Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
"Kalau gue yang menang, gue bakalan bilang sama Andre. Kalau Qiara itu sepupu gue, biar dia itu tidak bertindak macam macam atau bertindak lebih jauh lagi," kata Natan dengan wajah menyakinkan.
Tiba tiba suara klakson motor terdengar begitu jelas di hadapan rumah mewah para kembar. Bahkan klakson motor itu terus di bunyikan secara berulang.
"Siapa sih yang membunyikan klakson motor sekeras itu sampai beberapa kali?" gerutu Natan, dari ke tiga kembar. Natan lah yang memang paling cerewet dan juga banyak bicara.
Mulutnya seperti rem yang sudah blong.
Qiara sendiri malah mematung, mencoba mengingat ingat. Apakah itu bunyi klakson motor milik Angga atau tidak.
"Hore, gue menang kan," ujar Natan bahagia.
"Lah, lo curang. Tangan lo itu muncul paling terakhir saat hompimpa," celetuk Noah dengan wajah tidak terima.
"Iya ... Aku yakin, itu memang klakson motor milik Angga." Qiara nampak berbicara sendiri dengan suara yang terdengar lumayan keras.
"Maksudnya, Angga itu udah datang kesini untuk menjemputmu Qiara?" tanya Nolan, guna memastikan tebakan yang terlintas di dalam otaknya.
"Iya ... Angga udah datang" sahut Qiara girang tanpa menoleh ke arah Nolan.
"Kalau gitu gue berangkat dulu. Assalamualaikum." Qiara berpamitan sembari mencium punggung tangan Natan dan juga Noah. Tapi tidak dengan Nolan, ia memang sengaja. Karena rasa sakit hati dan kecewa, ia sendiri sebenarnya bingung ada apa dengan hatinya.
"Hah, dia kok cium punggung tangan gue," celetuk Natan sambil bengong, karena lagi lagi sentuhan fisik yang di berikan Qiara tiba tiba terhadapnya membuat ribuan kupu kupu seperti banyak sekali yang berterbangan di dalam hatinya.
Bukan hanya Natan saja yang merasakan hal itu, melainkan Noah juga. Bayang bayang bercinta dengan Qiara saat dirinya bersentuhan fisik dengan Qiara sungguh membuat jantung Noah berpacu dengan sangat cepatnya.
Nolan pun sempat mematung sejenak untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Qiara. Lalu ia berlari guna mengejar kepergian Qiara yang naik motor dengan membonceng motor milik Angga.
Sementara Natan maupun Noah akhirnya juga ikut tersadar setelah 5 menit mematung. Lalu ke duanya menyusul Nolan yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Qiara udah berangkat sekolah Kak?" tanya Natan.
Nolan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
******
**
Nolan menaiki sepeda motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi sembari berpikir dengan keras, tentang Qiara.
"Kenapa dia menjauh? Kenapa dia tiba tiba marah?" gumam Nolan bingung, beberapa pertanyaan sekarang ini agaknya mengganggu di dalam benak Nolan.
Akhirnya motor yang di kendarai olehnya berhasil sampai di sekolah. Bersamaan dengan Qiara yang juga baru turun dari sepeda motor Angga.
"Angga makasih banyak Ya, ini gue ada sedikit uang buat beli bensin," ucap Qiara dengan wajah malu, lalu ia nampak meletakkan lembaran kertas uang di saku celana milik Angga.
Hal yang Qiara lakukan tak luput dari tatapan tajam Nolan.
"Apakah Qiara itu menghindari ku, karena laki laki itu? Bahkan dia memberikan surat cinta pada laki laki itu, bukankah aku harusnya senang karena tidak perlu untuk bertanggung jawab? Dan harusnya aku itu juga ikut menjauh seperti hal yang Qiara lakukan pada ku," gumam Nolan dalam hatinya, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat.
Namun aneh, Di dalam lubuk hati Nolan yang terdalam, ia malah merasa tidak senang. Jika dirinya ikut menjauh seperti apa yang Qiara lakukan pada dirinya.
"Qiara ... ini gak perlu, gue nganterin lo itu ikhlas," kata Angga dengan posisi tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana miliknya, ia ingin mengambil kembali uang yang telah di berikan oleh Qiara.
Dengan gerakan yang terlihat begitu gesit, Qiara langsung memegang tangan Angga dari luar saku.
"Gak perlu Angga. Gue beneran ikhlas, lagian gue juga ingin berbagi rejeki saja. Sekarang uang gue lumayan banyak, gue udah mendapatkan kerjaan yang mapan," sahut Qiara.
"Benarkah?" tanya Angga.
Aksi pegang memegang ke duanya tak luput dari tatapan Noah dan juga Natan.
"Siapa sebenarnya laki laki itu?" gumam Natan yang berdiri di samping Andre.
"Lah, katanya sepupu lo itu jomblo. Nyatanya dia punya pacar," tegur Andre yang mana langsung membuat lamunan Natan itu buyar.
Natan nampak menghembuskan nafas kasar, "gue sebenarnya juga tidak tahu. dia itu sudah punya pacar atau belum?"
"Tapi gue kayaknya cocok sama sepupu lo itu, bodynya aduhai banget. Bahkan wajahnya itu cantik dan juga imut. Kalau dia memang udah punya pacar, ya gue kasih kado mewah saja. Biar dia putusin pacarnya, karena lo tahu sendiri kan. urusan pikat memikat perempuan itu gue jagonya," ujar Andre percaya diri sembari menepuk bahu Natan, ia nampak berjalan meninggalkan Natan yang malah berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di deskripsikan.
"Kok, mendengar perkataan Andre barusan ... gue malah gak suka." gumam Natan dalam hatinya.
****
Di ruang kelas yang terlihat ramai oleh para murid yang membicarakan Dila, karena dia memohon dan juga bersujud di dalam kelas. Agar Noah tidak memutuskan dirinya.
Saking asyiknya para murid kelas XI IPS A itu bergosip, sampai tidak mendengar seorang guru yang sudah masuk ke dalam kelas.
Plak ... Plak ... Suara penggaris yang di pukulkan ke meja guru membuat seluruh murid terdiam seraya memfokuskan pandangan depan keras.
"Pagi ini, Bapak akan memperkenalkan seorang murid baru." ucap guru itu dengan nada meninggi.
Semua murid laki laki yang ada di dalam kelas nampak menatap Qiara dengan tatapan mesum.
"Dia murid baru di kelas ini, jangan jangan dia itu simpenan Pak Indra. Lihat saja bodynya seperti tante .. tante," celetuk salah satu murid yang lain.
Reflek Qiara pun nampak menggeleng, seraya berkata dengan nada lirih.
"Tidak, aku bukan simpenan Pak guru seperti yang kalian semua tuduhkan."
**
Qiara nampak mengigit bibir bawahnya, kala semua orang yang ada di dalam kelas nampak melihatnya dengan tatapan yanga terlihat mengintimidasi. Bahkan ada yang melihatnya dengan tatapan melecehkan.
"Bukan, kalian semua salah paham. Ayo Qiara, coba perkenalkan siapa nama mu?" kata guru itu dengan wajah tidak enak.
"Awalnya aku juga salah paham dengan murid ini. Tapi setelah melihat kepolosan dan kejujuran dari gadis ini. Akhirnya kau percaya," gumam Indra dalam hatinya.
Qiara sendiri nampak menelan ludahnya yang kelu, bahkan keringat juga terlihat bercucuran membasahi wajahnya.
"Itu asli gak sih? Kok seperti balon," kata Rasya dengan suara mengejek. Hal itu sungguh membuat nyali Qiara menjadi ciut.
Natan yang duduk di samping Rasya, nampak mengepalkan ke dua tangannya. Namun ia menyadari, jika ia tidak bisa berbuat banyak.