"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B3rcinta
Dengan perasaan gugup Runi memijit tubuh Yandra. Ia memulai dari punggung hingga pinggang. Yandra m3nikmati pijitan wanita itu, rasanya cukup Enak dan membuatnya menjadi rileks. Ternyata runi cukup pandai memanjakan dirinya.
''Gimana, Mas, enak nggak pijatan aku?'' tanya runi.
''Ya cukup enak. Tapi tidak terlalu mahir,'' jawab lelaki itu masih gengsi mengakui bahwa ia sudah mulai nyaman oleh s3ntuhan sang istri.
Runi tersenyum mendengar jawaban Yandra. ''Mas mau yang lebih enak lagi?'' Tawar wanita itu.
''Apa maksud kamu?'' Tanya yandra tidak paham.
''Ya,'' jawab runi dengan senyum nakal.
DEGH!
Jantung Yandra berdetak kencang. Seketika kenangan malam itu mencuat ke permukaan. Namun, ia berusaha menyingkirkan pikiran tersebut. Nggak, ia nggak boleh memikirkan hal itu lagi.
''Kenapa diam saja? Mas nggak mau aku pijat yang lebih 3nak lagi?'' Tanya runi sembari m3r4ba perut Yandra.
''Runi, kamu apa-apaan sih.'' Yandra menahan tangan Runi saat hendak semakin dalam m3nelusuri kulit p3rutnya.
Kini posisi tubuh Yandra sudah telentang. Runi semakin senang menatap pemandangan itu. Seketika Runi naik ke 4t4s t*buh Yandra.
"Runi, kamu...."
"Ssshhttt.... Nggak usah protes. Mas."
Perlahan Runi membuka at4san yang ia kenakan. Seketika Yandra m3nelan lud4h saat melihat dua bongk4h4n melon yang masih terbungkus oleh k4in berwarna hit4m. Terlihat semakin besar dari p3rtama kali ia lihat di mal4m itu.
Runi tersenyum m3nggod4 seraya meraih kedua tangan Yandra, lalu meletakkan pada as3t berharga milikny4.
Lagi-lagi Yandra tak mampu mengeluarkan suaranya. Sungguh rasanya ia sudah tidak t4han dengan god4an dari sang istri.
"Run, jangan memancing aku. Jika aku sudah memulai, maka tidak akan berhenti sebelum semuanya selesai," ucap Yandra memberi peringatan.
"Dengan senang hati aku melakukannya. Ayo lakukan," ucap Runi semakin m4nggoda Yandra dengan cara m3ngeluark4n salah satu m3lonnya.
Yandra yang sudah tidak tahan, ia seketika meraih tengkuk Runi, lalu m3lum4tnya dengan ganas. Tak sampai disitu, ia juga mengubah posisi dalam waktu beberapa detik, kini t*buh Runi sudah ber4da di b4wah kungkung4nnya.
Yandra kembali m3lum4t dan di imbangi oleh Runi. Kini tangannya sudah mulai m3njamah k3dua melon Runi.
"Hmmhh...." Runi m3l3nguh saat merasakan nikm4t.
Yandra beralih pada kedua b3nda k3nyal itu, lalu m3l4hapnya secara silih berganti. Perbuatannya membuat Runi kembali mend3s4h berulangkali.
"Aku tidak bisa menahan lagi," ucap Yandra seketika m3mbuk4 k4os dan juga c3lan4nya. Setelah itu ia juga membantu m3lep4skan p4kaian Runi.
"Apakah kamu sudah siap? Tidakkah kamu menyesal nantinya?" Tanya Yandra menatap dalam. Ia mencoba untuk mengembalikan akal sehatnya.
Runi mengangguk. "Aku sudah siap lahir dan batin, Mas," jawabnya menatap sayu.
"Tapi kita tidak saling mencintai?"
Runi mengusap pipi Yandra sangat lembut. "Nggak apa-apa, Mas. Kewajiban aku untuk memberi hak kamu. Meskipun belum ada cinta diantara kita, tetapi aku berharap suatu saat nanti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," jawab Runi menatap teduh.
Yandra tak bicara lagi. Ia segera kembali m3lum4t bibir Runi penuh h4sr4t. Cium4n itu turun kebawah. Tak ada yang terlewati dengan s4puan lId4hny4.
"Apakah kamu sudah siap?" Tanya Yandra sembari m3ngecup bibir dan kening Runi.
Runi mengangguk yakin. "Aku sudah si4p, Mas."
Yandra segera melakukan p3ny4tuan. Suara d3s4ah menggema di dalam ruangan itu. D3s4ah nikm4t dan rasa sakit menjadi satu bagi Runi. P3rutnya terasa ngilu dan nyeri saat mil*k Yandra m3nghuj4m dalam.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Sayang...." Ujar Yandra sembari mempercepat h3nt4k4nnya.
"Ayo k3luark4n, Mas...." Runi ingin semua cepat berlalu, karena rasa s4kitnya semakin terasa.
"Ahhhh.... Aku k3lu4arr...." Seketika Yandra ambruk di 4t4s t*buh Runi.
Yandra masih memeluk erat. Ia mengecup kening Runi berulang kali. Ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Sungguh ia sangat pu4s dengan p3rcint4an ini.
Runi membalas pelukan lelaki yang sangat ia cintai. Pelukan Yandra kali ini terasa sangat lembut dan penuh kehangatan. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja. Ia sangat terharu dan bahagia.
Yandra hendak melepaskan p3lukannya, tetapi Runi enggan melepaskan. "Peluk aku lagi, Mas," lirihnya semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.
"Nanti p3rut kamu s4kit, Runi," ucap Yandra khawatir menyakiti janin yang ada di rahim Runi.
"Nanti sebentar lagi, Mas."
Yandra mengikuti, ia memeluk erat dan membiarkan Runi merasa nyaman. Heran saja dengan sikap Runi yang mendadak manja. Apakah Runi sudah ada rasa padanya? Tetapi sikapnya selama ini pada Runi sering kali menyakitkan. Jadi mana mungkin Runi menyukai dirinya.
Setelah merasa cukup, Runi melerai pelukannya. Ia merasa ada yang rembes di bawah sana, dan segera memeriksa. Seketika matanya membola saat melihat ada d4rah yang keluar.
"Runi, kamu b3rdar4h?" Ujar Yandra tak kalah terkejut dan cemas.
"I-iya, Mas. Mungkin aku hanya kecapean saja," jawab Runi beralasan.
"Ini banyak p3ndarahannya. Ayo kita ke RS sekarang. Apakah tadi aku terlalu kuat gerakannya?" Yandra tampak begitu cemas.
Runi menggelengkan kepala. "Nggak, Mas." Runi seketika masuk ke dalam kamar mandi. Ia tahu p3ndarahan ini di karenakan kanker rahim yang ia derita. Dokter Vano juga sudah menerangkan bahwa itulah yang akan terjadi saat berhubungan b4dan.
Bersambung.....