apa jadinya jika seorang santri pondok pesantren diharuskan bersekolah disekolah umum. annasya semenjak ayahnya meninggal dia harus menikah muda kemudian pindah sekolah ke sekolah umum.
araf abinaya diusianya yg masih 18 tahun dia harus menikah dengan seorang gadis anak dari sahabat ayahnya. akankah cinta berpihak pada mereka? akankah annasya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rulinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Saat semua berangkat untuk aktifitas masing-masing nasya duduk di tepi kolam renang sambil menghirup udara segar. Saat dia sedang melihat-lihat dia terpaku dengan kedatangan seorang lelaki dia terlihat sangat mirip dengan araf namun dia terlihat lebih tinggi. Di seberang kaca dia melihat lelaki tersebut sedang berbincang dengan imah, terlihat imah rersenyum kemudian membawa koper tersebut.
Saat nasya sedang menatap lelaki tersebut dengan rasa penasaran matanya tertabrak mata lelaki tersebut, kemudian lelaki itu tersenyum. Lelaki itu pun menghampiri nasya di kolam renang.
"hai.... kamu pasti nasya ya?" tanya lelaki tersebut yang diangguki nasya
"kenalkan aku zaki abangnya araf" zaki membungkukan badanya.
"salam kenal k" nasya menjawab sapaan zaki dengan membungkukkan badannya juga
"maaf ya sewaktu kalian menikah saya tidak sempat datang karena saya sedang di prancis"
"gapapa k"
"ok lah kalau begitu saya pamit dulu ke atas mau istirahat"
"iya k"
Zaki beranjak dari tempatnya berdiri, sambil berjalan dia bergumam dalam hati, "darimana mami bisa mendapat wanita solehah seperti itu. saat bicara denganku dia tidak menatapku pertanda dia menjaga pandangannya. ya Allah menyesal aku tidak dijakarta saat itu"
Saat zaki hendak naik dia berpapasan dengan araf yang baru pulang sekolah, "bang lu dah balik?" tanya araf
Zaki berbalik pada araf kemudian mengangguk. Araf yang melihat abangnya seperti tidak bersemangat bertanya, "ngapa muka lu lesu banget bang?"
Zaki menarik nafas kemudia menundukkan kepalanya, "gue putus dari nabila raf"
"hah!" araf terkejut bukan main, "serius lu bang? sejak kapan?"
Araf mengikuti zaki yang duduk didepan tv, "waktu w lagi diperancis raf, gue ga sengaja liat dia pelukan sama cowo bule. Saat gue tanya nabila kaget dan bingung ngejelasinnya. cowo bule itu ngehajar gue saat gue tarik nabila"
"ya Allah, emang tuh cowo siapa bang?"
"dia bilang dia cowonya nabila"
"terus lu? selingkuhannya?"
Melirik pada araf, "sialan lo gue pacaran sama nabila dah 8 tahun yang ada tuh dia selingkuhannya!"
Araf hanya menggeleng, "bener kan bang kata mami nabila itu ga baik buat lo. Belum jadi istri aja dah selingkuh dari lo"
"gue nyesel raf perjuangin dia demi dapet restu" zaki menarik nafas. terlihat raut wajah penyesalan diwajah tampannya
"tapi lo jadi dapet pelajaran bang ternyata pacaran lama belum tentu jodoh"
Zaki mengangguk, "mami ada stok cewe lagi ga ya raf biar gue cepet move on"
"baru juga putus lu bang dah mikir cewe lagi. mending lu pikirin tuh bantu bisnis papi"
"tua banget lo nyuruh-nyuruh gue"
"bukan gitu bang lo kan tau gue ga mau nerusin bisnis papi, ya jadi lo lah yang harus nerusin. Lagian sekarang lo kan udah lulus kuliah mau ngapain juga ga bantu papi?"
"nikah belum itungan tahun udah sok tua lo nasehatin gue, orang galau malah disuruh kerja"
"lah kalau lo cuma santai-santai ngelamun yang ada lo keingetan terus bang. jadi susah buat move on"
"iya juga sih"
"terus pertunangan lo sama nabila batal?"
Zaki mengangguk
"mami sama papi udah tau belum?"
Zaki menggelengkan kepalanya, "nanti malam gue mo kabarin ke mami sama papi"
"Sabar ya bang mudah-mudahan Allah kasih lo jodoh yang lebih baik lagi dari nabila"
"Amin"
Saat nasya masuk dia melihat araf yang duduk bersama zaki dia pun menghampiri, "mas udah pulang?" nasya mencium punggung tangan araf yang diikuti araf mencium puncak kepala nasya.
Zaki yang melihat mendecih sambil rersenyum kecut, "cihhh mentang-mentang dah halal pamer banget lo"
"makanya bang cari cewe tuh yang mau diajak nikah bukan cuma seneng-seneng" sindir araf pada abangnya
"udah yuk sayang kita naik disini ada jomblo yang takutnya tambah sedih liat kita mesra" ejek araf pada zaki
"cihhh sialan lo raf" seru zaki sambil melempar bantal sofa pada araf yang sudah menarik nasya ke arah tangga
Dikamar araf langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur, "mas mau makan dulu atau tidur?"
Araf melihat ke arah istrinya, "aku udah makan tadi disekolah masih kenyang aku. sini...." Araf merentangkan tangannya, "aku kangen istriku" senyum araf merekah. Nasya mendekat dan berbaring disisi araf.
"mas..."
"ya..."
"maaf kalau aku kepo, aku mau tanya"
"silahkan"
"bukannya mas zaki udah punya calon ya?"
"iya tapi mereka baru aja putus"
"owh..."
"kenapa kamu tanya?" araf mengarahkan wajahnya pada nasya
"cuma tanya mas"
Araf mengeratkan pelukannya pada nasya, "semoga kamu ga menyesal ya sudah nikah sama aku"
Nasya mendongak, "loh kok mas bisa bilang begitu?"
"karena bang zaki lebih dewasa dan juga lebih tampan dari aku. Aku takut kamu berpaling"
"ya Allah mas jauh banget pikiran kamu"
"khawatir kan boleh, sudah jangan di omongin lagi. hari ini aku lelah banget pengen merem sebentar"
Mereka pun tidur dengan lelapnya sambil berpelukan
\#\#\#\#
Saat makan malam semua berkumpul di ruang makan terlihat zaki yang tidak bersemangat. Mami yang melihat ke anehan pada diri zaki pun bertanya, "zaki itu makanannya kok cuma diaduk aduk aja? makan dong. habis liburan kok malah lesu"
Zaki menatap pada mami kemudian papi, "mi pi zaki dah putus dari nabila"
Seketika orang tuanya terkejut, "hah" mereka berbarengan saling menatap kemudian papi bertanya, "kok bisa? emang kenapa sayang?"
"huffff....." zaki menarik nafas dalam, "zaki belum siap cerita sekarang intinya zaki sudah putus. zaki naik ke kamar dulu ya mi, pi" pamit zaki beranjak dari tempatnya duduk.
"oiya pi mulai besok zaki siap bekerja"
"baguslah, besok berangkat bareng papi" jawab bayu pada anak sulungnya itu
Saat zaki sudah menghilang dibalik tembok mami penasaran dan bertanya pada araf, "raf zaki kenapa bisa putus sama nabila?"
"nabila selingkuh katanya" jawab araf enteng
"ya Allah kasihan zaki pi" ucap mami pada papi yang terkejut
"pacaran 8 tahun zaki tidak pernah mendengarkan nasehat mami, kadang mami sampai nangis sendiri melihat zaki yang seperti budak nabila. tapi melihat zaki yang seperti itu membuat mami juga sedih pi"
Bayu menatap pada istrinya, "sekarang peran kita sebagai keluarga sangat dibutuhkan. Jangan sampai dia merasa sendiri saat sedang terpuruk mi"
"papi benar kita harus bisa menghibur zaki pi" sahut mami
Araf yang ikut menimbrung berucap, "mi... pi... besok araf mau bawa nasya tinggal di apartemen. kita mau mandiri mi"
"kenapa raf?"
"araf harus belajar mandiri lah mi, araf sekarang sudah punya keluarga sendiri"
Mami melihat nasya dan araf dengan tatapan sedih
mau belikan rumah utk kamu.
tapi kama Erika masih merayu2 Araf.
dasar perempuan nga punya harga diri