Alexandria adalah seorang gadis berumur 30 tahun yang memiliki luka masa lalu. Rencana pesta pernikahannya gagal di hari H saat seorang wanita berbadan dua hasil perbuatan calon suaminya Mahesa datang.
Lima tahun berlalu sejak saat itu Alexa berusaha mengubur lukanya dengan menjadi pribadi yang dingin terhadap orang yang belum dekat terutama lawan jenis. Seorang workaholic dan mengisi hidup untuk mewujudkan isi bucket listnya.
Kehidupan baru Alexa terusik ketika dia harus menjadi mentor Devon putra bungsu pemilik Brahmana Corporation tempat dia dan Theo suami Arika sahabatnya bekerja. Devon pemuda berusia 22 tahun terkenal karena susah diatur, suka berfoya-foya dan tidak serius menyelesaikan kuliahnya.
Selain itu satu per satu masa lalu mulai menghampiri gadis itu kembali.
Apakah Alexa akan berjodoh dengan masa lalunya?
Ataukah dia menemukan kebahagian lain?
Apakah waktu bisa menyembuhkan luka hatinya?
Berisi lagu-lagu romantis yang sesuai dengan tema chapter.
IG:ayyona_18
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayyona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8-Panggil 'Devon' Saja
Seminggu kemudian.
“Jadi, Analisa Sistem adalah pokok bahasan terakhir yang kita bahas. Mulai minggu depan kita akan lanjutkan dengan case study di real operation. Sampai di sini apakah ada yang ingin ditanyakan, Tuan Devon?" ujar Alexa pada akhir presentasinya.
“So, perencanaan strategis, analisis model bisnis, proses desain dan analisis sistem ini semua akan banyak mempergunakan data. Bagaimana kita bisa memastikan jika data yang diolah benar-benar akurat," tanya Devon
“Benar sekali Tuan Devon, kita sangat butuh ketersedian data yang akurat dan dalam rentang waktu yang lama. Bahkan kadang kita juga butuh data dari kompetitor, oleh karena itu kita harus mengembangkan sistem yang harus di up grade secara berkala. Bahkan jika masih ragu kita bisa langsung test case ke lapangan. Dan menurut saya,Tuan bisa langsung melihat alur dari awal hingga akhir semua aspek business analyst tadi, dan itu hal yang penting. Sebab saya rasa, Tuan disiapkan untuk memimpin Brahmana Corporation, bukan sekedar business analyst,” ujar Alexa lagi.
Mendengar ucapan Alexa, Devon terdiam dan terseyum tipis.
“Ya..kamu benar. Lebih tepatnya memaksa saya untuk terjun ke bisnis ini suka atau tidak suka," balas Devon sambil tersenyum sinis mengingat perjanjiannya dengan keluarganya.
“Mohon maaf Tuan Devon, saya tidak bermaksud menyinggung atau mencampuri urusan Tuan," ujar Alexa dengan nada segan. Tapi Devon tidak mempermasalahkan, justru dia melanjutkan perbincangan dengan Alexa.
“Lalu, Mbak sendiri bagaimana? Apakah perkerjaan ini pekerjaan impian, Mbak?” selidik Devon.
“Kalau pertanyaan ini Tuan ajukan 8 tahun lalu saya akan menjawab tidak. Tapi akhir-akhir ini saya lebih mensyukuri apa yang saya miliki dan saya jalani. Nikmati saja, toh selalu ada cara untuk membuat hidup berwarna. Bahkan dari sesuatu yang membosankan sekali pun," balas Alexa
“Membosankan seperti harus menjadi mentor bocah tengil ya?” sela Devon dengan senyum menyindir yang langsung membuat Alexa gelagapan. Gadis itu tidak menyangka Devon mengetahui bahwa dia pernah menyebut sapaan itu ketika berbicara dengan Theo di pantry.
“ Maaf Tuan Devon, saya tidak bermaksud begitu," ujar Alexa dengan muka kikuk yang membuat Devon tidak bisa menahan tawanya. Perubahan raut wajah Alexa seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
“Ga usah panggil tuan, kan saya masih bocah. Panggil Devon saja," ujar Devon mencairkan suasana.
“Pasti tidak sopan, bos dipanggil nama, " jawab Alexa lagi sambil mematikan proyektor.
“Lah itu, sama yang lain pake elo gue bahkan dengan Pak Dirga juga," ledek Devon
“Itu berbeda," balas Alexa
“Bedanya di mana?” cerca Devon
“Baik. Saya akan panggil Mas Devon saja, tidak pantas dan sopan, saru kata orang," jawab Alexa lagi
“Nope, panggil Devon. Ini perintah. Ga capek udah seminggu ngomong kayak penyiar TV," sindir Devon.
Hmm mulai nih bossy nya keluar gumam Alexa.
“OK Alexa, kita pulang ya," ucap Devon sambil tersenyum lebar menatap Alexa yang menunduk pura-pura membereskan laptopnya. Kemudian ia menangguk tanpa suara.
Ketika mereka keluar dari board room, mereka nemukan Ninda masih ada di meja kerjanya.
“Kok belum pulang, Nin?” sapa Alexa heran
“ Lah, aku kan nungguin Mbak, gimana sih," jawab Ninda sambil merengut.
“Oh, ya ampun!. Sorry Nin, aku lupa bilang ga bisa ikut malam ini. Lagian kok kamu ga telpon?” Balas Alexa yang teringat janjinya dengan gadis itu.
“Ih..periksa deh HPnya," ujar Ninda kesal. Alexa memeriksa telepon genggamnya yang ternyata mati.
“Maaf ya cantik, minggu depan ya kita reschedule," rayu Alexa.
“Ini pada mau nginep di sini?” sela Devon yang dari tadi menunggu.
“Maaf Mas Devon, iya ini mau pulang, ayo Nin!" jawab Alexa sambil menggandeng tangan Ninda.
Dengan cemberut Ninda mengikuti Alexa dan Devon yang sudah terlebih dahulu berjalan di depan.
Di dalam lift terlihat Ninda masih bersungut – sungut dan menyikut pinggang Alexa sambil memberi kode yang ditangkap oleh Alexa jika Ninda lapar. Devon yang bisa melihat tingkah mereka berdua dari kaca di samping kiri kanan lift bisa mengerti apa yang dibicarakan oleh gadis – gadis itu tanpa suara.
Devon merasa kasihan. Kemudian ia menawarkan mereka untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Karena apartemen Alexa yang berlawan arah dengan jalan pulang Devon dan Ninda, akhirnya Alexa tetap meminta Pak Nanang mengikuti mereka ke restoran yang ada di dekat gedung itu agar bisa mengantar Alexa langsung pulang ke apartemennya setelah selesai makan malam. Sementara Devon memberi tumpangan kepada Ninda yang juga pulang ke arah Bogor.