Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafkah Lima ratus ribu
Suara deru motor Ninja merah milik Mas Aris berhenti tepat di depan teras. Ayu Kirana wulandari perempuan yang saat ini menginjak usia 24 tahun,dan sebagai ibu rumah tangga
Saat ini Ia yang sedang menyeka keringat setelah selesai mencuci tumpukan baju manual dengan tangan, bergegas berdiri. Ia merapikan daster batiknya yang sudah mulai tipis dan pudar warnanya.
"Mas, sudah pulang?" sapa Kirana lembut.
Senyum tulus tersungging di wajahnya
yang ayu, meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari matanya yang sayu.
Aris tidak menjawab. Ia melepas helmnya dengan kasar dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa melepas sepatu. Tanah dari sol sepatunya mengotori lantai ruang tamu yang baru saja dipel Kirana hingga mengilap.
"Ambilkan aku minum. Haus!" perintahnya singkat.
Suaranya selalu bernada tinggi, seolah setiap kata yang keluar untuk istrinya adalah beban.
Kirana mengangguk patuh. "Iya, Mas. Sebentar."
Di dapur, Kirana menuangkan air dingin dari dispenser. Tangannya sedikit gemetar. Hari ini adalah tanggal satu. Biasanya, ini adalah hari di mana Aris memberikan uang belanja bulanan.
Uang yang selalu membuat jantung Kirana berdegup kencang karena ia harus memutar otak sedemikian rupa agar dapur tetap ngebul.
Setelah memberikan minum, Kirana memberanikan diri duduk di kursi kayu di hadapan suaminya. Aris sedang asyik memainkan ponsel pintarnya, sesekali tersenyum sendiri melihat layar.
"Mas... anu... soal uang belanja bulan ini," ucap Kirana hati-hati.
Aris mengalihkan pandangan dari ponselnya. Matanya menatap Kirana dengan pandangan meremehkan. Ia merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah, lalu melemparkannya ke atas meja.
Plak.
"Tuh. Pakai buat sebulan. Jangan nanya lagi, jangan minta lagi," cetusnya.
Kirana menatap lima lembar uang seratus ribuan itu dengan nanar. "Lima ratus ribu, Mas? Tapi harga beras lagi naik. Susu Gio juga sudah mau habis. Belum lagi listrik dan..."
"Alah! Berisik kamu!" Mas Aris memotong dengan bentakan. "Makanya jadi perempuan itu pintar dikit. Jangan cuma tahu masak-masak nggak jelas. Kamu itu orang desa, biasanya makan singkong juga hidup, kan? Jangan gaya-gayaan mau beli ini-itu!"
"Tapi Mas, ini buat anak kita juga..."
"Cukup! Lima ratus ribu itu sudah banyak. Kalau kamu nggak becus ngaturnya, ya itu salahmu karena kamu bodoh. Sekolah cuma sampai SMA di kampung saja belagu mau ngatur-ngatur keuangan saya. Ingat ya, kamu itu untung saya nikahi. Kalau nggak, mungkin kamu sekarang sudah jadi babu di Malaysia!"
Kalimat itu bagai sembilu yang menyayat hati Kirana. Ia menunduk, membiarkan rambutnya yang terikat asal-asalan menutupi wajahnya yang mulai memerah. Air mata sudah menggenang, tapi ia tahan sekuat tenaga. Ia tidak boleh menangis di depan Mas Aris, karena tangisannya hanya akan dianggap sebagai "drama" oleh suaminya.
"Kenapa lagi wajahmu ditekuk begitu? Persis keset!"
Suara cempreng itu datang dari arah pintu samping. Ibu mertua Kirana, Bu Widya, masuk tanpa mengetuk. Ia mengenakan gamis mewah dengan bros emas besar di dadanya.
"Ini Bu, Kirana ngeluh terus soal uang. Dikasih lima ratus ribu katanya kurang," lapor Aris pada ibunya.
Bu Widya berkacak pinggang, menatap Kirana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sinis. "Ya ampun, Kirana! Kamu itu harusnya tahu diri. Aris itu kerjanya capek di kantor. Kamu cuma diam di rumah, goyang kaki, masak tinggal oseng-oseng, kok masih kurang? Kamu pakai buat apa uang itu? Jangan-jangan kamu kirim ke orang tuamu di desa, ya?"
"Nggak, Bu... Kirana nggak pernah kirim uang ke Bapak sama Ibu di desa tanpa izin Mas Aris," jawab Kirana pelan.
"Halah, alasan! Perempuan desa kayak kamu itu memang biasanya pinter cari muka. Kamu harusnya bersyukur, Aris itu ganteng, mapan. Di luar sana banyak wanita cantik, berkelas, kantoran, yang mau sama dia. Tapi dia malah milih kamu yang cuma bisa bau bawang begini. Harusnya kamu kompensasi itu dengan nggak banyak nuntut!"
Kirana hanya bisa diam. Melawan berarti kiamat. Ia sudah hafal polanya. Jika ia menjawab satu kata, mertuanya akan membalas seribu kata, dan Mas Aris tidak akan segan-segan membanting barang jika suasana memanas
Kirana menelan ludahnya perlahan, mencoba menahan gejolak di dada yang terasa sesak seperti diikat tali kawat. Matanya yang berkaca-kaca terus menunduk, memandangi uang merah yang tergeletak di atas meja lima lembar, kusut, seolah dilempar begitu saja seperti sampah. Uang itu bukan sekadar nominal. Itu adalah cermin dari harga dirinya yang terus diinjak-injak setiap hari, bukan hanya oleh suaminya, tapi juga oleh mertuanya yang menatapnya seolah ia seekor kucing liar yang tanpa sengaja masuk ke rumah mewah.
“Kamu pikir jadi istri itu enak, ya?” Bu Widya melangkah mendekat, tumit sepatunya (klik-klik) di lantai keramik, suara yang selalu membuat Kirana berdebar. “Kamu kira tidur siang, masak nasi, terus duduk nonton sinetron itu udah cukup? Aris itu kerja dari subuh sampai jam sembilan malem! Dia capek, dia stres, dan kamu malah minta-minta kayak pengemis?”
Kirana menggigit bibir bawahnya. Rasanya asin. Air matanya mulai menetes, tapi ia buru-buru mengusap dengan punggung tangan, berharap tak terlihat. Tapi tentu saja, Bu Widya melihat.
“Nangis lagi? Aduh, dramanya berat banget sih! Nangis buat apa? Mau minta dikasihani? Kamu kira ini sinetron?Ini rumah tangga beneran, Kirana! Di sini nggak ada yang bayar kamu buat jadi korban!”
Aris tertawa pendek, dingin. “Emang dasar cengeng. Dikasih uang lima ratus ribu aja kayak dikasih racun.”
Kirana menarik napas dalam. Hatinya berteriak: ("Aku bukan cengeng. Aku cuma capek. Capek jadi sandaran, tapi tak pernah jadi prioritas.")Tapi suaranya tetap diam. Karena ia tahu, sekecil apa pun protesnya, akan berubah jadi badai.
“Sudah, Bu. Nggak usah ngomong panjang. Nanti malah nangis terus,” kata Aris sambil kembali ke ponselnya. “Yang penting dia nurut. Kalau nggak nurut, jangan salahkan aku kalau suatu hari aku bawa perempuan lain ke rumah.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau. Tapi Kirana tetap diam. Ia tahu, ancaman itu bukan gertakan kosong. Beberapa kali, ia mencium parfum asing di kemeja Aris,harum bunga yang tak pernah ia pakai. Tapi ia pura-pura tak tahu. Karena mengungkit berarti memberi alasan pada Aris untuk semakin jauh.
Bu Widya duduk di kursi yang berhadapan, menyilangkan kaki dengan
Bu Widya duduk di kursi yang berhadapan, menyilangkan kaki dengan angkuh. “Sebenarnya, aku kasihan sama Aris. Dia seharusnya menikahi perempuan kantoran, yang bisa bawa nama baik keluarga. Bukan perempuan desa kayak kamu, yang bahkan nggak bisa ngomong Bahasa Inggris. Kamu pikir Gio nanti mau bangga punya ibu begini? Nanti dia malu, lho! Di sekolah, teman-temannya pasti nanya, ‘Ibumu kerja apa?’ Dan kamu mau jawab apa? ‘Ibu rumah tangga yang cuma bisa masak tempe dan cuci baju’?”
Kirana mengepalkan tangan di bawah meja. Ia menatap foto Gio kecil yang tergantung di dinding—anak lelaki berusia tiga tahun, dengan mata besar yang mirip Aris, tapi senyumnya mirip dirinya. Anak itu satu-satunya alasan ia masih bertahan. Tapi sekarang, bahkan keberadaannya sebagai ibu dipertanyakan.
“Kalau kamu memang mau jadi ibu yang baik,” lanjut Bu Widya, “kenapa nggak mikir cari kerja? Jangan minta-minta terus ke Aris. Tapi jangan kerja yang bikin malu keluarga, ya. Jangan jadi pembantu. Jangan jualan gorengan di pinggir jalan. Nanti tetangga ngomong.”
Kirana ingin tertawa. Tapi tertawa di sini akan dianggap sebagai tanda kurang ajar. Ia ingin bilang: *Kalau
Tapi tertawa di sini akan dianggap sebagai tanda kurang ajar. Ia ingin bilang: ("Kalau aku kerja, siapa yang jaga Gio? Siapa yang masak, cuci, dan bersih-bersih rumah ini setiap hari tanpa bayaran? Apa itu nggak dihitung sebagai kerja?")
Tapi ia tahu, pertanyaan itu tak akan pernah mendapat jawaban selain ejekan.
“Makan malamnya mana?” tiba-tiba Aris membentak.
“Be... belum Mas. Tunggu uang belanja masuk dulu...” jawab Kirana pelan.
“Dasar! Gak bisa masak pake apa yang ada aja? Kamu mikir aku ini ATM?!”
Kirana buru-buru berdiri. “Iya, Mas… maaf. Sekarang aku masak.”
Ia bergegas ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat Bu Widya berseru, “Bawa uangnya sini! Nanti kamu simpan sendiri, pasti dipakai buat beli pulsa atau kirim ke kampung. Aku yang pegang.”
Kirana menoleh pelan. “Tapi Bu… itu buat makan sebulan…”