"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA
Cermin besar di hadapanku memantulkan sesosok wanita cantik dengan gaun sutra putih seharga puluhan juta. Riasan wajahku sempurna flawless, begitu kata penata rias tadi. Namun, jika mereka melihat lebih dekat, mereka akan menemukan bahwa di balik bedak mahal ini, ada mata yang telah kehilangan cahayanya bertahun-tahun yang lalu.
"Cantik sekali, Sayang. Kamu benar-benar aset terbaikku malam ini," sebuah suara bariton yang berat berbisik di telingaku.
Aku tersentak kecil. Stevanus sudah berdiri di belakangku. Tangannya yang besar mengusap bahuku yang terbuka, namun sentuhannya tidak terasa hangat. Bagiku, tangan itu terasa seperti lilitan ular yang siap mencekik kapan saja.
"Terima kasih, Mas," jawabku lirih, mencoba memaksakan senyum di sudut bibirku.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Bagi publik, ini adalah perayaan "Cinta Sejati" sang pengusaha sukses Stevanus dan istrinya yang setia, Yati. Namun bagiku, ini adalah peringatan lima tahun masa tahananku di penjara tak kasat mata yang ia bangun.
"Ingat, Yati," dia merapatkan wajahnya ke telingaku, suaranya berubah menjadi desisan dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. "Malam ini ada banyak investor besar. Jangan buat kesalahan. Jangan bicara kecuali ditanya, dan pastikan kamu terus tersenyum seolah-olah kamu adalah wanita paling bahagia di dunia. Jika tidak... kamu tahu apa yang menantimu di rumah."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan sakit. "I-iya, Mas. Aku mengerti."
Gala mewah itu diadakan di ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya ke segala arah, namun semuanya terasa remang-remang di mataku. Bau parfum mahal dan aroma sampanye memenuhi ruangan.
Stevanus menggandeng lenganku dengan erat terlalu erat, hingga kuku jarinya sedikit menekan kulitku. Kami berjalan melewati kerumunan orang-orang berjas rapi yang memberikan tatapan kagum.
"Ah, Stevanus! Pasangan paling serasi di kota ini!" seru Pak Sanjaya, salah satu rekan bisnis kelas kakap Stevanus. "Istrimu terlihat luar biasa malam ini."
Stevanus tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu tulus bagi orang lain. "Tentu saja, Pak. Yati adalah permata dalam hidupku. Tanpa dia, aku bukan apa-apa."
Dia mencium keningku di depan Pak Sanjaya. Orang-orang di sekitar kami berbisik iri, memuji betapa romantisnya suamiku. Mereka tidak tahu bahwa saat bibirnya menyentuh kulitku, aku merasa mual. Hatiku menjerit, ingin berteriak kepada mereka semua bahwa pria ini adalah monster.
Kami duduk di meja VIP. Makan malam berlangsung lambat dan menyiksa. Di tengah pembicaraan bisnis yang membosankan, Pak Sanjaya tiba-tiba bertanya padaku, "Nyonya Yati, bagaimana rasanya menjadi istri pria sesibuk Stevanus? Pasti sangat bangga memiliki suami yang begitu memuja istrinya."
Aku sedikit gugup. "Ah, iya Pak. Mas Stevanus sangat... perhatian. Dia selalu memastikan saya tidak kekurangan apa pun."
"Hanya perhatian?" canda Pak Sanjaya. "Saya dengar Stevanus bahkan membatalkan rapat di Singapura bulan lalu hanya karena Anda sedang flu ringan. Benar begitu, Stev?"
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, bulan lalu aku tidak flu. Aku mengurung diri di kamar karena wajahku lebam setelah Stevanus marah besar hanya karena aku lupa menaruh dasinya di tempat biasa. Aku mencoba mengingat skenario bohong yang harus kukatakan.
"Benar, Pak. Mas Stevanus memang sangat... melindungi," jawabku agak terbata.
Tiba-tiba, aku merasakan sakit yang luar biasa di paha kiriku. Di bawah meja yang tertutup taplak panjang, tangan Stevanus mencengkeram kulit pahaku dan memelintirnya dengan kuat. Aku tersedak, nafasku tercekat di tenggorokan. Mataku mulai berkaca-kaca menahan perih yang menyengat.
"Istriku memang agak pemalu kalau dipuji, Pak Sanjaya," sahut Stevanus dengan tenang, sementara jemarinya semakin dalam menekan daging pahaku. "Dia sering kehilangan kata-kata jika membicarakan cinta kami."
Aku memegang pinggiran meja dengan sangat kencang hingga buku-buku jariku memutih. Aku harus tetap tersenyum. Aku harus tetap diam. Jika aku mengeluarkan satu suara kesakitan saja di sini, neraka yang lebih besar akan menungguku di rumah.
Perjalanan pulang di dalam mobil adalah keheningan yang paling mengerikan. Stevanus menyetir dengan kecepatan tinggi, rahangnya mengeras. Aku hanya bisa memandang ke luar jendela, air mata yang tadi kutahan kini mulai mengalir tanpa suara, membasahi pipiku yang memerah.
Begitu mobil masuk ke dalam garasi rumah kami yang luas, suasana berubah menjadi sangat dingin. Belum sempat aku membuka pintu mobil, Stevanus sudah keluar dan memutari mobil. Dia membuka pintuku dengan kasar dan menarik lenganku hingga aku terseret keluar.
"Mas, sakit..." isyakku.
"Sakit? Kamu bilang sakit?" Dia membentak, suaranya menggelegar di garasi yang sepi. "Kamu tahu betapa bodohnya kamu tadi? Kamu terlihat ragu saat menjawab pertanyaan Pak Sanjaya! Kamu membuatnya berpikir bahwa ada yang salah dengan pernikahan kita!"
"Aku hanya... aku hanya bingung harus menjawab apa, Mas," aku memohon, tubuhku gemetar hebat.
Dia tidak mendengarkan. Dia menyeretku naik ke lantai dua, menuju kamar utama yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, namun bagiku adalah ruang interogasi. Dia melemparku ke atas lantai marmer yang dingin.
Braakk!
Dia mengunci pintu kamar dari dalam. Suara kunci yang berputar itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagiku.
"Kamu harus belajar bagaimana menjadi aset yang berguna, Yati," katanya sambil melepas jasnya dengan tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada amarah yang meledak-ledak. "Karena jika kamu tidak berguna, untuk apa aku mempertahankanmu di rumah ini?"
Dia mendekat, bayangannya menutupi tubuhku yang meringkuk di lantai. Gaun putih mahalku kini sudah kotor dan robek di bagian bahu. Aku menatap matanya, dan yang kulihat bukan lagi suami yang kunikahi lima tahun lalu, melainkan predator yang haus akan dominasi.
"Malam ini, pelajaranmu dimulai lagi," bisiknya tepat di depan wajahku.
Aku menutup mata rapat-rapat, memeluk diriku sendiri saat rasa sakit yang sudah akrab itu kembali menyapa. Di dalam hatinya, sebuah retakan besar baru saja tercipta. Sebuah retakan yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh dunia yang telah dibangun oleh Stevanus.
Saat Stevanus hendak melayangkan tangannya, terdengar suara ketukan keras di pintu kamar. Bukan pelayan, melainkan suara seorang wanita yang sangat aku kenali dari balik pintu. "Stevanus, buka pintunya! Aku tahu kamu sedang bersamanya di dalam!".
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...