NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - ANCAMAN TANPA SUARA

Deru halus mesin truk rakitan milik Onad mati sepenuhnya tatkala roda-roda raksasanya berhenti bergulir di pelataran samping Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Distrik Barat. Kendaraan berlapis baja itu bertengger teduh di bawah naungan deretan pohon peneduh rindang yang membentang di sepanjang trotoar samping. Di dalam kabin dan bak belakang, keheningan pekat seketika menyelimuti suasana, hanya disisakan oleh suara desir angin pagi yang menggesek dedaunan.

Steve bergerak cepat meloncat turun dari bak belakang tanpa menimbulkan bunyi benturan keras. Tangannya mencengkeram erat pipa besi tebalnya, sementara mata tegasnya memindai setiap celah di sekitar pintu masuk minimarket SPBU. Luna berdiri di sisinya, mempertahankan posisi busur recurve dengan anak panah tersangkut siap tembak di tali senjatanya.

"Bawa jeriken dan selang spiralnya ke sini, Onad," bisik Luna seraya memberi isyarat tangan seraya menatap sekeliling pelataran.

Onad merangkak keluar dari bak truk dengan gerakan berjingkat yang sangat hati-hati. Pria eksentrik itu memeluk dua jeriken besi kapasitas lima puluh liter, sementara Endru berjalan mengekor di belakangnya membawa gulungan selang spiral transparan seraya menggenggam erat pipa besi hollow latihannya.

"Eke bergerak sehalus bulu angsa nih, Jeng Luna," bisik Onad seraya menyunggingkan cengiran tirusnya dari balik kacamata merah.

"Bagus. Endru, bantu Onad pasang selang di kran buangan truk tangki itu. Steve dan aku menutupi posisi kalian dari sudut luar," instruksi Luna jernih seraya menepuk pelan bahu Endru.

Endru mengangguk mantap, menatap Nancy yang memantau situasi dari atas bak truk seraya memegang tablet digitalnya. Binar mata penuh perhatian dari Nancy menyuntikkan keberanian ekstra di dada sang asisten apoteker. Endru dan Onad segera membungkuk di bawah kolong tangki truk merah putih, mulai membuka rantai pengunci kran solar dengan kunci pas.

Dentang halus logam kunci pas yang beradu dengan jeruji rantai terdengar berirama di tengah kesunyian pelataran SPBU. Luna melangkah dua meter ke depan, memosisikan tubuhnya di dekat batang pohon peneduh terbesar yang berada di tepi trotoar.

Mata kelam sang mantan taruna tak henti menyapu garis perbatasan antara pelataran semen dan deretan pepohonan liar di belakang SPBU. Sejak berdiri di area tempat pembakaran abu hangat di Bab 32 tadi, naluri taktis Luna merasakan ada ketidakberesan yang janggal pada atmosfer sekitar.

Udara pagi terasa terlalu tenang. Tidak ada cicitan burung gereja, tidak ada derit serangga pohon, bahkan gesekan ranting pepohonan di atas kepala mereka terasa tidak selaras dengan arah embusan angin fajar.

"Steve," bisik Luna sangat halus tanpa mengubah arah pandangannya.

Steve yang berjaga di sisi kiri truk tangki mendadak menegakkan posisi berdirinya. Pria tegap itu melangkah perlahan mendekati Luna seraya mencengkeram pipa besinya lebih kuat.

"Ada apa, Luna? Kamu mencium bau spora?" tanya Steve berbisik seraya merapatkan bahunya di samping Luna.

"Bukan bau. Gesekan ranting di dahan pohon atas itu," petunjuk Luna seraya mengarahkan pandangan matanya ke atas tajuk pohon peneduh berdaun lebat sekitar lima meter di depan mereka.

Steve menengadah mendongak perlahan, menatap kerimbunan ranting dan dedaunan hijau pekat di atas kepala. Pada awalnya, ia hanya melihat lambaian cabang kayu biasa yang tergoyang angin. Namun, saat matanya menyesuaikan fokus dengan bayangan gelap di sela-sela dahan, dada pria tegap itu seketika berdesir dingin.

Di atas salah satu dahan kayu tebal berukuran lengan orang dewasa, sesosok makhluk bertubuh sangat kurus meliuk kaku. Kulit tubuhnya pucat pasi bertumpuk kerak jamur kekuningan yang tipis, sementara bagian kepalanya ditumbuhi corong-corong jamur memanjang seperti benang enoki yang menjuntai menutupi area telinga dan dahinya.

Makhluk itu—jenis pemburu senyap atau yang dijuluki Onad sebagai 'Kunti Enoki'—merayap perlahan tanpa suara di sepanjang dahan kayu. Tidak ada erangan serak, tidak ada decak napas, dan tidak ada helai daun yang gugur saat empat tungkainya yang panjang mencengkeram kulit kayu dengan presisi yang mengerikan.

"Dia merayap tanpa suara sama sekali..." gumam Steve seraya menelan ludah kaku.

"Jangan buat gerakan mendadak," peringatkan Luna seraya menggeser jemarinya di tali busur recurve.

"Monster jenis ini tidak mengandalkan penglihatan mata biasa. Corong jamur di kepalanya peka terhadap getaran frekuensi udara dan detak suara di bawahnya. Dia sedang mengincar Onad dan Endru yang ada di bawah tangki," pangkas Luna memberikan analisis taktis yang dingin.

Di bawah kolong truk tangki, Onad dan Endru masih sibuk mengulur selang spiral ke dalam mulut jeriken besi, tidak menyadari bahwa maut tanpa suara sedang mengintai tepat lima meter di atas kepala mereka.

"Aduh, baut kran ini keras amat sih," bisik Onad pelan seraya menekan kunci pasnya.

Suara gesekan baut kran tersebut mendadak membuat corong jamur di kepala makhluk pemburu senyap itu bergetar halus. Makhluk kurus meliuk itu menegakkan kepalanya, memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat di atas dahan kayu, lalu memosisikan kedua kaki kakunya dalam sudut cengkeraman siap melompat turun.

"Dia mau menerkam Endru!" seru Steve dalam bisikan panik seraya bersiap menerjang ke depan.

"Tahan posisimu, Steve! Tembakan panah di tempat gelap bisa meleset kalau dia melompat," tahan Luna seraya memegang lengan tegap Steve.

Di atas bak truk, Nancy yang memantau layar tablet digitalnya mendadak menangkap pendaran titik merah bergerak cepat di sensor inframerah kamera tabletnya. Wanita berkacamata itu menengadah kaget, menatap ke arah kerimbunan pohon tepat di atas Onad dan Endru.

"Endru! Onad! Awas di atas kalian!" jerit Nancy ketakutan seraya menunjuk ke arah dahan pohon.

Jeritan Nancy seketika memecah ketenangan sunyi pelataran SPBU. Makhluk pemburu senyap itu tidak lagi menunggu. Tanpa mengeluarkan raungan sedikit pun, tubuh kurus meliuknya meluncur turun dari dahan pohon bagaikan bayangan hitam yang dijatuhkan dari langit, mengincar leher Endru yang sedang berlutut di samping jeriken.

"Endru, merunduk!" teriak Steve seraya melemparkan tubuh tegapnya ke depan dengan kecepatan refleks yang luar biasa.

BASHHH!

Steve melompat memotong garis jatuh makhluk tersebut, mengayunkan pipa besi tebalnya dalam satu putaran pinggul yang sangat kuat di udara. Ujung besi tebal Steve menghantam tepat pada rusuk kiri sang pemburu senyap sebelum makhluk itu sempat menyentuh bahu Endru.

Dua tubuh itu bergulingan keras di atas aspal berdebu pelataran SPBU. Onad menjerit kaget seraya melompat mundur menabrak roda truk, sementara Endru dengan cepat berguling menjauh seraya mengacungkan pipa besi hollow-nya dengan kuda-kuda latihan yang diajarkan Steve kemarin.

Makhluk pemburu senyap itu membalas memutar tubuhnya dengan kelenturan tulang yang tidak manusiawi. Tanpa erangan sedikit pun, mulutnya yang dipenuhi kerak jamur terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi runcing menghitam, lalu melompat merayap cepat di atas tanah menyasar kaki Steve.

BSSST!

Sebuah anak panah meluncur deras membelah udara pagi, menembus tepat pada engsel lutut kanan monster kurus tersebut sebelum cakar kaku jemarinya berhasil menggapai sepatu Steve.

Anak panah akurat milik Luna membuat gerakan pemburu senyap itu tersendat parah di atas aspal, menciptakan celah bagi kelima penyintas untuk menyatukan barisan pertahanan di pelataran SPBU.

"Pertahankan formasi tempur! Musuh jenis senyap ini tidak sendirian di pepohonan!" perintah Luna tegas seraya menarik anak panah kedua dari tabung bahunya.

Di bawah naungan kanopi SPBU Distrik Barat yang mencekam, pertempuran melawan ancaman tanpa suara resmi meletus, menguji kesolidan, keberanian, dan chemistry murni dari kelima pahlawan ini dalam mempertahankan hidup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!