Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — BEKAS CENGKERAMAN DAN BISA GAIB
Cahaya matahari pagi menyusup dingin melalui celah kisi-kisi jendela kamar tidur.
Ningsih masih berlutut di samping ranjang bambu, mengompres dahi Dedek yang membara panas.
Kain kompres basah itu mendadak mengering dan mengeluarkan kepulan asap tipis saat menyentuh kulit dahi anak kami.
“Mas... panas badan Dedek makin tinggi sekali pagi ini,” rintih Ningsih dengan mata sembap air mata.
“Kulit lehernya yang memar hitam ini juga makin menghitam dan melebar, Mas,” lanjutnya menangis terisak.
Aku mendekati tepi ranjang dengan dada yang bergemuruh dihantam kepanikan luar biasa.
Jemariku meraba bekas memar lima jari hitam raksasa di leher halus anakku.
Kulit di sekitar memar itu terasa sangat dingin membekukan, seolah-olah dilapisi oleh kepingan es batu.
“Kita harus segera membawa Dedek ke klinik Mantri Prasetyo sekarang juga, Ningsih,” tegasku cepat.
“Iya, Mas, ayo kita jalan sekarang sebelum kondisi Dedek tambah parah!” sahut Ningsih panik.
“Tolong ganti baju Dedek dan balut lehernya memakai selendang kain goni ini, Ningsih,” pintaku mengarahkan.
“Kenapa lehernya harus ditutupi selendang tebal begini, Mas?” tanya Ningsih bingung.
“Biar lehernya tidak terkena terpaan angin dingin di jalanan desa nanti, Ningsih,” jawabku berbohong.
Aku sengaja menyuruh Ningsih menutup leher Dedek agar warga desa tidak melihat bekas cengkeraman gaib itu.
Ningsih mengangguk pelan, lalu membungkus tubuh Dedek dengan kain sarung tebal dan selendang.
Aku menggendong tubuh kecil anakku yang menggigil hebat, melangkah keluar rumah panggung.
Sepeda motor tua di samping rumah segera kunyalakan mesinnya dengan engkol kaki yang keras.
Ningsih naik membonceng di belakangku sambil memeluk erat tubuh Dedek yang terkulai lemah.
Motor memacu cepat menyusuri jalanan tanah desa yang tertutup debu dan embun pagi.
Sepanjang perjalanan, aroma wangi bunga kantil busuk dan bau pandan basah terus mengekor di belakang kami.
Aroma gaib itu seakan-akan ikut menumpang di atas spakbor belakang motor tua saya.
Sepuluh menit berkendara, kami tiba di halaman rumah dinas Mantri Prasetyo.
Bangunan tembok putih tua itu tampak sepi di bawah naungan pohon asam jawa yang rimbun.
Brak!
Aku mendorong pintu kayu klinik dengan terburu-buru tanpa memedulikan kesopanan lagi.
“Pak Mantri! Tolong anak saya, Pak Mantri!” teriakku panik memanggil dari ruang tunggu.
Mantri Prasetyo keluar bergegas dari kamar periksa sambil merapikan stetoskop di lehernya.
Lelaki paruh baya berkacamata tebal itu terkejut melihat raut wajah panik kami berdua.
“Ada apa dengan Dedek, Surya?” tanya Mantri Prasetyo sambil mendekati kami.
“Anak saya mendadak demam tinggi sekali sejak tengah malam tadi, Pak Mantri,” jawabku gemetar.
“Baringkan tubuhnya di atas meja periksa tempat tidur ini sekarang juga,” perintah Mantri Prasetyo.
Aku segera membaringkan tubuh Dedek yang terkulai pasrah di atas kasur periksa berlapis perlak.
Mantri Prasetyo menempelkan stetoskop ke dada Dedek, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.
Dahi Mantri Prasetyo mendadak berkernyit sangat dalam saat menempelkan termometer ke ketiak Dedek.
“Suhu badannya sangat tinggi menembus empat puluh satu derajat Celsius,” kata Mantri Prasetyo heran.
“Tapi denyut nadinya terdengar sangat lambat dan lemah sekali bagaikan detak orang pingsan,” lanjutnya.
“Coba buka kain selendang yang melilit di leher anakmu ini, Surya,” pintanya mengarahkan.
Ningsih dengan jemari gemetar perlahan melepaskan gulungan kain selendang di leher Dedek.
Pemandangan memar hitam berbentuk lima jari tangan raksasa langsung terpampang jelas di bawah lampu.
Mantri Prasetyo terperanjat kaget, mundur satu langkah dari tepi meja periksa.
“Bekas memar apa ini di leher anakmu, Surya?” tanya Mantri Prasetyo dengan nada suara serius.
“Ini kelihatan seperti bekas cengkeraman telapak tangan manusia berukuran sangat besar!” serunya kaget.
“Saya juga tidak tahu, Pak Mantri, tadi malam bekas hitam itu mendadak muncul,” sahut Ningsih menangis.
Mantri Prasetyo menyentuh permukaan kulit leher Dedek yang berwarna hitam kebiruan tersebut.
Begitu ujung jarinya menyentuh memar, Mantri Prasetyo mendadak menarik tangannya kembali dengan cepat.
“Masya Allah... kenapa kulit leher anakmu ini terasa dingin sekali seperti es batu?” tanya Mantri terkejut.
“Dan ada bau wangi bunga kantil busuk yang sangat menyengat keluar dari pori-pori lehernya,” tambahnya.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam, tidak sanggup menatap mata tajam Mantri Prasetyo.
“Apakah anak saya terkena penyakit infeksi darah yang berbahaya, Pak Mantri?” tanya Ningsih cemas.
Mantri Prasetyo menggelengkan kepalanya perlahan sambil menghela napas panjang penuh keheranan.
“Secara medis, gejala penyakit anakmu ini sangat janggal dan tidak masuk akal, Ningsih,” jawab Mantri.
“Suhu badannya membara panas, tapi jaringan kulit lehernya membeku dingin dan berbau bunga,” jelasnya.
“Saya akan berikan suntikan penurun panas dan resep obat sirup buat diminum,” lanjut Mantri Prasetyo.
“Tapi saran jujur saya, bawa anakmu ini berobat ke orang tua ahli hikmah atau kyai,” bisiknya pelan.
“Penyakit anakmu ini kelihatan bukan disebabkan oleh kuman atau bakteri medis biasa,” tegas Mantri.
Jantungku serasa dihantam palu besi mendengar penilaian jujur dari Mantri Prasetyo.
Ningsih membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu berpaling menatapku dengan pandangan penuh selidik.
“Maksud Pak Mantri... anak saya terkena gangguan gaib atau guna-guna orang?” tanya Ningsih gemetar.
“Saya tidak berani memastikan hal gaib itu, Ningsih,” jawab Mantri Prasetyo menyuntikkan obat.
“Tapi bekas cengkeraman tangan di lehernya ini benar-benar tidak wajar secara medis,” tambahnya.
Mantri Prasetyo meracik dua botol obat sirup penurun panas, lalu menyerahkannya ke tangan Ningsih.
Aku merogoh saku kemeja dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu rupiah hasil toko.
“Ini uang pembayaran obat dan pemeriksaan anak saya, Pak Mantri,” kataku menyodorkan uang.
Mantri Prasetyo menerima lembaran uang kertas merah itu dengan tangan kanannya.
Namun begitu jemarinya menyentuh uang kertas itu, Mantri Prasetyo mendadak tertegun menatap lembaran uang.
“Kenapa uang kertas ini terasa dingin membekukan dan berbau bunga kantil seperti leher anakmu, Surya?” tanya Mantri.
Aku terkejut setengah mati, lalu buru-buru menarik tanganku kembali dari meja.
“Uang itu disimpan di dalam kotak es toko saya tadi pagi, Pak Mantri,” kelitku berbohong cepat.
Mantri Prasetyo menatapku lama dengan pandangan mata yang sangat curiga dan dingin.
Ia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, namun tatapannya seolah sudah membedah kebohongan saya.
“Bawa anakmu pulang sekarang dan minumkan obatnya teratur setiap empat jam sekali,” pesan Mantri.
“Terima kasih banyak ya, Pak Mantri,” sahut Ningsih sambil menerima kembalian uang.
Kami membimbing Dedek keluar dari klinik, melangkah menuju sepeda motor tua di halaman.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Ningsih membisu tanpa mengucapkan patah kata pun jua.
Sesampainya di rumah panggung, Ningsih membaringkan tubuh Dedek di atas ranjang kamar tidur.
Setelah membubuhkan obat sirup ke dalam mulut Dedek, Ningsih berbalik menatapku lurus-lurus.
Matanya yang merah dan sembap memancarkan amarah dan kecurigaan yang sangat luar biasa.
“Jawab jujur pertanyaanku sekarang, Mas!” gertak Ningsih dengan suara bergetar menahan tangis.
“Dari mana kamu sebenarnya mendapatkan uang puluhan juta rupiah itu kemarin lusa?” tanyanya keras.
“Kenapa uang itu baunya persis sama dengan bekas cengkeraman hitam di leher anak kita?” lanjutnya.
Aku menyandarkan punggungku ke dinding kayu kamar dengan peluh dingin yang mengucur deras.
“Aku sudah bilang berkali-kali, Ningsih, itu uang pinjaman modal dari kawan Ujang,” jawabku gigih.
“Jangan bohongi aku lagi, Mas!” jerit Ningsih sambil memukul dadaku dengan telapak tangannya.
“Kawan Ujang mana yang punya uang berselimut bau bunga kuburan dan dingin es ini?” amuk Ningsih.
“Kamu pergi minta pesugihan ke Makam Keramat Panjang kan, Mas?” tebak Ningsih melengking.
Tebakan tepat dari Ningsih mendadak merobohkan seluruh pertahanan dan dinding kebohongan saya.
Lututku terasa lemas seketika, dan aku terduduk pasrah di atas lantai kayu kamar.
“Jawab aku, Mas! Kenapa kamu cuma diam membisu begini?” jerit Ningsih menangis histeris.
“Kamu menumbalkan keselamatan anak kita demi uang utang toko itu kan, Mas?” amuknya lagi.
“Tidak, Ningsih! Demi Allah aku tidak pernah menumbalkan Dedek!” teriakku bersumpah menangis.
“Simbah janji penunggu makam itu tidak minta tumbal nyawa anak atau istri!” jelasku jujur.
“Aku cuma meminjam modal usaha tanpa bunga buat melunasi utang Pak Leksa!” tambahnya terisak.
Ningsih meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan, menjerit ketakutan setengah mati.
“Astagfirullahaladzim, Mas... kamu benar-benar sudah gila dan tersesat jauh!” jerit Ningsih menangis.
“Kamu membawa uang pesugihan iblis masuk ke dalam rumah dan memberi makan anak kita!” amuknya.
“Sekarang lihat apa yang terjadi pada Dedek! Lehernya dicengkeram mahluk halus penunggu makam itu!”
Aku merangkul kaki Ningsih, memohon ampun dengan derai air mata kebingungan yang sangat dalam.
“Maafkan aku, Ningsih... aku terdesak karena tidak mau melihat toko kita disita besoknya,” rintihku.
“Kembalikan semua sisa uang pesugihan itu sekarang juga, Mas!” perintah Ningsih tegas.
“Kita tidak butuh uang haram hasil perjanjian iblis itu di rumah ini!” amuk Ningsih lagi.
“Kembalikan uang itu hari ini juga kalau kamu masih mau melihat aku dan Dedek hidup!” seru Ningsih.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan terburu-buru di pintu depan menghentikan pertengkaran hebat kami berdua.
Aku mengusap air mataku, lalu berdiri melangkah ke luar kamar menuju teras depan.
Begitu selot pintu kutarik, Ujang berdiri di teras dengan raut wajah panik luar biasa.
Napas Ujang tersengal-sengal, dan wajahnya tampak pucat pasi bagaikan tidak berdarah.
“Ada apa lagi, Jang? Kenapa mukamu panik sekali begitu?” tanyaku heran mendatangi Ujang.
Ujang menarik lenganku keluar ke halaman rumah, menjauh dari jangkauan pendengaran Ningsih.
“Simbah baru saja mengirim pesan bahaya padaku lewat cangkul tadi siang, Mas!” bisik Ujang.
“Pesan bahaya apa yang dimaksudkan oleh Simbah, Jang?” tanyaku dengan jantung berdebar keras.
“Penunggu Makam Keramat Panjang murka karena kamu terlambat memberi sajen bunga kantil!” kata Ujang.
“Lho, bukankah aku sudah menjalankan ritual pembersihan makam Selasa Kliwon semalam, Jang?” tanyaku.
“Ritual pembersihan semalam cuma syarat pertama buat membuka ikatan perjanjian gaib, Mas!” tegas Ujang.
“Malam Jumat Kliwon besok adalah puncak penetapan sajen darah dan sumpah setia!” tambahnya.
Darahku terasa berhenti mengalir mendengar penetapan jadwal ritual Jumat Kliwon besok malam.
“Malam Jumat Kliwon besok lusa?” tanyaku dengan suara yang tercekat di balik tenggorokan.
“Iya, Mas! Malam Jumat Kliwon besok kamu wajib membawa ayam hitam mulus dan bunga kantil segar!”
“Kalau kamu tidak datang membawa sajen darah ayam hitam itu... bisa gaib penunggu makam menelan Dedek!”
Ancaman gaib Ujang itu merobek ulu hatiku hingga terasa hancur tak berbentuk lagi.
“Dedek saat ini sedang demam tinggi dan lehernya memar cengkeraman hitam, Jang!” jeritku panik.
“Itu tanda kalau bisa gaib penunggu makam sudah merasuk ke dalam tubuh anakmu, Mas!” ujar Ujang.
“Satu-satunya cara menyelamatkan Dedek adalah kamu wajib datang menuntaskan sajen Jumat Kliwon!”
“Jangan pernah mencoba membatalkan perjanjian gaib ini kalau tidak mau Dedek mati!” ancam Ujang.
Grombol!
Suara angin kencang mendadak menyapu halaman rumah kami, menggoyangkan dedaunan pohon mangga.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau tanah kuburan basah mendadak berembus sangat pekat.
Dari dalam kamar tidur, suara jeritan histeris Ningsih terdengar memanggil namaku keras-keras.
“Mas Surya! Tolong, Mas! Dedek kejang-kejang di dalam kamar!” jerit Ningsih menangis histeris.
Aku berlari sekuat tenaga masuk ke dalam rumah, menobrak pintu kamar tidur anakku.
Di atas ranjang bambu, tubuh Dedek melengkung kaku dengan kedua mata terbelalak ke atas.
Mulut kecil Dedek mengeluarkan busa putih tipis, dan tubuhnya berguncang kejang-kejang hebat.
Ningsih memeluk kepala Dedek sambil menangis menjerit-jerit meminta pertolongan Tuhan.
“Dedek! Anakku! Sadar, Nak!” jeritku panik sambil memegang erat kedua lengan anakku.
Tiba-tiba gerakan kejang tubuh Dedek terhenti seketika, menjadi sangat kaku bagaikan kayu.
Kepala Dedek menoleh perlahan menatap wajahku dengan kedua mata yang berubah hitam pekat utuh.
Mulut kecil Dedek terbuka lebar, dan suara berat mendesis gaib keluar dari tenggorokannya.
“Surya... Jumat Kliwon... ganti darah atau nyawa anakmu milikku...” bisik suara gaib itu.
Setitik darah segar mengalir keluar dari lubang hidung Dedek sebelum tubuhnya terkulai pingsan.
Ningsih menjerit histeris pingsan di samping tubuh anak kami yang terkulai tak berdaya.
Aku memeluk tubuh anak dan istriku dengan derai air mata penyesalan yang membakar jiwa.
Perjanjian iblis di Makam Keramat Panjang kini telah mencengkeram erat leher dan masa depan keluargaku.