Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pernikahan 03.
Gaun putih brokat itu terasa mencekik leher Novia.
Satu bulan berlalu seperti blur yang mengerikan. Ancaman pembakaran kotak musik ibunya hari itu adalah skakmat.
Novia kalah total. Dan hari ini, di sebuah kapel privat yang hanya dihadiri kurang dari lima belas orang, statusnya resmi berubah.
Ia bukan lagi sekadar Novia Maharani, si murid urakan yang hobi melanggar denda OSIS. Ia adalah istri sah dari Reyhan Aldebaran.
"Senyum, Novia. Kamera sedang menyorot," bisik suara bariton di sebelahnya.
Novia melirik lewat sudut matanya. Reyhan berdiri tegap dengan setelan tuksedo hitam yang memeluk tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajah cowok itu tenang, memancarkan aura pangeran sekolah yang selama ini dipuja-puja. Tidak ada beban, tidak ada keraguan.
Seolah-olah mengikat hidup dengan gadis yang membencinya adalah hal biasa yang tertulis di agenda hariannya.
'Robot sialan' umpat Novia dalam hati.
Tangan Reyhan yang hangat tiba-tiba merayap ke pinggang Novia, menarik tubuh gadis itu mendekat demi keperluan foto keluarga.
Sentuhan fisik yang mendadak itu mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat bulu kuduk Novia meremang.
Novia refleks menegang, namun remasan lembut namun tegas di pinggangnya memaksa Novia untuk tetap diam.
"Lepas," desis Novia, nyaris tak menggerakkan bibir.
"Tahan sebentar. Lima detik," jawab Reyhan datar, matanya tetap tertuju pada lensa kamera.
Detik itu juga, Novia sadar.
Pernikahan ini bukan sekadar formalitas.
Ini adalah panggung sandiwara tingkat tinggi, dan dia dipaksa menjadi aktris utamanya.
**
Malam harinya, kenyataan menghantam lebih keras.
Novia duduk di tepi ranjang berukuran king size di dalam apartemen mewah yang dibelikan oleh keluarga Reyhan.
Kamar itu beraroma maskulin—perpaduan antara kayu cendana dan parfum mahal milik Reyhan. Semua barang-barang Novia, termasuk lemari tua dan kotak musik ibunya, sudah dipindahkan ke sini atas perintah mutlak Baroto.
Pintu kamar mandi terbuka.
Reyhan keluar dengan kaus oblong hitam polos dan celana kain santai.
Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini basah dan jatuh sedikit menutupi jidatnya, membuatnya terlihat lebih manusiawi—dan sialnya, jauh lebih tampan.
Novia langsung berdiri, memasang mode defensif. "Gue tidur di sofa."
Reyhan menghentikan langkahnya. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu menatap Novia rata. "Sofanya terlalu pendek buat ukuran tubuh lo. Tidur di kasur. Gue nggak bakal nyentuh lo kalau itu yang lo takutin."
"Gue nggak takut!" tantang Novia, dagunya terangkat. Namun, kebohongan itu runtuh saat Reyhan berjalan mendekat.
Langkah kaki cowok itu pelan, tetapi entah kenapa intimidasi yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat Novia terdesak mundur sampai bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang.
Reyhan berhenti tepat satu langkah di depan Novia.
Jarak mereka begitu dekat hingga Novia bisa menghirup aroma sabun mint dari kulit cowok itu.
"Bagus kalau lo nggak takut," kata Reyhan suara rendahnya terdengar seksi sekaligus berbahaya di keheningan malam. Dia menunduk sedikit, menyejajarkan tatapannya dengan mata bulat Novia yang berkilat marah. "Karena mulai hari ini, kita terjebak di ruangan yang sama. Dan gue nggak butuh drama tambahan."
Novia mencengkeram ujung kaus kedodorannya. Dadanya bergemuruh.
Rasa sakit dari penolakan ayahnya sebulan lalu, ditambah fakta bahwa dia sekarang terikat dengan musuh bebuyutannya, membuat emosinya mendadak tumpah.
"Lo pikir gue mau ada di sini?!" suara Novia bergetar, air mata yang sejak siang dia tahan mati-matian akhirnya lolos satu tetes. "Gue kehilangan hak atas hidup gue sendiri, Reyhan! Ayah gue ngejual gue, dan lo... lo dengan gampangnya nikmatin semua skenario ini seolah-olah lo nggak punya beban!"
Reyhan terdiam. Dia menatap lekat-lekat air mata yang mengalir di pipi Novia.
Tangan Reyhan bergerak pelan, seolah ingin menghapusnya, namun cowok itu menahan diri di udara dan menarik tangannya kembali ke dalam saku celana. Topeng sedingin es itu kembali terpasang.
"Gue juga kehilangan kebebasan gue, Novia," ucap Reyhan, nadanya melembut, namun ada kepahitan yang terselip di sana. "Tapi bedanya, gue milih buat hadapi realita, bukan nangis kayak anak kecil."
"Lo—"
Sebelum Novia sempat memaki, Reyhan berbalik arah menuju meja kerja di sudut kamar. Dia mengambil selembar kertas bermaterai yang rupanya sudah disiapkan sejak awal, lalu melemparkannya ke atas kasur tepat di samping tempat Novia berdiri.
Sebuah pulpen diletakkan di atasnya.
Novia menurunkan pandangannya, membaca judul tulisan di kertas tersebut,
SURAT KESEPAKATAN BERSAMA.
"Apa ini?" tanya Novia, suaranya serak.
Reyhan bersedekap, bersandar pada meja kerja sambil menatap Novia dengan mata elangnya yang dingin.
"Aturan main kita," jawab Reyhan tanpa emosi. "Ada dua poin mutlak yang nggak bisa diganggu gugat. Pertama, jangan pernah campuri urusan pribadi gue, begitu juga sebaliknya. Kita urus hidup masing-masing begitu keluar dari pintu apartemen ini."
Novia membaca poin pertama, lalu matanya terpaku pada poin kedua yang tertulis dengan huruf tebal. Jantungnya mencelos.
Reyhan maju satu langkah, memastikan suaranya terdengar sangat jelas dan penuh penekanan.
"Dan poin kedua... status pernikahan ini harus rahasia total di sekolah. Di depan gerbang SMA Pelita Bangsa, kita tetap Ketua OSIS dan murid pelanggar aturan. Kalau sampai ada satu orang pun di sekolah yang tahu kita tinggal satu atap... pernikahan formalitas ini selesai, dan gue nggak akan ragu buat balikin lo ke bokap lo saat itu juga."
Novia mendongak, menatap Reyhan dengan napas tertahan. Ancaman itu nyata.
Jika rahasia ini terbongkar, Baroto akan menghancurkan satu-satunya memori tentang ibunya.
Novia terjebak dalam sangkar emas yang kuncinya dipegang penuh oleh cowok di hadapannya.
Pulpen di atas kasur itu seolah menjelma menjadi belati yang siap menusuk sisa-sisa harga dirinya.
......................
...****************...
Tbc,