NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Nikahi Aku

"Kak Nala, ini bagus nggak? Jujur, ya. Jangan karena aku adiknya Mas."

Laras menyodorkan tablet ke seberang meja. Di layar, sketsa Bukit Selatan yang sudah diwarnai. Jalur trekking yang meliuk di antara kebun kopi. Kedai-kedai kecil beratap ijuk di setiap tikungan. Sebuah menara pandang dari bambu di puncak bukit, menghadap ke arah Gunung Salak.

Nala menggeser layar itu pelan-pelan, halaman demi halaman. Sudah seminggu sejak malam boba itu. Seminggu sejak dia tertangkap di sofa rumah utama, dan Laras, alih-alih bertanya macam-macam, malah langsung memeluknya dan berkata, "Akhirnya Mas punya pacar beneran!"

Nala tidak membetulkan kata pacar itu. Damar juga tidak.

"Ini bagus," katanya. "Lebih dari bagus."

"Serius?" Laras melompat sedikit di kursinya. "Kak Reza bilang juga gitu, tapi Kak Reza mah semua yang aku gambar dibilang bagus."

Di kursi sebelah, Reza pura-pura sibuk dengan laptopnya. Telinganya merah.

"Kamu kuliah apa?" tanya Nala.

"Kriminologi. FISIP UI." Laras tersenyum lebar. "Aku mau jadi polisi, Kak. Mas nggak setuju, sih. Tapi aku udah mutusin dari lama. Soalnya dulu waktu SMP aku pernah diculik, terus..."

"Laras."

Suara Damar dari ambang pintu ruang rapat. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Laras langsung diam.

"Gambarmu sudah selesai?"

"Udah, Mas."

"Kirim ke Bu Nala. Pulang. Pak Ujang sudah di bawah."

Laras cemberut, tapi dia menurut. Dia memasukkan tabletnya ke tas, menepuk bahu Nala sekali, dan keluar sambil menjulurkan lidah ke arah kakaknya.

Damar tidak menatap Nala. Dia kembali ke ruangannya dan menutup pintu.

Nala menatap pintu itu. Diculik waktu SMP. Dan Damar memotongnya seperti memotong kabel yang terbakar.

Satu lagi yang dia simpan.

***

"Gilang udah keluar dari rumah sakit," kata Reza sore itu, ketika mereka berdua saja di pantry. "Kemarin dia ke Menteng. Ngamuk. Kaca lemari pecah satu, katanya."

"Eyang?"

"Eyang cuma diem. Kamu tahu Eyang." Reza menuang kopi ke cangkirnya. "Tapi aku serius, Nala. Hati-hati. Gilang bukan orang yang lupa sama perempuan yang nusuk perutnya."

"Terima kasih, Pak Reza."

Reza menatapnya. Dua tahun laki-laki ini mengawasinya seperti mengawasi bom yang belum meledak. Hari ini, untuk pertama kalinya, tatapan itu terasa sedikit berbeda.

"Aku masih belum percaya kamu sepenuhnya," katanya. "Tapi Damar percaya. Jadi jangan bikin dia nyesel."

Dia pergi membawa kopinya.

***

Foto itu muncul di layar ponsel Nala keesokan paginya, pukul delapan lewat sepuluh, dikirim oleh nomor yang tidak dia kenal.

Tidak ada pesan. Hanya tangkapan layar dari sebuah grup WhatsApp baru. Bukan Divisi Marketing Gosip yang sudah dibubarkan. Grup ini namanya Kopi Pagi Lt. 32, dan anggotanya empat puluh tiga orang.

Fotonya diambil dari dalam mobil yang diparkir di seberang jalan. Gerbang besi rumah Pondok Indah. Nala yang berjalan keluar dari gerbang itu dengan tas kerja di bahu dan rambut masih setengah basah, pukul tujuh pagi, menurut cap waktu di sudut foto.

Di bawahnya, Vera menulis:

Ini bukan gosip ya guys, ini fakta. Jam tujuh pagi keluar dari rumah bos. Sekretaris tinggal serumah, ya pasti simpanan lah. Paviliun paviliun, emangnya kita bego?

Tiga puluh dua balasan. Nala tidak membaca semuanya. Cukup lima yang pertama.

Kalau aku jadi dia, cincin lima miliar mah sekalian minta rumah.

Pantesan dibela-belain sampai Mbak Bianca dipermaluin.

Kasihan Mbak Bianca, dikalahin simpanan.

Dia mematikan layar.

Di jalan menuju mobil pagi tadi, dia sempat berpapasan dengan tiga ibu-ibu kompleks yang jalan pagi dengan baju olahraga senada. Salah satu dari mereka menyapanya, seperti biasa. Yang dua lagi hanya menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu saling berbisik ketika dia lewat. Dia tidak tahu waktu itu kenapa.

Sekarang dia tahu.

***

Laras tidak bilang apa-apa ketika mereka makan malam bersama di rumah utama. Itu yang paling aneh. Laras yang biasanya tidak bisa diam lima menit, malam itu hanya mengaduk sup ayamnya berulang-ulang.

Setelah Damar naik ke ruang kerjanya, Laras menyusul Nala ke dapur.

"Kak Nala."

"Ya?"

Laras menggigit bibir. Dia memegang ponselnya, layarnya menyala, dan Nala bisa melihat sekilas sebuah percakapan. Dari salah satu teman kampusnya.

Lar, sorry ya nanya. Tapi kakakmu beneran punya simpanan? Itu yang di IG?

"Nggak jadi, deh," kata Laras cepat. Dia memasukkan ponselnya ke saku hoodie. "Selamat malam, Kak."

Dia pergi. Nala berdiri di dapur yang sunyi itu dengan piring kotor di tangan.

Kantor. Kompleks. Kampus. Dalam dua minggu, kata itu sudah sampai ke tiga tempat. Dan tidak satu pun dari mereka akan peduli bahwa dalam dua tahun, dia belum pernah sekali pun tidur di kamar laki-laki itu.

Simpanan. Kata yang selalu melekat di perempuannya, tidak pernah di laki-lakinya.

Nala meletakkan piring itu di bak cuci. Dia membasuh tangannya pelan-pelan, sampai jari-jarinya dingin.

Lalu dia mengeringkan tangannya dan naik ke ruang kerja Damar.

Kamis malam itu tanggal empat September. Dia akan mengingat tanggal itu.

***

Dia tidak mengetuk. Dia masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya.

Damar mengangkat kepala dari layar laptopnya.

"Kamu sudah lihat grupnya?" tanya Nala.

"Sudah. Vera sudah kuperingatkan."

"Itu tidak akan menghapus apa-apa."

Damar menutup laptopnya. "Lalu kamu mau apa?"

Nala berdiri di depan mejanya, persis di tempat yang sama di mana tiga minggu lalu dia meminta sepuluh miliar. Jari tengahnya, yang dilingkari cincin dengan tetesan merah muda itu, menekan permukaan meja.

"Kalau kamu mau aku tetap di sampingmu," katanya, "nikahi aku."

Ruangan itu sunyi.

"Bukan pacaran," lanjut Nala. Suaranya tidak bergetar. Dia sudah berlatih kalimat ini di kamar mandi paviliun dua kali. "Bukan simpanan. Bukan sekretaris yang kebetulan tinggal di halaman belakangmu. Kalau semua orang sudah menganggapku begitu, aku mau namanya ditulis dengan benar."

Damar menatapnya lama. Wajahnya tidak bergerak. Lalu sudut bibirnya naik, tapi itu bukan senyum.

"Aku tidak menikah."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak menikah." Dia bersandar ke kursinya. "Dengan Bianca, tidak. Dengan siapa pun, tidak. Kamu dengar sendiri di Menteng, kan? Itu bukan untukmu, Anala. Itu untuk semua orang."

"Jadi aku harus terus jadi bahan cerita di grup kantor, di kompleks, di kampus adikmu?"

"Kamu bisa pindah ke apartemen. Aku belikan."

"Supaya grupnya bilang simpanan yang dibelikan apartemen?"

Rahang Damar mengeras.

"Aku tidak akan menikah," katanya, lebih pelan, lebih dingin. "Jangan minta itu lagi."

Nala menatapnya. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sama seperti di malam sepuluh miliar.

"Baik, Pak Damar."

Dia berbalik, membuka kunci pintu, dan keluar.

***

Keesokan harinya, Damar hanya bicara soal pekerjaan.

Jadwal rapat. Revisi kontrak. Laporan kuartal yang harus dikirim sebelum jam tiga. Setiap kali Nala masuk ke ruangannya, laki-laki itu tidak mengangkat kepala, dan setiap kali dia keluar, dia menjawab dengan dua kata yang sama.

"Baik, Pak Damar."

Di koridor dekat lift, dia berpapasan dengan Vera. Perempuan itu sedang tertawa dengan dua staf marketing, dan tawa itu langsung berhenti ketika dia melihat Nala.

Nala tersenyum padanya. Senyum yang paling ramah yang dia punya.

"Pagi, Mbak Vera."

"P-pagi, Bu Nala."

"Fotonya bagus, Mbak." Nala menekan tombol lift. "Tapi lain kali ambil dari sisi kiri gerbang. Jam tujuh pagi, cahayanya lebih bagus dari situ."

Pintu lift terbuka. Dia masuk. Sebelum pintu itu tertutup, dia sempat melihat wajah Vera yang merah padam, dan dua staf di sebelahnya yang menunduk menahan tawa.

***

Malam itu, pukul sebelas, dia duduk di teras paviliun dengan lutut dipeluk.

Lampu ruang kerja di rumah utama masih menyala. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat siluet laki-laki itu di balik tirai, berdiri di depan jendela, tidak bergerak.

Ponselnya berbunyi.

Notifikasi bank. Dana masuk Rp100.000.000,00. Pengirim: Damar Hadiwijaya. Berita transfer: Jangan telat.

Satu detik kemudian, pesan WhatsApp.

HUT perusahaan besok. Aku tidak mau disetiri orang lain. Kamu yang menyetir.

Seratus juta. Untuk menyetir. Nala menatap angka itu dan hampir tertawa. Laki-laki itu menolak menikahinya dengan satu kalimat, lalu membayarnya seratus juta supaya dia mau duduk di sebelahnya besok malam.

Dia mendongak ke jendela itu lagi. Siluetnya sudah tidak ada. Lampunya padam.

Nala membalikkan ponselnya dan meletakkannya di lantai teras, layar menghadap ke bawah.

"Kalau begitu," bisiknya ke halaman yang gelap, ke bunga-bunga yang tidak terlihat, "aku akan membuatmu tidak bisa tidak menikahiku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!