Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hanan diam, Alanapun diam
Hanan duduk disamping Alana "Mulai malam ini, tidurlah disini"
Alana berdiri menghadap Hanan yang masih duduk diranjang "Nanti Imran menangis"
Netra Hanan mengikuti kemana arah Alana "Kan ada mbaknya"
Alana berjalan mendekati pintu. Dengan langkah cepat, Hanan mendorong pintu, agar tetap tertutup
Hanan menunduk "Kau mau kemana?"
Alana mendongak "Aku capek kak, aku mau tidur"
"Kau tidak ingin tidur bersama suamimu?"
Alana terdiam, fikirannya mulai bercabang
"Iya ya, suamiku itu Imran apa kak Hanan. Tapi ini kamarnya kak Aina. Kak Aina pasti kecewa denganku"
Alana akan membuka pintu
"Mau kemana?" Hanan memainkan rambut Alana kebelakang
Deg deg deg
Jantung mereka mulai berdetak tak beraturan.
Hanan ingin sekali menarik Alana kepelukannya. Tapi nanti Alana menjerit dan minta bantuan satu RT, Hanan bisa dicap pria pemerkosa istri.
"Baiklah, kau ingin tidur bersama Imran?"
Alana mengangguk gugup.
Hanan kembali membelai rambut panjang Alana
Cup
Bibir Hanan sudah mendarat didahi Alana dengan sadar dan ikhlas
Hanan mulai membutuhkan sentuhan dari seorang wanita, dia sudah membutuhkan Alana. Tapi belum tau kapan, karena Hanan masih mencari kunci sukses untuk membuat Alana menerimanya
Mereka saling tatap, Hanan sedikit tersenyum didepan Alana. Dia tidak mau kegirangan karena tadi berhasil mencium Alana, dan Alana tidak berontak
"Boleh kakak memelukmu?"
Alana mendongak "Hmm" Alana mengedipkan kedua matanya
Hanan memegang pinggang Alana, ia mulai menarik tubuh Alana tanpa jarak.
"Kakak, jangan menarikku. Sesak" Cicit Alana
Tangan Alana mengurai tangan Hanan yang melekat dipinggang, tapi belum berhasil. Karena cengkeraman Hanan lebih kuat
Nafas Hanan mulai menghangat, tanpa sadar, bibir Hanan menempel pada bibir Alana
Hanan menyesap bibir Alana, tapi tidak dibalas karena Alana tidak tau cara membalasnya
Netra Alana melebar, karena Alana merasa ada nafas hangat yang begitu dekat diwajahnya
Wajah Hanan sangat dekat
Mata Hanan terbuka, mata keduanya sama sama terbuka
Hanan mengurai, lalu mengelap bibir basah Alana dengan ibu jarinya "Kenapa tidak dibalas?"
Sekejab Alana terdiam, dia bingung mau ngomong apa "Kakak aku ngantuk" Alana menunduk
Hanan langsung melepas semuanya. Ia terdiam berdiri memperhatikan gerak gerik Alana yang terlihat tidak nyaman
Hanan kembali mengacak rambut Alana "Ya sudah, tidurlah" Hanan membukakan pintu untuk Alana, dan langsung menutupnya
Hanan berdiri dibalik pintu
Tangan Hanan menutup mulutnya dengan dua jarinya yang tidak punya rem.
"Ternyata, aku sangat membutuhkanmu Alana"
Ternyata, dibalik pintu luar, Alana sedang lenggak lenggok malu mendapatkan serangan malam dari Hanan
Alana berlari kecil menuju kamar Imran
Oklek oklek
Alana membuka pintu kamar Imran "Dikunci. Tumben dikunci" Tak mau mengganggu, akhirnya Alana turun, dan tidur dikamar tamu
Alana langsung membanting tubuhnya dikasur empuk tanpa saingan
Brak
Alana tersenyum, memegang bibirnya, lalu memegang dadanya yang ada jantung didalamnya
Deg deg deg
Alana tersenyum, tiba tiba teringat dengan seseorang "Kak Aina, maafkan adikmu ini yang tak tau diri" Alana bersedih. Baru saja kegirangan, sekarang ia urungkan "Jangan, jangan sampai aku tergoda. Aku tidak boleh tergoda dengan kak Hanan"
Alana meringkuk tanpa selimut, dan tertidur
-
Ditempat Hanan
Hanan sudah pegangan kepalanya. Fikirannya kemana mana takut Alana tak terima.
Hanan membersihkan tubuhnya terdahulu, habis itu, Hanan turun untuk mencari sesuatu
Hanan terduduk dikursi meja makan, hatinya bimbang
Hanan beranjak menuju lantai dua. Tapi begitu melihat kamar tamu ada sedikit penerangan, Hanan mundur satu langkah "Memang ada tamu? siapa?"
Hanan menjauhi tangga, lalu mendekati kamar tamu
Gerrreettt
Hanan mengabsen seseorang yang tertidur tanpa selimut
Baju, body krempengnya seakan sudah melekat dibenak Hanan "Alana, kenapa ia tidur disini"
Hanan masuk kekamar, lalu menutup pintu, dan mendekati Alana yang tertidur sendirian dikamar tamu
Hanan terkejut melihat lengan kanan Alana biru biru, Hanan naik keranjang "Kenapa pada biru biru begini"
Alana terusik dengan kehadiran Hanan. Hanan yang sudah naik keranjang, iapun pura pura tertidur
Tapi lama ia memejamkan matanya, tidak ada sedikitpun pergerakan diatas ranjang ini
Hanan membuka matanya, kembali ia melihat banyak sekali warna biru disekujur lengan dan paha "Keterlaluan sekali Imran ya"
Kemudian Hanan keluar untuk mengambil minyak, sekalian selimut
Hanan masuk kembali, dan mengolesi kulit Alana yang berwarna lebam itu menggunakan minyak
Hanan menyingkirkan anak rambut Alana "Kau tidak cantik seperti Aina, kau tidak anggun sepertinya, kaupun tidak kalem sepertinya. Kau sangat berbeda. Jauh... Tapi melihat pengorbananmu, sifat keibuanmu, dan tingkah lakumu yang bar bar, membuatku tidak bisa tidur setiap malam"
Hanan menyelimuti Alana, lalu Hanan turun dari ranjang.
Kembali ia memandang gadis yang salah ambil jurusan, benar benar kasihan. Memaksa menerimanya untuk menjadi pendamping hidupnya juga kasihan.
"Melihatmu tidur sendirian, juga kasihan. Mau sampai kapan aku jalan ditempat. Padahal aku membutuhkan seorang wanita yang mau menerimaku"
Hanan naik keranjang, dan menelusup masuk kedalam selimut "Alana, maafkan kakak iparmu yang menjadi suamimu ini ya.." Hanan mencium pipi tirus Alana "Emmuah.. Selamat malam istriku" Hanan tidur meringkuk menghadap kearah Alana
Tangannya kembali mengusap pipi mulusnya, bibirnya yang tadi ia sesap. Hanan tersenyum, lalu tertidur
-
Pagi harinya
Alana bangun meraba raba seseorang yang ada disampingnya. Hanan geli geli gimana, anunya kepegang pegang. Hanan pura pura tertidur, padahal hatinya berantakan tidak karuan
"Imran??" Alana duduk "Kakak ??! kakak bangun !! mana Imran !!?" Alana membangunkan Hanan seperti gempa
Hanan pura pura tidur, tapi meruba posisi sampai membelakangi Alana
"Kakak !! dengar aku tidak ??!"
Hanan berbalik hingga paha berambut Hanan terpampang jelas terlihat oleh mata Alana. Alana buru buru menyelimuti kaki Hanan
"Ih, malah pamer lagi"
Hanan melempar selimut "Apa Apaan sih... Aku ngantuk Alana... Aku tidak bisa tidur"
"Tapi ini sudah pagi kak !!" Alana menggeser tubuhnya akan turun dari ranjang
Hanan menarik tangan Alana "Mau ngapain"
Alana sudah numpuk diatas tubuh Hanan
"Kak kak..." Cicitnya
Alana sudah berwajah merah
"Kenapa??" Hanan menahan tubuh Alana biar tidak lepas dari genggaman "Kamu enteng banget. Berapa kilo?"
Alana langsung memberi jarak satu lengan, agar dadanya tidak menempel dengan dada Hanan
"Kamu mau push up?"
Alana mulai memberontak
"Sekali lagi kamu bergerak, habis kamu"
"Kakak mau ngapain??" Alana sudah pucat
"Operasi kamu"
Bugh bugh bugh
Alana memukul mukul dada Hanan "Kakak lepasin aku" Alana berontak sambil goyang goyang karena tidak mau berhenti memukul
Hanan memejamkan matanya hingga wajahnya memerah
"Alana!!" Bentaknya
Alana langsung panik melihat wajah Hanan berubah
Hanan membalikkan tubuh Alana, hingga Alana berada dibawah kungkungan Hanan
"Kau ada yang merasa berbeda?"
"Berbeda??? "
"Dibawah"
"Dibawah apa kak?" Alana ingin menangis menahan Hanan yang beratnya dua kali lipat dari berat badannya
Hanan menunjuk kepunyaannya
"Siapa yang akan bertanggung jawab, katakan!!"
"Kakaaaak" Alana menangis
BERSAMBUNG.......
saya suka saya suka saya suka