Cover by @Iqbald26
Butuh waktu untuk menyadari sebuah perasaan,bahkan tidak jarang kita terluka bahkan melukai.
Sebatas Pengganti mengajarkan kita untuk bermain rasa, menikmati sebuah kebahagiaan dari luka kecil. Sampai akhirnya kita benar-benar tau apa itu kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
Semenjak kejadian malam itu,kevan memutuskan untuk tidur di apartemen miliknya tanpa membawa Kirana,Kevan belum bisa menerima pernikahannya. Kirana seolah tak percaya bahwa penderitaannya akan datang secepat ini, bukankah seharusnya Kirana bahagia dengan pernikahannya.
Kevan selalu acuh pada gadis lugu itu,dia seolah tak peduli jika hati sang istri sedang terluka. Kirana menangis melampiaskan kesedihan yang dia alami,banyak hal yang terjadi tanpa pernah berpikir akan mengalaminya. Kesedihan seolah ramah menyapa,duka yang lalu karena kepergian orang terkasih pun belum sembuh betul,dan kini kekuatan hati Kirana harus kembali di uji.
"Saya akan pindah ke apartemen ," ucap Kevan pada Kirana
"Baik,kak,aku akan bersiap lebih dulu," sahut Kirana penuh percaya diri bahwa Kevan akan mengajaknya.
"Hanya saya,kamu tidak!," ucap Kevan sarkas membuat kirana diam mematung.
"Tapi kenapa kak, bukankah seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi?," ucap Kirana yang berusaha menahan air mata yang menyesakan dadanya.
"Itu jika atas dasar suka sama suka,tapi saya tidak menyukai kamu sebagai istri saya,jadi jangan berharap bahwa kamu akan hidup satu atap dengan saya," ucap Kevan dengan kata-kata yang semakin sarkas.
"Tapi,aku istri Kaka, bagaimana pun Kaka tidak menyukai aku,tetap saja kita sudah menikah," sahut Kirana yang sudah mulai menumpahkan air matanya
"Pernikahan ini adalah keinginan orang tua saya,tidak pernah sedikitpun saya menginginkannya,jadi lakukan apapun yang ingin kamu lakukan,dan saya pun demikian,"
"Lalu bagaimana dengan orang tua kakak?,"
"Untuk sementara sembunyikan hal ini dari mereka, sampai saatnya kita benar-benar berpisah," ucap Kevan tanpa keraguan.
"Kenapa tidak sejak awal saja kakak,menolak pernikahan ini,kenapa kakak,harus melakukan hal ini?," ucap Kirana dengan tangis yang mulai membasahi pipinya
"Saya tidak bisa menyakiti orang tua saya dengan menolak pernikahan ini,jadi apapun akan saya lakukan demi mereka,"
"Lalu,apa bedanya sekarang kak, bukankah kakak sudah menyakiti aku dan juga orang tua kakak secara tidak langsung?,"
"Entahlah,saya baru menyadari hari ini,bahwa pernikahan ini sangat membuat saya tidak nyaman,"
"Apakah tidak ada kesempatan untuk aku menjadi istri kakak,menjadi seseorang yang berarti dalam hidup kakak?,"
"Jangan pernah berharap! sampai kapan pun saya tidak akan pernah memiliki perasaan itu untuk kamu. Jadi jika di hati kamu ada sedikit saja perasaan itu,lebih baik kamu buang dari sekarang,karena saya tidak akan pernah membalasnya,"
"Apa,kakak,yakin dengan ucapan kakak saat ini?,"
"Saya sangat yakin dengan apa yang saya ucapkan,dan saya tidak pernah mengingkari kata-kata saya sendiri,"
Kirana tersenyum miris mendengar setiap kata yang menyayat hatinya,kata yang diucapkan oleh seseorang yang sudah menjadi suaminya dalam satu malam,dan harus melupakannya, untuk kemudian menganggapnya seperti orang lain.
"Baiklah,jika itu keputusan kakak,aku tidak bisa memaksa dan berbuat apa-apa. Kirana berharap sebelum kakak benar-benar melepaskan ikatan pernikahan kita, temukanlah orang yang benar-benar kakak cintai,agar aku bisa yakin untuk melepas Kaka sebagai suamiku,"
"Aku sudah terbiasa hidup dalam kesendirian,bahkan saat ini,saat aku memiliki kakak dengan harapan yang sangat besar,namun aku harus kembali menguburnya. Kak,aku berharap kakak benar-benar menemukan kebahagiaan itu,karena selalu bersedih itu tidak nyaman. Pergilah jika itu yang kakak inginkan,maafkan aku yang sudah menahan kakak dalam ikatan pernikahan ini,aku berjanji tidak akan menuntut banyak hal,cepat kembali saat kakak sudah menemukan orang yang tepat,dan aku siap pergi!," ucap Kirana yang seolah tegar namun hatinya begitu tersayat.
Kevan seolah membisu mendengar setiap kata yang diucapkan Kirana,ada sedikit rasa bersalah yang, Kevan, rasakan saat dia berkata kasar dan menyakiti Kirana,namun dengan sabarnya wanita itu membiarkan Kevan pergi,dan tidak mengekangnya dalam ikatan pernikahan.
Kevan menarik kopernya tanpa berbicara satu patah kata pun,dia memasukkan kopernya kedalam mobil dan meninggalkan rumah Kirana tanpa berpamitan,atau berbasa-basi kepada orang lain yang ada disana. Kedua pekerja dirumah Kirana merasa heran, bahwa laki-laki yang menjadi suami majikannya pergi tanpa membawa istrinya,apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam kamar Kirana menangis meraung-raung,rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya,ini lebih sakit dari kepergian orang tuanya,ini lebih pedih dari kehilangan nenek kesayangannya,dan ini berkali lipat lebih menyakitkan dari cambukan yang mengeluarkan darah,sungguh Kevan sudah meninggalkan luka yang amat dalam.
Bi Mimin yang mendengar tangisan majikannya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu,tanpa disadari pintu kamar kirana tidak tertutup dengan rapat,Bu Mimin melangkahkan kakinya ke dalam kamar,betapa pilunya melihat Kirana yang sedang memeluk lututnya,dengan isak tangis yang menyertai.
"Neng,apa yang terjadi?," ucap Bi Mimin perlahan
Kirana tetap diam dengan tangisnya,bi Mimin berinisiatif untuk memeluk Kirana,dia seolah memahami bahwa gadis itu sedang membutuhkan pelukan dari orang-orang terdekat. Bi Mimin memeluk erat, dan tak lama Kirana membalas pelukan bi mimin,Kirana menumpahkan kesedihannya pada asisten rumah tangganya,karena dia tak punya siapa-siapa lagi yang akan bersedia memeluknya dengan tulus ikhlas.
"Sudah neng, semuanya akan baik-baik saja,tenangkan pikiran,neng,minta sama gusti Allah yang terbaik untuk kehidupan Eneng Kirana,"
Tangis Kirana semakin pecah.
"Kenapa ,bi,kenapa kebahagiaan tak pernah datang kepadaku,apa aku tidak layak untuk bahagia?,😭😭"
"Eneng,orang baik dan layak untuk bahagia,jadi bersabarlah," ucap Bi Mimin kembali menenangkan majikannya
"Tapi sampai kapan bi,bahkan suami yang baru sehari aku miliki pun sudah meninggalkan aku,dia tidak menginginkan pernikahan ini,aku harus bagaimana bi,harus bagaimana?," ucap Kirana dengan tangis yang semakin menjadi.
Bi Mimin ikut menangis melihat kesedihan yang dialami majikannya,dia tidak tahu harus berbuat apa ,karena yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan pelukan tulus.
***
JIKA KALIAN TIDAK MEMBERIKAN VOTE UNTUK SAYA TIDAK MASALAH!,TAPI SAYA BERHARAP ADA BAYARAN UNTUK APA YANG SAYA TULIS MESKIPUN HANYA DENGAN LIKE DAN KOMEN. USAHAKAN LIKE SEBAGAI APRESIASI UNTUK SAYA ATAS IMAJINASI INI. TERIMA KASIH 🙏🙏
Jangan lupa like, komen dan vote ❤️😉
Jangan lupa bersyukur hari ini 😊😉