Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Lokasi Bianca
“Lo serius?” Rendra terkejut mendengar jawaban David.
“Iya gue serius,” balas David meremas kasar jarinya.
“Bentar maksud lo itu apa, Vid?” tanya Rendra yang masih belum mengerti arah perkataan sahabatnya itu.
“19 tahun yang lalu, Bunda gue kerja jadi pembantu di rumah Tuan Carlos,” David mulai menceritakan hal yang sebelumnya ia pendam dalam-dalam.
Membuat Rendra terkejut mendengar pengakuannya, “Hah! Kok gue baru tau?”
“Gue minta maaf, baru bisa cerita sekarang.”
“Oke gak masalah. Terus?”
Sebentar David menghembuskan napas berat, sebelum melanjutkan ceritanya. “Malam itu Bastian yang umurnya masih 18 tahun, pulang ke rumahnya dalam kondisi mabuk berat,”
"Sialnya, Bunda gue lagi di dapur, karena kerjaan belum beres. Bastian yang masih terpengaruh alkohol, melihat nafsu ke arah tubuh Bunda gue yang waktu itu berusia 35 tahun,” David mengeraskan rahang merasa tidak terima dengan fakta masa lalunya.
Rendra yang melihat raut wajah kesal David menjadi prihatin, dan menyuruhnya untuk tidak melanjutkan ceritanya lagi. “Udah, Vid! Mending lo gak usah ceritain lagi. Gue minta maaf udah bikin lo buka lagi cerita kelam.”
“Lo gak salah, Ren. Biar gimanapun gue masih inget kejadian itu, meski lewat cerita Bunda gue sendiri,” balas David.
"Selama kerja disana, Bunda gue dipaksa Bastian buat ngelayani nafsu bejatnya. Sampai akhirnya Bunda gue hamil, dan bikin …" David memejamkan matanya rapat-rapat mengingat kedua orang tuanya bertengkar di depannya, yang kala itu masih berusia 13 tahun.
“Ayah menceraikan Bunda saat tau kalau bayi yang ada di dalam kandungan itu, bukan darah dagingnya. Dan setelah itu hidup gue hancur, Ren.”
Rendra terdiam di tempat, ia bingung ingin merespon dengan perkataan apa. Ia sadar mau seindah apapun perkataannya, tidak akan cukup untuk mengobati luka sahabatnya itu.
“Sorry kalau gue lancang, Vid. Terus bayi itu gimana?” tanya Rendra dengan nada sedikit ragu, karena takut menyinggung luka David.
“Bayi itu lahir ke dunia, meski berulang kali Bunda gue berusaha buat gugurin kandungannya,” balas David dengan suara pelan.
"Awalnya gue benci sama tuh bayi, karena udah bikin orang tua gue bercerai. Tapi mungkin karena gak tega liat bunda gue selalu nyiksa dia. Gue jadi bersimpati, dan bawa kabur dia dari rumah.”
"Jadi adik tiri lo itu masih hidup sampai sekarang?” tanya Rendra.
David mengangguk pelan, “Iya dia masih hidup sampai sekarang, mungkin. Karena gue gak tau dia ada dimana. Gue cuma taruh dia di panti asuhan waktu umurnya 2 tahun,“
"Dan sejak saat itu gue benci banget sama Keluarga Carlos, apalagi Bastian. Dan yang lebih sialnya lagi, dulu gue harus satu kampus sama dia,”
“Gue gak bisa lakuin apa-apa, Ren. Bukan karena takut atau gak mau balas dendam sama dia. Tapi, gue gak mau lakuin hal sia-sia tanpa berpikir panjang dulu. Yang gue mau, Bastian harus menderita di tangan gue.”
Rendra menepuk pelan pundak David, “Kalau gitu tujuan kita sama. Kita hancurkan Keluarga Carlos, dan buat Bastian menderita, sampai memohon untuk segera dibunuh aja daripada terus di siksa.”
“Tapi, Ren. Kok lo ikutan?” tanya David merasa bingung. Padahal kan ini dendamnya, kenapa Rendra malah ikut.
"Gue juga pengen lampiaskan rasa marah ke dia, karena udah merusak Selvi, dan pergi tanpa tanggung jawab. Gue juga geram denger bunda lo, yang udah gue anggep bunda gue sendiri juga di rusak sama dia,” ujar Rendra menjelaskan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
“Tujuan kita sama, Vid. Jadi lebih baik kita kerja sama buat bikin Bastian hancur.”
David merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Rendra, yang mengerti rasa sakitnya. “Tapi kita gak tau kan, tuh cowok banci ada dimana?”
“Iya sih, susah banget buat lacak keberadaan dia,” Rendra menghela napas pelan.
“Kalau gitu lupain tentang Bastian dulu. Gue ada sesuatu yang mau gue tunjukin ke lo,” ucap David meraih handphone di sakunya, lalu memperlihatkan ke Rendra.
“Ini?” mata Rendra melotot seakan ingin keluar, melihat apa yang David berikan kepadanya.
David mengangguk pelan sambil tersenyum, “Ini kesempatan yang langka buat lo, Ren. Cepet selamatkan Tante Bianca, sebelum Om Danu tiba.”
“Thanks, Vid!” Rendra langsung bergegas mengambil kunci mobilnya.
“Tunggu, Ren! Gue juga harus ikut sama lo,” seru David mengejar Rendra yang sudah turun ke lantai bawah.
******************************
Mobil ferrari merah melaju cepat membelah jalanan kota. David yang duduk di kursi pengemudi, terlihat lihai menyalip puluhan kendaraan. Bagaimanapun juga, mereka harus sampai di lokasi sebelum keduluan Danu.
Rendra yang duduk di sebelah David, terlihat sedikit cemas namun ia merasa sangat bahagia. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa menemukan tempat, dimana ayahnya menyekap ibunya selama 25 tahun.
“Lo kok bisa lacak tempat persembunyian itu, Vid?” tanya Rendra merasa takjub dengan kemampuan yang dimiliki David.
David yang masih fokus menyetir hanya membalas, “Gue diem-diem berhasil sadap GPS tracker mobil Om Danu.”
"Hah? Segampang itu?” Rendra masih tidak percaya. “Gue dulu pernah nyuruh orang, atau bahkan gue sendiri yang berusaha buat sadap tuh GPS tracker tetep aja gak bisa.”
"Gue pake taktik bunuh diri, Ren.” David membalas dengan nada sombong, “Meski gue tau ada resiko 99% bakalan ketangkep anak buah Om Danu. Tapi gue tetep nekat buat sadap tuh kamera, disaat gue ada kesempatan masuk ke dalam mobilnya,”
“Sekali percobaan, gue kesusahan buat liat aksesnya. Gue pikir, Om Danu memang selalu waspada, kalau sewaktu-waktu lo mau sadap GPS tracker-nya.”
“Tapi setelah 2 kali percobaan akhirnya gue berhasil, meretas history riwayat perjalanan mobil Om Danu. Dan lokasi itu berada jauh, masuk ke dalam hutan yang areanya sedikit kesulitan signal,” ujar David menjelaskan panjang lebar.
"Apapun yang udah lo lakuin ke gue. Gue sangat berterima kasih banyak sama lo, Vid.” Rendra tersenyum merasa bangga memiliki sahabat sepertinya.
David hanya tersenyum kecil, "Makasih-nya nanti aja. Mending kita segera turun dari mobil, dan selamatkan Tante Bianca," David mulai menghentikan laju mobilnya, saat sudah sampai di tujuan.
"Jadi ini lokasinya, Vid?” Rendra melihat sekelilingnya, yang dipenuhi pohon bambu.
Untuk lokasinya terbilang tidak terlalu jauh dari rumahnya, dan ini membuat Rendra semakin mengutuk dirinya sendiri. Karena tidak tau, jika lokasi ibunya disembunyikan cukup dekat dengannya.
David menepuk pelan pundak Rendra, “Kalau mau mikir aneh-aneh nanti aja. Kita cuma ada waktu 10 menit buat bebasin Tante Bianca,” ucapnya sambil memberi topeng.
"Lo ngapain kasih gue topeng segala?” tanya Rendra menatap aneh David.
“Biar gak ada yang tau siapa kita, dan dengan cara ini lo bisa berpura-pura masih mencari Tante Bianca di depan Ayah lo. Dan ini bakalan jadi kesempatan yang bagus buat kalian balas dendam nanti ke Om Danu,” ujar David menjelaskan rencananya.
“Pinter juga ide lo,” puji Rendra menerima topeng itu, dan mulai memakai di wajahnya.
"Ni sekalian, pistol buat lo yang udah gue lapisi Suppressor, kita gerak secara sembunyi, dan biar gue yang memimpin,” David melempar pistol ke arah Rendra.
Rendra dengan sigap menerima pistol tersebut, dan mulai mengikuti David dari belakang. Rendra mungkin CEO besar, tapi untuk urusan seperti ini, David yang lebih berpengalaman.
"Dari perkiraan yang gue lihat, ada sekitar 5 penjaga disana,” ucap David memperhatikan gerak gerik, anak buah Danu yang sedang berjaga di sebuah rumah tua, berjarak 100m dari tempatnya bersembunyi.
Rendra yang juga mengamati mereka, sedikit mengerutkan kening merasa ada yang janggal. “Lo beneran yakin, Vid? Kalau ini tempatnya?”
“Gue yakin Tante Bianca ada di dalam sana.”
“Kalau ini ternyata jebakan?” tanya Rendra sekali lagi, membuat David menatap ke arahnya.
“Lo tau kan Danu orangnya licik? Gue gak terlalu yakin jika memang ini tempatnya,” lanjutnya mengamati sekeliling rumah tua itu.
“Terlebih lo liat sendiri. Cuma ada 5 anak buahnya yang berjaga di sana. Harusnya ada sekitar 10 sampai 20 orang.”
David terdiam sejenak, berpikir jika apa yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya. Jika memang ini tempat Danu menyekap Bianca, kenapa hanya sedikit anak buahnya yang disuruh berjaga disana.
“Daripada terus berspekulasi, lebih baik kita segera cari tau sendiri,” seru David mulai mengatur strategi.
Di depan sana terlihat 5 anak buah Danu sedang bertukar posisi berjaga. 2 berada di depan, 2 berada di samping kanan, kiri rumah. Sementara yang 1 berada di belakang rumah.
"Mungkin hanya 5 orang yang kita lihat. Bisa jadi, beberapa orang yang lain sedang berjaga dari dalam rumah,” David mencoba memahami situasi rumah tua tersebut.
Bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu jati, membuatnya harus memutar otak agar bisa menyelinap tanpa menimbulkan keributan. Terlihat hanya ada satu pintu masuk di bagian depan, dan itu pun dijaga ketat 2 pria bertubuh kekar.
Jika ingin menyelinap tanpa ketahuan, mungkin mereka harus masuk lewat jendela. Tapi sialnya, ada satu orang yang berjaga di sana.
“Seperti yang udah gue kira sebelumnya, Ren. Terpaksa kita pake cara kekerasan,” ujar David menarik pelatuk pistolnya, dan mengarahkan satu bidikan ke arah pria yang berjaga di belakang rumah.
Pfft
Penjaga tersebut ambruk tanpa mengeluarkan suara, saat David berhasil membidik tengkuk leher pria itu. “Cepet, Ren! Lewat arah belakang rumah!” David memberi kode untuk mengikutinya.
Sebenarnya Rendra tidak terbiasa dengan situasi menegangkan seperti sekarang ini. Apalagi ia tidak terlalu mahir memegang pistol di tangannya. Ia hanya pandai berkelahi menggunakan tangan kosong.
Sekali lagi Rendra beruntung memiliki sahabat seperti David, yang pandai mengatur strategi penyusupan. Skill tersebut tentu sudah jelas dimiliki David, karena bagaimanapun juga ia tetap salah satu anak buah Danu, yang kini berbalik arah, dan berada di pihak Rendra untuk melawannya.
Meski David sendiri sadar jika tindakannya kali ini, bisa membahayakan dirinya sendiri, namun ia tetap memilih untuk tidak peduli.
Langkah kaki mereka terdengar pelan, mendekati area belakang rumah tua itu. Rendra yang tidak ingin aksi mereka diketahui para penjaga yang tersisa, mulai membidik anak buah Danu yang berjaga di sisi kanan kiri rumah tersebut.
Suppressor yang terpasang di pucuk pistol, membuat suara bidikan menjadi senyap. Hingga 2 penjaga tersebut ambruk tanpa suara ke tanah.
"Lo harusnya gak tembak mereka, Ren!” David sedikit tidak setuju dengan keputusan Rendra.
"Gue udah gak sabar lagi buat selamatkan Mama dari tempat ini,” balas Rendra yang kali ini memimpin rencana mereka.
“Lo liat di atas sana!” Rendra menunjuk ke arah plafon rumah yang berlubang.
"Kita lewat situ untuk masuk ke dalam rumah, dan kita harus cepat sebelum 2 penjaga di depan menyadari kita ada disini,” ucapnya yang langsung menaiki tumpukan keranjang bambu, untuk bisa memanjat, dan masuk ke dalam plafon tersebut.
David mengikuti ide Rendra, ia pun segera melakukan hal yang sama sepertinya. Saat mereka berdua merayap pelan di dalam plafon, terdengar suara sekumpulan orang yang David perkirakan ada sekitar 20 orang.
Tepat seperti yang ia duga. Mungkin di depan hanya ada 5 penjaga, sementara yang lain berjaga di dalam rumah. David mencoba mengintip lewat lubang kecil yang ada di bawahnya. Ia melihat jika orang-orang tersebut sedang berpesta miras disana.
“Ren!” David memanggil pelan sahabatnya.
"Plafon ini terlalu rapuh, kalau kita terus-terusan berada disini. Mending kita mencar, fokus lo cari Tante Bianca, dan sisanya biar jadi urusan gue,” ucapnya membagi tugas membuat Rendra mengangguk pelan.
Rendra memilih untuk terus merayap ke depan, sambil sesekali mengintip melihat kebawah untuk mencari keberadaan ibunya.
Plafon tersebut memang sudah terlihat rapuh, dan berlubang namun untung saja masih bisa menahan tubuh mereka berdua. Terlebih David memilih untuk merayap ke arah samping, dan turun ke bawah lewat lubang plafon yang terbuka lebar.
Tap
Ia berhasil turun dengan pelan, lalu segera bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas. Sepertinya tempat ini lebih cocok disebut gudang terbengkalai, daripada rumah, pikirnya sambil mengamati sekelilingnya.
Dibalik tumpukan kardus ia mengintip ke arah depan, terlihat sekumpulan orang yang David lihat dari atas tadi, sedang berpesta alkohol. Kesempatan ini tentu tidak ia sia-siakan.
Dengan topeng yang David kenakan di wajahnya. Ia mulai bersiap membidik 20 target yang berdiri sekitar 30 m dari tempatnya bersembunyi.
Pfft
Satu orang berhasil ia bidik, dan membuat orang tersebut ambruk ke lantai.
"Eh! Dia kenapa?” tanya salah satu temannya dengan nada khas orang mabuk berat.
Teman yang lain hanya tertawa sambil mengejeknya, “Hahaha. Paling udah loyo dia, makanya gak kuat minum,” ucapnya sambil kembali menenggak botol whisky.
19 orang yang masih tersisa masih terus melanjutkan pesta mereka, tanpa menyadari jika temannya itu jatuh bukan karena tidak kuat menahan kadar alkohol di tubuhnya.
Melainkan karena ulah bidikan David, yang kali ini mulai menarik pelatuk pistolnya, dan berniat untuk membidik semua orang yang berada dihadapannya, tanpa jeda sedikitpun. Hal ini terasa sangat mudah, karena posisi mereka yang terlalu lengah, dan mudah untuk di serang dari jarak jauh.
Sementara Rendra yang masih ada di atas plafon mulai turun ke bawah, bergerak senyap sambil mengawasi sekelilingnya. Terdapat beberapa pintu kamar yang ada di sekitarnya. Perlahan ia membuka semua pintu-pintu tersebut, namun ia tetap tidak menemukan dimana ibunya.
“Heh! Siapa kau?” suara seseorang membuat Rendra terkejut, dan membuatnya segera menembak dada orang tersebut, hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
Mendengar temannya seperti sedang memergoki seseorang. 7 orang muncul dari arah berlawanan, dan segera menendang pistol yang berada di tangan kanan Rendra.
Bugh
Rendra sedikit terhuyung ke depan, mendapati serangan tidak terduga dari mereka. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun segera melawan 7 orang tersebut menggunakan tangan kosong.
Suara pukulan terdengar keras, hingga membuat David yang sudah selesai dengan pekerjaannya, mulai datang menghampiri Rendra, dan membantunya.
“Argh!” salah satu dari mereka meringis kesakitan, saat Rendra berhasil mematahkan lehernya. Untuk urusan menembak menggunakan pistol Rendra memang tidak terlalu jago. Tapi kalau soal urusan berkelahi, Rendra yang menjadi juaranya.
Tidak mau kalah dengan sahabatnya itu, David juga terlihat beringas menghajar mereka satu persatu. Hingga mereka semua jatuh tak berdaya di lantai.
Rendra yang masih mengenakan topeng di wajahnya, berjongkok di depan salah satu dari mereka. Dengan kasar ia menarik rambut pria tersebut, “Cepat katakan dimana Nyonya Bianca!” Rendra sengaja mengubah nada bicaranya, agar orang tersebut tidak mengenalinya.
Pria tersebut tidak menjawab. Ia memilih diam meski Rendra mencengkram kuat rahangnya. Sepertinya sia-sia saja ia berusaha memaksanya untuk mengatakan dimana ibunya di sembunyikan.
Rendra menatap ke arah David, “Sepertinya ini memang jebakan, Vid. Mama tidak ada disini,” ucapnya dengan nada frustasi.
Kedua tangan Rendra meremas kuat, ia merasa payah karena belum bisa menemukan dimana keberadaan ibunya.
"Tunggu dulu, Ren!” David memberi kode tangan untuk tidak bersuara.
“Anak Mama lagi laper ya? Mau Mama suapin?”
"Lo denger suara ini?” tanya David saat ia mendengar samar-samar suara seorang wanita, yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Iya gue denger," balas Rendra yang juga mendengar suara tersebut.
David berjongkok, dan mendekatkan telinganya ke lantai, untuk mencoba mencari sumber suara tersebut. “Di bawah, Ren. Ada ruang bawah tanah disini,” ucapnya yang langsung berusaha mencari pintu rahasia bawah tanah.
Sampai akhirnya ia menemukan pintu tersebut, saat mendorong lemari tua yang berada di belakang Rendra.
Saat pintu rahasia itu terbuka, suara wanita tersebut terdengar semakin jelas di telinga Rendra. “Suara ini?”
Tanpa berpikir panjang lagi ia berlari masuk kedalam ruang bawah tersebut, dan terkejut melihat …