Kata orang cinta pertama tak mudah di lupakan dan sangat berkesan dalam kehidupan. Tak hanya cinta pertama cinta kedua pun begitu sama halnya dengan cinta pertama, yah itu yang dirasakan oleh Mimi Akifah seorang gadis sederhana yang baru mengenal yang namanya cinta.
Namun dalam kehidupannya cinta tak begitu mulus berpihak padanya. Cinta pertama bersama seorang lelaki tampan, dingin dan setia yang dikenalnya semenjak awal masuk SMA harus kandas di semester 4 saat dia duduk di bangku universitas.
Cinta kedua di dapatkannya setelah setahun kemudian dengan penuh pertimbangan pada sosok lelaki yang tampan dan dingin yang merupakan kakak tingkatnya yang dikenalnya awal menjejakkan kaki di universitas ini dan cinta ini tak juga berjalan mulus berakhir kandas saat di akhir kelulusan gelar dokter mudanya.
Cinta pertama kandas karena sebuah perjodohan sang kakek dan cinta kedua kandas karena kasta.
Akankah Mimi mendapatkan cinta sejatinya tanpa harus melihat kasta dan harta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ning Mardianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter8 Haruskah ku menjawab?
Waktu terus bergulir mata pelajaran bu Emi pun selesai dan saatnya pelajaran selanjutnya pelajaran matematika. Tak lama berselang waktu Guru Matematika pun masuk ke kelasku.
"Siang semua.." sang guru matematika mengucapkan salam dengan gaya acuh plus dinginnya dan menghadap ke arah kami semua.
"Siang bu.. " Kami semua serentak kami menjawabnya.
Dengar-dengar dari kakak kelas, ibu guru ini orangnya tidak suka bercanda dan dia tak segan-segan menghukum jika ada siswa-siswi yang tidak serius memperhatikan selama dia mengajar.
"Pertama- tama perkenalkan nama ibu Maryati. Saya akan mengajar kalian pada mata pelajaran matematika di kelas satu dan satu lagi saya tidak suka selama jam pelajaran saya ada yang tidak serius mengikutinya. Oke kita lanjut ke pelajaran kita." ucap nya dan langsung membuka buku paket dan dia mencatat di whiteboard, segala rumus sudah tertulis di sana dan kami semua mencatat semuanya kedalam buku tulis.
Hari semakin siang, waktu terus berjalan pelajaran terakhir pun akan segera berakhir. Ku lihat kiri dan kanan rata-rata teman-teman sekelas sudah pada lesu apa lagi pelajaran akhir ini pelajaran matematika yang menurut sebagian orang adalah pelajaran yang membosankan.
Tingtong..tingtong... Suara bell akhir berbunyi
terdengar suara teman-temanku mengucapkan hamdalah dan sebelum Bu Maryati mengakhiri mata pelajarannya dia memberikan pekerjaan rumah alias PR kepada kami semua.
Waktu pulang pun tiba dengan segera aku melangkahkan kaki ku keluar dengan cepat menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku yang aku butuhkan untuk penunjang tugas-tugas rumahku .
Di depan kelasku si biang rusuh rupanya sudah menungguku dan kami langsung berjalan bersama, di tengah jalan aku mengatakan kepada mereka kalau aku akan ke perpustakaan terlebih dahulu dan mereka juga ikut bersamaku.
Sesampainya depan perpustakaan aku mengucapkan syukur karna perpustakaan belum tutup.
"Alhamdulillah belum tutup." ucapku,
Aku dan teman-teman langsung masuk dan langsung menuju rak-rak buku untuk mencari buku-buku mata pelajaran yang di pelajari hari ini. Namun tidak ku temukan satu pun di rak-rak buku.
Dengan lunglai aku dan teman-temanku membalikan arah menuju pintu keluar perpustakaan namun sebelum keluar aku bertanya dahulu sama bu Erni petugas perpustakaan.
"Maaf bu, mau tanya apa buku mata pelajaran ini belum ada di perpustakaan?" Aku bertanya dan menunjukan catatan nama-nama buku mata pelajaran beserta penerbit bukunya.
"Iya… ada yg bisa ibu bantu.."
kata bu Erni seraya mengambil catatan yang aku berikan kepadanya. "oh buku-buku ini baru nyampai tadi dan belum di susun di rak-rak, kalau kamu mau pinjam ayok masuk keruangan buku ini. "ucapnya sambil berjalan menuju ruangan lain yang berada di perpustakaan
Aku dan teman-teman pun mengikutinya berjalan menuju ruangan tersebut dan aku melihat begitu banyak buku yang masih tertumpuk sesuai dengan judul bukunya.
"Coba kamu lihat dan cari saja di tumpukan buku-buku itu". kata bu Erni lagi.
"Baik Bu, makasih sebelumnya." ucapku.
Aku dan teman-teman langsung mencari buku-buku yang dibutuhkan dan mendapatkan apa yang aku dan teman-teman ku cari, aku juga melihat sudah ada sebagian buku mata pelajaran lain.
Kenapa gak sekalian aja aku meminjamnya, dari pada besok di suruh pinjam bukunya habis dan gak kebagian." bathinku
Aku pun mengambil beberapa buku mata pelajaran lainnya dan langsung ku bawa ke meja Bu Erni agar di catat dan di stempel milik perpustakaan. Begitu pula dengan teman-teman ku.
"Bu.. Mimi pinjam buku-buku ini semua." kata ku dan menunjukan ada 8 buku mata pelajaran yang akan ku pinjam
"Kami juga Bu.." Teman-teman ku juga menyerahkan buku-buku ke meja bu Erni.
"Oh yaudah sini ibu catat ke dalam agenda dan kalian isi juga di dalam form peminjaman ini." Bu Erni menyodorkan kertas form peminjam buku perpustakaan dan selembar kertas berupa pembuktian peminjaman kepada kami.
Kami pun mengisi form tersebut dan tak lupa mengisi juga di kertas satunya buat pegangan kami, setelah selesai kami serahkan form tersebut kepada Bu Erni.
"Apa sudah kalian isi semua?" tanya bu Erni dengan menyapu pandangannya ke arah kami
"Sudah Bu.." Aku dan teman-teman kompak menjawab.
"Oke ibu cek dan menyesuaikan dengan yang di agenda ibu". Bu Erni mengambil form dan langsung mengeceknya.
Bu Erni mengecek satu persatu buku yang kami cek sesuai dengan buku yang kami serahkan kepada dia sebelumnya dan dia juga mencatat nama-nama kami di agenda disesuaikan dengan buku yang telah kami pinjam.
"Oke semua sudah sesuai dan ini ambil kartu perpustakaan sementara buat kalian, setiap kalian meminjam buku harus bawa kartu perpustakaan dan kartu peminjaman buku ini". Bu Erni memberikan kartu peminjaman kepada kami dan menjelaskannya
"Baik Bu, terimakasih. Kalau begitu kami permisi assalamualaikum." Aku dkk pun langsung pamit.
"Waalaikumsalam." Bu Erni menjawab salam kami.
Kami pun keluar dan berjalan menuju keluar untuk segera pulang, sesampainya di gerbang sekolah ternyata rombongan bang Idho dkk masih ada disana duduk-duduk di bawah pohon.
Melihat kami yang sudah keluar dan berjalan mereka juga ikut berjalan pula, Aku yang cuek langsung aja berjalan melewati mereka namun tidak dengan si biang rusuh,
"Hai abang-abang belum pulang juga, atau jangan-jangan nungguin kami ya hahhaa ". Emma sengaja bertanya dengan jahilnya.
Pertanyaan Emma di jawab sama Erwan dan Rudi.
"Iya lagi nunggu kalian, kenapa lama amat keluarnya" jawab Bang Erwan ketus.
"Emang kalian ngapain aja di perpustakaan." ucap Kak Rudi menimpali.
"Lagi maling bang." Manda ngejawab asal
"Namanya di perpustakaan ya apa lagi kalo tidak baca ya pinjam buku lah bang." Novi juga ikut menjawab
"Emang ada apa bang, sampai nungguin kami dan dari mana abang tau kalo kami di perpustakaan" Emma menjawab dan bertanya secara beruntun
"Tadi abang yang lihat kalian masuk ke perpustakaan." Bang Idho menjelaskan dan ditatap sama Emma, Manda dan Novi seolah meminta jawaban.
"Nih ada yang mau ngomong sama teman kalian satu itu tu." Bang Erwan menjawab atas apa yang dipertanyakan oleh teman-temanku dengan tatapan mata tadi sambil memajukan mulutnya menunjuk ke arah Mimi.
Emma dkk yang melihat langsung ber oh ria dan manggut-manggut.
"Oooo"
"Ehmm.... Emang mau nanya apa bang." Emma yang memiliki jiwa kekepoan yang tinggi menanyakan hal tersebut sambil memainkan kedua alisnya dan pandangannya langsung ke arah Kak Syahril.
"Yaudah kita sambil jalan aja biarkan Mimi sama Syahril berbicara." Bang Idho mengajak kami segera jalan.
Aku yang mendengar bang Idho menyebut namaku langsung berhenti dan menoleh ke bang Idho.
"Emang ada apa bang idho? dan mau berbicara apa?". tanyaku yang tidak mengerti.
"Ndak ada apa-apa, Mimi bicara aja berdua sama Syahril dan tanya sama dia saja langsung." Bang Idho menjawab maksudnya kepada ku.
Aku hanya diam dan bingung apa maksud dari perkataannya, si biang rusuh hanya bercie - cie ria dan berjalan meninggalkan ku dan mengikuti jalan para Idho gank.
Tinggallah aku dan kak Syahril di belakang mereka. Aku hanya diam dan terus berjalan walau ada rasa grogi dan canggung di dada.
Kak Syahril melihat ku diam akhirnya dia membuka suara.
"Kenapa diam aja,".
"Ehm.. eh.. ehm ..apa kak." Dengan gugup ku menjawabnya.
"Ya.. Mimi kenapa diam aja." Kak Syahril bertanya kembali.
"Hmm.. Mimi ndak tau mau ngomong apa ( sambil mengarahkan pandangan ke depan) bukannya tadi katanya kakak yang mau ngomong?" tanya Mimi kepada Syahril.
"Ehmm iya.. Kakak mau tanya soal surat waktu itu apa Mimi sudah membacanya"
"Eh.. ( kaget).. maaf kak.. yang baca teman-teman Mimi ( sambil menunduk) tapi belum semua sih mereka baca." Aku menjawab dan menjelaskannya.
"Hmm ( sambil menautkan alisnya) emang Mimi tidak membacanya "
"Maaf kak.. Tidak." sambil senyum gak enak.
"Hmm..Gitu.." Kelihatan raut kecewa di muka Kak Syahril dan kembali hening
Karena tak ada yang bersuara lagi aku mencoba melihat ke arahnya sepertinya dia kecewa..
Apakah yang akan dipertanyakan oleh kak Syahril ya???
Dan apa pula isi surat tersebut
terus baca ya guysss
__________________________________
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA
LIKE
VOTE
RATE ⭐⭐⭐⭐⭐
KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR