Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.
Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.
Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.
Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.
Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
"Aya!" Bulan nampak terkejut mendapati gadis cilik yang dijumpainya kemarin ada di rumah ini.
Cahaya yang kegirangan langsung beranjak berdiri menghampiri Bulan. Memeluk tubuh Bulan begitu saja tanpa permisi hingga membuat tubuh gadis itu terhuyung ke belakang.
"Senangnya bisa ketemu Kak Bulan lagi," ucap Cahaya menarik perhatian Langit, sang Papa. Bagaimana mungkin putrinya mengenal salah satu anggota keluarga ini. Tak mampu dimengerti oleh Langit.
Bulan masih kebingungan. Membalas pelukan Cahaya karena dia sendiri tidak menyangka jika kembali dipertemukan dengan gadis kecil ini. Lalu, netranya menangkap sosok lain yaitu Jupiter. Pemuda tampan yang kini sedang tersenyum padanya tanpa melepas tatapan. Pria tampan yang kemarin bersama Cahaya. Siapa lagi jika bukan Jupiter.
Sebuah kebetulan yang beruntun didapat oleh Bulan.
Namun, ada satu hal lagi yang menjadikan Bulan lebih daripada terkejut ketika mendapati seorang pria dengan postur tubuh tinggi besar sedang menolehkan kepalanya ke belakang, persis menghadapnya. Jambang yang memenuhi rahang, membuat Bulan harus menelan saliva kesusahan. Pria yang pernah dia temui secara tidak sengaja di bandara dan juga kedai kopi. Lantas, untuk apa juga pria itu ada di sini. Ada hubungan apa dengan Cahaya, Jupiter dan juga Uncle Dirga. Batin Bulan masih bertanya-tanya.
Sama halnya dengan Langit. Sekian kalinya bertemu gadis itu dan ... mata Langit pun tertuju pada Jaghad. Sama halnya dengan Bulan. Langit bertanya-tanya dalam benak.
"Pak Elang. Kenalkan. Dia Je, putra saya. Dan juga Bulan. Keponakan saya." Dirga memperkenalkan. Mampu menjawab tanya yang memenuhi pikiran Langit.
Langit merasa bersalah karena sewaktu di bandara, pernah melihat keduanya saling berpelukan dan Langit berpikir jika Je dan Bulan adalah pasangan kekasih yang tidak tahu malu karena harus bermesraan di tempat umum. Nyatanya, Bulan dan Je adalah saudara sepupu.
Camila, wanita itu ikut ambil suara mengetahui interaksi Bulan dengan Cahaya. "Bulan sudah kenalkah dengan putri Pak Elang?"
"Iya, Aunty. Kita pernah tidak sengaja bertemu." Baru lah sekarang Bulan tahu, jika pria arogan dan sok kegantengan itu adalah papanya Cahaya. Bagaimana mungkin Cahaya yang supel dan mudah dekat dengannya memiliki seorang papa yang dingin dan cuek seperti itu.
"Oh, begitu. Ya, sudah ayo kalian duduk. Kita akan mulai makan malamnya. Kasihan tamu kita harus menunggu terlalu lama nanti."
Jupiter yang sudah tersenyum sumringah memberi kode pada Bulan agar duduk di sampingnya. Sama halnya dengan Bulan yang dengan senang hati duduk di samping pria tampan itu. Lebih terpesona pada Jupiter ketimbang pada pria matang yang tak lain adalah papanya Cahaya. Ya iyalah, secara Jupiter adalah pria muda sementara Langit sudah bapak-bapak yang memiliki anak. Bahkan Bulan sama sekali tidak tertarik pada Langit yang dia tahu disebut dengan nama Elang oleh Uncle-nya.
Kini Bulan yang duduk diapit oleh Jupiter dan Jaghad, juga Bulan yang duduk di samping Langit tengah menikmati makan malam bersama. Sampai acara makan malam itu usai, Cahaya bersama Je mulai menjalin keakraban karena ternyata sama-sama pecinta game. Lalu, Jupiter yang memilih duduk di teras samping rumah tentunya bersama Bulan. Sementara Langit sendiri bersama Dirga membicarakan soalan bisnis. Namun, dalam benak Langit seolah tidak tenang karena terusik akan sosok Bulan. Nama Bulan yang pernah dia baca pada proposal penawaran lahan miliknya. Apakah Bulan yang ini sama dengan Bulan Purnama pemimpin jaringan hotel di pulau Dewata. Banyaknya pemikiran sampai Langit tidak fokus ketika Dirga mengajaknya bercerita.
"Sepertinya Pak Elang sedang capek. Atau mungkin sedang banyak pikiran?"
"Maafkan saya Pak Dirga. Eum ... sebenarnya sejak tadi ada hal yang menganggu pikiran saya."
"Mengenai apa jika boleh saya tahu?"
"Keponakan Pak Dirga tadi."
Dirga terkekeh. Ia rasa Langit tertarik pada Bulan.
"Kenapa Pak Dirga justru tertawa. Saya hanya penasaran saja. Siapa nama lengkap keponakan Pak Dirga?"
"Memangnya kenapa Pak Elang? Apakah Anda tertarik dengan keponakan saya?"
Kepala Langit yang mengangguk lalu dibarengi sebuah tanya, menepis pemikiran Dirga sebelumnya yang mengira Langit tertarik pada Bulan karena rasa suka. "Nama Bulan tidak asing bagi saya. Karena beberapa waktu ini ada sebuah hotel di Pulau Dewata yang berani memberikan penawaran tinggi pada lahan yang saya miliki. Dan pemimpin hotel yang saya tahu bernama Bulan Purnama adalah sosok wanita ambisius yang saya yakini sangat gigih dalam mengejar apa yang diinginkannya."
Dirga mulai mencerna ucapan Langit. Tak salah lagi. Cerita yang Bulan dan Langit utarakan memang sama. Dan Dirga yakin jika Bulan yang Langit maksudkan memnag keponakannya.
"Anda tidak salah Pak Elang. Bulan yang Anda maksud adalah keponakan saya."
Mulut Langit mengatup dengan kepala mengangguk-angguk mengerti. Ternyata dunia sesempit ini.
••••
"Berikan aku nomor teleponmu, Bulan." Jupiter merayu.
"Untuk apa?"
"Agar aku mudah menghubungimu."
"Memangnya kamu ingin menghubungiku?"
"Ya. Karena aku tidak akan lama berada di sini. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku harus kembali ke Jakarta."
"Oh, ya?"
Kepala Jupiter mengangguk.
"Aku pun minggu depan sudah harus kembali ke Bali," aku Bulan mengejutkan Jupiter tentunya.
"Kenapa sejak tadi kamu tidak bilang jika rumahmu di Bali."
"Kamu tidak bertanya."
Jupiter terkekeh sendiri. "Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Apakah kamu keberatan jika aku meminta nomor teleponmu agar kita bisa terus saling menghubungi. Siapa tahu saja ada jodoh di antara kita."
Pipi Bulan merona. Dia hampir tidak pernah digombali oleh seorang pria. Menjalin hubungan dengan lawan jenis saja hampir tidak pernah dia lakukan. Selain karena kekangan Daddy juga kakak lelakinya, Bulan sendiri lebih tertarik mengembangkan sayap karir dibandingkan mengurusi soalan cinta.
Dan sekarang, lebih tepatnya semenjak pertemuan pertamanya dengan Jupiter dan juga Cahaya, ada sedikit getaran di dalam hati Bulan. Terutama pada saat mendengar Cahaya memanggil sang paman dengan sebutan Uncle Jupi. Hal yang membuat Bulan tertarik ingin selalu tertawa dengan ekspresi Jupiter yang keberatan dengan panggilan itu. Di pertemuan pertama, lalu berlanjut pertemuan kedua malam ini, Bulan tak menampik jika jantungnya berdetak kencang berduaan dengan Jupiter begini.
Ditambah dengan keheningan di antara mereka menambah syahdu suasana. Sayang sekali deheman dari seseorang mengacaukan segalanya. Ketika Bulan mendongak ada wajah dingin tanpa ekspresi milik Papanya Cahaya.
"Piter! Sudah malam. Kita harus pulang." Hanya mengatakan itu lalu Langit pergi begitu saja meninggalkan Jupiter bersama Bulan yang berdecak kesal tidak suka.
"Dia selalu saja mengusik kesenanganku. Baiklah, Bulan. Karena aku harus segera pergi ... please catat nomor teleponmu di sini. Aku akan segera menghubungi begitu sampai di hotel nanti." Jupiter menyodorkan ponsel pada Bulan dan gadis itu tak mampu menolak. Menyimpan nomor ponselnya pada kontak telepon milik Jupiter. Lalu dengan iseng men-dial-nya agar nomor ponsel Jupiter juga nantinya tersimpan di dalam ponselnya.
"Terima kasih Bulan."
"Sama-sama."
"Aku harus pulang. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan."
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Kirain g d lanjut...