Dira Tampubolon (17) terpaksa harus mengikuti perjodohan keluarga dengan paribannya, Defan Sinaga (27) yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Perjodohan itu diikrarkan saat usia Dira masih dini dan masih duduk dibangku SMA.
Terpaksa Dira mengikuti keinginan bapaknya, Sahat Tambolon yang sudah berjanji pada kakak kandungnya untuk menikahkan boru panggoarannya karena memiliki hutang yang banyak pada keluarga paribannya.
Dira boru panggoaran sekaligus boru sasada dalam keluarga itu tak bisa menolak perintah bapaknya. Ia akan menikahi lelaki yang menurutnya sudah tua karena jarak usia mereka terpaut jauh.
Sifat Dira yang masih kekanak-kanakan menolak keras perjodohan itu. Tapi apa boleh buat, pesta martumpol telah digelar oleh kedua kelurga dan ia akan segera bertunangan dengan paribannya yang tua tapi juga tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Valentina Tampubolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menunggu tanpa kabar
Seperti biasa Defan menjemput Dira tidak jauh dari sekolahnya. Sudah seperti kebiasaan bagi Defan untuk menjemput calon istrinya karena sejak dua minggu lalu mereka sering bersama.
Padahal hari ini tidak ada janji temu dan kepentingan apapun. Dira juga tidak mengetahui kalau dia akan dijemput oleh pariban dinginnya yang arogan.
Sepertinya Defan memulai untuk melakukan PDKT pada pariban kecilnya sebelum mereka akan memulai bahtera dalam rumah tangga. Defan ingin mengetahui kebisaan dan sifat-sifat Dira.
Selama menunggu Dira, Defan dengan sengaja tidak mengirimkan pesan apapun kepada Dira atau mengabari Dira sebelumnya.
Hampir setengah jam Defan menunggu, tapi sosok Dira tidak juga kelihatan. Sementara Dira masih di dalam kelasnya. Dia masih mengobrol dengan ketiga sahabatnya.
Obrolan nggak jelas, yang pasti saat ini mereka sedang membicarakan ke rumah siapa mereka akan pergi. Akhirnya mereka menentukan dan bersiap untuk pergi ke rumah Jenny. Tapi karena tidak ada yang membawa kendaraan, akhirnya mereka memilih untuk menaiki bentor saja.
Di depan sekolah tidak ada bentor yang memangkal. Mereka harus berjalan jauh hingga ke simpang pertigaan. Baru saja keluar dari depan sekolah, dengan asik mereka bercanda gurau sambil berjalan.
Karena keasikan, Dira sampai tidak melihat sekelingnya. Dia melewati mobil Defan, yang terparkir ditempat kemarin. Sama halnya dengan yang lain juga tidak sadar ada mobil audi milik Defan.
Ketika mereka berempat melewati mobil Defan, dari seberang mereka ada suara yang berteriak.
Diraaaaaa!!!
Teriakan Defan membuat mereka berempat menoleh mencari asal muasal suara tersebut.
Ketika melihat wajah tampan Defan yang keluar dari kaca samping mobilnya seketika mereka berempat terkejut.
Cieeeeeee!! cieeee!!
Ledek ketiga sahabat Dira secara serentak. Dira tersipu malu karena diledekin oleh ketiga sahabatnya sekaligus tak menyangka ada paribannya disini yang sudah menunggunya.
Beruntung ketiga temannya itu sudah mengetahui status Defan. Sehingga kini tidak bertanya-tanya lagi tentang kedatangannya.
Defan keluar dari mobil audinya dan menghampiri keempat anak kecil itu. Kemudian dia menarik tangan Dira agar menjauh sedikit dari ketiga sahabatnya.
"Abang sudah nunggu daritadi disini. Mau ngajak kau pergi," ucap Defan sambil melirik ketiga sahabat Dira yang sedang berbisik-bisik.
"Kok abang nggak bilang kalau ada disini? mana ku tahu kalau abang mau datang ke sekolahku. Lagian hari ini nggak ada jadwal untuk mengurus persiapan pernikahan kita," balas Dira.
Defan kemudian berkata "Iya abang cuma mau ajak Dira jalan aja. Bisa kan?"
Dira langsung melihat ketiga temannya yang saat ini sedang tersenyum padanya. "Aku udah janji mau ke rumah Jenny bang. Nggak enak kalau di cancel. Udah dua minggu juga aku selalu nolak kalau diajak mereka," ungkap Dira karena sudah berjanji akan mengikuti ketiga sahabatnya kali ini.
"Yaudah ajak aja semua temanmu," kata Defan datar.
Dira mengangkat alisnya keheranan dengan tingkah paribannya. Entah apa yang merasuki paribannya yang biasanya bersifat angkuh dan sombong ini, mengapa ia sekarang mengajak Dira jalan bersama.
"Emang mau ngapain sih bang?" Dira bertanya lagi karena merasa bingung untuk apa mereka berdua jalan bersama.
"Udah ikut aja!" perintah Defan membuat Dira langsung mendekat dengan ketiga sahabatnya. Kemudian ia bertanya kepada ketiga sahabatnya apakah mau ikut dengan Defan dan Dira.
"Woi, paribanku mau ngajak aku jalan. Tapi aku juga nggak tahu mau kemana, kalau kelen mau ikut nggak? Dia suruh aku ajak kelen juga," kata Dira membuat mereka berpikir sejenak.
"Gimana nih?" tanya Shinta. Shinta masih melanjutkan perkataannya. "Kalau aku sih bisa aja. Aku juga nggak ada rencana kemana-mana. Lagian kan kita tadinya mau kumpul di rumah Jenny,"
Jenny juga mengangguk pertanda dia akan mengikuti Shinta dan setuju untuk ikut dengan Defan dan Dira. Siapa sih yang bakal menolak kalau diajak oleh pria seganteng Defan Sinaga? Termasuk Shinta dan Jenny, mereka sangat ingin berkenalan dengan pariban sahabatnya.
Karena dua suara dari Jenny dan Shinta sudah mendominasi, akhirnya Carol juga menyetujui untuk ikut bersama mereka. "Yaudahlah ayok gas!" ajak Carol dengan semangat.
"Mereka mau bang," teriakan Dira membuat Defan langsung bertindak mengajak ketiga sahabat Dira untuk memasuki mobil mewah miliknya.
Defan bahkan membukakan pintu untuk ketiga sahabat paribannya. Termasuk juga membukakan pintu untuk Dira. Saat Dira hendak masuk ke dalam mobil, dari kursi belakang ketiga sahabatnya berbisik.
"Gila weee!! sweet kali bah abang itu," ucap Jenny dengan semangat.
"Iya! aku mau satu lah cowok kaya gitu," balas Shinta.
"Sstttt diam jangan berisik," Carol memperingatkan agar kedua temannya bersikap baik selayaknya penumpang yang sadar diri sedang menumpang di mobil orang lain.
Dira masuk dan duduk disebelah Defan. Defan pun ikut masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Barang-barang branded yang dikenakan oleh Defan membuat Carol terpukau.
Carol yang mengetahui barang branded yang dipakai oleh Defan karena ia juga sering dibelikan oleh kedua orangtuanya. "Pariban Dira bukan cowok kaleng-kaleng," gumamnya.
Defan mulai fokus dengan memerhatikan jalan di depannya. Sekali-kali ia melirik Dira. Jika tertangkap oleh Dira, Defan sedang memandanginya maka Defan tiba-tiba akan tersenyum.
"Nggak biasanya abang ini! apa karena ada kawanku? jadi sok perhatian," batin Dira.
Defan yang keseringan curi-curi pandang pada Dira juga diketahui oleh ketiga sahabatnya yang berada dibelakang mereka.
"Bang? jadi abang bentar lagi jadi suami Dira?" tanya Jenny dengan polosnya dan membuat semua orang terkejut.
Hushhh!
Carol kemudian memukul paha Jenny agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh.
"Iya!" jawab Defan singkat dan datar.
Hal itu membuat ketiga sahabat Dira semakin yakin dengan apa yang diceritakannya. Lelaki itu memang benar-benar pria dingin. Tidak ada basa-basi yang keluar dari mulutnya.
"Kita mau kemana bang?" kali ini giliran Shinta yang bertanya.
Dira mengangkat tangannya dan meletakkan satu jari di depan mulutnya sebagai tanda agar ketiga temannya itu lebih baik tutup mulut.
"Ke restoran," jawab Defan dengan dingin dengan suara beratnya.
Setelah dua kali menjawab pertanyaan Jenny dan Shinta, Akhirnya mereka memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi. Jawaban Defan yang ketus membuat ketiga sahabatnya untuk malas mau bertanya.
Tibalah mereka disebuah restoran besar. Restoran yang membuat Dira, Shinta, Jenny dan Carol tersenyum bahagia. Restoran paling terkenal di Kota Medan.
"Kita mau makan disini we? mahal kali makan disini loh," bisik Carol pada ketiga temannya itu.
Defan berjalan diikuti dari belakang oleh keempat anak SMA yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Beberapa pengunjung bahkan melihat kedatangan Defan bersama empat pelajar itu. Dan mereka berbisik-bisik.
Siapa yang tak akan menjadi pusat perhatian jika seorang lelaki dikelilingi empat pelajar. Terlebih lelaki itu seperti om-om. Bisa saja mereka menganggap Defan seorang germo yang sedang memperjual belikan para pelajar ke om-om hidung belang. Apalagi saat itu mereka berada di restoran terbesar dan termahal.
"Bang!" panggilan Dira menghentikan langkah kaki Defan. Defan sedaritadi cuek dan tidak peduli keadaan sekitarnya. Dia juga tak merasa disorot oleh banyak orang yang ada didalam restoran itu.
"Apa Dir?" tanya Defan dengan santai.
"Daritadi kita dilihat orang-orang. Kami jadi malu," bisikan Dira akhirnya membuat Defan melihat sekitarnya dan memang benar semua pengunjung restoran sedang memperhatikan mereka.
^^^"Udah cuek aja!" ketus Defan dan berjalan menuju lantai dua restoran ke ruangan yang telah dibookingnya dari kemarin. Dira dan sahabatnya mengikuti Defan dengan malu-malu karena kondisi orang-orang yang memperhatikan mereka.^^^
tapi baru baca bab 1, sepertinya menarik ceritanya...