Perjodohan serta pernikahan yang tiba-tiba dari keputusan sepihak, membuat mereka pasrah dengan keputusan ayah mereka.
Bukannya tidak ingin menolak perjodohan itu. Justru jauh dari lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka sangat menolak perjodohan tersebut. Tapi, yah! mau bagaimana lagi, ayah mereka sama-sama memiliki sifat yang keras dan tidak suka dibantah, itulah alasan sebenarnya mereka menerima perjodohan tersebut.
Kedua orang asing yang dipersatukan secara tiba-tiba dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Si pria dengan sifat cuek, dingin dan tidak perduli dengan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Sementara si Wanita yang sifatnya cerewet, ceria, kadang dewasa, kadang manja dan sangat peduli sosial.
Karena sifat yang bertolak belakang itulah yang sering menimbulkan konflik diantara mereka. Masalah-masalah kecil yang seringkali menjadi perdebatan berakhir menjadi sebab mereka lebih saling mengenal karakter satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB Delapan "TSJC"
Hotel Permana
Riko mengeliat di kasur dan membuka matanya, dia menyadari bahwa dia ketiduran tadi sore, kemudian dia mengambil handphonennya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 19.30.
"ya ampun gue ketiduran." kata Riko dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Riko kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelah mandi Riko keluar hanya menggunakan handuk di pinggangnya kemudian meraih hpnya di tempat tidur lalu menelfon Romi.
Romi yang sedang asyik main game tiba-tiba kalah dia mengeluh.
"aaaahhhhh." keluhnya sambil memukul sofa lalu dia kaget saat hpnya yg dia pegang bergetar dan membuat hpnya jatuh, dia melirik layar hpnya dan melihat Riko yang menelfonnya.
"ya ampun Rik, loo ganggu aja." keluh Romi lalu mengangkat telfonya.
"ada apa, jam segini nelfon gue?" tanya Romi dengan nada kesal.
"apa salahnya kalau gue nelfon lo,gue itu bos lo. pokoknya lo harus selalu standby untuk selalu ngangkat telfon gue, dimanapun dan kapanpun itu, meskipun lo jatuh ke dalam jurang sekalipun." kata Riko dengan nada kesal juga.
"ya ampun Rik lo tega banget sih, lo ngedoain gue jatuh ke jurang." kata Romi dengan nada kasihan.
"udah, mana tugas yang gue perintahin tadi siang?" kata Riko dengan nada datarnya lagi.
"tugas apaan?" tanya Romi bingung.
"ngga usah pura-pura lupa." kata Riko lagi.
Romi diam sejenak memikirkannya. "ohhhhhhhh, gue ingat sekarang, tentang Bramantio itu." kata Romi diseberang telfon.
"nahhhh..lo tau." kata Riko.
"tadi udah gue kirim ke om Indra."kata Romi santai.
"haaa.. kenapa lo kirim ke papa, kan yang minta gue bukan papa". kata Riko bingung.
"gue fikir om Indra yang butuh info tentang pak Bram, tapi dia nyuruh lo untuk sampaikan ke gue." kata Romi lagi.
"ngapain jg papa nyampein sesuatu melalui perantara." kata Riko kesal.
"ya mana gue tau Rik, gue fikir semua tentang lo, papa lo harus tau, semua kegiatan lo, papa lo jg harus tau, bahkan lo ke Bandung om indra juga ke Bandung."kata Romi yang membuat Riko kaget.
"apaaa, papa ke Bandung." kata Riko teriak.
"ngga usah teriak juga kali Rik, kuping gue nihh,, kasihan." kata Romi kesal.
"kapan papa ke Bandung?" tanya Riko.
"siang tadi Rik." jawab Romi.
"papa ngapain ke Bandung." tanya Riko lagi.
"kok nanya gue sih, mana gue tau." kata Romi
Riko langsung memutuskan sambungan telfon dan segera mengenakan pakaiannya.
Riko segera keluar dari hotel dan melajukan mobilnya, Riko sangat khawatir dengan papanya yang kurang sehat. kemudian hpnya berbunyi.
"halo, ada apa?" tanya Riko kepada orang diseberang telfon yang ternyata adalah pak Ramli.
"maaf pak, tadi saya melihat bapak keluar dari hotel terburu-buru, bukannya kita mau rapat pak." kata pak Ramli.
"batalin. saya ada urusan lain." kata Riko lalu memutuskan sambungan telfon nya.
kemudian Riko menelfon mamanya
"haloo sayang.." kata mama Ayu yang sedang duduk bersama Mama Ratna di ruang TV.
"mah,, mama dimana sekarang?". tanya Riko di seberang telfon.
"mama ada di rumah tante Ratna sayang, istri om bram." kata mama Ayu.
"papa mana?". tanya Riko lagi
"papa ada di kantor om Bram nak." kata mama Ayu.
"ya udah mah, Riko matiin yah telfon nya." kata Riko.
"iya nak." kata mama Ayu.
'pasti Riko khawatir.' batin mama Ayu.
mama ratna kemudian menghampiri mama Ayu.
"ada apa?" tanya mama Ratna yang khawatir.
"tadi Riko nelfon nanyain keberadaan kami." kata Mama Ayu.
"sepertinya dia sudah tau kalau kita di Bandung, dan dia pasti khawatir sma papanya sekara." jelas mama Ayu.
"udah, ngga usah di pikirin, pasti sekarang Riko lagi menyusul papanya di kantor." kata mama Ratna.
Citra terlihat menuruni tangga lalu menghampiri mamanya dan mama Ayu untuk berpamitan karna dia ingin ke rumah Mita untuk belajar bareng.
"mah, tante, Citra pergi dulu yah." kata Citra sambil salim ke mamanya dan tante Ayu.
"jangan pulang larut malam yah nak, nanti papa marah." kata mama Ratna
"iya mah, ini belajarnya cuma sebentar kok." kata Citra lalu berangkat.
Di Kantor Papa Bram
Papa Indra dan Papa Bram berjalan menuju keluar kantor.
"gue udah laper banget bram." kata Papa Indra sambil memegang perutnya.
"tenang kita ke rumah gue, dan lo akan merasakan makanan buatan istri dan anak gue enak banget." kata papa Bram sambil mengacungkan jempolnya.
"masakan menantu gue." kata Papa Indra lalu mereka berdua tertawa.
Riko yang sudah sampai di kantor papa Braam memarkirkan mobilnya lalu turun. Riko melihat papanya sedang tertawa lepas dengan Bram.
'sepertinya papa baik-baik saja.' batin Riko menatap papanya lalu berjalan menuju ke arah mereka.
"pahh.." panggil Riko sambil berlari kecil yang membuat papa indra dan papa bram melihat Riko.
"Riko.." kata papa Indra.
"Bram itu Riko anakku." kata Papa Indra memperkenalkan anaknya.
papa Bram hanya menatap Riko dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"selamat malam om." sapa Riko.
"eh iya,, malam nak." kata papa Bram.
"wahhh,, sekarang kamu sudah setinggi ini dan segagah ini, om gak nyangka." kata papa Bram memuji sambil melirik papa Indra.
"anak siapa dulu dong, anak gueee." kata papa Indra bangga.
Riko hanya tersenyum melihat mereka.
"pah... papah kapan ke Bandung dan ngapain papa ke Bandung?" tanya Riko.
"nanti papa jelasin, setelah papa makan, papa sangat lapar sekarang." kata papa Indra yang menarik tangan papa Bram.
Riko hanya mengikuti mereka ke parkiran mobil.
"Rik, kamu ikutin om yah, kita ke rumah." kata papa Bram lalu masuk ke dalam mobil bersama papa Indra, lalu mereka pergi.
Rikopun menurut saja dengan perkataan papa Bram lalu melajukan mobilnya mengikuti mobil papa Bram.
Rumah Mita
Citra sampai di rumah Mita dengan diantar pak Tono, pak tono kemudian pulang karna disuruh Citra.
ting...tong... Citra memencet bel Rumah Mita, dan Mita pun membuka pintu.
"eh si cantik jelita udah dateng, yuk masuk." kata Mita lalu menarik tangan Citra masuk.
Citra melangkahkan kakinya masuk dia melihat kevin dan kakaknya mita sedang duduk di ruang tamu.
kevin Menatap Citra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Citra tersenyum canggung kearah kakaknya Mita, kevin masih terus memandangi Citra yang sangat cantik dengan pakaian yang berwarna pink.
Citra merasa risih karna Kevin masih terus menatapnya, lalu Citra pun berjalan mengikuti Mita ke arah kamarnya.
"katanya kita belajar cuman ber-4, kok ada kevin?" tanya Citra berbisik di belakang Mita.
Mita lalu berbalik kearah Citra.
"ya ampun Cit, kamu amnesia yah, kevin itu sepupu aku jadi wajar kalau dia disini." kata mita lalu membuka pintu kamarnya.
"aku lupa, tapi kok malam ini dia disini?" tanya Citra lagi.
"bukan cuma malam ini dia disini, tapi hampir setiap malam, bareng abang aku main game." kata Mita lalu duduk di meja belajarnya.
Citra kemudian duduk di kasur Mita lalu mengeluarkan buku-bukunya.
"Vivi sama Indah belum kesini?" tanya Citra yang membuka halaman bukunya.
"mereka udah di jalan." kata mita menghampiri Citra.
"liat deh." kata mita lagi sambil menyerahkan kertas ke Citra.
"ini apaan?" tanya Citra mengambil kertas itu.
"brosur kampus WWW." kata Mita
"kamu mau kuliah disini." tanya Citra lagi.
"iya dong, Riko kuliah disitu dan rumah Riko dari kampus itu jaraknya deket."Kata Mita sambil menatap poster di dinding yang ternyata gambar Riko semua.
Citra menghela nafasnya kasar lalu membuang brosur ke arah Mita.
"makan tuh Riko." gerutu Citra lalu berbaring.
"mereka kok belum sam...." belum selesai Citra menyelesaikan perkataannya tiba-tiba vivi mendorong pintu dengan keras dan berteriak.
"kalian lagi ngapain." teriak Vivi yang membuat Citra dan Mita kaget.
Citra melempar Vivi dengan bantal yang mengenai mukanya.
"berisikkk." ketus Citra
"kamu udah dari tadi Cit?" tanya Indah lalu duduk di kasur bersama Citra.
"belum lama juga kok." kata Citra.
"gimana kalau kita mulai aja belajarnya, nanti keburu malem banget." kata Citra lagi.
lalu mereka pun memulai pelajarannya yang di bimbing oleh Citra yang memang ahli dalam Matematika.
Mampir thor🙋🏻♀️🙋🏻♀️🙋🏻♀️