NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sore hari, Bu Minah akhirnya pulang dari Batam. Suara koper yang diseret di lantai langsung memenuhi rumah. Dian yang sedang menemani Naya bermain hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada putrinya.

Sejak saat itu, sikap Bu Minah terasa berbeda—lebih dingin, lebih tajam.

Pandangan mata mertuanya berulang kali tertuju pada pakaian Dian. Jilbab baru, baju yang tampak lebih rapi dari biasanya. Bu Minah mengatupkan bibir, lalu masuk ke kamar sambil menggerutu pelan.

“Duit dari mana Dian itu… bajunya bagus-bagus. Pasti uang Andi yang dia simpan,” gumamnya kesal, seolah yakin dengan prasangkanya sendiri.

Dian mendengar samar omelan itu dari balik pintu. Dadanya terasa sesak, namun ia memilih diam. Ia tahu, membela diri hanya akan menambah panjang masalah. Tak ada gunanya menjelaskan pada orang yang sudah lebih dulu menaruh curiga.

Ia kembali menghela napas panjang, lalu merapikan mainan Naya satu per satu. Tangannya bergerak pelan, seolah sedang menata hatinya sendiri.

“Sudah, Nak. Kita masuk kamar ya,” ujarnya lembut sambil menggendong Naya.

Sepanjang malam, Bu Minah beberapa kali melontarkan sindiran—tentang pengeluaran, tentang istri yang tak tahu diri, tentang perempuan yang pandai menyembunyikan uang. Dian mendengarnya, namun memilih menunduk. Bibirnya rapat, hatinya ia kunci.

Ia sadar, kesabarannya sedang diuji.

Di kamar, Dian memeluk Naya lebih erat dari biasanya. Dalam diam, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan tetap bertahan, bukan karena takut, tapi karena ia sedang menyiapkan kekuatan. Kesabaran hari ini bukan tanda kalah—melainkan langkah untuk bertahan, sampai ia benar-benar siap berdiri tegak demi dirinya dan anaknya.

Tengah malam, Dian terjaga oleh rengekan Naya yang tak biasa. Tangisan kecil itu terdengar lirih namun terus berulang. Saat tangannya menyentuh tubuh putrinya, Dian tersentak—panasnya terasa menyengat.

Dengan hati-hati, ia menyalakan lampu kecil di samping ranjang. Tangannya gemetar membuka laci nakas, mengambil plester penurun panas lalu menempelkannya di dahi Naya.

“Cup… cup… sayang, sakit ya,” bisiknya lembut sambil memeluk anaknya erat.

Namun Naya tetap rewel. Klinik tentu belum buka di jam segini. Dian memilih tak gegabah. Ia memberi obat penurun panas sesuai takaran, lalu menggendong Naya yang masih menangis di dadanya, berjalan mondar-mandir perlahan sambil menepuk-nepuk punggung kecil itu.

Tiba-tiba, suara gedoran keras mengguncang pintu kamar.

Dian tersentak. Dengan langkah pelan, ia membuka pintu sedikit.

“Heh, Dian! Itu Naya suruh diam dong! Ibu mau tidur, jadi terganggu. Kamu sebagai ibu nggak becus amat!” hardik Bu Minah tajam, lalu pergi begitu saja sambil terus mengomel, mengeluhkan malam yang katanya jadi tak tenang sejak ia pulang.

Amarah membuncah di dada Dian. Tangannya mengepal, bibirnya bergetar. Namun ia menahan diri. Tengah malam bukan waktu untuk keributan. Ia menutup kembali pintu kamar perlahan, seolah menutup juga semua perasaan yang ingin meledak.

Dian kembali menggendong Naya, mengusap rambut halus putrinya, menenangkan dengan doa-doa lirih.

Waktu berjalan pelan. Jam menunjukkan pukul empat subuh ketika akhirnya Naya mulai terlelap. Namun tubuh kecil itu tak mau dilepaskan—setiap kali Dian mencoba membaringkannya, Naya kembali merengek, meminta tetap digendong.

Kelopak mata Dian terasa berat, tubuhnya lelah, punggungnya pegal. Kantuk menyerang tanpa ampun. Namun ia tak bergeming.

“Gapapa, Nak… ibu di sini,” bisiknya pelan.

Demi Naya, rasa lelah itu tak lagi berarti. Selama putrinya bisa terlelap dengan tenang, Dian rela menahan kantuk dan nyeri. Baginya, menjadi ibu bukan soal kenyamanan—melainkan tentang bertahan, meski sendirian.

Rasanya baru saja Dian terlelap ketika ketukan keras di pintu kamar kembali membuyarkan segalanya. Suara itu membuat Naya yang sempat tenang kembali menangis. Dian tak perlu menebak—ia sudah tahu siapa di balik pintu itu.

Awalnya ia ingin meletakkan Naya di kasur, namun rengekan itu semakin kuat. Akhirnya, sambil menggendong putrinya, Dian melangkah membuka pintu.

“Iya, Bu,” ucapnya pelan begitu pintu terbuka.

“Haduuh, iya-iya, lihat itu sudah jam berapa!” Bu Minah menunjuk ke arah jam di ruang tengah. “Kamu lihat rumah berantakan begini? Lampu teras samab belakang belum dimatikan, sarapan juga nggak ada di meja. Kamu ini jangan di kamar terus!” omelnya tanpa jeda.

Dian hanya bisa menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, namun ia menahan diri.

“Maaf, Bu… Naya lagi sakit, jadi Dian belum fokus. Boleh hari ini Dian kerjakan pelan-pelan?” ucapnya setenang mungkin.

Di pelukannya, Naya kembali merengek, seolah ikut merasakan tekanan yang sama.

“Ibu nggak mau tahu!” potong Bu Minah ketus. “Rumah harus bersih. Nanti siang masakan juga harus sudah ada. Pokoknya ibu nggak mau tahu!” katanya sambil berlalu ke depan rumah, meninggalkan Dian berdiri mematung.

Dian menutup pintu perlahan, lalu kembali masuk ke kamar. Ia membaringkan Naya dengan hati-hati, mengusap pipi anaknya yang masih hangat.

“Sabar ya, Nak… ibu buatkan susu dulu,” bisiknya lembut.

Tak ingin Naya semakin rewel, Dian segera melangkah ke dapur. Dengan tubuh lelah dan mata yang masih berat, ia tetap bergerak—karena baginya, tak ada pilihan lain selain bertahan.

Setelah Naya menghabiskan susunya dan Dian mengganti kembali penurun panas di dahi putrinya, tangisan itu perlahan mereda. Naya mulai tenang, lalu terlelap dalam tidurnya. Dian menatap wajah kecil itu sejenak, lalu mengambil ponsel dan memotret Naya yang terbaring lemah.

Ayah, Naya lagi sakit. Kalau ada waktu, boleh telepon atau video call ya, tulis Dian, lalu mengirimkannya pada suaminya.

Usai itu, Dian bangkit. Ia tahu, jika sedikit saja lalai, omelan mertuanya pasti kembali terdengar. Ia mulai membereskan rumah—memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, lalu membuka kulkas untuk melihat apa saja yang tersisa. Hari ini ia memilih memasak sederhana. Untuk Naya, ia menyiapkan bubur lembut.

Selesai dari dapur, Dian menyapu lantai dari bagian depan hingga ke belakang rumah. Di halaman, Bu Minah tampak sibuk merawat bunga-bunganya.

“Dian, nanti ganti sprei di kamar ibu, sama sapu dan pel juga ya,” ujar Bu Minah tanpa menoleh.

“Baik, Bu,” jawab Dian singkat.

Ia kembali ke dapur untuk memasukkan cucian putaran kedua. Pakaian hari ini memang cukup banyak—sebagian besar milik mertuanya. Setelah itu, Dian melangkah ke kamar Bu Minah. Ia menyapu lantai, mengelap meja kecil di samping ranjang, lalu membersihkan meja rias. Di sanalah pandangannya tanpa sengaja tertuju pada selembar kwitansi yang tergeletak tak jauh dari ponsel mertuanya.

Entah dorongan apa, Dian meliriknya. Hatinya mendadak berdebar. Di kertas itu tertulis: 1 baju pengantin perempuan, 2 kain kebaya.

Dian terdiam. Ada rasa bingung, namun juga sebersit bahagia. Apa mungkin ibu sebenarnya masih menyayangiku? Jangan-jangan ini kejutan untukku, batinnya, senyum kecil sempat terbit di wajahnya.

Ia segera mengalihkan pikiran dan melanjutkan pekerjaannya—mengganti sprei, lalu mengepel kamar hingga bersih. Setelah semuanya selesai, Dian kembali mengurus cucian, membilas, lalu mengeringkannya. Ia mulai meracik bumbu dan menyiapkan bubur.

Hari ini, Dian bertekad menyenangkan hati mertuanya. Kebetulan ada ikan di dapur. Ia memutuskan mengolahnya menjadi asam pedas, lengkap dengan satu tumisan sederhana sebagai pelengkap.

Setelah semua pekerjaannya selesai, Dian masuk ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia mendekati Naya, menempelkan tangan di dahi putrinya, lalu mengecek suhunya dengan hati-hati.

“Alhamdulillah ya Allah… panasnya sudah reda,” lirih Dian penuh syukur.

Ia lalu mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal. Ada satu pesan masuk. Dari Andi.

Ian, maaf ya aku lagi sibuk. Ini aku ada transfer uang, kamu bawa Naya berobat.

Tak lama kemudian, Andi mengirimkan bukti transfer. Nominalnya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Dian menatap layar ponsel cukup lama. Dadanya terasa hangat, meski perasaan lain masih bercampur di sana.

“Alhamdulillah… rezekinya Naya,” ucapnya pelan.

Ia meletakkan kembali ponsel, lalu melangkah ke kamar mandi. Untuk sesaat, ia membiarkan air mengalir membasuh lelah dan kegundahan yang sejak tadi menumpuk di dadanya.

Setelah itu, Dian berniat makan siang karena sejak pagi perutnya belum terisi selain sarapan ringan. Ia melangkah ke ruang makan dan mendapati ibu mertuanya sudah lebih dulu duduk, menikmati hidangan yang ia masak.

“Nah, gini dong kalau masak,” ujar Bu Minah sambil menyendok lauknya.

Dian tersenyum lebar, meski lelah masih terasa di sekujur tubuhnya.

“Iya, Bu,” jawabnya ringan, berusaha menyimpan lega di balik senyum yang ia pertahankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!