NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belanja Bersama

Semalam ia menangis sampai tertidur, begitu bangun matanya bengkak. Jelek sekali melihat wajah itu muncul di cermin pagi-pagi begini.

“Jam berapa ya aku tidur tadi malam?”

Di dekat sofa sudah ada makanan dan minuman yang disiapkan untuknya sarapan.

“Wah, jadi tuan putri nih ceritanya.” Ia mengangkat piring-piring berisi makanan itu. Mencari sesuatu.

“Yah, tidak ada suratnya ternyata” lalu ia tertawa sendiri dan menyantap makanan itu dengan lahap.

Kamar tidur Dharma sudah kosong dan tertata rapi. Melisa melihat jam di ponselnya, sudah jam delapan pagi. Pantas saja sepi. “Pak Dharma pasti sudah berangkat ke tempat kerjanya,” gumam Melisa sedikit kecewa.

Ia malu sekali menangis tidak jelas seperti semalam. Juga, rencananya ia ingin memberitahu Dharma tentang luka di pahanya. Meskipun ia belum tahu Dharma akan bereaksi seperti apa nanti, setidaknya ia sudah coba mengutarakan kebenarannnya.

“Sudah dihabiskan?” tiba-tiba Dharma muncul dari balik pintu.

“Panjang umur, baru aja aku cariin. Aku pikir Pak Dharma sudah berangkat kerja.”

Dharma duduk di tepian ranjangnya. “Aku tidak kerja hari ini. Ayo kita belanja baju untukmu.” Ajaknya.

“Tumben sekali?” Pipi Melisa merona. Perempuan mana coba yang tidak berbunga-bunga kalau ditawari belanja begini.

“Kamu boleh belanja sepuasmu nanti. Ini balasanku karena kamu sudah banyak membantu saat aku sakit kemarin.” Dharma mengatakan alasan paling masuk akal demi keamanan perasaan masing-masing.

“Oh, begitu rupanya. Oke, aku akan siap-siap dulu ya.”

Melisa bersiap dengan cepat.

Ia tidak sabar melihat-lihat mall dan berbelanja tanpa melihat harga. Ah, pasti ibunya di surga sana ikut Bahagia melihatnya mendapat nasib baik seperti ini. Dulu, ketika ia masih berjuang hidup dengan ibunya, mereka harus berhemat sampai hanya bisa membeli baju satu tahun sekali.

Bahkan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang, Melisa masih sering menahan diri untuk membelanjakan uang yang ia dapatkan dengan susah payah. Kali ini, ia akan mulai menikmati hidup ini dengan harta Dharma dan Bu Inggit, sebelum masa kontraknya habis.

“Selesai.” Begitu sudah merasa sempurna di cermin, ia segera menuju ruang tamu untuk menemui Dharma.

Sampai di sana, Dharma masih berbicara dengan seseorang di telepon. Jadi, ia duduk menunggu.

Sudah lama ia tidak membuka akun sosial medianya, begitu terbuka ada banyak sekali pesan masuk. Video pernikahannya dengan Dharma ternyata sudah tersebar sejak beberapa hari lalu. Mungkin dari postingan itu kemudian pakde bisa menemukan tempat tinggalnya.

Ia coba membuka pesan-pesan yang dikirimkan untuknya.

“Selamat ya! Semoga hubungan kalian diberkati.”

“Semoga jadi pasangan yang langgeng. Akhirnya pak duda ganteng sudah tidak duda lagi.”

Dan kalimat bagus lainnya. Selain itu ia juag mendapat banyak sekali ujaran kebencian baik di kolom komentar postingan orang-orang atau di pesan pribadi akunnya sendiri.

Melisa tidak mau merusak harinya dengan menelusuri dan membaca pesan-pesan buruk itu. Sepetinya pesan itu dari perempuan-perempuan yang mengincar Dharma atau sekedar iseng ikut menghujat karena Dharma dan Melisa dianggap tidak cocok. Ia tidak ambil pusing itu semua.

“Sudah siap?” tanya Dharma padanya.

“Sudah. Ayo berangkat!” Melisa bersemangat.

“Sebentar, aku panggil Dayu dulu.” Dharma pergi menuju kamar Dayu meninggalkan Melisa sendirian di sofa ruang tamu.

Begitu punggung Dharma menghilang, Melisa menutupi wajahnya karena malu. Ia pikir tadi mereka kan pergi dan menikmati waktu seharian berdua. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya karena sudah lancang memikirkan hal yang tidak-tidak. “Melisa. Melisa. Yang normal normal aja deh. Jangan ngawur.”

Lalu ia tertawa sendiri mengingat pikiran konyolnya tadi.

Untuk mengalihkan perasaannya, Melisa berdiri mendekat kea rah jendela. Di sana ia bisa melihat bunga-bunga yang ia tanam kemarin. Semuanya berhasil tumbuh dengan baik. Hanya saja, kelopak mawar itu terlihat sudah berguguran. Nanti ia akan menyiraminya lebih rutin lagi agar bunganya indah.

“Lets go!” Dayu memimpin perjalanan. Anak itu justru yang paling bersemangat.

Dharma dan Dayu berjalan sambil bergandengan tangan, sementara Melisa di belakangnya. Tidak masalah, ia memang tidak punya posisi di hati Dharma.

“Pa, aku tuh mau beli skincare. Udah pada mau habis. Janji yaa kali ini ga diburu-buru harus cepet pulang,” rengek Dayu.

“Pantas saja selama ini jarang sekali mengajak belanja, ternyata ga betah lama-lama ngelilingin mall,” gumam Melisa.

“Kamu beli apa, Mbak Mel?” Kali ini Dayu bertanya padanya.

Tadi sih ia diajak untuk dibelikan baju, tapi tidak tahu akan pilihkan atau boleh memilih yang seperti apa.

“Belum tahu sih. Terserah donaturnya saja.”

“Sini, Mbak. Jangan di belakang, kayak penguntit aja.” Dayu menyeretnya agar sejajar dengan mereka.

Melisa menurut saja.

Seseorang bertopi rendah dan memakai masker menabrak Melisa dari belakang. Ia sempat hampir kehilangan keseimbangan, untung saja Dharma bergerak cepat menahannya.

“Terima kasih, Pak,” ucap Melisa sopan. Kalau tidak ditahan mungkin ia sudah terjungkal ke depan.

Dharma menggandeng Dayu di lengan kanannya, tangan kirinya menggenggam tangan Melisa. “Biar ga oleng,” katanya.

Kalau saja bisa dilihat mata, mungkin banyak kupu-kupu berterbangan dari dalam hati Melisa. Digenggam tangan begini saja ia sudah salah tingkah. Sepertinya ia sudah teracuni oleh pesona Pak Dharma.

Mereka berbelok di tokok baju bermerek.

“Dayu, temani Melisa pilih baju ya. Pilihkan yang bagus. Papa tunggu di sini saja. Capek.” Dharma lalu duduk santai di kursi tunggu.

Melisa ditemani Dayu berjalan lincah ke sana ke mari mencoba banyak baju. Sesekali mereka mencoba baju yang konyol dan menunjukkannya pada Dharma. Mereka tertawa Bersama.

Sudah lama sekali Dharma tidak melihat Dayu seceria itu, biasanya anak itu hanya pura-pura ceria dengan ekspresi yang kurang lengkap, hatinya mungkin hampa. “Sayang, maafkan aku,” ucapnya pada cincin yang sejak dulu melingkar di jarinya.

Ia membuka ponsel, menatap wajah mendiang istrinya yang begitu ia rindukan.

Belanjaan dua perempuan itu banyak sekali. Dharma sampai harus membantu membawakan tas-tas belanja itu. Dari baju mereka pergi ke kosmetik, lalu Sepatu, aksesoris, bahkan toko boneka.

Sesampainya di rumah, Dharma meletakkan asal semua barang yang dibawanya. Lalu merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.

Melihat itu, Dayu dan Melisa tertawa. Keduanya sama sekali tidak Lelah, malah semakin Bahagia. Bahkan, di rumah saling mencoba belanjaan masing-masing.

“Kok bisa ga ada capeknya sih para perempuan kalau belanja?” gumam Dharma heran.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Ross: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!