NovelToon NovelToon
Wedding Drama

Wedding Drama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:16.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kim Meili

Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.

Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.

Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.

"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."

-Michael Adithama-

"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."

-Hervinda Serana Putri-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8_Pertemuan dengan Rensi 1

Michael diam menatap gadis yang saat ini tengah memilih pakaian di antara banyaknya model. Rensi menatap penuh antusias ketika memilihnya karena banyak sekali model baru yang terdapat di butik langganannya. Tasya Boutique. Tidak diragukan lagi mengenai kualitas bahan yang begitu nyaman digunakan.

“Tuan tidak mau mendatanginya?” tanya Roy yang saat ini tengah memperhatikan Michael lekat.

Michael menggeleng dan tersenyum. “Tidak. Aku gak mau buat dia kaget karena datang tiba-tiba.”

Roy hanya diam dan fokus menatap ke depan. Dia tidak mempedulikan apa yang saat ini tengah Michael lakukan. Biarkan bosnya fokus dengan apa yang dilakukannya. Bahkan sudah satu jam mereka hanya diam di mobil dan mengamati kegiatan Rensi.

“Apa cewek kalau belanja selama itu, ya?” ucap Roy lirih, tetapi masih bisa didengar Michael.

Michael langsung menatap Roy tajam. Dia tidak suka ada yang mengkritik Rensi, apapun bentuknya. “Kamu mulai bosan kerja dengan keluarga Tama, Roy?” tanya Michael dengan nada suara tajam dan menandakan ketidaksukaannya.

“Maaf, Bos,” jawab Roy dengan suara datar.

Michael hanya diam dan menatap kembali ke dalam butik, dimana Rensi saat ini tengah berada. “Cantik,” gumamnya dengan senyum manis yang jarang ditunjukan.

_____

“Haduh, Mbak, ini gak ada model lain lagi, ya? Gini-gini mulu deh,” celetuk Rensi yang satu jam sudah berjalan mengelilingi butik tersebut. Tidak ada yang memikat hatinya padahal hari ini dia benar-benar berada di mood yang buruk.

Vinda sudah membuatnya marah dan saat dia datang ke butik langganannya tidak ada yang membuat pikirannya menjadi jernih. Emosinya sudah terasa memuncak. Biasanya, dia akan merasa tercerahkan dan membaik ketika mendapatkan apa yang disukainya.

“Mbak, ini beneran gak ada barang baru, ya?” teriak Rensi dengan nada angkuhnya.

Seorang wanita berseragam merah dengan celana hitam datang menghampiri Rensi yang saat ini duduk di sofa yang disediakan di tengah ruangan. Nana, nama wanita tersebut yang terdapat di name tag.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Nana ketika berada di depan Rensi yang saat ini benar-benar sedang tidak dalam kondisi mood yang baik.

Rensi menatap sinis ke arah Nana dan berkata, “Ini butik apa udah bangkrut, sih? Gak ada barang bagus sama sekali?”

Nana tersenyum. Bagaimana bisa butik bosnya bisa bangkrut? Bahkan untuk memberikan seisi pakaian di butiksecara gratis juga tidak akan bangkrut. Kenapa? Karena bosnya memang orang paling kaya.

“Maaf, Mbak, jika Mbak tidak suka, ada model lain. Mari saya antar ke lantai 2,” ucap Nana masih dengan nada suara ramah.

Rensi bangkit dan menatap Nana tajam. Dia tidak suka dengan karyawan yang bahkan jauh lebih rendah dibawahnya, menasihati. “Kamu itu hanya boleh melayani saya, tidak usah memberikan saran.”

Nana menghela nafas panjang dan kembali menunjukan senyum sumringahnya. Dia harus menahan sabar agar tidak marah dan memaki Rensi. “Baik. Maaf jika saya salah. Mari saya antar,” ucap Nana sembari menyingkir dan memberikan ruang kepada Rensi untuk melangkah.

Rensi melangkah dengan wajah angkuhnya dan dengan sengaja menyenggol Nana, sampai wanita tersebut sedikit mundur. Untungnya tidak jatuh, tetapi kaki Nana sedikit terkilir dan terasa nyeri.

Rensi melangkah lebih dahulu dan saat dirinya hendak menaiki tangga, kepalanya menengok ke belakang, tetapi Nana masih diam di tempat. Rensi yang melihat langsung menghela nafas panjang dan menggeram kesal.

“Niat kerja gak sih!” teriak Rensi menggema di seluruh ruangan.

Nana yang mendengar sedikit berjingkat dan menenangkan jantung. Kenapa gadis dihadapannya ini begitu angkuh? Dengan langkah yang dipaksakan, Nana melangkah dan mendatangi Rensi. Dia tidak mau membuat pelanggannya kesal. Terlebih nama baik butiknya akan buruk di mata pelanggan lain.

“Ada apa ini ribut-ribut?” suara lain datang dari ujung ruangan.

Nana yang mendengar langsung berbalik dan menatap khawatir. Bosnya ada di pintu khusus atasan dan menatap dengan wajah bingung. Rensi masih dengan santainya menatap wanita yang saat ini melangkah ke arahnya.

“Ada apa ini, Nana?” tanya Tasya yang saat ini bingung. Dia baru saja datang dan mendengar suara yang menggelegar di butiknya. Bahkan dia sampai berfikir, wanita macam apa yang berteriak di tempat umum tanpa rasa malu? Saat matanya menatap Rensi yang masih berdiri angkuh di anak tangga, Tasya mulai bertanya-tanya. Apa gadis ini yang tadi berteriak?

“Maaf, Bu. Saya tadi sedikit terkilir dan…”

“Dan karyawan anda tidak benar bekerja,” potong Rensi dan menatap Nana sinis. Dia tidak peduli dengan nasib Nana nantinya.

Tasya yang mendengar malah menatap Rensi tidak suka. “Jangan memotong ketika ada orang berbicara,” desis Tasya dengan wajah sudah tidak lagi ramah.

Rensi yang mendengar langsung membelalak. Wajah ramah dan lembut sudah lenyap dari wanita dihadapannya ini. Aura yang muncul juga berbeda dan dia memilih untuk diam. Dia tidak mau mempermalukan diri sendiri di tempat umum. Apalagi semua pelanggan yang ada di lantai dua sudah menatapnya dengan penuh tanya.

“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi, Nana,” ucap Tasya dengan nada tajam.

Nana menjelaskan semuanya. Mulai dari Rensi yang tidak puas dengan pakaian yang ada sampai dia yang hendak mengantar Rensi ke lantai dua. Namun, Rensi dengan sengaja mendorongnya dan membuat kakinya terkilir. Rensi masih menatap dua orang yang saat ini tengah berbincang dengan wajah santai. Baginya, pecuma karena wanita anggun dihadapannya ini akan membelanya dan bukan karyawannya. Bukannya pelanggan adalah raja?

Tasya selesai mendengarkan penjelasan Nana dan menatap Rensi. Dia tidak mau berpihak dari satu sisi tanpa menanyakan kepada yang lainnya. “Apa benar itu, Nak?”

Rensi mengangguk. “Aku tidak puas dengan pakaian di butik ini. Untuk kaki dia yang terkilir, aku gak sengaja,” jelas Rensi dengan wajah yang masih angkuh dan rasa bersalah.

Tasya menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras. Matanya menatap tajam ek arah Rensi saat ini berdiri. “Keluar,” perintahnya dengan suara yang tajam.

Rensi yang awalnya santai langsung tercengang dan menatap Tasya dengan pandangan yang tidak biasa. Apa yang baru saja didengarnya? Dia diusir dan lebih membela karyawan rendahan? Rasanya dia mulai tidak tau apa yang harus dikatakan. Amarahnya semakin memuncak. Apa sekarang semua orang menjadi begitu menyebalkan?

“Jadi anda mengusir saya dan membela dia?” ucap Rensi tidak suka dan menunjuk Nana dengan wajah yang sudah mengeras.

“Iya. Saya mengusir anda. Silahkan keluar dari butik saya dan jangan kembali sebelum etika anda menjadi lebih baik,” ucap Tasya dengan nada santai.

“Anda melakukan kesalahan dengan mengusir saya.”

“Setidaknya saya masih memiliki orang-orang yang bisa memperlakukan orang dengan baik. Tidak seperti and…”

“Mama, stop.”

Tasya yang mendengar suara tersebut merasa tidak asing, langsung membalik tubuh dan menatap pria yang saat ini tengah berada di pintu masuk dengan seragam kerja. Michael. Anaknya sudah ada didepannya dengan tatapan tajam seperti biasa. Nana yang melihat langsung menunduk takut. Dia cukup tau diri dan faham dengan sifat Michael yang berbeda dengan mamanya.

“Ada apa, Ael?” tanya Tasya dengan wajah bingung. Kenapa anaknya ada di butik dan menghentikannya?

“Udahlah, Ma. Maafin Rensi. Dia pasti ada alasan kenapa begitu,” jelas Michael santai sembari menatap Rensi yang saat itu mengerutkan kening heran.

“Rensi?” gumam Tasya tidak mengerti dan saat dia menatap Michael, dia tau anaknya tengah menatap gadis yang tengah dimarahinya. Jadi dia yang namanya Rensi?

“Kamu kenapa dia, Ael?” tanya Tasya dan langsung mendapat anggukan, “kalau kamu kenal, cepat bawa pergi dia atau Mama akan membuat dia semakin sakit hati nantinya.” Tasya baru ingat foto yang dilihatnya semalam. Jadi, seperti ini malaikat yang dikatakan anaknya?

“Sorry, Ma,” jawab Michael dan langsung menarik Rensi yang masih diam di tempat. Bingung dengan apa yang terjadi padanya. Michael sendiri tau bagaimana ucapan pedas dari mamanya akan menyakiti hati.

Rensi hanya menghela nafas dan mengikuti kemana Michael akan membawanya pergi.

“Kamu punya hutang penjelasan sama Mama, Michael,” gumam Tasya sembari menghela nafas panjang. Dia menyuruh Nana kembali bekerja dan meminta maaf atas apa yang terjadi kepada semua pengunjungnya.

_____

“Lepas,” ucap Rensi sembari mengibaskan tangan dan menatap Michael dengan wajah tidak ramah. Dia tau siapa pria yang ada dihadapannya. Michael Aditama. Pewaris tunggal keluarga Aditama.

Michael langsung melepaskan tangannya dan menatap Rensi dengan senyum ramah. Rensi sendiri mengerutkan kening. Apa benar ini Michael yang selalu digosipkan semua orang? pria kejam dengan tingkah arogan? Bahkan dia tidak melihatnya dan hanya melihat pria dengan wajah bodoh yang tersenyum ke arahnya.

Rensi melangkah meninggalkan Michael yang masih terpaku. Dia tidak mau berurusan dengan seorang Michael Aditama. Dia tidak tuli dengan semua gosip yang mengatakannya kejam dan tanpa hati perasaan.

Rensi menoleh dan menatap Michael yang masih menatapnya dan tersenyum sembari melambaikan tangan. Dengan cepat dia langsung membalik tubuh dan melangkah menuju mobil. Senyum Michael tidak terasa manis untuknya dan malah terlihat begitu ngeri.

Michael masih menatap Rensi sampai dering ponsel terdengar. Diambilnya ponsel tersebut dan menatap siapa si penelpon. Papa, nama yang tertulis di layar dan membuatnya langsung menggeser layar untuk menerima panggilan.

“Iya, Pa. Ada apa?” tanya Michael langsung.

“…..”

“Baik. Ael langsung ke sana.” Michael menutup panggilan dan langsung menuju mobil. Menyuruh Roy segera melaju.

_____

1
kalea rizuky
halahhh klo jd michael mending nikah lagi ngapain nunggu orang koma hadeh ksian anaknya lahh
kalea rizuky
vinda goblok harusnya urus cerai sendiri lah tolol suami bego aja di pertahanin knp semua tokok di novel mu bodoh
Dian Oktaviya
Luar biasa
nhenhe
pede gilaaaa lu ...
YuWie
enakmen jadi resti ya..sdh hampir jadi pembunuh tapi masih bebas melenggang.
ael apakabar, gak pingin bales tuh
YuWie
semangat Vin
fifa
baru mampir Thor 🙂
Dewi Melow
********* itu maksudnya apa?
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄
Nani Desmiwati
Ceritanya bagus
Mei Muntiani
Kecewa
Amirah iz
die bkn gila lagi dave saraf akut malah
Lusiana Serly
pasti alur nya kayak Michael sama vinda yg langsung memaafkan, sama kayak cerita tanpa perjuangan panjang
Ruk Mini
oohhh... thorr..kau buat aq mewek2...haru biru..sukaa bgt bucin .walo d awal ngeselin bgt..ok tq thorr d tunggu karya2 mu Bu lgi
just mi🤫
bagus
Hida Hida
ketembak di dada itu tindakan nya harus nya di operasi,masak tindakan nya cuma di panggil kan dokter ke rumah 😅
Ana Marina
good
KING'Tozis - Fingerstyle Ndr
top👍 buat bara
Leli Darwika
penyesalan selalu datang terlambat.
Leli Darwika
asli, karya oThor banyak mengandung bawang.🥺🥺🥺🥺
Leli Darwika
memang kamu keeejaaammmm teramat kejammmm Randy.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!