Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DOKTER HERMAN DAN DINDING KACA
BAB 7: DOKTER HERMAN DAN DINDING KACA
Keheningan yang mencekam merebak di dalam ruang tengah villa kayu tersebut. Bau amis darah Kencana Subroto yang masih hangat seolah tertahan di udara, menyatu dengan keterkejutan mendalam yang melumpuhkan dr. Sara Maheswari.
Matanya menatap Reno Devano tanpa berkedip menatap jemari sang detektif yang masih gemetar di atas arloji saku berdarah itu.
"Apa... apa yang baru saja kamu katakan, Reno?" bisik dr. Sara, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam dari luar. "Ingatan darah? Kamu... melihat masa lalu?"
Reno mengepalkan tangannya, menarik napas panjang untuk meredakan rasa pusing hebat yang menghantam pelipisnya. Rasa mual akibat menyerap kematian tragis Kencana masih bergejolak di ulu hatinya, namun ia memaksakan matanya untuk tetap fokus menatap dr. Sara.
"Aku punya waktu untuk menjelaskan semua teori gaib ini nanti, Sara," potong Reno tegas, suaranya serak dan penuh tekanan.
"Saat ini, dr. Herman Teja kusuma adalah target ketiga. Pembunuh dengan luka bakar di rahang kiri itu sedang menuju Rumah Sakit Medika. Jika kita berdebat di sini, nyawa dr. Herman melayang dalam waktu kurang dari dua puluh menit!"
dr. Sara terhenyak. Dunia ilmu medis dan logika empiris yang dianutnya seolah terguncang hebat, tetapi naluri profesionalnya sebagai tim medis darurat langsung mengambil alih. Ia menatap ceceran darah di lantai, lalu beralih menatap raut wajah Reno yang tidak memperlihatkan kebohongan sedikit pun.
"Bara!" panggil Reno setengah berteriak menuju lorong depan. "Amankan area ini dan hubungi kepolisian daerah Puncak! Berikan koordinat villa ini ke Widya! Sara, ikut aku sekarang!"
Tanpa menunggu balasan, Reno memutar tubuhnya dan berlari cepat menembus hujan deras menuju SUV VPCI. dr. Sara menyambar tas peralatan mediknya, berlari menyusul tepat di belakang sang detektif dengan benak yang masih dipenuhi sejuta pertanyaan tak terjawab.
SUV VPCI melaju membelah jalanan tol kota yang licin dengan kecepatan tinggi. Wiper kaca depan bergerak kasar menghalau air hujan, sementara sirene darurat di atas atap mobil meraung-raung membelah malam.
Di dalam kabin, Reno memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya menekan tombol pengeras suara pada saluran komunikasi internal agensi.
"Dion! Lacak keberadaan dr. Herman Teja kusuma di Rumah Sakit Medika sekarang juga!" perintah Reno tajam.
"Gue udah masuk ke jaringan internal RS Medika, Ren!" sahut suara Dion dari speaker, terdengar sangat cemas diiringi ketukan papan ketik yang liar. "dr. Herman saksim ahli kasus limbah sepuluh tahun lalu malam ini sedang bertugas sebagai dokter spesialis senior di lantai empat gedung B! Tapi ada masalah!"
"Masalah apa, Dion?!" tanya dr. Sara dari kursi penumpang depan.
"Sistem keamanan digital dan CCTV lantai empat RS Medika baru saja diretas! Polanya persis seperti yang terjadi di rumah Hartawan dan server kantor kita!" teriak Dion. "Semua kamera di lorong rawat inap mati total sejak tiga menit lalu! Pelaku sudah ada di dalam gedung!"
Jantung Reno berdegup kencang. Pria bermantel hitam itu melangkah lebih cepat dari perkiraan.
"Dion, hubungi pos penjagaan dan sekuriti lantai empat! Perintahkan mereka evakuasi dr. Herman detik ini juga!" seru Reno, makin menekan pedal gas hingga jarum spidometer menyentuh angka seratus empat puluh kilometer per jam.
"Gue udah coba panggil pos sekuriti, tapi semua jalur telepon internal gedung B dialihkan ke nomor palsu!" balas Dion frustrasi. "Kalian harus bergerak cepat!"
Reno membanting lingkar kemudi, mengambil jalur keluar tol menuju kawasan RS Medika. Di sampingnya, dr. Sara menatap profil samping wajah Reno.
Sang dokter forensik memperhatikan bagaimana pelipis Reno bercucuran keringat dingin dan bagaimana raut mukanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.
"Reno," panggil dr. Sara pelan, memecah ketegangan di antara deru mesin mobil. "Sejak kapan... sejak kapan kamu memiliki kemampuan itu?"
Reno tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan basah di depannya. "Sejak aku selamat dari kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuaku dua belas tahun lalu. Setiap kali kulitku menyentuh benda yang menyimpan jejak emosi atau trauma kematian seseorang, aku terlempar ke dalam kilas balik masa lalu mereka."
dr. Sara menelan ludah. Kepingan-kepingan teka-teki gila selama beberapa kasus terakhir mendadak menyatu di dalam kepalanya.
"Kancing baju Hartawan... jarum suntik di sela jari kaki... cara kamu menemukan bukti fisik tanpa petunjuk awal... semuanya berasal dari penglihatan itu?"
"Ya," aku Reno jujur. "Tapi penglihatan itu tidak punya nilai hukum di pengadilan. Itu sebabnya aku selalu membutuhkanmu, Sara. Aku butuh medismu untuk mengubah 'penglihatan haram' itu menjadi bukti fisik yang sah agar para penjahat bisa dipenjara secara legal."
dr. Sara membisu. Rasa marah karena telah dirahasiakan mendadak lebur menjadi kebingungan yang campur aduk. Pria di sampingnya ini bertaruh dengan beban emosional yang amat berat menyerap detik-detik kematian korban pembunuhan yang mengerikan hanya untuk memandu timnya menemukan kebenaran.
"Lalu pesan di danau itu..." bisik dr. Sara. "...pembunuh ini tahu kemampuanmu?"
"Dia tahu," jawab Reno dingin. "Dan dia menjadikan kemampuan ini sebagai panggung permainannya."
Gedung B Rumah Sakit Medika tampak tenang dari luar, diselimuti pendar lampu putih khas fasilitas kesehatan. Namun di lantai empat, suasana koridor rawat inap sangat sepi. Lampu neon di beberapa sudut lorong redup dan berkedip-kedip akibat gangguan arus pendek yang disengaja.
Reno dan dr. Sara melangkah keluar dari lift khusus medis di lantai empat. Reno menggenggam besi pertahanan dirinya, matanya menyapu setiap sudut lorong yang berlantai keramik mengilap.
Bau karbol medis yang menyengat di udara bercampur dengan aroma halus asap kimia yang asing.
"Pos sekuriti kosong," bisik dr. Sara saat mereka melewati meja penjaga. Dua petugas keamanan tergeletak pingsan di kursi mereka, tanpa luka luar jelas dilumpuhkan menggunakan gas pembius tak berbau.
Reno bergerak cepat menyusuri koridor menuju ruang kerja dr. Herman Teja kusuma di ujung lorong. Pintu kaca buram ruangan itu tampak sedikit terbuka.
Srett!
Reno mendorong pintu kaca itu dengan hati-hati.
Di dalam ruang kerja berpendingin udara tersebut, dr. Herman Teja kusuma seorang pria paruh baya berkacamata tebal terduduk kaku di kursi kerjanya. Kedua tangannya terikat di sandaran kursi menggunakan tali plastik sintetis yang tebal. Mulutnya disumbat kain hitam.
Matanya membelalak penuh teror, menatap lurus ke arah sosok bermantel hujan hitam yang berdiri di samping mejanya.
Pria bermantel hitam itu memegang sebuah alat suntik otomatis berukuran besar yang terisi cairan pekat berwarna kuning keruh.
"Selamat datang, Detektif... dan Dokter Forensik," suara berat dan pecah dari pria bertopeng itu bergema dingin di dalam ruangan.
Reno mengangkat besi pertahanan dirinya, memosisikan tubuhnya di depan dr. Sara secara refleks. "Lepaskan dr. Herman, Frans atau siapapun namamu! Pihak kepolisian sudah mengepung area bawah!"
Pria bertopeng itu tertawa pelan sebuah tawa yang sengau dan bergidik. Dengan santai, ia memutar kepalanya, lalu menurunkan kain penutup wajahnya. Tepat seperti dalam kilas balik di arloji saku Kencana, bagian rahang kiri pria itu hingga ke lehernya dihiasi jaringan parut bekas luka bakar yang mengerikan dan mengkerut.
"Panggil aku Eksekutor," ujar pria itu datar. Tangannya menempelkan jarum suntik ke pembuluh darah di leher dr. Herman yang bergetar ketakutan.
"Sepuluh tahun lalu, dr. Herman ini menerima suap miliaran rupiah untuk memalsukan laporan laboratorium limbah. Dia bilang air tanah warga aman, padahal racun raksa menggerogoti tubuh anak-anak di desa itu hingga mati mengenaskan. Termasuk keluargaku."
dr. Sara melangkah satu tindak di samping Reno, mencoba bernegosiasi secara medis. "Jika dia bersalah, biarkan hukum yang mengadilinya kembali! Kami punya berkasnya! Kami bisa membuka kembali kasus limbah itu!"
"Hukum kalian buta dan tumpul untuk orang kaya!" teriak Eksekutor dengan mata memerah murka. "Hanya penglihatan detektifmu ini yang bisa melihat penderitaan orang mati! Tapi kamu, Dokter... kamu adalah bukti betapa dibutakannya sains oleh aturan formalitas!"
Eksekutor menatap Reno dengan tatapan obsesif yang gila. "Kamu punya indra ke-6, Reno Devano. Kamu bisa melihat rahasia kematian. Harusnya kamu berada di pihakku untuk mengeksekusi para cacing tanah ini, bukan malah berpura-pura menjadi pahlawan bertopeng hukum!"
"Aku tidak akan pernah menjadi pembunuh berdarah dingin sepertimu!" tegas Reno tajam.
"Sayang sekali..." bisik Eksekutor dingin.
Tanpa peringatan, Eksekutor menekan pendorong alat suntik tersebut. Cairan kuning keruh itu meluncur cepat masuk ke dalam pembuluh darah leher dr. Herman!
"Tidak!" teriak Reno seraya melompat menerjang meja kerja.
Namun Eksekutor bergerak lebih cepat. Ia melemparkan sebuah tabung kaca kecil ke lantai di antara mereka.
PRANG!
Tabung itu pecah, melepaskan gelombang gas air mata pekat bertekanan tinggi yang langsung memenuhi ruangan kecil itu. Asap putih tebal membumbung cepat, memicu rasa terbakar yang luar biasa di mata dan tenggorokan Reno serta dr. Sara.
"Uhuk! Uhuk!" dr. Sara tersungkur ke lantai, matanya perih luar biasa dan memerah hebat.
Dalam kepulan asap tebal yang membakar, Reno mencoba merangkak menggapai tubuh dr.
Herman yang mulai kejang-kejang hebat di atas kursi. Namun dari balik asap, sebuah tendangan keras menghantam dada Reno, melempar tubuh sang detektif hingga menabrak dinding kaca penyekat ruangan hingga retak berderit.
BRAK!
Reno tergeletak di lantai, terengah-engah menahan sakit di dadanya. Dari dalam kepulan asap, sosok Eksekutor melangkah mendekati dinding kaca yang retak. Pria itu menatap Reno yang terkulai lemah.
"Brimantyo Wardhana adalah target berikutnya..." bisik Eksekutor menembus kabut asap. "Dan setelah dia tewas, namamu yang akan terukir di meja otopsi VPCI, Reno Devano."
Eksekutor berbalik dan melompati jendela luar yang sudah dipecahkan, menghilang ke dalam kegelapan malam hujan menggunakan tali peluncur darurat.
"Reno! dr. Herman kejang-kejang!" jerit dr. Sara dari balik asap, merangkak mendekati tubuh korban yang napasnya mulai tersengal parah.
Reno memaksakan tubuhnya untuk bangkit. Matanya yang perih dan berair menatap dr. Sara yang sedang berjuang membuka saluran napas dr. Herman secara darurat.
Senyuman gila sang Eksekutor dan bayangan nama Brimantyo Wardhana kini menari-nari di balik pandangannya yang kabur.
Permainan ini telah berubah menjadi perlombaan maut yang semakin dramatis dan berdarah.
Dan kali ini, sang pembunuh tidak hanya mengincar para korbannya, tetapi sedang menggiring Reno dan VPCI menuju jebakan kematian yang paling mematikan.