NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Orkes Kehancuran

Bab 34: Orkes Kehancuran

Udara di dalam Rumah Aman (Safe House) terasa semakin berat. Sejak penemuan hard disk di stasiun tua itu, Anindya tidak lagi banyak bicara. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan laptop, menyusun kronologi yang begitu detail hingga tidak ada celah bagi pengacara Wijaya Group untuk berkelit. Fakta bahwa ia dan ayahnya diperbudak selama delapan tahun untuk hutang yang sudah lunas adalah bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa keraguannya.

"Nin, kamu harus makan," suara lembut Pak Rahardian terdengar dari ambang pintu. Ayahnya kini sudah bisa berjalan perlahan menggunakan tongkat. Wajahnya tampak lebih segar, namun sorot matanya penuh kecemasan melihat putrinya yang berubah menjadi begitu dingin.

Anindya menoleh, mencoba memaksakan senyum yang tidak sampai ke mata. "Sebentar lagi, Yah. Nin sedang memastikan transkrip rekaman suara Nyonya Lastri ini bersih dari gangguan noise. Jaksa harus bisa mendengar setiap kata 'bakar' dan 'kunci' dengan jelas."

"Ayah takut, Nin. Mereka orang kuat. Bagaimana jika bukti ini justru membuat mereka semakin nekat?"

Anindya berdiri, menghampiri ayahnya dan memegang tangannya yang kasar. "Mereka kuat karena mereka punya uang, Yah. Tapi uang tidak bisa membeli rekaman masa lalu yang sudah terlanjur direkam oleh anak mereka sendiri. Satria sudah memberikan kita kuncinya. Sekarang, tugas Nin adalah membuka pintu penjaranya."

Di luar, hujan mengguyur lereng perbukitan dengan deras, menciptakan suasana yang kian mencekam. Tiba-tiba, Ibu Ratna dari LPSK masuk dengan wajah pucat. Ia memegang sebuah tablet yang menampilkan siaran berita langsung.

"Anindya, kamu harus lihat ini. Pengacara Tuan Wijaya baru saja memberikan pernyataan pers," ucap Ibu Ratna.

Di layar, seorang pengacara senior yang dikenal sebagai 'Si Belut Hukum' sedang berdiri di depan kerumunan wartawan. Dengan nada sombong, ia berkata: "Klien kami, Tuan Wijaya, adalah korban konspirasi persaingan bisnis. Mengenai rekaman yang beredar, kami memiliki bukti ahli forensik digital bahwa itu adalah hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence). Kami juga telah melaporkan saudari Anindya atas tuduhan pencurian dokumen asuransi dan manipulasi data perbankan."

Anindya hanya tersenyum dingin melihat layar itu. "Mereka menggunakan kartu 'rekayasa AI'. Klasik."

"Tapi Nin, masyarakat bisa saja percaya kalau mereka terus-menerus membangun narasi itu," ujar Ibu Ratna khawatir.

"Itulah gunanya saya menghubungi Clarissa," jawab Anindya tenang. "Ibu Ratna, tolong siapkan keberangkatan kita ke Jakarta malam ini. Sidang perdana akan dipercepat besok pagi, dan saya ingin memberikan 'kejutan' sebelum saya masuk ke ruang sidang."

Perjalanan menuju Jakarta dilakukan di bawah pengawalan super ketat. Dua mobil polisi di depan dan dua di belakang, mengapit mobil lapis baja yang membawa Anindya. Di dalam mobil, Anindya tidak berhenti mengetik di ponselnya. Ia sedang berkoordinasi dengan jaringan buruh yang dulu merupakan rekan kerja keluarga korban kebakaran 2005.

Ia tahu bahwa hukum formal seringkali bisa dibelokkan, namun "pengadilan rakyat" di jalanan sulit untuk dibungkam.

Pukul lima pagi, mobil rombongan sampai di Jakarta. Anindya tidak langsung menuju pengadilan. Ia meminta berhenti di sebuah titik di dekat Bundaran HI. Di sana, ribuan orang sudah berkumpul—para buruh, mahasiswa, dan aktivis hak asasi manusia. Mereka membawa poster besar bertuliskan: "KEADILAN UNTUK ANINDYA" dan "HUTANG SUDAH LUNAS, PERBUDAKAN HARUS DIBALAS".

Anindya turun dari mobil sejenak, dikelilingi oleh petugas LPSK yang waspada. Ia menatap kerumunan itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa sendirian. Ia merasakan gelombang kekuatan yang datang dari orang-orang yang juga merasa tertindas oleh sistem.

"Nin, lihat itu," bisik Pak Rahardian, menunjuk ke arah layar LED raksasa di salah satu gedung.

Clarissa telah merilis video investigasi berdurasi sepuluh menit yang menampilkan wawancara Anindya dengan Ibu Maryam, ibu dari buruh yang tewas terbakar. Video itu menyebar seperti virus di media sosial. Narasi 'rekayasa AI' yang dibangun pengacara Wijaya hancur seketika saat publik melihat bukti fisik surat kontrak kerja yang hangus sebagian yang disimpan Ibu Maryam.

Pukul sembilan pagi, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah dikepung oleh massa. Anindya melangkah masuk ke dalam gedung pengadilan dengan kepala tegak. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam—pakaian yang sederhana namun memancarkan wibawa yang luar biasa.

Di ruang sidang yang penuh sesak, ia melihat Tuan Wijaya duduk di kursi pesakitan. Pria itu tampak jauh lebih tua; rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, dan matanya tidak berani menatap Anindya. Namun, kursi di sebelah pengacaranya masih kosong. Nyonya Lastri belum ditemukan.

"Sidang dibuka untuk umum," ketuk hakim ketua.

Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan. Namun, di tengah pembacaan, pintu ruang sidang terbuka dengan keras.

Bukan Nyonya Lastri yang masuk, melainkan Satria. Ia datang dengan kursi roda, didorong oleh seorang perawat. Kepalanya masih dibalut perban, namun matanya menatap tajam ke arah ayahnya.

"Yang Mulia," suara Satria serak namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Saya hadir di sini bukan hanya sebagai saksi, tapi sebagai pemberi bukti tambahan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk oleh tim hukum Ayah saya."

Kegaduhan pecah di ruang sidang. Tuan Wijaya berteriak memaki anaknya, menyebutnya pengkhianat. Namun Satria tidak bergeming. Ia menoleh ke arah Anindya dan memberikan sebuah anggukan kecil—sebuah pengakuan dosa sekaligus dukungan terakhir.

Anindya berdiri saat gilirannya memberikan kesaksian tiba. Ia tidak membawa kertas catatan. Ia berbicara dari hatinya yang paling dalam.

"Delapan tahun, Yang Mulia," mulai Anindya. "Delapan tahun saya menghitung piring yang pecah, lantai yang berdebu, dan setiap hinaan yang dilontarkan kepada Ayah saya. Saya melakukannya karena saya percaya pada kejujuran, bahwa hutang harus dibayar. Namun hari ini, saya berdiri di sini untuk membuktikan bahwa orang yang paling kotor di ruangan ini bukanlah saya yang mereka sebut pencuri, melainkan mereka yang mencuri nyawa orang miskin untuk menumpuk harta di atas darah."

Saat Anindya menyerahkan hard disk itu kepada hakim, tiba-tiba sebuah alarm kebakaran di gedung pengadilan berbunyi dengan sangat nyaring. Kepanikan mulai melanda.

"Jangan bergerak!" teriak seorang petugas keamanan.

Di tengah kekacauan itu, Anindya melihat sesosok wanita berpakaian hitam di barisan belakang penonton, mengenakan topi lebar. Wanita itu menatap Anindya dengan tatapan penuh kebencian sebelum akhirnya menghilang di balik kerumunan yang panik.

"Nyonya Lastri..." desis Anindya.

Ternyata, Nyonya Lastri tidak melarikan diri ke luar negeri. Ia ada di sana, di dalam ruang sidang, siap untuk melakukan sabotase terakhirnya. Anindya menyadari bahwa meskipun ia sudah memegang semua bukti, permainan ini belum berakhir sampai sang ratu iblis benar-benar tertangkap atau binasa.

"Ibu Ratna! Jangan biarkan dia keluar!" teriak Anindya, mencoba menerobos kerumunan massa yang panik menuju pintu keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!