Hai.....!
Ini adalah lanjutan dari kisah MENJADI ISTRI KETIGA JURAGAN. Ini kisah tentang anak-anak mereka yang tak jauh kehidupan cinta segi tiga, poligami dan juga cinta tak terbalas. Namun bisa juga dibaca tanpa membaca novel sebelumnya.
Erdana menjalin hubungan dengan Mentari. Sementara Prayuda sangat mencintai Mentari. Namun karena suatu peristiwa, Erdana harus bersama Yasmin. Bagaimana kisah ini akhirnya mencapai titik kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak Aku
Mentari memasuki sebuah kompleks pemakaman mewah. Kakinya diarahkan ke salah satu makam yang letaknya paling sudut. Makam dengan tulisan Gading Aritmatio. Air mata Mentari langsung jatuh setiap kali ia datang ke makam ini. Pada hal kematian ayahnya sudah 2 tahun lebih. Namun Mentari sama sekali belum bisa melupakan kasih sayang sang ayah yang selalu ada untuknya.
Mentari teringat peristiwa 3 tahun yang lalu saat ia menemani ayahnya ke Amerika untuk urusan pekerjaan.
Waktu itu Mentari sudah putus hubungan dengan Erdana. Mentari bahkan berpikir bahwa tak mungkin ia dan Erdana bisa bersama lagi karena ini kali yang ketiga mereka putus dan mereka sudah tak berkomunikasi selama 4 bulan lamanya. Kabar terakhir yang Mentari dengar bahwa Erdana sedang dekat dengan salah satu bule yang ada di kampusnya. Saat itu Erdana sedang menempuh studi S2 nya.
Kebetulan Prayuda juga ada di Amerika untuk mengikuti seminar para dokter ahli jantung sedunia.
Kota LA menjadi tempat pertemuan kembali Erdana dan Mentari setelah 4 bulan putus komunikasi.
Waktu itu hujan sedang turun dengan deras. Mentari baru saja selesai belanja di sebuah toko jam tangan yang menjual jam tangan antik. Ia mengetahuinya dari Prayuda yang memang suka mengoleksi jam tangan.
Saat ia memeluk dirinya sendiri karena ia tak memakai jaket dan hanya sebuah minidress yang membungkus tubuh rampingnya, saat itulah matanya tak sengaja menatap seorang pria yang juga sedang berdiri tak jauh darinya dan sedang menatapnya. Itu adalah Erdana. Keduanya saling bertatapan seolah ingin mengatakan bahwa mereka rindu.
Mentari berusaha untuk tersenyum dan Erdana membalas senyumannya.
"Hai.....!" sapa Erdana sambil mendekat.
"Hai juga. Sedang apa di sini?" tanya Mentari berusaha bersikap wajar walaupun jantungnya berdetak sangat kencang.
"Aku baru saja selesai mewawancara salah satu pengusaha di toko jam itu."
"Oh....tugas kuliah?"'
"Iya."
Mentari hanya tersenyum. Ia semakin merapatkan tangannya yang memeluk tubuhnya karena angin yang berhembus kencang.
Erdana dengan cepat membuka jaket yang dipakainya. Ia pun melingkarkan jaket itu di tubuh Mentari membuat mentari sedikit terkejut namun tak menolak.
"Sekarang kamu yang kedinginan, Er."
"Suhu badan cowok kan lebih panas dari cewek."
Hati Mentari menjadi berbunga. Erdana selalu sukses membuatnya terpesona dengan perhatiannya.
"Hujan sepertinya masih lama untuk berhenti. lihatlah langit yang semakin gelap saja. Aku bawa mobil. Mau ku antar sampai ke hotel mu?"
"Boleh."
"Tuh mobilku. Kita harus berlari sedikit untuk bisa sampai."
"Baiklah."
Keduanya pun berlari menembus hujan. Dan entah siapa yang memulai, tangan mereka sudah saling bertautan.
"Er, kamu sudah basah. Ayo masuk dulu ke dalam." Ajak Mentari.
Erdana pun masuk ke dalam hotel bersama Mentari.
Sesampai di kamar 6077, Mentari langsung mengambil handuk dan memberikannya pada Erdana. "Keringkan kepalamu agar kau tak sakit."
"Di mana ayahmu?"
"Ayah masih ada pekerjaan mungkin nanti malam kembali. kamarnya ada di sebelah." Kata Mentari sambil menunjuk sebuah pintu yang menjadi penghubung kamarnya dan kamar ayahnya.
"Aku buatkan teh ya?" Mentari berbalik namun Erdana menahan tangannya.
Mentari merasakan darahnya berdesir saat kulit mereka saling bersentuhan.
"Keringkan dulu tubuhmu. Nanti kau juga sakit." kata Erdana sambil menyerahkan handuk di tangannya.
Tatapan keduanya bertemu. Mata tak bisa berbohong. Mereka saling merindukan. Dan entah siapa yang memulai, keduanya kini sudah saling berciuman dengan sangat mesra dan tak ingin saling melepaskan.
"Er, maafkan aku yang bersikap egois padamu." kata Mentari saat ciuman mereka terlepas dengan napas yang saling memburu.
"Aku juga minta maaf karena langsung minta putus darimu. Kau tahu, saat tadi melihatmu, aku rasanya ingin langsung memelukmu. Aku kangen, Mentari. Sangat kangen." ujar Erdana sambil memegang pipi Mentari.
"Semoga kita tak akan pernah putus lagi. Cepatlah selesaikan kuliahmu dan pulang ke Indonesia."
"Baiklah." Erdana kembali menyesap bibir Mentari yang sangat dirindukannya. Tubuh keduanya perlahan menjadi panas karena ciuman itu. Baju Mentari bahkan sudah hampir terlepas dari tubuhnya.
Pintu pembatas antar kamar itu pun terbuka. Gading langsung terbelalak saat melihat anaknya sedang bermesraan dengan Erdana.
"Astaghfirullah!" Gading membalikan badannya. Erdana membantu Mentari untuk menurunkan gaunnya dan memperbaiki gaunnya.
"Maaf ayah.....!" kata Mentari
Gading membalikan badannya. "Mentari, Erdana, ayah mengerti dengan jiwa muda kalian dan rasa ingin selalu dekat sebagai sesama pasangan membuat kalian sering lupa diri. Dari pada melakukan zinah, lebih baik kalian menikah saja."
"Tapi ayah, aku belum mau menikah sekarang. Aku baru saja lulus dari sekolah fashion. Belum juga berkarya di bidang ilmu yang ku pilih. Aku juga sudah janji sama ibu untuk sukses dulu sebelum menikah. Aku tahu kalau pernikahan itu butuh keseriusan. Aku ingin menjadi istri yang baik seperti ibu. Walaupun wanita karir namun tak pernah mengabaikan aku dan adik."
"Iya, paman. Aku juga sudah janji sama ayah dan ibu, belum akan menikah sebelum selesai dengan sekolahku. Usia kami baru juga 22 tahun."
Gading tersenyum. "Ayah usulkan agar kalian menikah siri dulu. Ayah yakin jika ayah tak datang telat waktu tadi, kalian pasti sudah bercinta. Ayah juga pernah muda. Jadi pernah merasakan bagaimana kuatnya saat gairah menguasai tubuh kita. Kalau memang kalian tahan tak saling bersentuhan saat pacaran, ya boleh juga nggak menikah. Namun apakah sanggup pacaran LDR, setiap kali bertemu hanya makan malam dan nonton TV saja?"
(Yang sudah baca novel menjadi istri ketiga juragan pasti tahulah bagaimana Gading dulu di masa mudanya. Pengalaman pribadinya lah yang membuat ia mengusulkan pernikahan itu. Dari pada anak-anak nya berzinah lebih baik menikah).
Erdana dan Mentari saling berpandangan. Keduanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Gading. Erdana ingat, berapa kali ia dan Mentari hampir melewati batas berpacaran menurut agama mereka. Berapa kali Erdana harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi setiap kali bertemu Mentari setelah berbulan-bulan mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
"Bagaimana jika ayah dan ibuku tahu?"
Gading menatap Erdana. "Ayah dan ibumu akan mengerti. Nanti paman yang akan menjelaskan pada mereka. Mereka akan setuju dengan pendapat paman."
"Dan ibu?" Mentari menatap ayahnya.
"Ayah juga yang akan menjelaskannya pada ibu. Kalian berdua sulit untuk dipisahkan lagi. Mau dinikahkan secara sah, pasti alasannya belum siap. Karena itu ayah tak mau menunda lagi. Ayah punya teman di sini. Orang tuanya seorang imam."
2 hari setelah itu, Mentari dan Gading akhirnya menikah. Prayuda dan sahabat dari Gading yang menjadi saksi.
Mentari bahagia hari itu. Ia mengenakan kebaya berwarna putih demikian juga Erdana menggunakan jas putih dengan peci putih yang menutup kepalanya.
Malam itu juga Mentari dan Erdana menikmati indahnya hubungan intim tanpa takut lagi berbuat dosa.
Kesibukannya sebagai desainer muda yang berbakat, dan keinginannya mengikuti beberapa acara penting di bidang fashion membuat Mentari selalu menunda pernikahan mereka secara sah.
Apalagi setahun setelah pernikahan itu, ayah Mentari meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal.
Gading, pria baik hati yang mengabdikan hidupnya untuk melayani Wisnu Furkan, pergi dengan membawa rahasia pernikahan siri anaknya.
Hal ini pula yang menyebabkan Mentari belum mau menikah dengan Erdana secara resmi. Ia sangat terpukul atas kehilangan ayahnya. Kesibukannya dengan pekerjaannya dijadikannya pelarian untuk menutupi luka hatinya atas kehilangan ayahnya.
Erdana pun yang sibuk dengan dua perusahaan yang ditanganinya membuat Mentari merasa bahwa keduanya belum siap memasuki kehidupan berumah tangga yang sebenarnya. Mereka tinggal satu kota namun bertemu kadang 3 hari sekali, seminggu sekali bahkan pernah 2 minggu baru ada waktu ketemu.
***********
"RI.....!"
Panggilan itu, menyadarkan Mentari dari lamunannya tentang hari pernikahannya dengan Erdana.
Mentari mendongak, memandang Erdana yang sudah berdiri di sampingnya.
"Mengapa kau bisa menemukan aku di sini?" tanya Mentari lalu kembali menatap nisan ayahnya.
"Aku menelepon Prayuda. Ia menceritakan kalau semalam kau menangis di apartemennya sambil tertidur di sana. Jadi aku tahu di mana kau berada saat hatimu sedih." Erdana ikut berjongkok di samping Mentari.
"Er, dulu di depan ayahku kau menikahi ku secara siri. Kini di hadapan makam ayahku, aku ingin kau menalak aku."
"Kau sudah gila? Bagaimana mungkin aku menalak dirimu? Aku mencintaimu, RI."
"Dan kau akan membiarkan Yasmin sendiri? Dia sedang mengandung anakmu."
"Aku tahu. Aku akan bertanggungjawab."
"Dan jika kau menikah dengan Yasmin itu artinya kau akan berpoligami. Aku tak mau dipoligami, Er. Aku juga yakin keluarga dokter Satria tak akan pernah mengijinkan anak mereka dipoligami. Aku yang mengalah, Er."
Erdana menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin aku membiarkan kau mengalah, RI. aku nggak mau melepaskan mu!"
Mentari berdiri. "Aku yakin, Er. Jika ayahku masih hidup, ayah juga akan setuju dengan keputusan ku ini."
"Bagaimana dengan cinta kita? Bagaimana dengan hubungan kita? Aku tak bisa melepaskan mu." Erdana memeluk Mentari.
"Jangan seperti ini, Er. Kau harus belajar melepaskan ku."
"Tapi...."
Mentari melepaskan pelukan Erdana. "Mungkin ini tanda dari Allah untuk menunjukan bahwa kau bukan jodohku." Lalu ia melangkah meninggalkan Erdana sendiri.
"Mentari..... Mentari.....!" Erdana mengejarnya namun Mentari sudah masuk ke dalam mobilnya dan mengunci semua pintunya.
"Mentari.....!" Erdana mengetuk kaca mobil Mentari.
Mentari menurunkannya. "Sebaiknya jangan pernah katakan tentang pernikahan siri kita. Ayahku sudah meninggal. Prayuda pasti akan menutup mulutnya. Biarkan aku sendiri. Kau hanya cukup menalak aku."
"Aku tak akan pernah menalak mu!"
Mentari menjalankan mobilnya sambil menahan air matanya. Ini sudah jalannya. Mentari akan mencoba menerimanya.
Ayah, aku sangat membutuhkanmu saat ini
**********
Begitulah kisah ini dimulai. Erdana harus menikahi Yasmin walaupun Yasmin sangat membencinya. Mentari pergi dengan misteri sakitnya. Kepada siapa hati Erdana akhirnya berlabuh? 7 tahun membangun hubungan, bukanlah hal mudah untuk dilupakan. Sedangkan Andre, akhirnya mengejar Yasmin saat menyadari bahwa cintanya memang hanya untuk gadis itu. Bagaimana pula Ermira yang adalah seorang artis terkenal harus jatuh cinta dengan bodyguart nya?
Kepada siapa pula cinta Prayuda akhirnya berlabuh?
Dukung terus kisah para anak juragan ini ya guys
cakep Thor
barusan tamat baca para juragan
tapi konflik nggak trll berat, jd masih adem ikutin alurnya..
nggak emosi yg berlebihan 😁
ceritanya bagus beda dari yg lain dgn tema sama
hanya bbrp kali ada nama tokoh yg tertukar 🙏🙏🙏