Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 23
“Bukan hanya sifatmu yang berubah, kepercayaan terhadap suami juga krisis, kurang apa selama ini Mas ke kamu, Janti?” tanyanya lirih, sudut maha Herlan berembun.
Herlan kembali menggunakan cara licik. Menyerang rasa percaya diri istri pertama, dan memanfaatkan sifat tak enakan seorang Arjanti.
Jika itu jauh sebelum kehadiran Saila, maka Janti langsung meminta maaf meski bukan dia yang salah. Kini tidak lagi, malah menantang. “Kurangmu banyak, Mas.”
Tangan kanan terangkat dengan jari terkepal. “Pertama, sikapmu condong ke orang tua dibandingkan istri yang butuh dilindungi, ditenangkan, dan dimenangkan.”
“Kedua.” Setelah jari jempol terbuka, kini telunjuknya teracung. Ia tatap dalam wajah suaminya. “Peranmu sebagai anak memang patut diacungi jempol, namun tidak dengan seorang suami — segala hal tentang kita, dirimu masih butuh orang tua untuk memikirkan, memutuskan, bahkan nyaris tak ada privasi hubungan suami-istri.”
“Ketiga,” katanya dengan suara jauh lebih kecil namun dipaksakan tetap menyuarakan. “Adil dalam berpoligami, nyatanya nol besar. Aku sebagai istri pertama serasa selingkuhan. Jika kamu ingin mendekat, harus mengendap-endap agar tak ketahuan Saila. Terus pembagian nafkah, 2 juta sebulan untukku, sementara dia kalian hujani barang-barang mewah.”
“Selanjutnya.” Tarikan napasnya diatur senatural mungkin, begitu juga mimik wajah. “Pembagian waktu kebersamaan — aku dapat sisa-sisa dari wanita yang memonopoli, dan kamu membiarkan hal itu terus-menerus terjadi. Lainnya, coba pikirkan sendiri, itupun kalau dirimu mau, jika tidak, aku gak memaksa.”
Diam, membisu, hanya itu yang bisa dilakukan Herlan. Mau menyanggah, apa yang dikatakan oleh Janti adalah kebenaran.
Sebulan ini, lebih banyak waktu dihabiskan dengan Saila, bahkan tak tersisa sedikit untuk sekedar mengobrol dengan istri pertamanya.
“Lagian gak ada gunanya kamu bermesraan dengan Herlan. Ngasilin anak juga nggak, buat orang naik darah bisanya,” sahut Darti tak sopan.
Janti yang sebulan ini memilih menghindari perdebatan, malas meladeni ibu mertua serta lainnya, kini dia melangkah mantap, berdiri di depan wanita duduk di kursi roda.
Kalimatnya tertuju kepada ibu mertua, namun tatapan mata terarah ke wanita yang memegangi gagang kursi roda. “Memang gak ada gunanya, Bu, karena dirimu belum merasakan sakitnya, maka dari itu menyepelekan efeknya.”
“Tapi tenang saja, Bu. Ibarat kata, sepandai-pandainya tupai melompat, ada kalanya terjatuh. Tinggal tunggu kapan waktu itu datang,” sambungnya dengan senyum penuh perhitungan.
Kening Darti mengerut, dia tidak paham. “Kamu ngomong apa, gak nyambung.”
“Ya karena Ibu tidak peka. Sesekali, insting tajam mencium aroma uang, coba dialihkan untuk mencari wangi asing, biar Ibu juga merasakan bagaimana sensasinya luka basah dikucuri cuka,” ia kembali memberi teka-teki.
Astuti menelan ludah. Gesturnya kian gelisah, terlebih sulit untuk memalingkan muka, seolah mata tajam Arjanti menghipnotisnya.
Dari arah depan, terdengar suara berisik, lalu beberapa saat kemudian, seseorang berseru riang.
“Putriku, Saila, kamu hamil, Nak?” Tanira melepaskan pegangan koper, dan benda berukuran besar itu dibiarkan saja. Dia tergesa-gesa mendekati wanita yang masih menangis ditenangkan ibu mertua.
“Ada apa ini? Wanita hamil muda gak boleh berwajah muram apalagi bermandikan air mata kesedihan?” tanyanya tidak senang.
Saila memeluk pinggang ibunya. “Si Janti meragukan anak yang kukandung, Ma. Dia juga menyepelekan seorang ibu kehilangan putrinya hingga nyaris depresi.”
Lantas, Tanira memandang nyalang istri pertama menantunya. “Wanita mandul seperti dia mana paham rasanya kehilangan bayi yang dikandung selama sembilan bulan, diperjuangkan hingga mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Jangan diambil hati, Saila.”
Herlan begitu saja melupakan jika masih banyak hal harus diselesaikan dengan istri pertamanya. Dia malah sibuk menenangkan dengan cara memeluk sayang.
“Mas percaya padamu, Saila. Sedikitpun tak meragukan anak yang kamu kandung ini.” Perut istri muda diusap penuh perasaan.
Astuti tersenyum sinis mengejek wanita bergeming menyaksikan adegan romantis itu.
“Sana bawa istrimu jalan-jalan! Jangan lupa belikan emas, pakaian, dan makan enak di restoran mewah. Saila harus bahagia, supaya anak dalam kandungannya baik-baik saja,” ucap Darti riang.
“Jangan dipikirkan omongan Janti, Saila. Dia cuma iri. Ibu paham sekali perasaanmu yang sensitif efek kehamilan, kan kita sama-sama pernah hamil, gak kayak dia. Bisanya ngabisin beras dirumah ini,” hinanya tanpa ampun.
Herlan mengusap air mata di pipi kemerahan, hidung berair. Tak lagi peduli pada perasaan wanita lainnya, ia kecup penuh penghayatan kening calon ibu dari anaknya ini. “Ayo, Sayang!”
Sepasang suami-istri itu beranjak. Sang wanita dirangkul, dan kepalanya bersandar pada lengan si pria.
Senyum simpul menghiasi bibir merah muda wanita yang masih menatap punggung pria bersama istri kedua. ‘Terima kasih Tuhan, rasanya tak lagi semenyakitkan waktu diawal.’
Dia tidak bersembunyi demi menghindarkan hatinya dari rasa sakit pengkhianatan cinta, namun memilih menghadapi hingga menginginkan mati rasa agar terbiasa.
“Kamu lihat!” tutur Darti, salah menerka air mata yang membasahi pipi Arjanti dikira pelampiasan kesedihan tak terbendung.
“Namamu tak lagi berarti, dan sebentar lagi kehadiranmu pun gak bakalan terlihat lagi di mata putraku. Sadar dirilah! Gegas pergi dari sini, dan jangan sekali-kali berani menuntut harta gono-gini. Kamu datang dengan tangan kosong, bertahun-tahun numpang hidup, maka keluarlah dengan cara sama!” tegasnya.
“Pergilah setelah dirimu melunasi hutang. Gak sudi aku memberi barang seperak. Menampung perempuan mandul itu ibarat memelihara kesialan di rumah ini!” lagi dia menghina.
Tanira pura-pura tak peduli, aslinya tersenyum dibalik sikap acuh tak acuh.
“Aku bertahan bukan karena keinginan melainkan masih ada tanggungan. Tapi Ibu tenang saja, gak lama lagi waktu itu tiba juga, dan harap ingat satu hal ini! Seseorang yang pergi setelah menghabiskan sisa rasa dalam hati, melunasi hutang piutang demi membeli kembali harga dirinya, maka tak ada alasan untuk dia kembali,” jawabnya mantap.
“Sok-sokan jadi orang penting, aslinya kamu itu gak berguna! Nyusahin, bak parasit dirumah ini. Jangankan menyesal, mengingatmu pun aku gak sudi, Janti!” balas Darti.
“Jeng, aku kasih saran ya … semisal nanti Janti mau minggat, pastikan dulu dia cuma bawa barang-barangnya, jangan sampai menyembunyikan benda berharga,” celetuk Tanira.
Mata Darti pun membulat sempurna. Dia paling takut hartanya dicuri, terlebih oleh menantu tak dianggapnya ini. “Astuti, Lasti! Geledah kamar Janti. Sekarang!”
.
.
Bersambung.
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan