"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 | KECEPATAN DI ATAS 300 KM/JAM
"Aku tidak mau pergi dengan stalker gila sepertimu!" pekik Aleeza keras kepala, menolak mentah-mentah saat Austin membukakan pintu penumpang mobil sport merah metalik miliknya yang terparkir tidak jauh dari gerbang vila Julian.
Austin menyunggingkan senyuman miring yang begitu dominan. "Oh, tidak mau?" bisiknya menggoda.
Sebelum Aleeza sempat melangkah pergi, Austin dengan sigap mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan ala pengantin (bridal style) dan memasukkannya secara paksa ke kursi pengemudi, lalu berlari memutar untuk masuk ke sisi kemudi.
"Kau benar-benar menyebalkan, El Oso!" tukas Aleeza kesal, menggeser tubuhnya ke sisi penumpang.
Austin hanya tertawa kecil, melirik sekilas ke arah Aleeza yang masih sibuk merapikan lipatan bajunya. "Kau sedang apa? Ada serangga di tubuhmu?" canda Austin.
"Kau serangganya! Sekarang katakan, di mana lagi kau meletakkan alat penyadap dan pelacak di tubuhku, hah?!" bentak Aleeza geram, meluapkan seluruh emosi kekesalannya yang menumpuk.
Meski dalam benaknya bayangan pengkhianatan Julian dan Karina sempat terlintas kembali dan mencabik-cabik hatinya, kemarahan luar biasa pada pria di sampingnya ini berhasil mendistraksi rasa sakit itu.
Austin tertawa renyah. "Jika aku beritahu, mana bisa itu dikatakan penyadap rahasia, Mi Amor?"
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Austin tiba-tiba menginjak pedal gas dalam-dalam, melesatkan Lamborghini Veneno Roadster berwarna merah metalik itu dengan kecepatan mengerikan mencapai lebih dari 320 kilometer per jam di jalanan tol malam hari!
CIIIIT—!
"El Oso! Tolong kalau kau ingin mati bunuh diri, jangan bawa-bawa aku! Turunkan kecepatanmu sekarang!" jerit Aleeza histeris, mencengkeram erat sabuk pengamannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Austin melirik sekilas, tersenyum miring penuh ejekan. " Siapa yang mau mati, babe? Aku hanya memaksimalkan fungsi mobil seharga empat setengah juta dolar ini. Mengemudikannya secara pelan layaknya kakek-kakek sama sekali tidak ada dalam rencanaku."
"Dengar, nyawaku jauh lebih mahal daripada harga mobil pameranmu itu, bastard!" protes Aleeza dengan napas tersengal.
"Well, kau takut?" tantang Austin semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
"Aku tidak takut!" elak Aleeza, egonya langsung terpancing meski jantungnya nyaris copot dari rongga dada.
Austin tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi itu. Dengan satu tombol otomatis, ia membuka atap mobil convertible tersebut, membiarkan terpaan angin malam berkecepatan tinggi menghantam kabin secara langsung.
"Jika kau tidak takut, buktikan," tantang Austin lembut namun menantang. "Berdiri dan rentangkan tanganmu sekarang."
"Kau berniat membunuhku?!!" teriak Aleeza melotot ngeri.
"Makanya, buktikan kalau jurnalis pemberani ini tidak bernyali ciut," seringai Austin.
Didorong rasa kesal karena diremehkan dan keinginan kuat untuk membuang jauh-jauh beban rasa sakit di dadanya, Aleeza perlahan meraih tangan Austin, lalu dengan napas tertahan, ia memberanikan diri berdiri di kursi penumpang dengan atap mobil yang terbuka lebar!
Angin malam berkecepatan 320 km/jam langsung menghantam tubuhnya.
Aleeza memejamkan mata sesaat. Namun, begitu ia perlahan membuka matanya dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, sensasi luar biasa menghantam batinnya.
Jantungnya berdegup kencang karena takut, namun di sisi lain ia merasa sangat bebas.
Terpaan angin kencang itu seolah menyapu bersih seluruh sisa air mata, kepedihan akibat pengkhianatan Julian, dan rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya. Adrenalin menghapus segalanya.
"Lihat, kan?! Aku tidak takut! Ini menyenangkan, El Oso!"teriak Aleeza di tengah deru angin, tawanya akhirnya lepas untuk pertama kalinya malam itu.
Austin melirik dari kursi pengemudi, menatap siluet wanita di sampingnya dengan binar kekaguman yang amat dalam. Di bawah pendar lampu jalanan kota Madrid, Mawar Berduri miliknya kembali mekar lebih kuat, lebih liar, dan sepenuhnya mempesona.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!