemas barang-barang untuk masuk ke jenjang pendidikan baru, sementara tiga anak perempuan tertidur pulas dengan seragam baru yang diletakkan di samping bantal mereka.

Shelly dan Arkan berdiri di balkon, menatap masa depan yang kini terasa begitu dekat.

"Enam anak, Mas," bisik Shelly.

"Enam harapan, Shel," sahut Arkan.

Mereka telah berhasil. Dari sebuah perjumpaan di bus yang tidak disengaja, melewati keraguan keluarga, hingga membangun sebuah dinasti kecil di pinggir sawah. Kisah asmara mereka bukan lagi sekadar tentang dua orang yang saling mencintai, tapi tentang dua orang yang sepakat untuk mencintai sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri: keluarga, tanah, dan masa depan.

Di kejauhan, sensor digital di sawah masih berkedip hijau, menjaga padi yang sedang tumbuh. Dan di dalam rumah, enam detak jantung anak manusia berdenyut teratur, siap menyongsong esok pagi yang penuh dengan cerita baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!