NovelToon NovelToon
Pocong Dalam Smartphone

Pocong Dalam Smartphone

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Misteri / Horor / Supernatural
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: joyokumo

Ketika sisi lain dari dunia gaib yang gelap mulai merambah dan merangkak masuk ke dunia manusia, hanya karena seorang pelopor kejahatan bernama Bu Dewi ingin membalaskan dendam pada semua iblis yang ada. Sebuah dunia penuh dendam, darah, dan iblis setan yang berkumpul.

The Lady Trieka, makhluk halus penjaga dunia gaib yang sudah lebih dari 4 abad menjaga dan melindungi kekuatan sihir hitam dan mustika-mustika yang ada, kini harus terusik oleh kehadiran Bu Dewi yang ingin mendapat segala kekuatan untuk menguasai dunia manusia dan dunia gaib.

Sementara munculah seorang anak yang hidup sebatang kara bernama Lisa, yang nantinya akan menjadi pewaris kekuatan The Lady Trieka yang sudah semakin melemah untuk menjaga dunia kegelapan. Lisa sebagai pewaris Trieka, yang nantinya akan melindungi kekuatan itu dari Bu Dewi, gurunya yang licik.

Dendam yang kuat malah mempertemukannya dengan seorang laki-laki polos yang akan jadi tokoh utama dalam cerita ini, Firza.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joyokumo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3-2. Kerasukan Macan

Atma. Aku tambah terkejut saat mencoba fokus pada dia dengan apa yang terjadi padanya saat ini.

Tampak matanya berwarna merah darah, tidak seperti Atma yang biasanya memiliki mata yang bersinar ketika ada perempuan cantik lewat di depannya. Dan saat ini, dia masih menatapku dengan berdiri seperti hewan berkaki empat. Saat diamati lagi, ujung mulutnya berdarah, dan air liur terus menetes dari mulutnya.

"Grrrrrrr..., aing maung!" Atma menggeram, sangat mirip seperti anjing.

Dia sedang kerasukan anjing?!

"Ma... sadar! Sadar, Atma!" Ucapku seperti sedang menenangkan orang marah dari kejauhan.

Dengan tangan yang terulur seperti gaya khas seorang pawang menenangkan hewan peliharaannya, aku berjalan maju mendekati Atma yang masih menggeram. Dia tampak takut seiring aku melangkah, dia seperti kucing yang ketakutan lalu perlahan berjalan mundur.

Geramannya mulai terdengar pelan, diikuti mulutnya yang mulai tidak menggertak lagi.

"Atma!! Kamu ngapain di sin-" Dexter keluar dari balik lorong di belakangku, dia terkejut melihat penampakan Atma yang seperti ini.

Dexter tiba-tiba datang dan sepertinya membuat Atma kaget.

Atma yang sepertinya sedang kerasukan, kini langsung berlari persis seperti anjing dan meninggalkan kami di lorong yang sepi ini. ""Eh, tunggu!"" Itulah yang kami katakan sebelum mengejar Atma yang sedang kerasukan sesuatu. Entahlah, mungkin anjing.

Keluar dari lorong yang sepi, lalu menuju ke kantin yang juga lumayan sepi karena jam istirahat sebentar lagi akan berakhir.

Dari mataku, aku bisa melihat Atma yang berlarian dengan tangan dan kakinya itu, dia benar-benar akan pergi menuju ke kantin. Setiap orang yang dilewati Atma tampak terkejut bukan main, sambil memberikan jalan bagi Atma untuk tetap berlari.

"Itu apa?!" pertanyaan aneh dari salah satu siswa yang dilewati Atma.

"Kamu gila?! Itu siswa! Tapi lagi kerasukan!" Sewotku pada orang itu.

Lanjut dengan pengejaran Atma. Larinya mirip sekali seperti anjing. Walau dia aslinya memang manusia, maksudku berlari dengan tubuh manusia, tapi cepat juga larian Atma. Tidak pernah aku sangka kalau dia bisa menjadi hewan.

Ketika aku dan Dexter sudah hampir menggapai Atma, tapi dia yang gesit, langsung berbelok tanpa gangguan masuk ke dalam kantin. Karena pengejar sepertiku dan Dexter tidak gesit maupun lincah, kami pun bertabrakan saat ingin berbelok masuk ke dalam kantin secara bersamaan.

Sial! Kami tidak segesit dan selincah Atma!

Namun karena posisiku yang menabrak dan bukannya ditabrak, aku pun berhasil berdiri kemudian lanjut mengejar Atma, sedangkan Dexter terpental ke depan.

Raut wajah Ibu Kantin benar-benar terkejut melihat Atma yang baru saja melewatinya. Tapi di sini, aku tetap fokus mengejar Atma daripada menjelaskan apa yang terjadi pada Ibu Kantin.

"Oy yang di depan! Tolong hadang siswa satu ini!" Teriakku sambil berlari, lalu menunjuk dengan jari telunjuk ke arah 2 siswa yang berdiri di depan Atma.

Kedua siswa itu langsung kaget, bergidik ngeri kemudian ancang-ancang untuk menghindar. Aku langsung menepok jidat melihat ketakutan mereka. Tapi nyatanya, salah satu dari mereka menghindar namun sambil melemparkan tong sampah ke arah Atma yang sedang berlari seperti hewan.

Kena! Tong sampah itu memblokir jalan Atma, membuatnya tertabrak lalu jatuh terpental ke depan.

Tiba-tiba kakiku gemetaran, tapi aku memaksakan diri untuk kuat.

Dengan sigap aku berhasil melompat dengan kaki lemas ini, lalu mendapatkan Atma yang ingin berlari lagi setelah terjatuh karena tong sampah. Aku berhasil memeluk Atma sambil tertidur, untuk mengunci pergerakannya agar kami tidak melakukan kejar-kejaran lagi, karena itu permainan yang melelahkan.

"Eh, jangan pada nonton aja! Ayo bantu Firza buat ngurusin Atma!" Ucap Dexter sambil berjalan ngos-ngosan.

""Oke!"" Jawab orang-orang di sekitar kantin.

Orang-orang mulai berdatangan dan mengerumuniku yang sedang memeluk erat Atma, menguncinya seperti di smackdown.

Setelah orang-orang alias para siswa mulai membantuku, aku pun melepas kuncianku pada Atma. Tubuhku sakit juga.

Lalu Atma digotong oleh orang-orang, diikuti aku yang berjalan encok dan Dexter di belakang. Saat ini, Atma masih tidak bisa diam (Berpolah), tergeletak di atas meja kantin.

"Ada apa ini? Ada apa dengan Atma?" tanya Pak Slamet tiba-tiba datang entah dari mana, mungkin 2 siswa ketakutan yang ada di lorong tadi yang memberitahunya.

"I-ini, Pak! Atma kesurupan!!" Seru Dexter menjawab.

Aku tau Pak Slamet selalu membawa peci di kepalanya, tapi apakah dia bisa? Maksudku, bisa mengeluarkan makhluk yang ada di tubuh Atma?

Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang kerasukan tepat di depan mataku. Kesan pertamaku melihat orang kerasukan adalah aneh, bingung, tidak takut, tidak percaya, dan masih berpikir bahwa Atma hanya bercanda, walau matanya merah sekalipun.

"Kasih tempat, woy, kasih tempat!" Ucap seseorang, agar Pak Slamet bisa mendekat ke arah Atma.

Masih banyak orang yang memegangi Atma, karena dia tidak bisa diam. Saat Pak Slamet mendekat dan ikut terlibat dalam hal ini, tiba-tiba mata merah Atma langsung melirik sebentar ke arah Pak Slamet, dilanjut melirik ke arahku. Mata merah yang menakutkan!

Tapi dari sekian banyak siswa di sini, kenapa dia melirik ke arahku juga?

"Firza?" Pak Slamet ikut melirik ke arahku, dia juga ikut bingung. "Eh? Umm... ayo ke sini, sekalian bantu doa!"

Aku terkejut, aku sangat bingung sekali, pikiranku kacau melihat Atma, tidak percaya saja kalau dia yang biasanya genit, tiba-tiba berubah menjadi brutal amarah seperti ini.

Sementara aku mendekat ke arah Atma dan masuk ke kerumunan tanpa memegang tangan ataupun kaki Atma, lalu Pak Slamet memulai doanya terlebih dahulu.

"GRRRRR... AING MAUNG!!" Seru Atma menggeram, dia mulai tampak marah.

Suaranya menggelegar diiringi kekuatannya yang semakin tidak terkontrol, mungkin karena kesakitan dengan doa Pak Slamet? Aku hanya ikut menengadahkan tangan, tidak mengatakan sesuatu, karena memang sedang bingung, tidak percaya saja kalau kerasukan itu memang benar-benar ada.

Sesekali Atma menoleh ke arahku lagi, dari yang sebelumnya menoleh ke arah Pak Slamet atau ke langit. Ini menyebalkan, dari sekian banyaknya siswa di sini, dia terus memilihku untuk dituju. Memangnya aku siapa? Indra keenam saja tidak punya.

"Panas... sakitt!!" Seru Atma, tenaganya makin menjadi-jadi dan orang-orang tambah kesulitan untuk memeganginya.

Kejadian menyadarkan Atma dari kesurupan, berlangsung cukup lama hingga membuatku bosan. Aku akan mencoba sesuatu seperti berdoa, berdoa apa saja yang aku bisa. Namun saat aku melakukannya di dalam hati, tidak terjadi apa-apa dan dia masih terus menggeliat ingin melepaskan diri. Tapi saat aku mencoba untuk fokus...

"Aahhh!! Silau...!! Aaarrrgghhhh!!!!" Teriak Atma semakin menjadi-jadi, kemudian dilanjut pingsan begitu saja.

"Apa udah selesai?" tanya Dexter lugu.

◐◐◐

"Karena mendengarkan teriakan itu, saya bergegas keluar dari kamar mandi, Pak. Eh ternyata saat saya sudah sampai di luar, ada Atma di lorong, sedang berdiri dengan tangan dan kaki mirip seperti anjing. Aku penasaran, coba-coba buat mendekat, tapi ketika Dexter datang, tiba-tiba Atma langsung pergi. Terus kami kejar deh, saya sama Dexter ngejar Atma sampai kantin." Jelasku pada Pak Slamet di depan ruang UKS.

Pak Slamet hanya manggut-manggut dengan tangan di dagu, paham dengan ceritaku yang ringan.

Tapi suasana berubah ketika seseorang dari dalam ruang UKS, membuka pintu secara keras seperti mendobraknya.

*Duaagg...

1
Ulil
ikut absen seekk,, genre horor
Viona Hariasti
aq gak bisa baca 🤦🤦😁😁
🍾⃝ͩᴢᷞᴜᷰɴᷡɪᷧᴀకꫝ 🎸🎻ଓε🅠🅛⒋ⷨ͢⚤
aku ikut tegang 🤧🤧 bikin takut ja partai nih
🍾⃝ͩᴢᷞᴜᷰɴᷡɪᷧᴀకꫝ 🎸🎻ଓε🅠🅛⒋ⷨ͢⚤
🤔 tuh bisikan dari makhluk halus ya ihh kok ngeri ya
Heny🥀
masih Lum paham ...lanjuut thor
Heny🥀
kayaknya seru nih ....
🦋⃟ℛ ᴬ∙ᴴᴀᷟ N⃟ʲᵃᵃ ᭙⃝ᵉˢᵗ
kasianya Firza 🤭🤭🤭🤭🤭
🦋⃟ℛ ᴬ∙ᴴᴀᷟ N⃟ʲᵃᵃ ᭙⃝ᵉˢᵗ
hati hati yah Firza 🤭🤭🤭🤭🤭
Harfino
kota yg aneh
Indang Hartatik
semangat u keluar dari kota mati y fir Lisa
Indang Hartatik
cek dl rotinya jgn asal makan, di kota mati lho apa g curiga, mosok blm kadaluwarsa ih ngeri
boemi jawa
👣👣👣
boemi jawa
👣👣👣👣
boemi jawa
😍😍😍
boemi jawa
😘😘😘
boemi jawa
😃😃😃😃
boemi jawa
😘😘😘
boemi jawa
👍👍👍👍
Harfino
biar cepet keluar dari kota mati
kira2 ada ojol gk ya???
Harfino
ayo lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!