NovelToon NovelToon
Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Dokter Genius
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: prasetiyoandi

Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.

Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.

Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.

​Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.

Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.

​Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: GALA MEDIS: PERTEMUAN DENGAN SANG PENGKHIANAT

​Malam itu, Hotel Grand Astoria—bangunan paling ikonik di jantung Kota A—berubah menjadi lautan kemewahan yang menyilaukan. Karpet merah panjang membentang dari lobi hingga ke depan gerbang emas ruang ballroom.

Ratusan lampu kristal gantung membiaskan cahaya ke arah deretan mobil mewah yang mengular di sepanjang jalan protokol. Ini adalah malam "Gala Inovasi Medis Internasional", sebuah acara yang tidak hanya dihadiri oleh dokter dan ilmuwan, tetapi juga oleh para elit bisnis yang ingin menaruh nama mereka di atas fondasi kemanusiaan demi citra publik.

​Di tengah kerumunan jurnalis yang saling sikut demi mendapatkan foto terbaik, sebuah Range Rover hitam berhenti tepat di depan lobi. Pintu terbuka, dan Adrian Mahendra melangkah keluar dengan keangkuhan yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan setelan jas tuxedo kustom berwarna hitam pekat yang menunjukkan statusnya sebagai salah satu penguasa ekonomi kota ini. Di lengannya, Sisca bergelayut dengan senyum kemenangan yang tak pernah luntur. Sisca mengenakan gaun sutra berwarna perak dengan belahan tinggi hingga ke paha, berhiaskan ribuan berlian kecil yang berkilau di bawah lampu blitz kamera.

​"Adrian, lihatlah mereka semua. Semua orang menatap kita dengan penuh kekaguman," bisik Sisca sambil melambaikan tangan ke arah kamera. "Malam ini, setelah kau menandatangani kerja sama dengan investor dari Eropa, posisi kita tidak akan tergoyahkan. Tidak akan ada lagi yang ingat tentang... wanita udik itu."

​Adrian hanya tersenyum tipis, matanya menyapu ruangan dengan penuh kepuasan. "Aura hanyalah masa lalu yang sudah terkubur, Sisca. Malam ini adalah tentang masa depan Mahendra Group. Setelah kakekmu mewariskan sisa asetnya, tidak ada lagi penghalang bagi kita."

​Keduanya melangkah masuk ke dalam ballroom dengan penuh percaya diri, disambut oleh anggukan hormat dari para tamu. Namun, di tengah kemeriahan itu, suasana tiba-tiba berubah.

​Suara pembawa acara yang sedang berpidato di atas panggung mendadak terhenti. Musik klasik yang mengalun lembut seolah memudar saat pintu besar ballroom terbuka lebar secara perlahan. Keheningan yang aneh merayap ke seluruh ruangan, membuat semua mata tertuju pada satu titik di pintu masuk.

​Seorang wanita melangkah masuk.

​Ia tidak mengenakan gaun yang berlebihan. Ia mengenakan gaun malam halter-neck berwarna merah darah yang terbuat dari bahan satin premium yang jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Warna merah itu begitu kontras dengan kulitnya yang seputih porselen, memberikan kesan dominasi dan bahaya yang elegan. Rambut hitamnya ditata dalam sanggul modern yang rapi, menonjolkan leher jenjang yang dihiasi oleh sebuah kalung bunga lotus perak—identitas yang kini sangat ditakuti di dunia medis.

​Setiap langkahnya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantung yang dingin. Ia tidak datang sendirian; dua pengawal bertubuh tegap berpakaian hitam berjalan beberapa langkah di belakangnya, sementara seorang asisten pria yang tampak dingin—Leo—menjaganya dari sisi kiri.

​Alana tidak mencari perhatian, namun perhatianlah yang memburu Alana.

​"Siapa dia? Apakah itu Dr. Alana, sang 'Teratai Perak' yang dibicarakan semua orang?" bisikan-bisikan mulai memenuhi ruangan seperti dengung lebah.

​Adrian, yang tadinya sedang menyesap champagne, merasa tangannya membeku di udara. Jantungnya memberikan denyutan aneh yang menyakitkan saat matanya menangkap sosok wanita berbaju merah itu. Ada sesuatu yang sangat familiar pada fitur wajah wanita itu—cara dia berjalan, cara dia mengangkat dagunya. Namun, wanita di depannya ini memiliki sorot mata yang begitu tajam dan penuh otoritas, sangat berbeda dengan Aura yang selalu gemetar ketakutan di hadapannya.

​"Adrian, ada apa? Kenapa kau melihat wanita itu seperti melihat hantu?" tanya Sisca dengan nada kesal, matanya berkilat karena cemburu melihat kecantikan Alana yang alami.

​"Dia... dia terlihat mirip..." gumam Adrian, suaranya serak.

​Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang, Alana melangkah lurus menuju tengah ruangan, tepat ke arah di mana Adrian dan Sisca berdiri. Alana tidak berhenti sampai ia berada tepat di hadapan mereka. Jarak di antara mereka hanya dua meter—jarak yang sama saat Adrian mengusirnya lima tahun lalu di tengah badai.

​Alana mengambil segelas wine merah dari pelayan yang lewat, menyesapnya sedikit, lalu menatap Adrian dengan pandangan yang tenang namun menghunjam.

​"Tuan Adrian Mahendra, saya presumsi?" suara Alana terdengar seperti denting logam yang halus. "Saya sudah mendengar banyak tentang bagaimana Anda 'mengelola' warisan keluarga Anda."

​Adrian berdehem, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya. "Saya Adrian Mahendra, CEO Mahendra Group. Dan Anda... Dr. Alana dari The Sovereign? Sebuah kehormatan bagi acara ini memiliki tamu sehebat Anda."

​Sisca, yang merasa diabaikan, segera menyela dengan nada yang dipaksakan ramah. "Halo, Dokter. Saya Sisca, istri Adrian. Kami sangat tertarik untuk mendiskusikan investasi pada proyek rumah sakit baru kami. Dengan reputasi Anda, kerja sama ini akan sangat menguntungkan."

Alana mengalihkan pandangannya pada Sisca. Mata Alana menyapu Sisca dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang seolah-olah sedang membedah jaringan busuk di bawah kulit. "Investasi?" Alana tertawa kecil, suara tawanya membuat bulu kuduk Sisca berdiri. "Nyonya Mahendra, saya hanya berinvestasi pada sesuatu yang memiliki integritas. Dan dari apa yang saya dengar, pondasi rumah sakit Anda dibangun di atas... pengkhianatan dan air mata. Apakah itu benar?"

​Wajah Sisca berubah pucat pasi. "Apa maksud Anda? Anda tidak berhak bicara seperti itu!"

​"Oh, benarkah?" Alana melangkah selangkah lebih dekat, membuat Sisca terpaksa mundur. Aroma parfum mawar liar dan es dari tubuh Alana seolah mencekik Sisca. "Saya hanya seorang dokter, Nyonya. Keahlian saya adalah mendiagnosa penyakit. Dan saat saya melihat Anda berdua, saya mencium aroma pembusukan moral yang sangat parah. Itu adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan bahkan oleh ilmu medis tercanggih sekalipun."

​Adrian merasa amarahnya mulai memuncak, namun ia juga merasa ketakutan yang tak dapat dijelaskan. "Dokter, jaga bicara Anda. Ini adalah acara resmi. Jika Anda tidak ingin bekerja sama, Anda bisa pergi."

​"Pergi?" Alana tersenyum, dan senyum itu lebih menakutkan daripada kemarahan. "Saya baru saja sampai, Tuan Adrian. Saya baru saja ingin memulai pertunjukannya."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari arah belakang Alana. Kerumunan orang segera membelah, memberikan jalan bagi seorang pria yang kehadirannya mampu membekukan seluruh ruangan.

Arlan Syailendra melangkah maju, mengenakan tuxedo hitam yang sangat tajam. Ia berdiri tepat di samping Alana, secara alami menempatkan tangannya di pinggang Alana dengan cara yang sangat posesif dan protektif.

​"Ada masalah di sini?" tanya Arlan dengan suara bariton yang berat dan mematikan. Matanya yang sedingin es menatap Adrian seolah-olah Adrian hanyalah debu yang mengganggu pemandangannya.

​Adrian menelan ludah dengan susah payah. "Tuan Arlan... tidak, kami hanya sedang menyapa Dr. Alana."

​Arlan melirik Alana, dan untuk sesaat, tatapan dinginnya melembut hanya untuk wanita itu. "Dokter, kakekku sudah menunggumu di ruang privat. Beliau ingin segera mendiskusikan kondisinya. Dan tentang Mahendra Group..." Arlan kembali menatap Adrian dengan tajam, "Jangan mengganggu tamuku lagi, atau aku akan memastikan proyek rumah sakitmu berakhir sebelum semen pertamanya kering."

​Adrian tidak berani menjawab. Ia hanya bisa berdiri kaku saat Arlan menuntun Alana menjauh dari sana.

​Namun, sebelum Alana benar-benar pergi, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Adrian melalui bahunya. Ia menurunkan suaranya sehingga hanya Adrian yang bisa mendengarnya di tengah kebisingan ruangan.

​"Adrian," bisik Alana. "Ingatlah malam badai lima tahun lalu. Ingatlah saat kau memutus rem mobil istrimu. Karena badai itu belum berakhir... ia baru saja kembali untuk menghancurkanmu."

​Alana kemudian melangkah pergi dengan anggun bersama Arlan, meninggalkan Adrian yang gemetar hebat di tengah lantai ballroom. Gelas champagne di tangan Adrian jatuh dan pecah berkeping-keping, sama seperti ketenangan yang ia bangun selama lima tahun terakhir.

​"Adrian? Ada apa dengannya? Apa yang dia katakan padamu?" Sisca berteriak histeris, namun Adrian tidak mendengarnya.

​Adrian menatap punggung Alana yang menjauh. Di dalam benaknya, sebuah pemikiran mengerikan muncul dan menolak untuk pergi: Dia kembali. Aura tidak mati. Dia kembali untuk menjemput nyawaku.

​Sementara itu, di lantai atas, Arlan menuntun Alana masuk ke dalam ruang privat yang tenang. Begitu pintu tertutup, Arlan melepaskan tangannya dari pinggang Alana dan menatapnya dengan intens.

​"Kau sangat berani memprovokasi dia di depan umum," kata Arlan. "Kau tahu dia akan menjadi gila karena ini, bukan?"

​Alana berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah lampu-lampu kota. Ia menatap pantulan dirinya di kaca, matanya berkilat dengan kepuasan yang dingin. "Membuatnya gila adalah bagian dari terapinya, Tuan Arlan. Seorang pasien yang sakit parah perlu menyadari penyakitnya sebelum mereka bisa menerima kematian mereka."

​Arlan mendekat, berdiri di belakang Alana. Ia bisa merasakan emosi yang meluap-luap dari wanita ini—kesedihan yang mendalam yang telah berubah menjadi amarah yang terkendali. "Apa hubunganmu dengan Aura Mahendra? Dan jangan coba membohongiku, Alana. Aku telah melihat catatan medisnya."

​Alana berbalik, menatap Arlan dengan berani. "Aura Mahendra sudah mati di jurang itu, Tuan Arlan. Dia adalah wanita yang lemah, bodoh, dan penuh cinta. Dr. Alana yang berdiri di depanmu sekarang... dia adalah algojo bagi orang-orang yang membunuh wanita lemah itu."

​Arlan terdiam. Ia melihat kekuatan dan kerapuhan yang bercampur di mata Alana. Tanpa sadar, ia mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh rahang Alana dengan sangat lembut. "Kalau begitu, biarkan aku menjadi pedangmu. Kau tidak perlu melakukan ini sendirian."

​Alana menepis tangan Arlan secara halus, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Saya tidak butuh pedang, Tuan Arlan. Saya adalah racunnya. Dan racun bekerja lebih baik saat tidak ada yang tahu dari mana asalnya."

​Di luar, musik gala terus bergema, namun bagi Adrian Mahendra, malam itu adalah awal dari mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir. Di sudut ruangan, Lukas yang menyamar sebagai anggota tim teknis acara, melihat melalui monitor tabletnya dan tersenyum licik.

​"Target satu telah terpicu, Mummy," bisiknya. "Proses penghancuran sistem Mahendra Group dimulai dalam tiga... dua... satu..."

​Lampu di seluruh hotel Grand Astoria tiba-tiba padam selama tiga detik, menciptakan kepanikan sesaat. Dan saat lampu menyala kembali, sebuah pesan merah besar muncul di layar proyektor utama gala yang tadinya menampilkan prestasi Adrian:

​"DARAH HARUS DIBAYAR DENGAN DARAH. SANG EMPRESS TELAH KEMBALI."

1
Nor Azlin
semoga mereka menjadi keluarga yang utuh yah ...aku harap si Arlan pun mencuba formula teratai juga agar mereka bisa membantai para musuh-musuh mereka dengan mudah ...semoga mereka selamat sampai ke tujuan nya yah ...Alana kembali lagi deh di mana Pulau rahsia mu kan masih ada yah ...di sana kalian bisa membentuk satu Tim yang lebih baik lagi juga setia yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
kasihan Leo kerana terpaksa di berkhianat pada Alena namun pada akhirnya dia berkorban demi Alena sama anak2 nya ...semoga mereka semua terselamat dari musuh2 mereka yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
siapa agak nya yang berkhianat yah tidak mungkin si Leo tapi siapa yah🤔🤔🤔 semoga cepat ketahuan orang nya deh...lanjutkan thor
Osie
eh msh continue yaaa...waah lg seruuu ini..moga msh ada lanjutannya 🙏🙏🙏
Lili Inggrid
lanjut
Osie
waaw makin kesini makin kompleks alur nya...kereeeennn
Osie
fuuuiiihh deg deg an aku bacanya..alana n anak anak nya best banget dah
Osie
balas dendam yg sangat apik👍👍👍👍👍
Osie
siapa atlan hingga dia terlalu ikut campur urusan hidup alana
Osie
hmmm menarik..tapi aku kok curiga ya kalau anak alana bukan anak Adrian tapi anaknya arlan syeilendra....bisa jd kan..siapa tau ada insiden di masa lalu yg bikin Alan tidur dgn arlan..
Osie
waaaaawww amazing...kereeenn abiizzzz😍😍😍
Osie
mampir nih..ku baca sipnosisnya..sepertinya bagus walau diawali menyakitkan tp ku suka kelanjutannya aura bangkit jd wanita tangguh dan moga gak menge menye..dan kalau lht judul soti cerita transmigrasi ya🙏🙏
Nor Azlin
dasar orang gila ni semua demi harta sanggup membunuh darah dagingnya demi merebut warisan yang Aura dapat dari kakek nya ...kalau begitu hancurkan usaha nya itu biar hancur lebur deh biar jadi pengemis & terlunta2 di jalan2 biar dia tau rasa ... lanjutkan thor
Nor Azlin
sudah tentu dia lah kerana ingin saham2 yang kakek nya berikan pada Aura harta bisa membuat orang jadi gila ...bukan nya sisca sama Andrian itu pacar sedari mula yah kerana ancaman juga saham2 itu dia pura2 menerima pernikahan itu setelah kakeknya meninggal ini lah masa nya mereka berbuat onah kembali kan sudah tidak ada halangan untuk menjalin kasih kembali kan ancaman nya sudah tidak ada ertinya lagi kerana sudah dikalang tanah ...orang yang sudah meninggal bisa apa jadi yang hidup ini jadi masalah nya kalau dia pun mati nah tidak ada curiga di kalangan masyarakat kan 😂😂😂lanjutkan thor
shabiru Al
wow,, tanpa basa basi alana langsung menabuh genderang perang dengan adrian
shabiru Al
tdkah terlalu dini melibatkan anak kembarnya dalam misi balas dendam,, bagaimana pun adrian adalah ayah kandung sikembar
shabiru Al
kenapa aura di habisi... benarkah adrian ada dbalik kecelakaan aura ?
shabiru Al
mampir thor,, belum bisa komen banyak ya... nyimak dulu jalan ceritanya..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!