Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dikamar pengantin yang terasa begitu canggung namun juga tegang. Ada Aleah yang sedang menatap ranjang besar di hadapannya lalu melirik sofa panjang yang berada didekat jendela, lalu kemudian terakhir tatapan nya jatuh kepada pria yang kini sedang membuka jam tangannya.
“Kamu tidur di sofa.”
Kata- kata yang terdengar begitu lancang itu seketika membuat Sagara mengangkat wajah. “Apa?”
“Aku tidur diranjang. Kau tidur di sofa.” Ulang gadis itu tanpa rasa takut ataupun segan sama sekali. Benar-benar lepas dan blakblakan membuat Sagara hampir saja melongo tak percaya karena baru kali ini ada seorang gadis yang begitu lancang memerintah nya.
Pria itu lantas memandang seolah Aleah baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. “Ini kamar ku.” Katanya dingin.
“Tapi sekarang kamar kita.” Sahut Aleaj cepat. “Bukankah kau sendiri yang bilang begitu di dalam surat perjanjian?”
Skakmat! Gadis ini membalas ucapannya dengan alasan yang masuk akal sekarang, namun bukan berarti Sagara akan mengalah begitu saja.
Pria berbadan atletis itu lantas meletakkan jam tangannya diatas nakas. “lalu?”
“Ya berarti kita harus berbagi tempat tidur dong.” Balas Aleah bersungut- sungut. Gadis ini memang tidak ada takut- takutnya, bahkan di pertemuan pertama mereka waktu itu ia sudah berani melawan.
“Kalau begitu kenapa menyuruh ku tidur di sofa?kenapa tidak kau saja?” Tatapan Sagara datar namun diwaktu yang bersamaan juga memicing tajam.
Aleah terdiam sesaat, memikirkan balasan untuk argumen pria itu. “Ya karena aku adalah perempuan dan kau laki-laki.”
“Lalu?”
Aleah sontak memejamkan mata, menahan kesal. Ya Tuhan, apa pria ini memang tidak mengetahui atau sengaja membuat nya naik darah?
“Aku tidak nyaman jika harus tidur seranjang dengan pria yang baru ku kenal.”
“Bagus. Aku juga tidak tertarik tidur seranjang dengan wanita yang baru saja ku kenal.” Balas Sagara, kali ini melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah yang mulai tengil, mulai menikmati permainan emosi dengan gadis yang begitu lancang dan berani di hadapannya ini.
“Kalau begitu sofa untuk mu,” pungkas Aleah kemudian dengan tersenyum lebar agar pria itu mengerti dan mau mengalah padanya.
“Tidak.”
Aleah menoleh dengan kedua alis berkerut. “Kenapa?
“Punggung ku bisa sakit.”
Aleah nyaris tertawa karena kesal. “Kalau begitu, memangnya punggung sendiri terbuat dari baja?”
“Itu bukan urusan ku.” Balas Sagara santai.
Aleah mencebik kesal. “Dasar pria egois!”
Sagara mengabaikan omelannya. Pria itu mengambil beberapa bantal tambahan dari dalam lemari, lalu meletakkannya di tengah ranjang. “Tidur disisi kiri. Jangan sampai melewati bantal ini,” ucapnya memberi peringatan.
Aleah menatap bantal- bantal tersebut kemudian menatap Sagara.” Kau serius?”
Sagara menoleh. “Apa aku terlihat sedang bercanda?”
“Kalau begitu kenapa tidak sekalian memasang pagar?”
Sagara mematikan lampu utama, dan hanya menyisakan lampu tidur disisi ranjang. “Kalau kau masih ingin berdebat, silakan tidur dilantai.”
Mendengarnya membuat Aleah lantas naik ke ranjang namun sambil menggerutu. “Semoga kau mimpi dikejar seribu kecoak.” Asbunnya karena kesal, menyumpahi pria itu.
“Semoga kau bisa belajar diam saat tidur.” Balas Sagara sambil membetulkan posisi tangannya di bawah kepala.
Aleah menarik selimut sampai ke dagu, lalu memunggungi Sagara.
Dasar menyebalkan.
Baru beberapa jam menjadi istrinya, ia sudah merasa usia nya bertambah sepuluh tahun karena stres.
Sagara sendiri berbaring dengan tenang disisi lain. Bantal diantara mereka menjadi batas tak tertulis yang tak boleh dilanggar.
Beberapa menit kemudian, awalnya sudah berlalu dengan tenang, Sagara pikir gadis itu sudah tertidur namun ada pergerakan dibalik selimut nya. Sagara menarik napas pelan, lihat kan? Bahkan didalam tidur sajs gadis ini tak mau diam.
Tak berselang lama, kepalanya menyembul dari balik selimut.”kau sudah tidur?” Bisik gadis itu kemudian.
“Belum.” Jawab Sagara singkat, entah kenapa dia pun memang belum bisa memejamkan matanya.
“Aku mau ke kamar mandi kalau begitu”
“Lalu?”
Aleah lagi- lagi mencebik. “Ya geser lah sedikit tuan muda Sagara.Aku tidak bisa turun.”
Sagara alhasil membuka matanya, lalu menatap perempuan yang sedang meringkuk di tepi ranjang itu. “Bukankah tadi kau bilang ranjang ini milik kita bersama? Jadi cari cara sendiri, aku malas bergerak.”
Aleah mendelik. “Astaga, laki-laki ini menyebalkan sekali. Kalau begitu aku menarik kembali pernyataan ku.”
“Sudah terlambat.”
Namun, meski mulutnya berkata demikian, Sagara tetap menggeser tubuhnya agar gadis itu bisa turun.
Aleah sempat tertegun. Ia tidak menyangka pria itu akhirnya akan mengalah, meski hanya sedikit.
“Terimakasih.” gumamnya.
Sagara tidak menjawab. Kembali ke posisi tidur nya semula.
Sementara itu, Aleah baru saja melangkah menuju kamar mandi ketika ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ia lantas melirik layar dan seketika kehilangan raut wajahnya digantikan dengan ketakutan yang nyata.
Jangan lupa siapa yang memegang nasib ibu dan adikmu. Jangan macam-macam, atau kau tahu akibatnya.
Jari Aleah membeku di atas layar.
Pesan itu dari ayahnya, Darto.
Ancaman itu kembali menghantamnya, mengingatkan bahwa pernikahan ini bukanlah jalan keluar. Selama ibu dan Rania masih berada di tangan ayahnya, ia tidak bisa bertindak sembarangan.
“Aleah.”
Suara Sagara membuatnya tersentak, lantas ia buru-buru mematikan layar ponsel.
“Apa?”
“Kau mau ke kamar mandi atau berdiri di sana sampai pagi?”
Aleah memaksakan senyum. “Iya. Aku pergi.”
Ia masuk ke kamar mandi dan kemudian mengunci pintu. Begitu ia sendirian, Aleah menutup mulut dengan telapak tangan. Matanya mulai panas, tetapi ia memaksa air matanya bertahan.
Ia tidak boleh menangis.
Tidak sekarang.
Tidak ketika ia bahkan belum tahu bagaimana cara menyelamatkan keluarganya.
Di luar, Sagara menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Ia sempat melihat perubahan wajah Aleah sebelum perempuan itu menyembunyikan ponselnya. Wajah yang tadi penuh kejengkelan mendadak pucat, seolah baru saja menerima kabar buruk.
Sagara bukan orang yang gemar mencampuri urusan orang lain. Namun, ia tahu satu hal: Aleah mungkin keras kepala, ceroboh, dan terlalu banyak bicara, tetapi ekspresi ketakutan tadi bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat dengan mudah.
Ketika Aleah keluar beberapa menit kemudian, ia sudah kembali memasang wajah biasa.
Sagara kemudian mematikan lampu tidur.
“Kalau ada masalah, selesaikan sebelum menyeretnya ke rumah ini.” Ucapnya datar.
Aleah berhenti di sisi ranjang.”Aku tidak membawa masalahmu ke mana-mana.”
“Aku sedang membicarakan masalahmu.” Kali ini pria itu melirik sekilas.
Aleah menoleh. Dalam remang-remang kamar, ia hanya bisa melihat garis wajah Sagara. “Kalau aku punya masalah, itu bukan berarti aku harus menceritakannya kepadamu dan kau tenang saja itu tidak akan berpengaruh ke nama keluarga Fernandez yang sekarang sedang kubawa.”
“Bagus. Berarti kita sepakat.” Pungkas Sagara acuh tak acuh.
Aleah kembali berbaring, tetapi kali ini ia tidak langsung memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan, “Sagara?”
“Apa lagi?”
“Kalau suatu hari aku meminta bantuanmu, apa kau akan membantuku?”
Sagara terdiam sejenak. “Bergantung pada masalahnya.”
Aleah tersenyum hambar dalam gelap.
Jawaban yang sangat Sagara sekali.
“Lupakan saja.”
Ia memunggungi pria itu, menarik selimut, lalu berusaha memejamkan mata.
Sagara tidak bertanya lagi. Namun, ketika mendengar napas Aleah yang tak kunjung teratur, ia kembali membuka mata.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya ditakuti oleh perempuan yang sekarang menyandang status sebagai istrinya itu.
Dan mengapa, di tengah semua perdebatan konyol mereka malam ini, Aleah terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menahan dirinya agar tidak hancur.
……
Bersambung