Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti Saya?
Agnia yang memperhatikan interaksi kecil itu saling bertukar kerlingan jahil dengan Bagas. "Gimana, Rey? Ganteng kan? Dikta itu orangnya baik banget, penyabar dan jomblo loh. Nggak pernah macem-macem," goda Agnia berbisik.
"Nia, plis... Jangan mulai deh. Jangan bikin aku makin canggung aja," balas Reyna berbisik penuh penekanan dengan wajah yang makin merona merah.
Tanpa terasa, jam sudah setengah delapan, satu per satu teman Bagas berpamitan karena ada urusan masing-masing.
Saat semua berdiri dari kursi dan melangkah menuju pintu keluar kafe, Dikta berjalan sejajar di samping Reyna. Langkah kakinya yang tenang menyesuaikan dengan kecepatan langkah Reyna yang sedikit terburu-buru.
"Kamu naik apa ke sini?" tanya Dikta tiba-tiba saat mereka sudah berada di pelataran parkir kafe yang mulai dihembus angin malam yang dingin.
Reyna terhenti sejenak, "Saya bawa motor, ada di parkiran samping," jawab Reyna sambil menunjuk motornya yang terparkir bersanding dengan deretan kendaraan lain.
Dikta melirik motor Reyna, lalu menatap langit malam Kota Bandung yang mulai mendung gelap dengan gumpalan awan hitam yang tebal.
"Sepertinya sebentar lagi bakal hujan, jarak rumahmu jauh dari sini?" tanya Dikta lagi, ada nada kekhawatiran yang tersirat dari intonasinya.
"Lumayan... di daerah pemukiman padat dekat kawasan industri," sahut Reyna sejujurnya.
Sebelum Dikta sempat merespons lagi, Agnia dan Bagas menghampiri mereka. Agnia menggandeng lengan suaminya dengan wajah berbinar.
"Rey! Dikta! Kita duluan ya, Mas Bagas mau mampir ke rumah dulu ambil barang yang ketinggalan," pamit Agnia, lalu matanya melirik Dikta dengan penuh arti.
"Dikta! Reyna bawanya motor loh. Nanti kalau hujan di jalan gimana? Tolong dibantu ya!" teriak Agnia.
"Agnia!" tegur Reyna panik.
Dikta justru tersenyum tipis dan mengangguk pada Agnia, "Tenang saja. Biar aku yang urus," jawab Dikta.
Setelah mobil Bagas berlalu meninggalkan pelataran, tinggal Reyna dan Dikta yang berdiri di bawah pendar lampu taman kafe, suasana mendadak menjadi canggung kembali.
"Reyna, mending kamu taruh motormu di sini dulu dan biar saya yang antar kamu pulang. Sepertinya sebentar lagi hujan," ucap Dikta.
Reyna menggeleng pelan dengan cepat, merasa tidak enak hati jika harus merepotkan pria yang baru saja ia kenal. "Tidak usah, Dok... Maksud saya, Dikta. Saya sudah biasa terobos hujan kok, ada jas hujan di jok motor. Saya permisi duluan ya," tolak Reyna sopan.
Tanpa menunggu jawaban Dikta, Reyna bergegas melangkah menuju motor tuanya, memakai helm dan memasang kunci kontak. Dikta berdiri mematung di samping mobilnya, memperhatikan gadis itu menyalakan mesin motor yang meraung kasar sebelum melaju membelah jalan raya.
Dikta menggelengkan kepala pelan. Tanpa berpikir panjang, Dikta segera masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan perlahan membuntuti motor Reyna dari jarak aman.
Perkiraan Dikta sama sekali tidak meleset. Baru sepuluh menit Reyna mengendarai motornya menembus jalanan kota, titik-titik air hujan berukuran besar mulai menghantam kaca helmnya dengan deras. Dalam sekejap, hujan lebat mengguyur Kota Bandung disertai hembusan angin kencang yang membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Reyna meminggirkan motor tuanya di bawah naungan atap toko kelontong yang sudah tutup, tubuhnya mulai kedinginan karena kemeja tipisnya terkena cipratan air. Dengan tangan gemetar, ia membuka jok motor untuk mengambil jas hujan plastik murahnya. Namun nasib buruk kembali menimpanya, jas hujan plastik itu ternyata sudah robek di bagian samping dan tidak layak pakai lagi.
"Aduh... Kenapa pakai robek segala sih," gumam Reyna frustrasi, meremas jas hujan rusak itu dengan bibir yang mulai membiru kedinginan.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan toko tempat Reyna berteduh. Lampu sorotnya meredup, lalu pintu pengemudi terbuka. Dikta keluar dari mobil sambil memegang sebuah payung besar berwarna hitam, melangkah melintasi genangan air hujan menuju ke arah Reyna.
Reyna membelalakkan mata tak percaya, "Dikta? Kamu... Kok bisa ada di sini?" tanyanya heran.
Dikta menghentikan langkahnya tepat di depan Reyna, meletakkan payung tinggi-tinggi untuk menutupi tubuh Reyna dari percikan air hujan.
"Sudah saya duga," ucap Dikta tenang, matanya menatap jas hujan robek di tangan Reyna lalu beralih ke wajah Reyna yang pucat kemerahan menahan dingin.
"Saya mengikuti kamu dari belakang sejak keluar kafe tadi," ucap Dikta.
"Mengikuti saya?" kaget Reyna.
"Saya tidak bisa membiarkan perempuan menerobos hujan deras sendirian malam-malam begini, apalagi kondisi tubuhmu kelihatan sedang tidak fit," jawab Dikta lugas.
Dikta mengambil alih tas jinjing dan ransel Reyna tanpa meminta izin, lalu menatap mata Reyna dengan tegas. "Motormu, nitip di rumah sebelah saja dan besok pagi bisa diambil lagi. Sekarang, masuk ke mobil saya. Tidak ada bantahan, Reyna," tegas Dikta dengan suara beratnya yang mendominasi.
Reyna terpaku. Di bawah guyuran hujan yang kian menggelegar dan tatapan penuh tajam dari pria di hadapannya, gengsi dan rasa canggung Reyna akhirnya runtuh. Dengan menundukkan kepala, Reyna mengangguk pelan.
"Iya... Terima kasih, Dikta," jawab Reyna.
"Sebentar, saya izin dulu ke yang punya rumah," ucap Dikta.
Setelah mendapat izin, Dikta memarkirkan sepeda Reyna di depan rumah warga yang ada disebelah toko.
Suasana di dalam kabin mobil milik Dikta terasa sangat hangat dan nyaman, aroma harum kopi manis serta interior kulit yang bersih menyambut Reyna dan hawa dingin dari luar seketika menguap tergantikan oleh penghangat kabin yang dinyalakan Dikta.
Dikta meraih sebuah jaket tebal berbulu halus di jok belakang, lalu menyerahkannya pada Reyna, "Pakai ini, bahumu basah," ucapnya.
"Eh, tidak usah...," tolak Reyna canggung.
"Pakai, Reyna. Jangan sampai kamu masuk angin," ulang Dikta dengan nada yang tak bisa dibantah, membuat Reyna akhirnya mengalah dan menyampirkan jaket tebal yang beraroma wangi tubuh Dikta itu ke bahunya.
Mobil pun melaju pelan menembus derasnya hujan malam Kota Bandung. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Reyna sibuk menatap keluar jendela, mengamati usapan wiper mobil yang membuang sapuan air, sementara jemarinya meremas tepi jaket Dikta.
"Rumahmu di mana?" tanya Dikta memecah hening, pandangannya tetap fokus pada jalanan yang licin.
Reyna menyebutkan alamat gang kontrakannya secara detail. Dikta mengangguk paham, jemarinya memutar kemudi dengan sangat lihai dan tenang.
Beberapa saat kemudian, mobil hitam itu akhirnya memasuki kawasan permukiman padat dan terhenti di mulut gang sempit yang menuju ke kontrakan Reyna, hujan di luar sudah berangsur mereda menjadi gerimis tipis.
"Mobil tidak bisa masuk ke dalam gang, maaf ya cuma bisa mengantar sampai depan sini," ucap Dikta mematikan mesin mobilnya.
"Sama sekali tidak apa-apa! Justru saya yang sangat berterima kasih karena sudah mengantar saya" tutur Reyna tulus dan menatap mata Dikta dengan raut penuh rasa syukur.
Reyna melepas jaket tebal milik Dikta dan melipatnya rapi, lalu menyerahkannya kembali beserta tas belanja oleh-oleh dari Agnia.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor