NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN PENGKHIANAT

Suara gelak tawa dan denting gelas kaca masih bersahutan di tengah luasnya Grand Ballroom. Dari atas panggung, Leo Valenti sibuk menyalami satu per satu petinggi klan bawahan yang mengantre untuk memberikan ucapan selamat. Di sampingnya, Don Antonio tersenyum lebar, menikmati detik-detik kemenangan atas keberhasilan proses pengalihan kekuasaan yang tampak begitu mulus.

Di antara keriuhan itu, Marco berdiri beberapa langkah di belakang Antonio. Tangannya bertepuk pelan dengan irama yang sangat teratur. Wajahnya menampilkan senyuman paling hangat, tipe senyuman yang selama lima belas tahun terakhir berhasil membuat Antonio menganggapnya bukan sekadar tangan kanan, melainkan saudara kandung sendiri.

Namun, di balik matanya yang menyempit ramah, otak Marco bekerja dengan kecepatan luar biasa, menghitung setiap detik yang berlalu pada jam tangan emas di pergelangan tangannya.

Ketika Leo sibuk berdiskusi dengan salah satu bos wilayah timur, Marco melangkah mendekat dan membungkuk sedikit di samping telinga Antonio.

"Don Antonio," bisik Marco halus dengan nada penuh hormat. "Saya izin pergi sebentar ke lorong luar untuk memeriksa tim pengawal perimeter. Ada beberapa tamu penting dari klan konsorsium yang baru tiba di pelabuhan bawah."

Antonio menoleh sebentar, lalu menepuk lengan Marco dengan akrab.

"Pergilah, Marco," balas Antonio seraya tersenyum tipis. "Pastikan mereka mendapatkan sambutan paling layak. Malam ini tidak boleh ada cacat sedikit pun."

"Tentu, Don. Semuanya berada dalam kendali saya," sahut Marco seraya membungkuk hormat sekali lagi.

Ia berbalik dan mulai melangkah turun dari panggung. Saat kakinya memijak lantai marmer ballroom, senyum di wajahnya lenyap seketika. Raut ramah yang tadi ia tampilkan berganti menjadi ekspresi dingin, kaku, dan tanpa ampun.

Marco menyusuri pinggiran ballroom, melewati deretan prajurit Valenti yang berbaris tegap. Setiap kali melintasi anak buahnya, Marco memberikan anggukan kecil—isyarat palsu bahwa semua berjalan baik. Padahal, di dalam otaknya, ia sudah mencoret nama-nama prajurit setia itu dari daftar orang yang akan dibiarkan hidup malam ini.

Ia mendorong pintu ganda tebal yang memisahkan ballroom mewah dengan koridor layanan belakang gedung. Seketika itu juga, gemuruh musik orkestra teredam menjadi ketukan bas yang samar-samar. Koridor sempit berlantai semen itu sepi, hanya dihiasi pipa-pipa AC dan kabel daya bern tegangan tinggi di langit-langit.

Marco merogoh saku dalam jasnya dan meraba alat komunikasi mikro berfrekuensi khusus yang terpasang di dalam telinganya. Ia menekan tombol kecil di balik kerah kemejanya.

"Dario, laporan," perintah Marco dengan suara amat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Suara desis statis terdengar sejenak sebelum vokal serak Dario, pimpinan tim eksekutor bayangan, menyahut di balik telinganya.

"Semua siap, Tuan Marco," jawab Dario dingin. "Tim satu sudah mengambil alih ruang kendali CCTV di lantai dua. Tiga operator Valenti di sana sudah kami lumpuhkan tanpa suara. Jalur pipa utama di basement juga sudah dipasangi peledak mikro."

Marco berjalan cepat menyusuri lorong utility, sepatu kulitnya menimbulkan gema tipis di dinding beton.

"Bagaimana dengan tim sniper di gedung penyeberangan?" tanya Marco memastikan.

"Dua penembak jitu Ares Group sudah berada di posisinya," balas Dario tanpa ragu. "Sudah mengunci panggung utama melalui jendela kaca tinggi di sisi barat. Begitu lampu padam, mereka hanya butuh waktu tiga detik untuk membidik target."

Marco menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besi bertuliskan *R. Panel Listrik Utama*. Tatapannya berkilat penuh ambisi. Berada di posisi nomor dua selama belasan tahun telah menggerogoti jiwanya. Ia adalah sosok yang merancang semua strategi bisnis gelap Valenti, sosok yang berdarah-darah di lapangan saat perang klan sepuluh tahun lalu, sementara Antonio hanya duduk di kursi kebesarannya dan menuang wiski. Dan sekarang, Antonio justru menyerahkan seluruh kerajaan itu kepada anak muda kemarin sore seperti Leo.

"Marco?"

Sebuah suara berat memecah kesunyian lorong. Marco berbalik dengan tenang. Di ujung koridor, berdiri Pietro, salah satu kapten pengawal paling senior di klan Valenti. Pria bertubuh kekar dengan garis luka di pipi kiri itu menatap Marco dengan kening berkerut.

"Mengapa kamu ada di sektor lima?" tanya Pietro seraya melangkah mendekat. Matanya menatap curiga ke arah tangan Marco yang berada di dekat saku jas. "Bukankah kamu harusnya mendampingi Don Antonio dan Leo di panggung utama?"

Marco tidak panik. Ia menghela napas pendek dan menyunggingkan senyum tipis khasnya.

"Ah, Pietro," sapa Marco santai seraya melangkah maju dua tindak. "Teknisi melaporkan ada sedikit fluktuasi daya pada lampu sorot panggung. Aku hanya ingin memastikan tidak ada gangguan teknis saat prosesi bersulang nanti. Kamu tahu sendiri betapa sempurnanya Don Antonio menginginkan acara ini."

Pietro menghentikan langkahnya, menatap Marco dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pengalaman bertahun-tahun di dunia gelap membuat naluri kewaspadaannya membunyikan alarm bahaya.

"Tugas memeriksa panel adalah wewenang tim teknisi dan pengawal bawah," ucap Pietro tegas, tangannya mulai bergerak pelan menuju sarung senjata di balik jasnya. "Biarkan aku yang memeriksa ruangan itu, Marco. Kamu kembali saja ke—"

Sebelum Pietro sempat menyelesaikan kalimatnya atau menarik senjatanya, Marco melangkah maju dengan kecepatan yang luar biasa. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Pietro, sementara tangan kanannya menarik pisau lipat taktis berbahan keramik gelap dari balik lengannya.

*Srett!*

Bilah pisau yang tajam menusuk tepat di sela tulang rusuk Pietro, menembus jantungnya secara presisi. Pietro melotot, matanya terbuka lebar memancarkan rasa terkejut dan tidak percaya. Suaranya tertahan di tenggorokan, hanya mampu mengeluarkan desakan napas yang terengah.

Marco mendekatkan wajahnya ke telinga Pietro, menahan tubuh besar kapten tua itu agar tidak runtuh ke lantai.

"Maafkan aku, Pietro," bisik Marco sangat dingin, tidak ada sedikit pun rasa bersalah dalam suaranya. "Tapi masa kejayaan Antonio dan klan Valenti yang tua ini sudah berakhir malam ini. Kalian semua terlalu lemah untuk masa depan yang sedang kubangun."

Marco menarik pisaunya dengan cepat, lalu memandu tubuh Pietro yang terkulai lemas ke balik tumpukan kotak kayu penyimpanan di sudut lorong. Ia menyapu bercak darah kecil di lengan kemejanya dengan sapu tangan sutra, lalu membuang kain bernoda darah itu ke atas jasad Pietro.

Tanpa membuang waktu, Marco mendorong pintu besi ruang panel listrik. Di dalam ruangan bernuansa abu-abu itu, dua pria berjas taktis hitam dengan logo tersembunyi Ares Group sedang menyelesaikan pemasangan perangkat peretas digital pada sakelar induk.

"Berapa menit lagi?" tanya Marco dingin seraya menutup pintu di belakangnya.

Salah satu pria berbalik, melihat ke arah jam digital di layar laptopnya.

"Sistem penunda otomatis sudah diset," sahut pria itu. "Tepat pukul 22.00, seluruh aliran listrik hotel dari lantai dasar hingga atap akan terputus total selama empat puluh detik sebelum generator darurat mengambil alih. Waktu yang lebih dari cukup untuk tim eksekutor menyelesaikan tugasnya."

Marco mengangguk puas. Jam di tangannya menunjukkan pukul 21.50. Hanya tersisa sepuluh menit lagi menuju kehancuran klan Valenti.

"Ingat instruksi utamanya," tegas Marco seraya menatap kedua pria itu satu per satu. "Antonio harus dipastikan tewas di panggung. Dan untuk Leo... jangan tembak dia di organ vital. Buat dia terluka, buat situasi seolah-olah dia mencoba melawan pengawal yang ingin menangkapnya. Senjata yang akan membunuh Antonio sudah disiapkan dengan sidik jari Leo."

"Paham, Tuan Marco," balas pria itu singkat.

"Bagus," ucap Marco pelan.

Ia merapikan dasi kupu-kupunya di depan pantulan kaca panel, memastikan tidak ada lipatan yang salah atau tanda-tanda kecurigaan pada penampilannya. Setelah merasa penampilannya sempurna, Marco melangkah keluar dari ruangan listrik, meninggalkan mayat Pietro yang tergeletak di balik kotak kayu.

Ia berjalan kembali menuju Grand Ballroom dengan langkah tenang dan berwibawa. Saat mendorong pintu masuk utama, gelombang suara musik dan keriuhan pesta kembali menyambutnya.

Di atas panggung, Antonio dan Leo tampak sedang tertawa bersama beberapa pejabat kota. Tidak ada satu orang pun di ruangan megah itu yang menyadari bahwa maut sedang mengintai di balik bayangan lampu-lampu kristal yang berkilauan.

Marco mengambil segelas wiski dari nampan pelayan yang melintas. Ia menyesap minuman mahal itu sedikit, lalu berjalan santai mendekati panggung utama, bergabung kembali di sisi raja tua yang sebentar lagi akan menjadi mayat.

"Semuanya sudah beres, Don," bisik Marco hangat di samping Antonio. "Perimeter sangat aman. Kita tinggal menunggu waktu bersulang."

Antonio menoleh dan tersenyum tulus.

"Terima kasih, Marco," sahut Antonio pelan. "Kamu adalah saudara paling setia yang pernah dimiliki klan ini."

Marco tersenyum lebar, tatapannya mengunci Leo yang sedang berdiri di tengah panggung.

"Suatu kehormatan bisa melayani Anda, Don," balas Marco dalam hati seraya menghitung detik-detik menuju kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!