Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6: Dawuh Sang Kyai
Gus Azkar hampir saja menjatuhkan pulpen yang ia pegang ketika mendengar suara berat yang sangat berwibawa dari arah pintu samping—pintu yang terhubung langsung dengan kediaman utama pengasuh pondok.
Di sana, berdiri Kyai Muhammad, ayahanda Gus Azkar, yang sejak tadi ternyata tanpa sengaja mendengar percakapan antara putranya dan Ustadz Fadly. Beliau mengenakan sarung putih dan sorban yang tersampir rapi di pundak, dengan wajah yang memancarkan keteduhan namun penuh selidik.
"Siapa yang cantik??" tanya Kyai Muhammad tenang, namun suaranya menggema di seluruh ruangan.
Gus Azkar langsung berdiri tegak, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya yang biasanya dingin kini memerah karena malu dan tertangkap basah. Ia tak menyangka Abahnya akan mendengar gumamannya tadi.
"Abah... sejak kapan di situ?" tanya Gus Azkar dengan nada suara yang bergetar pelan.
Kyai Muhammad tidak langsung menjawab. Beliau melangkah masuk dan duduk di kursi yang tadi ditempati Ustadz Fadly. Beliau menatap putranya dengan tatapan mata seorang ayah yang sudah sangat mengenal tabiat anaknya. Beliau tahu, Azkar jarang sekali memuji wanita, apalagi sampai terlihat gelisah seperti ini.
"Cukup lama untuk mendengar kalau putraku sedang mengagumi salah satu santrinya," jawab Kyai Muhammad dengan senyum tipis yang penuh makna.
Gus Azkar hanya bisa diam membisu. Ia merasa seperti santri yang baru saja melakukan pelanggaran besar. Keinginannya untuk menyangkal terasa percuma di hadapan sang Abah.
"Dengar, Azkar," lanjut Kyai Muhammad, suaranya kini berubah menjadi lebih serius namun tetap lembut. "Kecantikan itu adalah fitrah, tapi cara kita menyikapinya yang menentukan nilai kita di mata Allah. Jangan zina mata, Nak. Terus-menerus membayangkan wajahnya dalam pikiranmu juga bisa menjadi beban bagi hatimu."
Beliau menghela napas sejenak, lalu memberikan kalimat yang membuat jantung Gus Azkar seolah berhenti berdetak. "Kalau kamu memang benar-benar suka dan merasa dia adalah wanita yang tepat, jangan hanya dikagumi dalam diam atau dijadikan bahan pembicaraan. Pinang dia. Datangi walinya dengan cara yang terhormat."
Gus Azkar mendongak sedikit, matanya menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa. "Tapi Abah... dia masih kelas dua SMA. Dan dia... dia santri luaran yang sedang banyak beban pikiran. Azkar takut ini terlalu cepat."
Kyai Muhammad terkekeh pelan melihat kepanikan putranya. "Menikah itu bukan soal cepat atau lambat, tapi soal kesiapan dan niat untuk menjaga. Jika kamu berniat menjaganya dari fitnah—seperti kejadian tadi—maka menyegerakan itu lebih baik. Abah sudah dengar kejadian di gerbang tadi. Gadis itu butuh perlindungan, dan mungkin, kamulah pelindung yang dikirim Allah untuknya."
Kalimat Abahnya terus terngiang di telinga Gus Azkar. Pinang dia. Sebuah kata yang terasa sangat berat namun sekaligus memberikan secercah harapan yang manis di hatinya.
"Pikirkan baik-baik, istikharah-lah. Jangan sampai rasa sukamu hanya menjadi sekadar kekaguman fisik yang tidak membawa berkah," tutup Kyai Muhammad sambil menepuk pundak putranya sebelum melangkah keluar menuju masjid.
Kini Gus Azkar sendirian lagi. Namun, kali ini pikirannya bukan lagi tentang kecantikan Rina, melainkan tentang bagaimana cara ia menghadapi gadis itu besok pagi dengan status perasaan yang sudah tidak lagi sama.
Langkah Gus Azkar terasa ringan namun pasti. Untuk mencapai rumah nenek Rina, ia harus memutar cukup jauh. Meskipun secara letak geografis rumah itu berada tepat di balik tembok tinggi asrama putri, tidak ada akses langsung dari dalam pesantren. Gus Azkar harus keluar melalui gerbang utama, melewati deretan toko di depan pesantren, lalu berbelok menyusuri jalan desa yang cukup panjang.
Gus Azkar melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan yang berkecamuk. Ucapan Abahnya tentang "pinang dia" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia berjalan menyusuri koridor pesantren yang mulai sepi karena para santri sedang bersiap untuk jamaah Maghrib.
Saat ia merogoh saku jubahnya untuk mengambil tasbih, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor asing masuk. Dengan dahi berkerut, ia membuka pesan tersebut.
+62857-XXXX-XXXX: "Assalamualaikum Ustadz, ini saya Rina. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena Ustadz sudah tidak menghukum saya tadi di kantor. Saya benar-benar menghargai kebaikan Ustadz."
Jantung Gus Azkar berdegup kencang. Ia berhenti melangkah tepat di bawah lampu koridor. Belum sempat ia membalas, pesan kedua masuk, dan kali ini isinya membuat dunianya seolah berhenti berputar.
"Ustadz... saya juga ingin mengabarkan, mulai besok saya mau berhenti mondok. Saya mempunyai alasan tertentu yang tidak bisa saya ceritakan. Terima kasih atas semua ilmu yang sudah Ustadz berikan selama ini."
Panik. Itu adalah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan perasaan Gus Azkar saat ini. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja, apalagi setelah apa yang baru saja ia sadari tentang perasaannya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia mengetik balasan.
Gus Azkar:
"Waalaikumussalam. Kenapa tiba-tiba? Pendidikanmu masih panjang, Rina. Jangan mengambil keputusan saat hatimu sedang terluka karena kejadian tadi."
Hening sejenak. Gus Azkar menunggu dengan tidak sabar. Menit terasa seperti jam. Akhirnya, balasan muncul.
Rina:
"Ini bukan karena kejadian tadi, Ustadz. Ini murni alasan pribadi. Maafkan saya."
Gus Azkar menggigit bibir bawahnya. Rasa ingin tahunya memuncak, namun ia juga merasa takut kehilangan akses untuk melihat gadis itu lagi. Tanpa sadar, egonya sebagai laki-laki muncul.
Gus Azkar:
"Boleh saya bertanya satu hal?"
Rina:
"Boleh, Ustadz. Apa itu?"
Gus Azkar:
"Apa kamu punya pacar?? Apakah alasan berhenti mondok ini ada hubungannya dengan laki-laki lain?"
Di seberang sana, Rina yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya tersentak. Ia menatap layar ponselnya dengan mata membulat. Ia tidak menyangka ustadz yang paling galak dan dingin di pesantren bisa menanyakan hal sesensitif itu. Rasa kesal dan geli bercampur menjadi satu. Rina pun membalas dengan sedikit keberanian, niatnya hanya ingin bercanda untuk mencairkan suasana.
Rina:
"Maaf Ustadz, sepertinya itu kurang sopan menanyakan apakah saya sudah punya pacar atau belum. Memangnya kenapa? Ustadz mau mengajak saya pacaran?? Hehe."
Gus Azkar terdiam, wajahnya terasa panas. Namun pesan berikutnya dari Rina benar-benar menjadi "bom" baginya.
Rina:
"Kalau Ustadz memang menyukai saya, nikahi saya saja, jangan ajak pacaran. Kan tidak boleh dalam agama. (Canda ya Ustadz, jangan dimasukkan ke hati 🙏)"
Rina meletakkan ponselnya sambil tersenyum kecil, menganggap itu hanya banyolan belaka untuk menutupi rasa canggungnya. Namun, di koridor pesantren, Gus Azkar menatap pesan itu dengan tatapan yang sangat serius. Baginya, itu bukan sekadar candaan. Itu adalah jawaban dari doa dan dawuh Abahnya tadi.
"Nikahi kamu?" bisik Gus Azkar dengan suara rendah namun mantap. "Kalau itu maumu, maka itu yang akan aku lakukan."
Gus Azkar tidak membalas pesan itu lagi. Ia langsung berbalik arah, bukan menuju masjid, melainkan kembali ke kediaman Abahnya. Niatnya sudah bulat. Ia akan membuktikan bahwa ia tidak sedang bermain-main.