NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Paman Devan

Keesokan harinya, matahari pagi baru saja muncul saat suara deru mesin motor tua Devan kembali batuk-batuk di depan teras.

Bellona keluar dari kamar dengan pakaian kasual. Di tangannya, ia memegang helm hitam kusam milik Devan yang baunya agak mencurigakan. Bellona menatap helm itu dengan raut wajah jijik yang amat sangat.

"Ini helm pernah dicuci kagak sih?" cetus Bellona, menunjuk bagian dalam helm yang sudah agak berudul. "Bau keringat kakek-kakek."

Devan yang sedang memanaskan motornya sambil berkacak pinggang langsung menoleh melotot. "Sembarangan lo! Itu helm sejarah! Sudah menemani gue dari zaman manggung di panggung pensi sekolah sampai sekarang! Kagak usah banyak protes, buruan naik sebelum gue berubah pikiran!"

Bellona mendecak kesal, tetapi ia tetap memakai helm itu dan naik ke jok belakang motor tua Devan. Begitu Devan menarik gas, motor itu melaju kencang meninggalkan gang, membelah angin pagi yang dingin.

Tiga puluh menit kemudian, motor Devan berhenti tepat di depan pagar besi menempa yang megah. Rumah tua keluarga Sarah kini tampak lebih sepi, tetapi di pelataran parkir sudah tidak ada lagi mobil sedan mewah milik Rizal.

Bellona turun dari motor, melepas helmnya dan merapikan rambutnya. Matanya menatap bangunan rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu dengan perasaan asing.

"Rumah lo lumayan juga," celetuk Devan sambil bersedekap dada, memperhatikan bangunan besar di hadapannya. "Tapi sayang kagak ada kehangatannya."

Bellona tidak menjawab. Ia melangkah menuju pintu depan dan memutar gagangnya. Keberuntungan sedang berpihak padanya—pintu tidak dikunci. Sarah sepertinya sedang pergi mengurus keperluan pernikahan mewahnya.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah yang hening. Bellona langsung berjalan menuju kamarnya di lantai dua, sementara Devan mengekor santai di belakang sambil celingukan melihat interior rumah yang penuh dengan lukisan dan furnitur mahal.

"Cepetan ambil seragam sama buku-buku lo," ujar Devan, bersandar di kosen pintu kamar Bellona. "Gue kagak mau berlama-lama di sini. Berasa lagi di museum."

Bellona dengan cepat membuka lemari pakaiannya. Ia menyambar dua setel seragam SMA, beberapa kaos santai, buku-buku pelajaran kelas dua, serta dokumen penting miliknya. Semuanya ia jejalkan ke dalam tas ransel besarnya sampai penuh.

Saat Bellona sedang mengancingkan tasnya, suara langkah kaki heels bertempo cepat yang sangat familiar mendadak terdengar menghentak tangga marmer di luar.

TAK! TAK! TAK!

"Bellona?!"

Suara melengking Sarah menggelegar dari lorong. Sarah muncul di ambang pintu kamar dengan pakaian formal dan kacamata hitam yang diangkat ke atas kepala. Wajahnya yang tadinya tampak sibuk seketika berubah merah padam begitu matanya menangkap sosok Bellona... dan Devan yang sedang berdiri santai di sampingnya.

"Kalian... ngapain di sini?!" bentak Sarah, suaranya naik satu oktav. "Bellona! Kenapa kamu malah bawa laki-laki ini ke rumah Mama?!"

Devan merapikan jaket kulitnya, melangkah satu tindak ke depan menutupi posisi Bellona di belakangnya. Cengiran tengil yang biasa melekat di wajah Devan seketika hilang, berganti dengan raut wajah dingin yang menusuk.

"Kagak usah teriak-teriak, Rah," potong Devan santai namun tegas. "Anak lo cuma mau ambil seragam sama buku sekolahnya. Kagak ada niat mau ngerusak gaun pengantin mahal lo itu."

Sarah menunjuk wajah Devan dengan jari gemetar penuh rasa jijik. "Devan! Jangan berani-berani kamu ngatur saya, ya! Kamu itu cuma parasit masa lalu yang gak tahu diri! Mumpung kamu di sini, bawa sekalian semua sampah-sampah anak ini dan gak usah pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!"

Bellona di belakang Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa sakit hati itu kembali mencoba menusuk dadanya, tetapi sebelum kata-kata tajam Sarah sempat merobek hatinya lebih dalam, Devan sudah terkekeh rendah.

Sebuah kekehan sinis yang membuat Sarah tersentak kaget.

"Parasit?" Devan memiringkan kepalanya, menatap Sarah dari atas ke bawah. "Iya, gue emang miskin, Rah. Rumah gue kaya gudang kotor, duit gue cuma cukup buat beli token listrik sama mi instan. Tapi minimal..."

Devan melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Sarah, menatap perempuan itu tepat di manik matanya.

"...gue kagak pernah ngebuang darah daging gue sendiri cuma demi nempel sama bapak-bapak kaya raya."

"Kamu—!" Sarah kehabisan kata-kata, wajahnya pucat pasi antara marah dan malu yang amat sangat.

"Ayo, Bocah. Barang lo udah lengkap, kan?" panggil Devan tanpa memedulikan Sarah lagi. Pria itu menyambar tas ransel berat Bellona dari atas kasur dan menyampirkannya di bahunya sendiri.

Bellona menatap ibunya untuk terakhir kalinya. Tidak ada air mata, tidak ada lagi permohonan agar dicintai. Yang tersisa hanya tatapan dingin dan keputusan yang mantap.

"Makasih ya, Ma," bisik Bellona pelan namun tajam. "Udah ngebuka mata aku siapa Mama sebenarnya."

Tanpa menunggu balasan Sarah, Bellona berjalan melintasi ibunya, mengikuti langkah lebar Devan yang membawanya keluar dari kamar dan menyusuri tangga turun.

Di belakang mereka, teriak amarah Sarah menggema memenuhi rumah besar yang kosong itu, tetapi tak satu pun dari mereka yang berbalik untuk menoleh.

Suara teriakan Sarah perlahan lenyap di balik pintu depan yang dibanting rapat. Udara luar yang hangat langsung menyapa wajah Bellona, membawa rasa lega yang luar biasa.

Devan melempar ransel berat milik Bellona ke atas tangki motor tuanya, lalu berbalik menatap gadis itu. Raut wajahnya yang tadinya tegas dan dingin di depan Sarah kini kembali melunak menjadi cengiran tengil khasnya.

"Gimana? Keren kan gue tadi?" Devan menepuk dadanya bangga sambil menyisir rambut dengan jari. "Nge-skakmat nyokap lo pake gaya rockstar berkelas. Harusnya tadi difoto buat kenang-kenangan."

Bellona mendecak, meski dada dan tenggorokannya yang tadi terasa amat sesak kini perlahan mulai melonggar. Ia mengambil helm kusam dari stang motor dan memakainya.

"Gak usah kegeeran. Muka lo tadi tetep aja kayak preman pasar," sahut Bellona ketus dari balik kaca helm.

"Buset, kagak ada terima kasihnya banget ini bocah!" Devan mengelus dadanya berpura-pura terluka, lalu menaiki motornya. "Yaudah, buruan naik! Kita ke sekolah lo sekarang!"

"Ke sekolah?" Bellona menaikkan sebelah alisnya dari balik helm. "Ngapain? Hari ini gue belum siap masuk."

"Siapa juga yang nyuruh lo masuk kelas hari ini, Bego?" Devan menarik gas motornya hingga mesinnya meraung nyaring. "Kagak usah bolos kelamaan. Gue mau nemuin wali kelas lo. Mumpung gue lagi pake jaket kulit keren begini, sekalian mau ngurus surat izin biar lo kagak dikira kabur dari rumah sama pihak sekolah."

Bellona tertegun di Jok belakang. Ia menatap punggung lebar Devan yang terbalut jaket kulit hitam yang agak mengelupas di bagian bahu. Pria di hadapannya ini benar-benar aneh—sebentar sangat menyebalkan, sebentar lagi bertindak sok pahlawan tanpa diminta.

Motor tua itu kembali melaju membelah jalanan kota, membawa Bellona menuju sekolahnya.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang SMA tempat Bellona bersekolah. Lingkungan sekolah tampak agak sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung.

Devan memarkir motornya asal di bawah pohon rindang dekat pos satpam. Dengan santai, pria itu merapikan rambut berantakannya menggunakan kaca spion, lalu melangkah lebar memasuki area sekolah tanpa rasa canggung sedikit pun. Bellona mengekor cepat di sampingnya, merasa agak malu karena penampilan Devan yang terlalu mencolok di lingkungan sekolah yang rapi.

Di ruang guru, Devan duduk bersilang kaki di hadapan Pak Bambang, wali kelas Bellona yang berkacamata tebal dan berwajah kaku.

"Jadi... Mas ini siapa?" tanya Pak Bambang sambil meneliti penampilan Devan dari atas ke bawah dengan raut ragu. "Wali Bellona yang terdaftar di sini adalah Ibunya, Ibu Sarah."

Devan berdehem keras, menegakkan posisi duduknya. "Saya adiknya ibunya, Pak. Paman sekaligus walinya yang baru. Sarah lagi ada urusan bisnis ke luar kota yang agak lama, jadi mulai hari ini Bellona tinggal sama saya dan semua urusan sekolah dialihkan ke saya."

Bellona yang berdiri di belakang kursi Devan hampir saja tersedak liurnya sendiri mendengar kebohongan lancar dari mulut pria itu.

Pak Bambang mengerutkan dahi. "Oh, begitu... Tapi Kenapa Bellona kemarin tidak masuk tanpa keterangan?"

"Anu, Pak... Neneknya baru saja meninggal minggu lalu," potong Devan, nadanya mendadak berubah serius dan agak pelan. "Kondisi mentalnya agak down, jadi butuh waktu penyesuaian. Tapi tenang aja, mulai besok dia sudah masuk sekolah seperti biasa lagi."

Pak Bambang menatap Bellona yang menunduk pelan, lalu mengangguk-angguk paham. "Baiklah kalau begitu. Yang penting besok Bellona sudah bisa mengikuti KBM kembali. Tolong dipantau ya, Mas Devan."

"Aman, Pak. Serahkan sama saya," Devan tersenyum lebar, menjabat tangan Pak Bambang dengan sangat erat hingga guru tua itu agak meringis.

Setelah menyelesaikan urusan, mereka berdua berjalan menyusuri koridor sekolah menuju parkiran.

Bellona melirik samping wajah Devan. "Lo pinter juga ngarang cerita."

"Yee... gini-gini otak gue jalan kalau kepepet!" Devan menyeringai bangga, menepuk-nepuk saku jaketnya. "Lagian mumpung gue lagi berbaik hati, besok pagi lo harus udah rapi jam tujuh. Kagak ada drama molor-molor!"

Bellona merapatkan bibirnya. Ada perasaan aneh yang pelan-pelan hangat menyusup ke sudut hatinya.

"Devan," panggil Bellona pelan saat mereka tiba di dekat motor.

Devan menoleh sambil memegang helmnya. "Apaan?"

Bellona memalingkan wajahnya ke arah lain, berpura-pura sibuk merapikan tali tas ranselnya agar Devan tidak melihat ekspresinya.

"...Makasih."

Devan tertegun sejenak. Pria itu menatap Bellona, lalu sebuah senyuman tipis yang tulus terbit di bibirnya. Ia menjangkau kepala Bellona, lalu mengacak-acak rambut gadis itu dengan kasar hingga berantakan.

"Dih, kesambet apaan lo bilang makasih?!" ledek Devan sambil tertawa renyah. "Yaudah, buruan naik! Gue lapar, kita cari makan siang pake sisa duit kembalian token tadi!"

"Ihh! Jangan diacak-acak rambut gue, Bego!" bentak Bellona galak sambil menepis tangan Devan, walau kali ini, senyum kecil akhirnya benar-benar terukir di wajahnya.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!