maaf yah semuanya itu yg di atas bab satunya gx nyambung karna itu bukan , termasuk dalam bagian cerita yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elin yudia ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
"Kenapa? kenapa kau takut Sarah" ujar Mulya dengan menyeringai licik.
"Oh mungkin kamu takut, saya beritau ke pada kepala sekolah jika kau sudah menikah hah?"
"Atau, kamu takut suami mu mengetahui jika kamu itu sekolah?"
"Pak, bisa gak sih pak, gak usah ngimongin yang gak penting, saya mau istirah mau pulang jika bapak tidak ingin membicarakan sesuatu yang penting, saya mau istirahan," ujar Sarah mengelak.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraab Sarah, ini penting kau itu anak SMU tapi setatus mu itu bukan lah anak remaja lagi bahkan, kau sudah menikah apa masih bisa di sebut gadis." Cerocos Mulya panjang kali lebar.
"Pak, kalau ngomong tuh di jaga dong, bapak ini kalau ngomong cuman se enak jidat bapak aja, yang bisa nya cuman nagatai-ngatain saya. " Balas Sarah geram dengan guru nyinyir nya itu.
"Nona harus nya anda yang, bersikap sopan dengan saya karna saya itu guru anda. Dan anda hanya murid saya, jadi saya berhak mau bilang apa dan mau berbuat apa pun itu tidak ada yang melarang saya."
"Maaf pak jika anda waras, seharus nya anda tidak ikut campur dalam hidup saya! dan saya ingat kan sekali lagi jangan pernah gangu hidup saya, jika anda tidak ingin menyesal."
"Hahahhahah , apa kata mu menyesal saya tidak akan menyesal, yang akan menyesal itu kamu!!!" balas Mulya dengan suara agak di tinggikan.
"Bener-bener nih orang emang minta di hajar, kalau dia bukan guru saya sendiri udah saya habisin dia, gue tengelamin di rawa-rawa yang banyak buaya nya, dasar orang gila. " Gerutu Sarah dalam hati yang amat jengkel dengan guru nya.
"Maaf pak saya harus pulang, saya tidak bisa menemani anda tertawa sampai puas, saya pamit." Ucap Sarah denagn sedikit sindiran untuk Mulya yang kelewat agak sinting itu.
Sarah pergi dari taman, ia sangat lesu dan hati nya sangat gancur, sakit, takut, sedih semua nya menjadi satu, sungguh tidak karuan sekarang perasaan Sarah yang begitu menyedihkan. Rasanya dia pingin mati dan tidak ingin hidup di dunia yang kejam bagai neraka ini.
"Ya tuhan, cobaan apa lagi ini kenapa tidak berheti sih , begitu banyak cobaan ku yang harus aku lewati sendirian." Menyakitkan memang tapi harus bagai mana lagi nasi sudah jadi bubur apa boleh buat.
"Nona anda habis dari mana?"
"Tadi tuan Reyhan mencari anda, tapi anda tidak ada di dalam nona." Ucap salah satu bodyguart nya Reyhan.
"A, saya tadi habis jalan-jalan dengan kawan saya."Ucap sarah tergugup karna Reyhan mencari nya.
"K-kalau gitu saya permisi mau masuk."
"Ah iya nona silah kan."
"Aduh bisa gawat nih kalau samapai ketauan aku harus bilang apa ini."
" Ketauan apa?" tanya Reyhan yang tiba-tiba sudah ada di belakang nya.
"A-a i-itu," ucap nya tergagap karana tidak tau harus mengatakan apa.
"Itu apa? kau tidak sedang menyembunyikan sesuatukan?"
"Ah , tidak aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu." Ucap Sarah sesantai mungkin, dan setenang mungkin agar tidak ke tauan kalau ia sedang membohonginya.
"Tuan sejak kapan pulang?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Baru," jawab Reyhan sesingkat mungkin.
"Hmmm, tuan sudah makan?"
"Belum tolong masak kan, saya makanan!"
"Baik tuan."
setelah menayakan , Sarah langsung pergi ke dapur membantu para maid menyiapkan makan malam , sementara Reyhan pergi ke kamar nya, dan membersihkan diri setelah membersihkan diri, ia langsung tidur. Karna lelah seharian terus duduk di kantor terus.
_________________
"Nyonya anda sedang apa?" tanya salah satu maid di rumah itu.
"Saya hanya ingin memasak untuk suami saya , bi."
"Sudah biarkan saya saja yang memasak nyonya, nanti anda kecapean jika nyonya memasak."
"Tidak bi, saya sama sekali tidak cape kok bi, saya senang bisa memasakan makanan untuk suami saya bi."
"Nyonya, apa kah anda tidak lelah melakukan semua ini?"
"Tidak kok bi, saya sama sekali tidak lelah. Hmm bi, bibi bisa bantu saya untuk menyelesaikan ini saya ingin mandi bi, rasa nya panas sekali."
" Baik lah nyonya, saya akan melanjutkan semua nya."
"Yaudah bi makasih yah bi."
_________________________________________
"Tuan apakah anda sudah tertidur?" tanya Sarah sambil mengoncang kan tubuh Reyhan yang sedang terbaring di tempat tidur nya.
"Ah sudah lah mungkin dia sudah tidur, lebih baik aku mandi saja." Sarah langsung pergi ke kamar mandi lalu membersih kan diri , setelah selesai membersihkan diri ia langsung mengambil air wudhu. Setelah wudhu, ia langsung keluar dari kamar mandi. Langsung memakai pakaian nya, dan langsung mengempar sejadah dan memakai mukena nya. Setelah selesai sholat ia langsung berdoa, setelah selesai berdoa ia langsung membereskan mukena dan sejadah nya.
"Tuan! tuan,,,!"
"Bangun lah ini sudah waktu nya makan malam, ayo bangun tuan,,,"
"Hmm,,, apa sih kamu nih, gangu orang tidur aja bisa gak sih sehari aja jangan ganggu aku."
"Huh, di bangunin malah nyalahin, dasar mending gak usah di bangunin, tau kaya gini besok gak bakal aku bangunin lagi terserah mau makan gak makan bukan urusan aku, huh," gerutu Sarah dalam hati nya.
Sarah, hanya terus saja mengerutu karna ia gak dihargai sama suami nya sendiri. Ia terus saja cemberut dan tanpa ia sadari Reyhan sudah mengikuti nya di belakang nya, yang terus saja mengomel tanpa ada henti-hentinya.
"Siapa yang sedang kau bicarakan hem?" Sarah langsung membalikan tubuh nya, karna ia mendengar suara Reyhan menyebut nama nya.
"Ah itu, tidak ada kok," tutur Sarah gelagapan.
"Kau tidak perlu berbohong Sarah, kenapa kau kesal hem? apa aku sudah menyakiti mu?"
"Ah, tidak aku tidak marah atau pun kesal kok, tuan Reyhan. Apa anda tidak mempercayai ku tuan ?"
"Kenapa sekarang malah kau yang, balik bertanya, saya kan nanya kamu Sarah bukan nya kamu malah balik bertanya, saya tidak suka omongan yang bertele-tele atau pun apa saja yang bisa membuat ku marah ingat itu!"
"Maaf kan saya tuan jika saya sudah membuat mu marah, sekali lagi saya minta maaf tuan."
"Cih omong kosong apa an, jelas-jelas kau telah membicarakan ku tapi kau malah mengelak ketika ketauan telah membicarakan ku di belakang ku." Cerocos Reyhan pun sama seperti Sarah jika sudah berbicara tidak ada hentinya walau pun cuman masalah sepele selalu saja Reyhan memperbesar masalah , ia itu seperti anak kecil jadi setiap ada masalah, sedikit saja bisa jadi besar .
Huh, Sarah udah berusaha sabar mulai saat ini.