Firman (22) punya satu prinsip dalam hidupnya: "Jangan pernah berharap sama manusia, maka kamu tidak akan kecewa." Pengkhianatan di masa lalu mengubahnya menjadi jurnalis yang dingin dan skeptis terhadap komitmen. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak rasional.
Di sebuah lapangan badminton di Samarinda, ia bertemu Yasmin (22). Seorang dokter muda yang lembut namun memiliki tembok yang sama tingginya dengan Firman. Yasmin adalah ahli dalam mengobati fisik, tapi ia sendiri gagal menyembuhkan luka akibat ditinggalkan tanpa penjelasan.
Mereka tidak menjanjikan selamanya. Mereka hanya sepakat untuk berada di "level" yang sama sebagai teman diskusi, teman batin, namun tanpa ikatan yang mencekik. Namun, ketika masa lalu mulai kembali menagih janji dan jarak antar kota (Bontang hingga Labuan Bajo) mulai menguji, mampukah mereka tetap di level yang aman? Ataukah mereka harus memilih: Berhenti sebelum terluka, atau berani hancur demi satu kesempatan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firmanshxx969, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: CERMIN YANG RETAK
Gerimis di Semarang sore itu turun dengan keanggunan yang menyakitkan, membasuh nisan-nisan tanpa nama di halaman belakang Panti Asuhan Kasih Eliza. Firman berdiri tegak di tengah halaman, membiarkan air hujan meresap ke dalam perban di bahunya yang baru saja dijahit setengah jalan oleh Yasmin. Rasa perihnya menjadi satu-satunya pengingat bahwa ia masih hidup, bahwa ia bukan sekadar sekumpulan data genetik yang berjalan.
Di depan gerbang besi yang berkarat, sosok pria itu berdiri. "Baskara Putra".
Pria itu tidak mengenakan pelindung tubuh. Ia hanya memakai kemeja safari berwarna khaki yang basah, persis seperti gaya berpakaian ayah Firman dalam ingatan masa kecilnya yang paling samar. Di belakangnya, barisan pria berseragam hitam "Shadow Unit" berdiri diam layaknya patung-patung kematian, senjata laras panjang mereka mengarah ke bumi, namun mata mereka mengunci setiap celah di bangunan panti.
"Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah penantian, Firman," pria itu berbicara. Suaranya rendah, memiliki resonansi bariton yang sama dengan rekaman suara yang sering Firman putar saat merindukan ayahnya. "Kamu tumbuh besar dengan sangat baik. Dingin, cerdas, dan berbahaya. Persis seperti yang aku bayangkan."
Firman mengepalkan tangannya, membiarkan kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga hampir berdarah. Senyum "Smiling Killer"-nya muncul sebuah lengkungan bibir yang getir dan penuh tantangan.
"Siapa Anda?" tanya Firman, nadanya datar namun mengandung ancaman yang pekat. "Atau lebih tepatnya... versi keberapa Anda dari ayah saya?"
Pria itu tersenyum, sebuah senyuman yang terlalu simetris untuk menjadi manusiawi. Ia mengangkat folder merah yang ia bawa. "Aku adalah Baskara yang telah disempurnakan, Firman. Ayahmu yang dulu hanyalah sebuah sketsa kasar yang penuh dengan kelemahan emosional. Proyek Lentera tidak membunuhku; mereka mengekstrak idealismeku dan menggantinya dengan tujuan yang lebih besar."
"Tujuan untuk menjadi anjing peliharaan Syarifuddin?" cemooh Firman.
"Tujuan untuk memastikan bahwa ras manusia yang baru sepertimu dan Yasmin tidak hancur karena perasaan-perasaan tidak berguna," pria itu melangkah maju satu langkah. "Serahkan berkas aslinya, Firman. Kamu adalah 'Subjek 01'. Kamu diciptakan untuk menjadi pelindung, bukan penghancur sistem. Kembali padaku, dan aku akan memastikan Yasmin mendapatkan tempat yang layak di sisi kita."
Di Dalam Bungker Bawah Tanah.
Yasmin menempelkan telinganya ke dinding beton yang dingin. Ia bisa mendengar suara-suara itu melalui sistem pengeras suara darurat yang diaktifkan Rendy. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.
"Itu... itu benar-benar suara ayah Mas Firman," bisik Yasmin, matanya membelalak ketakutan.
"Nggak, Yas. Itu bukan manusia," Sarah menimpali sambil memeriksa amunisi pistol cadangannya. Wajahnya keras. "Ayahku, Syarifuddin, terobsesi dengan 'pencetakan ulang' memori. Mereka menggunakan otak Baskara yang asli, menyalin datanya ke dalam tubuh baru yang diperkuat secara biologis. Pria di luar sana adalah mesin perang yang memakai memori ayah Firman sebagai sistem operasinya."
"Mas Firman dalam bahaya," Yasmin berdiri, meraih tas medisnya. "Aku harus keluar."
"Jangan gila, Yas! Firman minta kita lewat jalur sumur tua!" Rendy menahan lengan Yasmin.
"Rendy, dia tidak akan sanggup menarik pelatuk ke wajah ayahnya sendiri!" Yasmin menyentak tangan Rendy. "Hanya aku yang bisa mengalihkan perhatian pria itu. Aku adalah 'Subjek 02', alasan mereka memulai eksperimen ini. Mereka tidak akan menembakku."
Yasmin berlari menuju tangga darurat sebelum Rendy atau Sarah bisa mencegahnya. Ia tahu ini nekat, tapi ia tidak bisa membiarkan Firman hancur sendirian di bawah hujan itu.
Di Halaman Panti.
Firman merasakan kehadiran Yasmin bahkan sebelum pintu samping terbuka. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki kenekatan perempuan itu.
"Yasmin, masuk kembali!" perintah Firman tanpa menoleh.
"Tidak, Mas!" Yasmin melangkah ke tengah halaman, berdiri di samping Firman. Ia menatap pria di depan gerbang dengan tatapan yang penuh dengan campuran antara horor dan rasa ingin tahu medis.
Pria yang menyerupai Baskara itu terhenti. Sorot matanya berubah saat melihat Yasmin. Sebuah kilatan aneh muncul di pupil matanya seperti kode program yang sedang mengalami error saat melihat target utamanya.
"Subjek 02... Yasmin," pria itu bergumam. Suaranya sedikit bergetar, kehilangan ketenangannya untuk pertama kali. "Kamu... kamu sangat mirip dengan Eliza."
"Jika Anda benar-benar ayah dari Mas Firman, Anda seharusnya malu berdiri di sana membawa pasukan pembunuh untuk menyerang anak-anak panti ini!" teriak Yasmin, suaranya bergema di antara pepohonan jati. "Ibu Eliza membangun tempat ini untuk melindungi korban dari orang-orang seperti Anda!"
"Aku melindunginya dengan cara yang tidak kalian pahami!" pria itu berteriak balik. Tiba-tiba, ia memegang kepalanya, seolah sedang menahan sakit yang luar biasa. "Dunia ini busuk! Lentera adalah satu-satunya cahaya! Firman... Yasmin... kalian adalah mahakarya!"
"Mahakarya yang Anda buat menderita?" Firman melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Yasmin. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan stetoskop milik Yasmin, menggenggamnya kuat-alih-alih senjata. "Ayah saya adalah seorang jurnalis. Dia percaya pada kekuatan kata-kata, bukan kekuatan penindasan. Jika Anda memiliki memorinya, Anda pasti ingat malam saat dia membacakan saya cerita tentang jurnalis yang menangkap naga hanya dengan selembar kertas berita. Di mana Baskara yang itu?"
Pria itu terdiam. Hujan semakin deras, membasahi wajahnya. Ia menatap stetoskop di tangan Firman. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak. Air mata air mata yang tampak sangat nyata bercampur dengan air hujan di pipinya.
"Hutan jati... malam itu... naga kertas..." pria itu berbisik lirih.
Namun, di telinga pria itu terdapat perangkat komunikasi kecil. Suara Dr. Syarifuddin terdengar tajam dari pusat komando.
"Unit Baskara, terjadi anomali emosional. Aktifkan Protokol Penindasan. Ambil berkasnya sekarang, atau eliminasi Subjek 01. Lindungi Subjek 02."
Mata pria itu mendadak berubah. Pupilnya mengecil, dan kesedihan di wajahnya berganti menjadi kekakuan robotik. Ia mengangkat tangan kanannya.
"Tembak," perintahnya dingin.
Ledakan Kekacauan.
Dalam hitungan detik, halaman panti asuhan berubah menjadi zona perang. Pihak Shadow Unit melepaskan tembakan peringatan ke arah bangunan, sementara dua orang dari mereka menerjang ke arah Firman.
"RENDY! SEKARANG!" teriak Firman.
Dari lantai dua panti, Rendy yang sudah mengambil posisi melepaskan gas air mata yang telah dimodifikasi oleh Sarah. Asap putih tebal segera menutupi pandangan di halaman.
Firman menyambar pinggang Yasmin dan membawanya berguling ke balik tembok bata panti. Suara peluru yang menghantam tembok terdengar seperti rentetan petasan yang mematikan.
"Ke sumur tua! Sekarang!" Firman menarik Yasmin berlari melalui koridor belakang panti yang gelap.
Di belakang mereka, "Baskara" berjalan menembus asap gas air mata tanpa terbatuk sedikit pun. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia seusianya. Ia menendang pintu kayu panti hingga hancur berkeping-keping.
"Firman... Yasmin... kalian tidak bisa lari dari takdir biologis kalian!" suara pria itu menggema di lorong, terdengar seperti hantu yang menuntut balas.
Mereka sampai di dapur panti yang luas. Di tengahnya terdapat sebuah sumur tua yang ditutupi oleh meja kayu besar. Sarah sudah menunggu di sana, memegang tali rappelling.
"Cepat! Masuk!" desak Sarah.
Rendy turun duluan, disusul Yasmin yang masih dalam keadaan syok. Saat giliran Firman, sebuah tangan kuat mencengkeram bahunya dari belakang. Tangan itu terasa seperti besi panas.
Firman terpelanting menghantam meja dapur. Ia berhadapan langsung dengan pria yang memakai wajah ayahnya.
"Berkas itu, Firman. Serahkan," pria itu mencengkeram leher Firman.
Firman terengah-engah, namun ia tersenyum. Senyum "Smiling Killer" yang paling mematikan. "Anda ingin berkasnya? Ambil ini."
Firman meledakkan sebuah granat asap kecil tepat di antara mereka. Di tengah kebutan asap, Firman tidak menyerang dengan fisik, melainkan dengan kata-kata peluru terakhir jurnalisnya.
"Ayah... jika Anda masih di dalam sana... tolong lihat Yasmin. Dia adalah bukti bahwa Ibu Eliza mencintai Anda lebih dari proyek gila ini. Dia lahir alami agar Anda memiliki sesuatu yang murni untuk diperjuangkan!"
Cengkeraman di leher Firman sedikit melonggar. Pria itu tampak bergetar. Memori asli Baskara Putra sedang bertempur hebat dengan pemrograman Syarifuddin.
"Eliza... Yasmin..." pria itu melepaskan Firman. Ia menatap tangannya sendiri yang dipenuhi teknologi canggih di balik kulit buatannya. "Apa yang telah mereka lakukan padaku?"
"Lari, Firman! Pergi!" pria itu tiba-tiba berteriak, suaranya kembali menjadi suara Baskara yang penuh kasih sayang. "Jangan ke Jakarta! Pergi ke pelabuhan lama di Tuban! Ada seseorang bernama 'Anak Malam' yang memegang kunci terakhir! Pergi!"
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah luar. Unit Shadow menyadari pemimpin mereka mengalami malfungsi. Peluru mengenai bahu pria itu.
Firman terpaku melihat ayahnya (atau sosok itu) tertembak demi melindunginya. Ia ingin menarik pria itu bersamanya, namun Sarah menarik paksa Firman masuk ke dalam lubang sumur.
"Dia sudah hilang, Firman! Ayo!" teriak Sarah.
Firman jatuh ke dalam kegelapan sumur, menatap ke atas di mana ia melihat sosok ayahnya berdiri di bibir sumur, menahan serangan pasukan seragam hitam seorang diri untuk memberi mereka waktu.
“Selamat tinggal, Nak... jadilah cahaya,” itulah kalimat terakhir yang Firman tangkap melalui getaran udara sebelum pintu sumur ditutup oleh ledakan kecil yang disiapkan Sarah untuk meruntuhkan akses tersebut.
Di Dalam Terowongan Bawah Tanah, Pukul 18.00 WIB.
Mereka merangkak di dalam kegelapan yang lembap dan berbau tanah selama hampir satu jam sebelum akhirnya keluar di sebuah hutan kecil yang berjarak dua kilometer dari panti asuhan.
Firman jatuh terduduk di atas tanah yang becek. Ia tidak menangis. Matanya hanya menatap kosong ke arah kepulan asap yang membubung dari arah panti asuhan di kejauhan.
Yasmin mendekat, duduk di sampingnya, dan tanpa kata-kata, ia memeluk kepala Firman dan menyandarkannya di bahunya. Ia merasakan tubuh Firman yang gemetar hebat.
"Dia masih ada di sana, Yas," bisik Firman. "Ayah saya... dia masih ada di dalam monster itu."
"Aku tahu, Mas. Aku merasakannya juga," Yasmin mengusap rambut Firman yang basah. "Dia menyelamatkan kita. Dia memilih menjadi manusia kembali, meski hanya untuk beberapa detik."
Rendy dan Sarah berdiri agak jauh, memberikan ruang bagi mereka berdua. Sarah menatap ponselnya yang kini menunjukkan pesan terenkripsi yang masuk.
"Firman," panggil Sarah dengan nada serius. "Ayahmu tadi menyebut soal 'Anak Malam' di Tuban. Kamu tahu siapa itu?"
Firman mendongak, matanya berkilat kembali. "Itu adalah kode rahasia ayah saya saat dia melakukan investigasi penyelundupan senjata tahun sembilan puluhan. 'Anak Malam' adalah informan yang paling ia percayai. Jika ayah menitipkan kunci terakhir padanya, berarti Proyek Lentera memiliki celah yang lebih besar dari sekadar korupsi medis."
Firman berdiri dengan susah payah. Ia menatap Yasmin. "Kita ke Tuban. Level kita naik lagi, Yas. Kali ini bukan lagi soal pelarian. Ini soal penyerangan balik. Kita akan temukan 'Anak Malam', dan kita akan hancurkan Syarifuddin dari akarnya."
Yasmin mengangguk mantap. Ia meraih stetoskop dari tangan Firman dan mengalungkannya kembali ke lehernya. "Aku siap, Mas. Mari kita selesaikan ini."
Namun, di dalam bayang-bayang hutan, sepasang mata merah dari drone kecil milik Syarifuddin terus merekam mereka. Sang Menteri tidak pernah benar-benar kehilangan jejak. Ia hanya sedang membiarkan mangsanya membawanya menuju "kunci terakhir" yang ia cari selama dua puluh tahun.
Perjalanan menuju Tuban terhambat karena seluruh akses jalan nasional telah diblokade oleh militer atas perintah darurat Syarifuddin. Firman terpaksa membawa Yasmin menyusuri jalur kereta api barang secara sembunyi-sembunyi. Di dalam gerbong kereta yang gelap, Yasmin mendadak mengalami kejang-kejang hebat efek samping dari sensor yang dicabut paksa di sanatorium mulai bereaksi. Firman menyadari bahwa hidup Yasmin kini bergantung pada sebuah kode aktivasi yang hanya dimiliki oleh Syarifuddin. Akankah Firman menyerah dan kembali ke tangan musuhnya demi nyawa Yasmin?