Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 - Kenangan Masa Lalu
"Aku lapar." Aku berbalik menghadapinya dan kaget melihat dadanya yang telanjang dan lebar.
"Kulkasnya ada di dapur."
"Di sana nggak ada makanan." Aku tak bisa mengalihkan mata dari perutnya. Dia begitu dekat denganku, rasanya tingginya dua meter.
"Apalagi di ruangan ini. Selain melanggar perintahku, kamu juga ingin tahu dan suka ikut campur."
"Bisa nggak kamu berhenti bicara seperti itu padaku?"
"Maunya aku bicara bagaimana?"
"Pertama, namaku Fiorella. Kedua, aku cuma mau lihat isi ruangan ini."
"Kamu mau lihat? Oke!" Dia mengeluarkan kunci dari saku dan membuka pintu. "Masuk!"
"Kamu duluan."
"Aku yang terakhir, masuk!"
Aku mendengus marah dan masuk. Dia menyusul di belakangku dan menyalakan lampu. Kenapa juga aku mau melihat isinya? Narkoba dan senjata bertumpuk-tumpuk, amunisi dalam jumlah besar, magasin, granat, bahan peledak C4. C4 itu buat meledakkan bank? Aku melongo.
"Puas?"
"Organisasi kalian bergerak di bidang apa?"
"Perdagangan senjata."
"S-senjata?"
"Kamu kira apa? Perdagangan boneka? Kukira kamu sudah terbiasa, ayahmu kan punya pabrik amunisi gelap."
"Papa nggak pernah mengizinkanku dekat-dekat dengan benda-benda ini."
"Kamu tidak tahu apa yang kamu lewatkan."
"Aku nggak melewatkan apa-apa, Tuan Argo. Aku nggak pernah suka hal-hal seperti ini dan selalu benci karena lahir di keluarga seperti ini, dan kamu malah membawaku ke gubuk penuh bom?" Aku lari keluar dan masuk ke kamar.
Melihat semua itu membuatku ketakutan. Aku tahu, dari dulu aku tahu mafia itu organisasi kriminal, tapi melihatnya langsung mengguncangku. Orang-orang mati karena benda-benda itu, karena narkoba. Ini hanya membuatku makin yakin dan makin jijik pada pria-pria ini. Aku berbaring di ranjang dan memejamkan mata, mencoba tidur.
...ARGO ROMANOV...
Aku harus mencari kesabaran dari alam baka untuk menghadapi bocah ini. Dia anak seorang mafioso dan hampir terkencing-kencing waktu melihat gudang senjataku. Kukira lebih mudah meluruskan Jared dengan seorang istri, tapi aku tidak menyangka gadis ini sesulit itu.
Setelah pernikahan, dua-duanya akan kukirim pergi. Biar mereka mengurus diri sendiri di sana, aku sudah terlalu tua untuk menghadapi bocah tak punya otak dan gadis kurang ajar.
"Jordan." Kutelepon salah satu anak buahku dan melakukan sesuatu yang tak pernah kukira akan kulakukan. "Aku butuh kamu bawakan makanan untuk gadis itu."
"Jam segini, Bos?"
"Kamu membantahku?"
"Tidak, Bos! Saya urus."
"Bagus!"
Orang-orang baru itu bergerak cepat, mereka membawa makanan kurang dari 15 menit, padahal sudah pukul 02.00 pagi.
"Sudah tidur?" Aku mendekati kamar dan bertanya, tapi dia tidak menjawab. "Ada makanan, tadi kan kamu lapar?"
"Nggak mau!" teriaknya dengan suara agak teredam.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu lewatkan, baunya enak sekali. Tapi... kalau tidak mau, kubuang saja, aku tidak makan sandwich dan sampai pagi sudah basi." Dia langsung membuka pintu dan merenggut kantong itu dari tanganku. Sebagai ucapan terima kasih, dia melemparkan tatapan marah dan membanting pintu di depan mukaku.
* * *
Aku terbangun karena erangan seorang perempuan. Itu bukan suara ibuku. Aku bangun dan menuju sumber suara-suara aneh itu. Ayahku ada di ruang tamu, sedang meniduri seorang pelacur.
"Argo, sini!" panggilnya begitu melihatku. "Duduk di sini dan lihat bagaimana caranya, Nak."
"Lepaskan dia, Ayah, Ayah menyakiti perempuan itu." Aku berteriak dengan rasa jijik tergambar jelas di wajahku.
"Sini!!" Dia menunjuk kursi di depan sofa dan memaksaku menontonnya meniduri seorang pelacur. Dia sama sekali tidak lembut. Perempuan itu mengeluh kesakitan sementara perutku mual. "Perempuan, Argo, semuanya, harus menghormati kita." Dia bicara sambil terus menyetubuhinya. "Laki-laki berkuasa atas segalanya, dalam cinta, dalam pernikahan, dalam hidup, dalam bisnis. Kita bisa melakukan apa saja, Argo. Lihat dan belajar." Dia menjambak rambut perempuan itu dan menariknya keras-keras, keluar masuk tanpa rasa malu sedikit pun.
Aku menatap ke jendela, takut ibuku masuk dan melihat semua itu. Ayahku sering melakukan hal-hal seperti ini dan memaksaku menontonnya. Perempuan itu merintih kesakitan, dan itu membuatku muak.
"Ayah menyakiti gadis itu," kataku.
"Bilang padanya, Perempuan. Kamu suka, kan? Suka kalau aku begini?"
"Aku... suka, lebih keras." Perempuan itu merintih dan memohon.
Aku bingung, tidak tahu harus berpikir apa. Dia suka itu?
"Umurmu 15 tahun, Nak. Sudah waktunya belajar, dan tentu saja, mempraktikkannya." Dia keluar dari tubuh perempuan itu. "Giliranmu, Argo." Dia mendekatiku dan menarikku dari kursi. "Ayah mau melihat anak Ayah menjadi laki-laki."