NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Wusss.

Sebuah gelombang hangat langsung meluncur dari dada Husen dan menembus sekat kaca laboratorium itu.

"Nisa, hentikan tanganmu sekarang juga dan jangan sentuh kabel hitam di ujung mejamu."

Suara Husen tiba-tiba bergema sangat jelas dan tenang di dalam kepala Nisa.

Pergerakan tangan Nisa langsung terhenti seketika hanya berjarak lima sentimeter dari kabel hitam tersebut.

Nisa tidak menoleh ke arah tribun sama sekali, namun dia merespons suara Husen di dalam pikirannya sendiri.

"Ada apa, Pak Husen?"

"Aku sudah hampir selesai merakit tahap akhir pengujian tegangan listriknya."

"Seseorang telah menyayat kabel induk di mejamu secara sengaja agar terjadi korsleting besar saat kamu menyalakannya."

Husen menjelaskan dengan cepat namun tetap mempertahankan nada bicaranya yang menenangkan.

"Jika kamu mencolokkannya ke stop kontak sekarang, komponen utamamu akan hangus dan tanganmu bisa terluka bakar."

Jantung Nisa berdetak kencang mendengar penjelasan mengerikan tersebut dari wali kelasnya.

Dia melirik sekilas ke arah kabel hitam tebal itu dan menyipitkan matanya dari balik kacamata.

Benar saja, ada bekas sayatan pisau cutter yang sangat halus di bagian bawah kabel yang tidak terlihat dari atas.

"Ini pasti ulah kotor Pak Budi dan panitia suruhannya."

Nisa membatin dengan nada penuh kebencian yang mendalam.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Pak?"

"Kalau aku memanggil juri, mereka pasti sudah memusnahkan bukti dari meja lain dan aku akan dituduh merusaknya sendiri."

Husen tersenyum tipis di tribun penonton karena Nisa memiliki pola pikir taktis yang sangat luar biasa.

"Kamu memang anak yang cerdas, Nisa."

"Gunakan kecurangan mereka sebagai senjata pamungkas untuk mempermalukan mereka di depan umum."

"Potong bagian kabel yang rusak itu, dan gunakan energi dari baterai darurat kecil di laci mejamu sebagai pemicu awal putaran."

Mata Nisa sedikit melebar mendengar ide brilian yang tidak terpikirkan olehnya sebelumnya itu.

"Tapi Pak, baterai darurat itu tegangannya sangat kecil, hanya cukup untuk menyalakan lampu senter biasa."

"Kalau aku pakai itu, putaran generatorku tidak akan bisa menyalakan lampu daya tinggi milik panitia."

"Kamu adalah genius IT dan strategi, Nisa, kamu tahu persis cara membuat sistem loop energi tertutup."

Suara Husen memberikan dorongan keyakinan yang luar biasa kuat ke dalam mental Nisa.

"Ubah susunan magnet di generatormu menjadi formasi tolak menolak tingkat tinggi."

"Gunakan baterai kecil itu hanya sebagai pemicu awal, lalu biarkan generatormu memproduksi energinya sendiri dari tolakan magnetik."

Senyum miring yang sangat dingin perlahan mengembang di bibir Nisa setelah memahami konsep jenius tersebut.

"Paham, Pak Husen."

"Aku akan membuat Pak Budi menangis darah melihat karya rongsokanku ini nanti."

Srek srek kletek!

Nisa segera membuang kabel hitam yang sudah disabotase itu ke dalam tong sampah di bawah mejanya.

Dia mengambil tang pemotong dan merombak total susunan magnet di dalam generator mininya dengan kecepatan gila.

Di meja depan, Pak Budi dan Leo menatap ke arah meja Nisa dengan perasaan bingung yang luar biasa.

"Kenapa anak itu malah membuang kabel induknya ke tong sampah?"

"Bagaimana dia mau menguji tegangannya kalau tidak disambungkan ke stop kontak meja?!"

Pak Budi bergumam panik karena rencana sabotase yang dia bayar mahal ternyata meleset dari sasaran.

Leo mendecih pelan dan terus fokus menyelesaikan sambungan terakhir di generator rakitannya.

"Biarin aja Pak, mungkin dia udah sadar kalau dia bakal kalah makanya dia nyerah di tengah jalan."

"Punya gue udah selesai nih, tinggal dicolok terus nunggu waktu habis."

Bzzzt.

Lampu daya tinggi di meja Leo langsung menyala sangat terang begitu dia menyalakan saklar generatornya.

Teng teng teng!

"Waktu pengerjaan habis!"

Ketua dewan juri berdiri dari kursinya dan menghentikan seluruh pergerakan di dalam laboratorium tersebut.

"Mundur dari meja kalian masing-masing sekarang juga."

"Kami akan berkeliling untuk mengevaluasi efisiensi dari generator yang sudah kalian buat."

Para juri mulai berjalan dari meja pertama sambil membawa alat pengukur tegangan listrik digital.

Mereka berhenti cukup lama di meja Leo dan menganggukkan kepala dengan raut wajah sangat puas.

"Daya keluaran yang sangat stabil, mampu mempertahankan cahaya lampu terang dengan putaran sedang."

"Ini adalah standar kerja yang sangat luar biasa dari Akademi Cakrawala."

Pak Budi membusungkan dadanya dengan bangga menerima pujian tersebut dari dewan juri.

"Tentu saja, Pak Juri, fasilitas kami selalu menghasilkan murid dengan kualitas inovasi terbaik di kota ini."

Para juri terus berkeliling hingga akhirnya mereka tiba di meja nomor tiga belas tempat Nisa berdiri tegak.

Ketua dewan juri mengerutkan keningnya melihat tidak ada satupun kabel yang terhubung ke stop kontak dinding di meja itu.

"Perwakilan Garuda Kelam, di mana kabel utama untuk menyalakan pemicu generatormu?"

"Kamu tidak akan mendapat nilai jika alatmu ini tidak bisa diuji coba sama sekali."

Nisa membetulkan letak kacamatanya dan tersenyum sangat tipis dengan aura percaya diri yang mendominasi.

"Generator buatan saya tidak membutuhkan listrik kotor dari dinding gedung ini, Pak Juri."

Ucapan sombong Nisa itu langsung memancing tawa keras dari Leo dan Pak Budi di seberang ruangan.

"Jangan banyak alasan Nisa, bilang saja kamu tidak bisa merakitnya sampai selesai tepat waktu!"

Pak Budi berteriak menyela dengan niat ingin mempermalukan mantan muridnya itu di depan semua orang.

Nisa sama sekali tidak memedulikan teriakan itu dan menekan tombol saklar kecil yang terhubung pada baterai darurat.

Klik.

Zuuung!

Sebuah suara dengungan halus terdengar dari kumparan tembaga di atas meja besi tersebut.

Generator mini buatan Nisa mulai berputar perlahan lalu semakin lama semakin cepat tanpa henti.

Putaran itu tidak berasal dari dorongan listrik stop kontak, melainkan dari tolakan medan magnet yang dirangkai secara melingkar.

Bzzzt!

Lampu daya tinggi yang dihubungkan ke generator itu tiba-tiba menyala dengan sangat terang menyilaukan mata.

Cahayanya bahkan dua kali lipat lebih terang dibandingkan dengan lampu milik Leo dari Akademi Cakrawala.

Seluruh juri membelalakkan mata mereka lebar-lebar dan mundur selangkah saking terkejutnya melihat fenomena tersebut.

"T-tidak mungkin!"

"Kamu menggunakan susunan magnet tolak menolak tingkat lanjut untuk menciptakan loop energi mandiri?!"

Ketua dewan juri menempelkan alat pengukur tegangannya dengan tangan yang sedikit bergetar ke kabel Nisa.

Angka di layar digital alat pengukur itu melonjak tinggi menembus batas efisiensi yang diharapkan dari anak SMA.

"Ini luar biasa, ini bukan sekadar alat uji coba biasa, ini adalah penemuan inovasi tingkat sarjana!"

"Daya keluarannya nyaris tanpa hambatan dan pemicu awalnya hanya menggunakan baterai bekas yang sangat kecil!"

Suasana di dalam aula laboratorium itu mendadak hening seketika, menatap penuh takjub ke arah generator Nisa yang berputar konstan.

Pak Budi dan Leo membuka mulut mereka lebar-lebar dengan wajah pucat pasi seperti baru saja melihat hantu.

"Itu curang!"

"Dia pasti membawa alat itu dari luar sebelum lomba dimulai!"

Leo berteriak panik dan menunjuk-nunjuk Nisa dari kejauhan dengan jari telunjuknya yang bergetar.

Nisa mengambil sisa kabel hitam yang tadi disabotase dari dalam tong sampah lalu melemparkannya ke atas meja dengan suara keras.

Brak!

"Saya harus merombak desain awal saya di menit terakhir karena ada pengecut yang sengaja memotong kabel stop kontak di meja ini."

Nisa menatap tajam tepat ke arah bola mata Pak Budi yang langsung mematung di tempatnya berdiri.

"Tapi sayangnya, pengecut itu lupa bahwa ilmuwan sejati tidak bergantung pada seutas kabel untuk menciptakan sebuah mahakarya."

Para juri langsung mengerumuni kabel hitam yang dilempar Nisa tadi dan melihat bekas sayatan cutter yang sangat rapi di sana.

Wajah ketua dewan juri langsung berubah menjadi merah padam menahan amarah karena menyadari ada kecurangan fatal di acaranya.

"Panitia keamanan, periksa seluruh rekaman CCTV di meja ini sebelum lomba dimulai sekarang juga!"

Ketua juri berteriak marah sambil menggebrak meja panitia yang berada tidak jauh dari panggung utama.

Pak Budi menelan ludah dengan susah payah dan perlahan mundur beberapa langkah mendekati pintu keluar.

Dia tahu persis jika rekaman itu diperiksa, utusannya akan ketahuan masuk ke ruangan ini tadi pagi.

"Pak Budi, jangan harap Bapak bisa keluar dari ruangan ini dengan mudah hari ini."

Nisa bersuara dengan nada dingin yang menghentikan langkah kaki guru senior tersebut seketika.

"Dua tahun lalu Bapak mencuri hasil kerja kerasku dan aku hanya bisa diam menangis."

"Tapi hari ini, aku sendiri yang akan memastikan karir kotor Bapak hancur di depan semua orang."

Suara tepuk tangan meriah tiba-tiba pecah dari arah tribun penonton, memecah ketegangan yang sangat menyiksa itu.

Prok prok prok!

Husen berdiri sambil bertepuk tangan pelan, diikuti oleh sorakan kebanggaan dari Bara, Rico, dan Pak Haris.

Mereka semua menjadi saksi bisu kehebatan siswi genius yang selama ini sengaja dibuang oleh sekolah elitenya sendiri.

Ting!

[Pemberitahuan Sistem]

[Babak Penyisihan Sains Terapan dimenangkan dengan skor absolut]

[Target Tambahan: Menghancurkan harga diri lawan tercapai]

[Hadiah ekstra: 400 Poin Pengalaman didapatkan]

[Tingkat Kepatuhan Nisa Larasati telah mencapai level maksimum 100%]

Husen tersenyum lebar membaca layar biru yang berkilauan indah di depan pandangannya itu.

"Balas dendam pertama sudah berhasil dituntaskan dengan sangat elegan."

"Reno pasti sedang mengamuk sejadi-jadinya di luar sana mendengar kekalahan beruntun ini."

Husen berjalan menuruni tribun untuk menjemput murid kebanggaannya yang kini berdiri dengan kepala tegak.

Olimpiade ini telah resmi menjadi panggung pembantaian bagi siapa saja yang berani meremehkan kelas XI-7.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!