Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Reuni Penuh Gairah di Sangkar Emas
Di ujung terdalam markas Kekaisaran Goblin, jauh dari panasnya tungku lebur dan kebisingan para pekerja, terdapat sebuah ruangan luas yang telah disulap menjadi sangkar emas. Dinding batunya dilapisi oleh permadani-permadani tebal hasil jarahan, dan di tengah ruangan, sebuah ranjang raksasa berlapiskan sutra merah dan bulu monster tingkat tinggi telah disiapkan.
Malam itu, pintu batu berat yang memisahkan sel-sel isolasi dibuka.
Lyra, yang mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih, didorong masuk secara perlahan oleh para penjaga Hobgoblin. Di saat yang sama, dari lorong seberang, Cassvia juga dibawa masuk. Mantan ksatria kebanggaan itu kini mengenakan pakaian sutra hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis dan bugar, sebuah kontras yang nyata dengan tubuh Lyra yang lembut dan rapuh.
Begitu pintu batu raksasa itu tertutup dan mengunci mereka berdua di dalam, keheningan menyelimuti ruangan.
Kedua wanita itu saling bertatapan. Selama sebulan penuh mereka diisolasi, menjalani masa pemulihan secara terpisah dalam kesendirian yang menyiksa. Kini, melihat wajah satu sama lain, pertahanan mental mereka runtuh.
"Cassvia..." bisik Lyra, air matanya tumpah seketika. Ia berlari dan memeluk mantan pelindungnya itu erat-erat.
Cassvia membalas pelukan Lyra, membelai rambut biru gadis penjahit itu dengan tangan yang gemetar. Tidak ada sisa-sisa kebanggaan seorang bangsawan di antara mereka saat ini. Reuni ini bukanlah sebuah pembebasan yang indah, melainkan pengingat yang kejam bahwa takdir mereka di tempat ini sama persis. Mereka bukanlah manusia lagi di mata dunia; mereka adalah tawanan mutlak, sepasang indukan bagi Kekaisaran monster.
"Menangislah, Lyra. Keluarkan semuanya," bisik Cassvia dengan suara serak, meski matanya sendiri sudah basah oleh air mata keputusasaan. "Masa istirahat kita telah habis. Kau tahu apa artinya ini..."
Sebelum Lyra sempat menjawab, hawa di dalam ruangan itu mendadak berubah. Udara menjadi panas dan padat. Lampu-lampu kristal mana di dinding meredup, tergantikan oleh pendaran aura emas gelap yang sangat familier dan menakutkan.
Dari balik bayangan, Altair melangkah maju.
Sang Kaisar Goblin tidak mengenakan jubah kebesarannya malam ini. Ia bertelanjang dada, memamerkan tubuh proporsionalnya yang dipenuhi otot-otot padat dan bekas luka bakar samar dari petir Griffin yang kini justru menambah aura maskulinnya yang buas. Mata merah rubinya menatap kedua wanita di atas ranjang itu dengan tatapan predator yang kelaparan.
"Sebuah pemandangan yang sangat indah," suara bariton Altair menggema pelan, menggetarkan dada Lyra dan Cassvia. "Aku sengaja menempatkan kalian bersama malam ini. Sebuah kekaisaran membutuhkan ikatan yang kuat, dan aku ingin indukan-indukanku saling berbagi beban... dan kenikmatan."
Cassvia mencoba menatap tajam, sisa-sisa insting ksatrianya berusaha menolak dominasi itu. "Kau iblis... anak-anak yang kami lahirkan tempo hari... mereka telah menjadi monster pembunuh."
Altair hanya menyeringai. Ia melangkah naik ke atas ranjang raksasa itu. "Dan mereka akan terus membunuh demi takhtaku. Tapi malam ini, kita tidak membahas perang, Cassvia. Malam ini, tugas kalian adalah menerima benihku kembali."
Begitu Altair menyentuh lengan mereka, efek pasif dari pesona dan genetik mutlak sang Kaisar langsung bekerja. Aura dominasi yang menguar dari tubuh Altair menembus kulit mereka, meracuni aliran darah dan mengacaukan sistem saraf kedua wanita itu.
Rasa takut dan duka yang sedari tadi menyelimuti pikiran mereka perlahan mulai tersapu, digantikan oleh hawa panas yang menjalar liar di area perut bawah. Tubuh mereka mengkhianati akal sehat mereka.
Altair menarik Lyra ke dalam dekapannya, mencium bibir gadis itu dengan kasar dan dalam. Lyra merintih pelan; tangannya yang semula mencoba mendorong dada bidang sang Kaisar perlahan melemah, berubah menjadi cengkeraman penuh gairah di bahunya. Altair merobek gaun tipis Lyra dengan satu tarikan pelan, mengekspos kulit putihnya yang selembut pualam.
Di saat yang sama, tangan kiri Altair merengkuh pinggang Cassvia, menarik tubuh atletis ksatria wanita itu hingga menempel padanya.
"Kau menolakku di kepalamu, Cassvia," bisik Altair di telinga sang ksatria, lidahnya menyapu cuping telinga Cassvia yang mulai memerah. "Tapi detak jantung dan peluhmu mengatakan sebaliknya."
Cassvia terengah-engah, matanya berkaca-kaca menahan luapan hasrat yang dipaksakan oleh tubuhnya. Saat tangan besar Altair menyusup ke balik sutra hitamnya, meremas payudaranya yang penuh dan kencang, sebuah desahan panjang dan liar lolos dari bibir Cassvia. Pertahanan terakhirnya hancur lebur.
Malam itu, sangkar emas tersebut menjadi saksi bisu dari pergumulan panas yang tak terkendali.
Altair mendominasi keduanya tanpa ampun. Di atas ranjang sutra merah itu, erangan nikmat dan desahan napas berpadu menjadi melodi gairah. Altair menyatukan dirinya dengan Cassvia, menembus ksatria wanita itu dengan ritme yang buas dan bertenaga. Cassvia melengkungkan punggungnya, otot-otot perutnya menegang, jari-jarinya mencengkeram seprai dengan kuat sementara mulutnya tak henti-hentinya meneriakkan nama Altair dalam balutan ekstasi yang membutakan.
Sementara memacu Cassvia, Altair menarik wajah Lyra, membungkam desahan gadis itu dengan ciuman yang memabukkan. Lyra meremas rambut Altair, tubuhnya menggeliat liar meminta giliran.
Saat Altair berpindah dan membenamkan dirinya ke dalam tubuh Lyra, gadis itu menjerit tertahan. Kenikmatan yang diberikan oleh genetik sang Kaisar melampaui apa pun yang bisa dijangkau oleh manusia biasa. Lyra dan Cassvia kini tidak lagi meratapi nasib mereka. Rasa malu telah menguap seutuhnya, terbakar oleh api gairah yang menyatukan mereka bertiga. Mereka membalas setiap sentuhan, saling membelai, dan merespons setiap hentakan Altair dengan kepatuhan seorang budak gairah.
Siklus itu terus berulang. Keringat membasahi tubuh mereka yang saling bertautan di bawah temaram cahaya kristal. Altair memastikan benih kekaisarannya tertanam kuat dan dalam di rahim kedua wanita itu berkali-kali.
Pergumulan liar nan panas itu berlangsung tanpa henti hingga fajar menyingsing di luar hutan.
Saat pagi akhirnya tiba, Lyra dan Cassvia terlelap dalam kelelahan yang luar biasa namun dengan ekspresi wajah yang damai dan puas, tubuh telanjang mereka saling berpelukan di bawah selimut tebal, diapit oleh sang Kaisar.
Di dalam rahim mereka, bibit-bibit generasi kedua Kekaisaran Goblin—generasi yang akan menjadi mesin pembunuh baru—telah resmi tertanam dan siap untuk kembali berevolusi.