❝Vina, bila kau ingin tahu siapa ayah kandung Baby El, datanglah ke rumah keluarga Archielo.❞
Malam ketika saudarinya meninggal kecelakaan. Davina Oswalden mengetahui kenyataan siapa ayah kandung Baby El (Eleanore Oswalden). Berbekal surat wasiat saudarinya, Davina nekad datang ke kota Vancouver, Canada - bersama Baby El; bayi laki-laki berusia lima bulan.
Davina mengetahui fakta yang tidak diketahuinya selama ini, ketika dia mengetuk pintu rumah keluarga Archielo ... pria itu---ayah kandung Baby El---mencium dan memeluknya, membisikkan kata ....
❝Ini bayi kita, Sayangku!❞
Di sisi lain...
Ketika penyesalan masa lalu menghantui seorang Mario Archielo ... tiba-tiba, suatu hari pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita manis nan mungil, lalu menyodorkan bayi laki-laki lucu padanya.
❝Ini bayi kandungmu...❞
Apakah ini saatnya membayar sebuah kesalahannya di masa lalu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Pertama
[Empat belas bulan yang lalu ...]
Gadis itu tersentak bangun. Sontak berdiri terhuyung-huyung, tetapi kemudian kembali ambruk. Ia terlentang di atas tempat tidur king size takkala sebuah denyutan menyakitkan menghantam kepalanya. Rasa pening menjalarinya. Pandangannya menjadi buram seketika.
Davina mengembuskan napas pendek, lantas menyipitkan mata. Menelisik lekat tempat di sekitarnya. Kemudian mengangguk kecil, ketika mendapatkan jawabannya sendiri, mengapa bisa terdampar di tempat ini.
Entah berapa lama dia tertidur. Tetapi bukan hanya tidur biasa saja, dia mengingat jelas kejadian sebelumnya. Rekan-rekannya--yang menganggapnya seperti musuh itu--memaksanya meminum air putih. Bodohnya dia. Gadis manis ini pikir, minuman tersebut hanya minuman biasa saja. Ternyata dalam minuman tersebut telah diberi obat tidur.
Hingga kini, efek obat tidur tersebut masih mempengaruhinya. Memaksanya untuk kembali menutup mata. Akan tetapi, alam bawah sadarnya berteriak-teriak, menyuruhnya untuk segera bangun. Meski tubuhnya masih berat untuk digerakkan. Kepalanya masih terasa pening, serta pandangannya masih terlihat samar-samar saja. Bahkan mulutnya pun masih terkunci rapat. Rasanya susah sekali untuk mengucapkan sepatah katapun.
Cklek
Kepala Davina berputar, perhatiannya segera tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Seketika rahang gadis ini mengeras, matanya mendelik tajam.
Mario Archielo. Berdiri menjulang di sisi tempat tidurnya, hanya memakai bathdrobe yang menutupi sebagian tubuhnya. Pria bermata bulat itu menatap lapar dirinya.
Davina menelan air liur. Dalam hati terus merutuki rekan-rekan jahanamnya, membawanya ke dalam kamar pria paling berengsek di kota Vancouver.
Siapa yang tidak mengenal Mario Archielo di kota ini. Sosok yang terkenal paling bejat akan kelakuannya. Sering bergonta-ganti pasangan tidur. Tak mempunyai komitmen dan tak mau terikat dalam hubungan nyata. Sering membuat banyak wanita patah hati akan sikap acuh dan dinginnya. Pria bejat yang tak pantas untuk dijadikan pasangan hidup.
Kendati demikian, meski telah disebutkan betapa bejatnya pria ini, masih saja banyak kaum hawa mengantre untuk tidur bersamanya. Bersiap memanaskan tempat tidur pewaris sah The Arch Hotel ini setiap malamnya. Kecuali Davina, menolak keras pria bajingan ini dalam hidupnya.
“Kau sudah bangun?! Haruskah kita bermain sekarang?!”
Eh? Davina mengerutkan kening. Apa maksudnya? Belum sempat dia bertanya tubuhnya telah ditindih kuat oleh Mario. Mata Davina melihat dengan jelas, sudut bibir sensual itu terangkat ke atas, memberikan intimidasi kuat pada lawannya. Membuatnya bergidik ngeri, di tengah dirinya memang lemas akan pengaruh kuat obat tidur yang mengalir dalam tubuhnya.
Tubuh gadis ini menegang manakala mendengar tawa renyah keluar dari belah bibir sensual itu - tepat di telinganya, mengembuskan napasnya, menggodanya.
“Jangan menatapku seperti itu. Bukankah kau datang ke sini ... menunggu untuk berhubungan intim denganku.” Mario menjawab santai.
Rahang Davina semakin mengeras, sangat terkejut akan ucapan prontal Mario padanya.
Apa maksudnya? Sebelah alis Davina terangkat ke atas. Tentu saja itu salah, dia berada di kamar ini bukan seperti yang dikatakan pria di atas tubuhnya ini. Melainkan karena kelakuan busuk rekan-rekannya-lah. Mereka iri akan prestasi kerjanya di restoran milik Ty Arley. Hingga membuat mereka berupaya menyingkirkan dirinya sedemikian rupa. Dan sanggup menjebaknya seperti sekarang ini.
“Berhentilah berpura-pura tak tahu apa-apa. Caramu sudah ketinggalan zaman untuk mendapatkan simpati dariku. Intinya kau ada di depanku untuk berhubungan intim, melakukan one night stand. Sesuai kesepakatan kita kemarin malam. Jangan plin-plan.”
Eh? Apa maksud ucapannya itu? Davina semakin tak mengerti akan ucapan pria ini. Di saat gadis ini masih dalam kelinglungannya. Mario segera mencium keras bibir cherry merekah itu. Sedari tadi terus memanggil-manggilnya untuk mendaratkan bibir sensual miliknya.
Jangan salahkan dia. Masih ingatkah gadis ini? Bukankah sehari yang lalu dialah yang duluan menghubunginya lewat email, mengajaknya melakukan hubungan one night stand. Sepakat melalui malam panas bersamanya.
Mario tak menutup mata. Semua wanita di luaran sana ingin tidur bersamanya. Merasakan hangat tubuhnya. Baginya tak masalah, asal memenuhi syarat yang diajukan olehnya. Bebas dari penyakit apapun. Well. Meski Mario suka bergonta ganti pasangan, dia tak ingin ada risiko penyakit menular mengintainya.
Lalu kini, gadis manis itu tiba-tiba berubah pikiran. Huh. Takkan dia biarkan ada orang yang berani mempermainkannya. Akan dia tunjukkan siapa Mario Archielo, orang yang pantang untuk ditolak.
Mario melepaskan tautan bibirnya. Dia sadar, sosok di bawahnya butuh oksigen serta tenaga untuk kembali melanjutkan malam panas mereka yang baru saja akan dimulai ini.
Tangan Mario menelusup di balik kemeja putih gadis ini. Menggodanya, menari-nari di atas kulit sehalus porselen itu.
“Satu lagi kesalahanmu. Seharusnya kau menyambutku dengan tak memakai apapun. Tapi apa kenyataannya, huh. Kau malah tidur seenaknya.” Mario mendengkus tak suka.
Sungguh baru kali ini, dia mendapati ada orang yang sangat lancang padanya. Berani tidur ketika menunggunya, lalu saat bangun dari tidur, seolah berpura-pura menjadi orang linglung, tak tahu apa-apa.
Dahi Davina berkerut disela-sela dirinya menarik napas. Pikirannya masih kacau balau, terlalu susah mencerna pembicaraan aneh pria di atasnya ini. Dia bingung akan situasi ini, di mana obat tidur masih sangat berpengaruh padanya. Satu hal dia ingat, pria itu adalah Mario Arhcielo.
Di malam ini Davina ingat jelas. Mario membuka bathdrobe-nya, menampakkan tubuh padat berisinya. Memperlihatkan otot-otot perut kerasnya itu.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜💜.