NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4_Mahkota Untuk Aurora

Langkah kaki Ara terasa sangat berat saat ia menyusuri jalanan berbatu menuju gerbang belakang Istana Noxvallys yang menjulang angkuh. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sisa ketakutan terhadap Pangeran Boris di pasar tadi, melainkan karena gulungan kain sutra biru yang ada di dekapannya. Kain itu, yang seharusnya menjadi bahan gaun pesta termewah milik Putri Morena, kini ternoda oleh lumpur hitam yang pekat akibat terjatuh saat keributan tadi.

Ara mencoba mengusap noda itu dengan ujung jarinya yang gemetar, namun kotoran itu justru semakin meresap ke dalam serat kain sutra yang halus. Ia tahu betul apa yang menantinya di balik pintu tinggi itu. Di Kerajaan Noxvallys, kesalahan sekecil apa pun dari seorang pelayan tak beridentitas seperti dirinya adalah alasan yang cukup bagi para bangsawan untuk menumpahkan darah.

"Tolong aku, siapapun itu..." bisik Ara lirih.

Anehnya, saat ia merasa paling rapuh, bayangan pria gagah yang menyelamatkannya di pasar tadi muncul di benaknya. Tatapan mata pria tertua itu—Alistair—terasa begitu hangat, seolah-olah pria itu mengenalnya sejak lama. Namun, Ara segera menggelengkan kepalanya. Ia hanyalah debu di bawah kaki mereka, dan memimpikan perlindungan dari pria-pria sehebat itu adalah sebuah kegilaan.

Sesampainya di istana, suasana terasa mencekam. Para pelayan lain menatap Ara dengan pandangan kasihan sekaligus ngeri. Mereka tahu bahwa Putri Morena sedang dalam suasana hati yang buruk karena persiapan pesta dansa yang belum sempurna.

Ara berjalan melewati lorong-lorong dingin menuju kamar utama sang Putri. Di depan pintu besar yang dijaga oleh dua prajurit berwajah kaku, Ara berhenti sejenak untuk mengatur napas. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengetuk pintu kayu jati itu.

"Masuk!" suara melengking Morena terdengar dari dalam.

Ara masuk dengan kepala menunduk sangat dalam hingga dagunya menyentuh dada. Di dalam kamar, Morena sedang berdiri di depan cermin besar, sementara tiga penjahit istana sedang sibuk mengukur lingkar pinggangnya.

"Mana sutra biru pesananku, budak?" tanya Morena tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada pantulan dirinya sendiri yang ia anggap paling sempurna. "Aku ingin penjahit ini segera mengerjakannya. Jika gaun itu tidak selesai besok malam, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi."

Ara perlahan maju dan menyerahkan gulungan kain itu dengan tangan gemetar. Saat Morena berbalik dan melihat noda lumpur yang mengotori kain sutra mahal tersebut, matanya seketika berkilat penuh amarah. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya suara napas Morena yang memburu karena emosi yang meluap.

"Apa... apa ini?" desis Morena, suaranya rendah namun sangat mematikan.

"M-maafkan saya, Tuan Putri... di pasar tadi ada keributan, dan kain ini tidak sengaja jatuh ke tanah," jawab Ara dengan suara parau. Ia langsung berlutut di lantai yang dingin, memohon ampunan.

"Tidak sengaja?!" Morena meledak. Ia menyambar gulungan kain itu dan melemparkannya tepat ke wajah Ara. "Kau tahu berapa harga kain ini? Kau bahkan tidak bisa membelinya meski kau menjual seluruh nyawamu seribu kali!"

Morena mendekat, menjambak rambut pirang Ara yang tersembunyi di balik penutup kepala hingga Ara terpaksa mendongak. "Kau sengaja ingin mempermalukanku di depan tamu-tamu dari Aethelgard besok, bukan? Kau cemburu karena kau hanya akan selalu menjadi sampah di bawah kakiku!"

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Ara, membuat gadis itu jatuh tersungkur. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Morena tidak puas; ia mengambil sebuah penggaris besi milik penjahit dan mulai memukul bahu Ara berulang kali.

"Ampun, Tuan Putri... ampun..." rintih Ara. Air mata mengalir deras membasahi debu di wajahnya.

"Diam kau! Pelayan tak berguna!" Morena berteriak keras. "Penjaga! Bawa gadis kotor ini ke gudang bawah tanah! Jangan beri dia makan atau minum selama dua hari. Dan pastikan dia menyelesaikan semua cucian istana dalam kegelapan!"

Dua prajurit kasar menyeret Ara keluar dari kamar mewah itu. Ara tidak melawan, ia hanya bisa pasrah. Namun, di tengah siksaan itu, ia secara naluriah meraba dadanya. Ia memastikan Pulpen Cendana Emas masih ada di sana. Saat jemarinya menyentuh benda itu, ia merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah-olah pulpen itu sedang menghibur jiwanya yang hancur.

Sementara itu, di sebuah penginapan mewah tidak jauh dari istana, tujuh pangeran Aethelgard sedang berkumpul di sebuah ruangan tertutup. Suasananya sangat serius. Di atas meja kayu besar, terhampar peta rahasia istana Noxvallys.

"Gadis itu," Alistair membuka pembicaraan, suaranya berat dan penuh emosi. "Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Saat aku menyentuh lengannya, hatiku merasa seperti menemukan bagian yang hilang selama 18 tahun."

"Aku juga, Kak," sahut Gideon, pangeran termuda yang berusia 24 tahun. "Mata birunya... itu bukan mata rakyat biasa. Itu adalah mata keluarga Valerius. Aku berani bertaruh nyawaku bahwa dia adalah Aurora."

Caspian, sang ahli strategi, mengangguk setuju. "Namun kita harus berhati-hati. Jika Raja Malakor tahu kita sudah mencurigainya, dia bisa saja mencelakai Aurora sebelum kita sempat membawanya pulang. Kita harus masuk ke istana itu tanpa menimbulkan keributan besar."

"Besok malam adalah pesta dansa untuk menyambut utusan dari luar," sela Darian dengan senyum tipis yang penuh rencana.

"Itu adalah kesempatan kita. Kita akan datang ke sana sebagai pangeran dari wilayah jauh. Malakor tidak akan menolak tamu yang membawa emas dan hadiah."

Evander, pangeran yang paling lembut, tampak sangat sedih. "Tapi kalian lihat sendiri tadi, dia memakai baju yang sangat buruk. Dia tampak ketakutan. Jika dia benar-benar adik kita, apa yang telah mereka lakukan padanya selama ini?"

Kepalan tangan Benedict mengeras hingga mengeluarkan suara kertakan tulang. "Jika mereka menyentuh seujung rambutnya saja dengan niat jahat, aku akan meratakan istana Noxvallys dengan tanah."

"Tenanglah, Benedict," Alistair menenangkan adiknya. "Kemarahan tidak akan membawa Aurora pulang dengan selamat. Kita akan bertindak saat pesta dimulai. Kita akan mencari tahu di mana dia tinggal, dan kita akan memastikan kebenarannya."

Kembali ke ruang gelap di bawah tanah istana, Ara terduduk lemas di antara tumpukan kain kotor. Cahaya bulan hanya masuk sedikit melalui celah ventilasi kecil di langit-langit. Punggung dan bahunya terasa sangat perih, namun ia harus tetap bekerja. Dengan tangan yang gemetar dan terluka, ia mulai mencuci kain-kain itu di dalam ember besar berisi air dingin.

Setiap kali rasa lelah dan sakit mulai menguasainya, ia teringat pada mimpi buruk yang selalu sama. Namun kali ini, mimpi itu terasa sedikit berbeda. Ia melihat tujuh ksatria dengan baju zirah emas datang menjemputnya di tengah badai. Salah satu dari mereka—pria yang paling tinggi—mengulurkan tangan dan berkata, "Ayo pulang, Putri Kecil."

Ara tersenyum tipis di tengah air matanya. "Pulang? Ke mana aku harus pulang?" bisiknya pada kegelapan.

Ia mengeluarkan Pulpen Cendana Emas dari balik bajunya. Di bawah cahaya bulan yang redup, pulpen itu tampak bersinar dengan cahaya keemasan yang lembut. Ara memeluk pulpen itu erat-erat di dadanya, seolah benda itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa baginya.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!