"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 8
"Nduk.. kamu mungkin tidak ingat siapa aku ini. Aku memakluminya, tapi ini adalah hari yang sudah aku tunggu tunggu dari dulu."
"Apa yang kakek bicarakan? Saya masih belum mengerti, saya masih bingung dengan semua ini." (Dinda)
"Hmmm... tentu saja kamu belum mengerti nduk. Karena itu, biarkan aku menceritakan semuanya terlebih dahulu. Apa kamu siap mendengarkannya nduk?"
"Iya Kek." (Dinda)
"Begini nduk. Aku inilah adalah sesepuh desa ini. Dulu aku hanya orang biasa. Namun karena aku mempelajari banyak hal, aku menjadi seperti sekarang ini."
"Kemudian aku mendapatkan gelar, yaitu Jogo Rogo. Atau artinya menjaga raga. Yang memiliki makna bahwa aku ini seorang pendekar. Dan diberi amanat, untuk menjaga tanah kelahiran ku." (Jogo Rogo)
"Aku mempelajari banyak hal. Salah satunya seperti yang kamu miliki." (Jogo Rogo)
"Saya? Saya tidak memiliki apapun Kek. Saya hanya anak biasa pada umumnya." (Dinda)
"Jangan membantah apa yang sudah menjadi takdir mu nduk." (Jogo Rogo)
"Aku tahu. Kamu memiliki ilmu kebatinan, seperti yang aku miliki. Tapi kamu kehilangan semua itu saat di Alas Areng. Benar kan?" (Jogo Rogo)
"Ehhmmm... memang saya memilikinya Kek. Tapi entah kenapa sampai sekarang tak bisa saya gunakan. Padahal semuanya baik baik saja ketika saya masih di rumah. Dan juga ketika saya di desa itu." (Dinda)
Aku mulai membuka semua rahasia ku. Entah kenapa aku mempercayai Kakek Jogo Rogo. Perasaan ku mengatakan bahwa dia orang yang baik. Dan orang yang tepat untuk mendengarkan ceritaku.
Kakek Jogo Rogo pun mulai melanjutkan ceritanya kembali. Sembari mengisap rokok yang ada ditangannya. Dia mulai membahas tentang Alas Areng. Atau dalam bahasa ku artinya (Hutan Arang, atau Hutan Api).
"Alas Areng dulunya adalah tempat yang sangat indah. Segala keindahan ada didalamnya, semua yang ada disana hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan." (Jogo Rogo)
"Tapi suatu hari semuanya berubah, akibat ulah orang orang yang serakah. Dan berakibat pada pertempuran saudara. Saling membunuh satu sama lain. Semua bernafsu untuk berkuasa." (Jogo Rogo)
"Tempat itu menjadi Medan perang. Tak ada yang bisa menengahi, siapa pun yang berusaha menengahi, pasti akan dihabisi. Tak ada satupun jalan keluar yang bisa menyelesaikan perang itu. Selalu ada mayat setiap hari." (Jogo Rogo)
"Hingga suatu hari, datanglah seseorang yang merubah segalanya. Dia hanyalah seorang wanita, tapi dia bukan orang sembarangan. Berbeda dari manusia pada umumnya. Dia memiliki tanda lahir di lehernya. Tanda itulah yang membuatnya berbeda dari yang lain" (Jogo Rogo)
"Dan tibalah hari dimana pertempuran terakhir. Yang mengorbankan banyak nyawa. Tapi yang anehnya, mayat yang bergelimpangan hanyalah mayat musuh kami. Tak ada yang tewas dari pihak kami satu orang pun, bahkan kami tak terluka sedikitpun." (Jogo Rogo)
"Padahal pertempuran itu sangatlah sengit. Seluruh pendekar turun ke Medan tempur. Pria, Wanita, bahkan anak anak pun ikut berperang. Bahkan saat itu akupun yang masih remaja di ikut sertakan dalam pertempuran saudara itu." (Jogo Rogo)
"Peperangan sangatlah menyakitkan nduk. Apalagi harus melawan saudara sendiri." (Jogo Rogo)
"Sebenarnya siapa yang memulai pertempuran itu Kek?" (Dinda)
"Kenapa peperangan saudara itu bisa terjadi?" (Dinda)
Kakek Jogo Rogo menghela nafas panjang. Menyalakan kembali koreknya dan membakar sebatang rokoknya.
"Yang memulai semua itu adalah orang yang tak ingin aku sebutkan namanya." (Jogo Rogo)
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini