Harap bijak dalam memilih bacaan
Iblis Cinta Satu Malam, begitulah julukan yang diberikan oleh Rania pada pria playboy bernama Kaaran Dirga tersebut.
Dengan kekuasaannya, Kaaran bisa meniduri wanita mana pun yang dia mau dan dia tunjuk, tapi tidak dengan Rania. Karena penolakannya, gadis itu terpaksa harus berurusan dengan Kaaran dan para pengawalnya. Sampai-sampai Rania harus rela kehilangan pekerjaan yang sangat dia butuhkan karena gadis itu harus terus bersembunyi dan tidak ingin ditangkap oleh orang suruhan Kaaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nilai Harga Diriku
Aku bisa melihat raut amarah yang terpancar di wajah kak Aditya. Tidak heran sih kalau dia berpikir seperti itu tentang aku. Siapa pun akan berpikir demikian jika mengalami hal serupa. Apalagi, kami baru saling mengenal 1 minggu yang lalu, dan dia juga belum terlalu mengenal aku ini orangnya seperti apa.
Tapi aku punya alasan sendiri kenapa aku ingin segera meninggalkan kota ini. Karena yang paling aku takutkan, orang-orang suruhan pria ***** itu akan segera datang mencariku. Aku tidak mau jatuh ke tangannya, kecuali ... sudah tidak ada pilihan lain lagi.
Aku segera berdiri dari dudukku, lalu menunduk sopan ke arahnya. "Kak Aditya, sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Kalau Kak Aditya tidak bersedia meminjamkan saya uang, tidak apa-apa, Kak. Tapi saya ini bukan penipu Kak, dan sedikit pun saya tidak pernah berniat untuk menipu orang sama sekali. Saya hanya terpaksa, saya hanya terpaksa ingin meninggalkan kota ini, karena saya sedang diincar oleh seseorang."
"Kamu sedang diincar?" tanyanya, dengan raut yang sulit diartikan. Mungkin antara percaya dan tidak percaya dengan ucapanku barusan. "Apa penagih hutang?"
"Bukan, Kak bukan. Tapi ... seorang pria bre*****."
"Pria bre*****?" Kak Aditya mengerutkan dahinya, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Oh iya, saya ingat, saya tahu siapa yang sedang mengincar kamu." Aku langsung mendongak menatap wajahnya.
"Tuan Kaaran Dirga 'kan?" tanyanya, sambil menunjuk ke arahku.
"Eh, darimana Kak Aditya tahu?" tanyaku, penasaran.
"Ck, gadis bodoh. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, ya? Saya sarankan, menyerahlah, karena sebesar apa pun usahamu untuk menghindar, itu akan tetap sia-sia saja." Perkataan kak Aditya barusan benar-benar membuatku ingin putus asa.
"Kenapa Kak Aditya berkata seperti itu?" tanyaku, seketika merasa kesal padanya. Aku tidak suka dengan saran bodohnya itu.
"Rania, saat ini kamu sedang butuh uang, yang jumlahnya tidak sedikit. Dan kamu juga tadi berkata, kalau hutang ayahmu itu akan segera jatuh tempo minggu depan. Iya 'kan?"
Aku mengangguk.
"Dan uang yang kamu butuhkan adalah 100 juta, bukan jumlah yang sedikit. Kalau kamu menuruti tuan Kaaran, kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu mau. Apalagi, dia sendiri yang mengincarmu, ini sangat langka Rania, sangat Langka. Biasanya, para wanita lah yang datang mengantri untuk ditiduri olehnya. Kamu ini sangat beruntung loh." Kak Aditya kembali menatapku dengan tatapan yang sangat sulit aku artikan. Entah tatapan macam apa itu?
"Tapi saya ini masih punya harga diri, Kak. Saya bukan perempuan murahan," kataku, yang semakin kesal dengan saran konyol kak Aditya.
"Rania ... Rania. Kamu ini masih sangat polos rupanya, siapa bilang kamu perempuan murahan? Uang 100 juta itu jumlah yang tidak sedikit. Kalau kamu merasa harga dirimu itu sangat mahal, kamu minta saja bayaran yang menurutmu setara dengan harga dirimu itu." Kak Aditya terlihat berpikir sejenak. "Mm ... misalkan 500 juta, atau mungkin 1 M? Ya terserah kamu, mau pasang harga berapa saja."
Aku makin tidak suka mendengar ucapan kak Aditya. Apakah dia juga memandangku rendah seperti barang yang bisa diberi harga seenaknya?
Menurutku, kesucian seorang wanita tidak bisa dihargai dengan sejumlah uang, berapa pun nominalnya. Karena hal itu, jauh lebih berharga dari apa pun, tidak bisa dibanding-bandingkan.
"Terima kasih atas sarannya, Kak Aditya, tapi saya bukan wanita yang seperti itu. Permisi." Aku segera memutar badanku untuk keluar dari ruangannya.
"Rania! Hei! Pikirkan baik-baik! Saya tidak sedang merendahkan kamu loh, justru sebaliknya!" teriaknya, tapi aku tidak peduli.
Aku berlari keluar meninggalkan cafe. Sekuat hati ku tahan air mataku agar tidak sampai terjatuh, tapi nyatanya tetap saja tertumpah.
Aku tahu, Kak Aditya tidak bermaksud merendahkan harga diriku. Dia hanya memberiku saran agar aku bisa segera keluar dari masalah hidup yang sedang aku hadapi saat ini. Hanya saja, aku merasa tidak suka dengan apa yang dia sarankan.
Dia menyarankan agar aku menyerah dan meminta banyak bayaran pada pria itu. Tapi apakah pria gila itu akan mau memberikan aku sejumlah uang yang banyak seperti yang kak Aditya katakan. Kalau menurutku sih itu mungkin mustahil. Pria bodoh mana yang mau membayar seorang wanita dengan harga setinggi itu hanya untuk satu kali ronde permainan. Tidak ada. Kecuali ... ah, aku juga tidak tahu.
Aku terus berjalan menyusuri emperan toko yang berjejeran di pusat kota. Entah mengapa setelah tidak mendapatkan apa yang aku harapkan, aku merasa sangat sedih dan putus asa, rasanya aku ingin menyerah saja. Ternyata perjuangan hidup tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya.
Entah mengapa aku tiba-tiba merasa, hidup terasa sangat tidak adil. Hidup kami sekeluarga tiba-tiba saja berubah 180° dalam waktu singkat, tidak sampai setengah tahun. Apalagi setelah ayah meninggalkan kami semua untuk selamanya, hidup kami benar-benar sudah tidak berarah lagi. Seperti tidak memiliki tujuan dan benar-benar sangat hancur.
Tapi meski pun begitu, aku sangat bersyukur karena hubungan kekeluargaan kami masih baik-baik saja, bahkan semakin erat. Karena banyak kejadian yang pernah aku lihat di luar sana, saat mencapai titik terendah didalam kehidupan mereka, hubungan kekeluargaan mereka pun juga ikut merenggang. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi dalam keluargaku.
Setelah cukup jauh berjalan sambil melamun, aku memilih untuk duduk di bangku taman, mumpung lagi sepi, jadi aku bisa menangis sejadi-jadinya di tempat itu tanpa perlu khawatir ada orang yang melihat.
Taman malam ini nampaknya sangat sepi, sepertinya memang sengaja disediakan untukku agar aku bisa menangisi pedihnya hidupku tanpa perlu meminta belas kasihan orang lain.
Setelah cukup lama dan cukup lelah aku menangis, aku pun memutuskan untuk berjalan kembali menuju kost-kost-an. Aku ingin kembali beristirahat lebih awal agar besok aku bisa kembali bersemangat untuk berjuang.
...----------------...
Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari sebelum-sebelumnya. Sebenarnya bukan bangun lebih pagi, tapi memang malam ini tidurku tidak bisa nyenyak sedikit pun. Memikirkan apa yang akan aku lakukan keesokan harinya benar-benar menguras pikiran hingga berimbas insomnia.
Aku meraih hoodie yang aku pakai semalam, kemudian mengambil selembar masker untuk aku pakai menutupi separuh wajahku. Mulai dari kemarin, aku memutuskan untuk memakai pakaian tertutup saat keluar dari kost-an. Dimana dan kemana pun aku pergi, aku harus tetap waspada, karena aku yakin, orang-orang suruhan pria itu bisa saja tiba-tiba datang untuk menangkapku. Apalagi semalam, aku tidak memenuhi permintaannya untuk datang menemuinya di hotel yang dia sebutkan. Bahkan kartu namanya pun sudah aku buang ke tempat sampah sebelum aku berangkat ke cafe untuk menemui kak Aditya tadi malam.
Aku berjalan menuju warung kecil yang tidak jauh dari lorong tempat tinggalku. Meski pun sekarang matahari belum terbit, tapi disana memang buka 24 jam. Jadi kapan pun aku ingin mengisi perut, aku tinggal langsung datang saja ke sana.
Subuh-subuh begini masih saja antri. Gumamku dalam hati, sambil berdiri di belakang kerumunan orang yang menunggu giliran untuk memesan makanan.
Kira-kira hampir 5 menit aku berdiri, tiba-tiba saja seorang pria mencolek bahuku dari belakang. Aku menoleh.
Deg. Seketika jantungku berdetak tidak karuan.
B e r s a m b u n g ...