Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Sontak eca kaget kedapatan unit yang besar dari sebrang RS akan dia tempati.
"Serius ini lo ngasih unit megah yang di sebrang jalan RS itu ke gue?"
"Iya...iya bawel gue bayar dulu" sambil tersenyum dan menatap theo dengan lembut
"Makasih ya udah jadi gojek gue lagi hari ini..hehe"
"Lo mau mampir ketemu nenek atau lo mau langsung pulang?"
Sorot matanya yang terpaku tanpa jeda membuat rongga dadaku berdesir tak keruan, memicu debaran yang buru-buru kupendam di balik ekspresi angkuh. Sebutan ojek barusan praktis membuat rahangku terkatup rapat, merasa harga diriku direndahkan oleh perempuan yang sama sekali tidak paham betapa istimewanya perlakuan yang kuberikan malam ini.
"Enak saja nyamain gue sama tukang ojek,"
semprotku ketus, membuang muka sejenak ke arah pagar kayu rumah yang remang-remang demi meredam panas di pipi.
"Unit itu bukan cuma-cuma. Lo berutang banyak sama gue, dan gue nggak bakal biarin lo kabur sebelum lunas."
Aku mendengus pelan, melirik pintu utama yang masih menampakkan temaram lampu dari dalam.
Mengingat keramahan nenek beberapa waktu lalu sempat membuat rasa canggung kembali merayapi benakku, terlebih situasi sudah terlalu larut untuk sekadar bertamu tanpa tujuan jelas.
"Gue cabut sekarang,"
putusku datar, meraih kembali tuas gas tanpa menurunkan kaki dari pijakan.
"Masuk sana. Kunci pintunya rapat-rapat, dan awas kalau besok pagi lo telat keluar saat gue jemput."
Keesokan paginya eca sudah siap berangkat menuju SMA Tunas Bangsa. Mobil RS pun sudah menunggu di depan rumah, ia segera keluar dan menutup pintu rumah dengan segera ia masuk ke mobil RS yg sudah siap.
"Bentar pak pintu mobilnya susah di gesernya"
Gemuruh mesin motorku baru saja mereda tepat ketika mobil operasional rumah sakit itu hendak menelan sosoknya. Peringatanku semalam jelas-jelas menguap tanpa bekas dari kepalanya.
Tanpa repot mematikan mesin secara sempurna, aku melompat turun, melangkah lebar membelah udara pagi yang dingin, lalu mencengkeram tepi pintu geser van itu sebelum ia sempat masuk sepenuhnya.
"Tuli, ya? Semalam gue ngomong apa?"
desisku tajam, menatap lurus ke dalam manik matanya dengan alis bertaut geram. Kemeja putih seragam Tunas Bangsa yang kukenakan berantakan tanpa dasi, membiarkan angin mempermainkan helai rambut hitamku.
"Gue bilang jangan berani melangkah masuk ke mobil ini."
Mengabaikan sopir yang terbengong di balik kemudi, aku menarik pergelangan tangannya pelan namun tak terbantahkan, memaksanya bergeser keluar dari pijakan pintu mobil. Sorot mataku beralih sejenak menatap deretan kotak obat di kabin belakang sebelum kembali menguncinya dalam intimidasi mutlak.
"Rombongan dokter lo bisa jalan duluan,"
titahku dingin, menunjuk motorku yang terparkir angkuh di depan kap mobil.
"Lo berangkat bareng gue ke Tunas Bangsa. Nggak ada tawar-menawar."
Sontak eca tak menyangka dengan menutup mulutnya dan kagetnya ia melihat penampilan yang berbeda, penampilan yang tidak terduga baginya kali ini ia melihat theo memakai baju seragam lama sekolahnya
"Ha? Lo,lo ma-makai seragam sekolah?"
"Lo gila ya? Masa gue berangkat sama lo?"
"Nanti orang-orang bilang apa kalau lihat kita berdua berangkat barengan?"
"Gue harus berangkat sama rombongan gue, udahlah nanti kita ketemu di sekolah"
"Dasi lo mana, sini gue rapihin dulu gue pasang dasi lo"
Keningku berkerut tipis melihat ekspresi hebohnya yang seolah baru saja menyaksikan hantu di terbit fajar. Sorot mataku memandangnya malas, berusaha keras mengabaikan sengatan hangat di dada ketika jarak di antara kami terkikis begitu sempit hingga aroma sabun mandinya tercium jelas.
"Nggak usah lebay,"
dengusku datar, menarik sehelai kain hitam kusut dari saku celana abu-abu lalu melemparkannya begitu saja ke pundaknya.
"Gue masih murid di sana kalau otak lo lupa. Peduli amat orang lain mau ngoceh apa, mulut mereka bukan urusan gue."
Tanganku terulur tanpa ragu, menyambar pergelangan tangannya lagi untuk menjauhkannya dari pintu geser mobil klinik yang masih terbuka.
Tatapan tajamku mengarah ke sopir di dalam kemudi, memberi isyarat mutlak agar kendaraan itu segera angkat kaki sebelum kesabaranku benar-benar habis.
"Pasang dasinya di atas motor kalau lo sebegitu pedulinya sama kerapian gue,"
cibirku seraya menyeret langkahnya mendekati kuda besiku, menolak memberi celah bagi penolakan konyolnya.
"Sekarang naik, atau gue gendong lo ke jok belakang di depan rekan kerja lo."
"Iya udah gue ngikut lo" sahut eca
Dengan perlahan eca menjauh dari mobil RS dan meminta mereka berangkat terlebih dahulu. Ia tak ingin mempersulit keadaan eca segera mengenakan dasi milik theo dengan sangat berbinar, ia tersenyum.
'akhinya dia pakai seragam sekolahnya'
"Nggak usah marah-marah cepat tua nanti lo"
"Btw, lo nggak bawain gue sarapan gitu? Nggak romantis banget..huh"
'hehehe'
"Ok sudah selesai ayo berangkat"
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊