Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arlan mengeluarkan ponselnya dari saku celana karna berdering. Dia pamit undur diri dari ruangan pasien setelah melakukan visit dan buru-buru menerima panggilan dari Rachel. Padahal beberapa meniti yang lalu Rachel menolak panggilan telfonnya, sampai tidak bisa dihubungi lagi karna nomornya tidak aktif, sekarang malah menelponnya.
“Kamu sudah pulang?” Tanya Arlan.
“Cepat transfer uang ke nomor rekening yang aku kirimkan padamu!” Suara tegas Rachel terdengar ketus diseberang sana.
Arlan mengerutkan kening, jelas saja dia bingung untuk apa Rachel memintanya mentransfer uang. “Untuk apa? Aku sudah memberimu uang tadi pagi.”
Rachel berdecak kesal, amarah Rachel seolah bisa menembus layar karna Arlan bisa merasakannya.
“Kamu pikir uang seratus lima puluh ribu cukup untuk apa?! Untuk sekali makan di kantin sudah habis. Aku pulang menggunakan taxi dan tidak punya uang untuk membayarnya. Cepat transfer uangnya atau sopir taxi itu akan melaporkan ku ke polisi!” Rachel mengomel, meluapkan kekesalannya dengan menggebu-gebu.
Arlan menghela nafas berat. “Bukankah aku sudah menawarkan diri untuk menjemputmu, tapi kamu lebih memilih menggunakan taxi. Jika sudah begini, kamu sendiri yang repot”
“Dasar pelit! Bilang saja kamu tidak mau membayar taxinya!” Rachel memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Lagi-lagi Arlan hanya bisa menghela nafas. Dia membuka pesan dari Rachel dan mentransfer sejumlah uang ke rekening yang Rachel kirimkan padanya. Arlan membalas pesan Rachel dengan mengatakan bahwa dia sudah mentransfer uangnya, bahkan mengirimkan bukti transfer agar Rachel percaya. Namun bukannya mendapat ucapan terimakasih, Arlan malah mendapat cacian seperti biasa. Rachel menyebutnya pria miskin tidak punya uang.
...*****...
“Lihat, sudah aku transfer tiga kali lipat!” Ketus Rachel pada sopir taxi sembari menunjukkan bukti transfernya. Dia sempat dikatai gaya elite ekonomi sulit oleh supir taxi itu, jadi Rachel membalasnya dengan membayar argo taxi 3 kali lipat.
“Lain kali jangan menghentikan taxi jika tidak punya uang, kasihan orang lain yang harus membayarnya.” Ucap sopir taxi itu, dia beranjak dari duduknya untuk kembali ke mobil yang dia perkiraan di depan pintu masuk apartemen karna harus mengawasi penumpangnya agar tidak kabur sebelum membayar.
Rachel mengepalkan kedua tangannya, dia ingin membalas ucapan supir taxi itu tapi sudah masuk ke dalam mobil. Alhasil Rachel memilih menendang body mobil sebelah kiri dan segera berlari masuk.
Supir taxi itu sempat berteriak dengan umpatan saking kesalnya dengan perlakuan penumpangnya. “Anak muda sekarang banyak yang tidak punya etika, gayanya saja seperti orang kaya dan berpendidikan.” Gerutunya tak habis pikir.
Rachel menutup pintu apartemen dengan cara membantingnya, dia sudah seperti ingin menghancurkan apartemen milik Arlan.
“Arrggh!! Daddy dan Mommy tega sekali membuatku hidup menderita seperti ini!” Rachel berteriak penuh amarah. Dia melempar tas di sofa dan menjatuhkan diri disana.
“Semua ini gara-gara Bulan! Kalau saja dia tidak merebut Kak Erik dariku, aku pasti masih bisa hidup dengan kemewahan. Daddy dan Mommy tidak akan menarik fasilitasku, apalagi sampai menikahkan ku dengan Arlan sialan itu!” Rachel tidak berhenti menggerutu, dia menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.
Padahal Bulan adalah korbannya, dia hanya beruntung karna tidak terperangkap dalam jebakan yang dibuat Rachel. Selain Bulan, Arlan juga bisa dibilang sebagai korban. Dia hanya berniat menolong Rachel yang malam itu hampir di per ko sa oleh preman. Jika bukan karna Arlan, Rachel pasti sudah kehilangan masa depannya.
...*****...
Arlan keluar dari ruangannya pukul 3 sore dan bergegas menuju lift untuk turun ke basement. Arlan sebenarnya memiliki janji dengan temannya untuk bertemu di salah satu cafe terdekat, namun dia memilih pulang karna Rachel tidak bisa dihubungi setelah tadi siang marah-marah masalah pembayaran taxi. Arlan sebenarnya bisa saja menutup mata tentang Rachel, tanpa perlu mengkhawatirkan wanita itu, namun dia sudah berjanji pada Ayah mertuanya akan menjaga Rachel dan memastikan Rachel baik-baik saja selama bersamanya.
Ayah mertuanya sudah memberikan kepercayaan penuh padanya, jadi Arlan berusaha untuk tidak menghancurkan kepercayaan orang lain terhadapnya.
“Sore Dokter Arlan. Sudah mau pulang ya?” Sapa seorang wanita yang baru saja keluar dari lift. Dia adalah salah satu Dokter muda di rumah sakit ini seperti Arlan.
“Sore juga Marisa. Iya, jam praktiknya sudah selesai. Saya duluan."
“Tunggu Dok, saya boleh ikut pulang? Kebetulan mobil saya masih di bengkel. Sebentar, saya ambil tas saya dulu Dok.” Marisa tampak buru-buru ingin mengambil tas di ruangannya, tapi Arlan segera mencegahnya.
“Maaf Marisa, saya tidak bisa mengantar kamu karna ada urusan. Perlu saya pesankan taxi?” Tawarnya.
Marisa tersenyum kaku, senyum yang tampak kecewa dan dipaksakan. “Oh, tidak perlu Dok, nanti saya pesan taxi sendiri saja. Terimakasih.”
Arlan mengangguk pelan. “Saya duluan.” Ucapnya sebelum masuk ke mencegahnya
Beberapa minggu terakhir Marisa kerap menyapa Arlan dan berusaha mengobrol dengannya. Arlan tidak tau apakah Marisa memang ramah pada semua pria setelah hubungan dengan tunangannya berakhir, atau berubah ramah padanya saja. Arlan tidak begitu membaca situasi karna sebelumnya terlalu sibuk menata hati setelah putus dengan Bulan.
Arlan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen. Sesekali dia masih mencoba menghubungi nomor Rachel meski hasilnya tetap sama. Nomor Rachel belum aktif sampai sekarang. Arlan sudah menahan diri untuk tidak menghubungi mertuanya dan menanyakan keberadaan Rachel, dia khawatir jika Rachel tidak pulang kesana dan hanya akan membuat mertuanya khawatir. Arlan perlu memastikan lebih dulu apakah Rachel ada di apartemen atau tidak.
“Astaga, kenapa aku tidak berfikir mengecek cctv." Arlan menepuk keningnya sendiri. Berjam-jam dia dibuat panik memikirkan keberadaan Rachel, sampai lupa jika di apartemennya ada cctv yang bisa di akses melalui ponselnya.
Arlan menepikan mobilnya di jalanan yang sepi, dia memutar cctv di jam 1 lewat 10 menit, setelah Rachel memintanya membayar ongkos taxi.
Sepanjang memutar rekaman cctv itu, Arlan tidak berhenti menghela nafas dan menggeleng melihat tingkah laku Rachel. Wanita itu membanting pintu, melempar tas, mengomel sampai mengumpat dengan kata-kata kasar. Tak berselang lama Rachel tampak ketiduran dan belum bangun sampai sekarang.
“Pantas saja.” Gumam Arlan, dia menyimpan ponselnya di jok samping dan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen.
Begitu sampai, Arlan mendapati Rachel duduk melamun dan sepertinya baru saja bangun tidur.
Perhatian Rachel langsung tertuju pada Arlan, ada tatapan benci dimatanya, namun Rachel sepertinya tidak memiliki energi untuk marah-marah lagi, jadi dia hanya diam saja dan membuang muka.
Arlan mengambil tempat di depan Rachel. “Mulai besok aku akan menjemputmu jika tidak sibuk, jangan keras kepala dengan memaksa pulang sendiri.”
Rachel menarik nafas dalam, tampaknya untuk menjawab perkataan Arlan butuh tenaga. “Langsung saja, kapan kamu akan menceraikan ku? Aku tidak sanggup hidup susah seperti ini.!”
Arlan ingin menjawab, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melihat panggilan telfon dari Ayah mertuanya, jadi segera mengangkat telfon.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊